Ragam Vitamin dan Mineral yang Baik untuk Sistem Imun Lansia

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 Juli 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Kebutuhan vitamin dan mineral tidak memandang usia, termasuk untuk mereka yang sudah tidak muda lagi atau biasa disebut lansia. Tubuh tetap membutuhkan vitamin dan mineral agar dapat berfungsi dengan baik, sekaligus untuk mencegah berbagai macam penyakit yang mengganggu sistem imun. Jika gagal memenuhi kebutuhannya, jangan heran jika berbagai gangguan kesehatan jadi mudah menyerang. 

Dengan semakin bertambahnya usia, beberapa jenis vitamin dan mineral tertentu menjadi sangat penting, tergantung kondisi tubuh masing-masing. Lalu, apa saja vitamin dan mineral yang perlu dipenuhi lansia? Berikut penjelasannya.

Pentingnya vitamin dan mineral bagi lansia

kebutuhan nutrisi dan gizi pada lansia

Dengan asupan vitamin dan mineral yang sesuai kebutuhan, tubuh akan selalu penuh tenaga atau energi sekaligus menjaga berat badan ideal dan dapat menjaga daya tahan tubuh. Dengan daya tahan tubuh yang bekerja optimal, lansia bisa menghindari berbagai macam gangguan kesehatan yang rawan menyerang, seperti:

  • Penyakit yang disebabkan infeksi, seperti pneumonia dan influenza
  • Gangguan pada saluran cerna, seperti diare, kembung, dan sembelit
  • Sering merasa kelelahan
  • Sering sakit pilek atau demam

Apa saja vitamin dan mineral yang dibutuhkan lansia?

Berikut beberapa vitamin dan mineral yang penting untuk selalu diperhatikan asupannya. Di antaranya:

Vitamin B12, B6, dan asam folat

kekurangan vitamin B6

Sebagian lansia, seperti yang berusia di atas 50 tahun, mungkin mengalami hambatan dalam menyerap asupan nutrisi seperti vitamin B12, B6, dan asam folat (masih termasuk vitamin B). Vitamin tersebut memiliki peran penting dalam berbagai proses metabolisme dalam tubuh, seperti pada daya tahan tubuh.

Menghindari hal ini terjadi, usahakan untuk mengonsumsi makanan kaya vitamin B kompleks seperti ikan dan susu yang telah difortifikasi.

Sebagai alternatif, makanan seperti telur, ampela, dan susu dan olahannya, contohnya keju, juga merupakan sumber vitamin B yang aman dikonsumsi oleh lansia. Konsultasikan juga pada dokter apakah perlu menambah asupan vitamin B kompleks dengan suplemen. 

Vitamin E

Studi yang dilansir British Journal of Nutrition menunjukkan, terdapat hubungan antara asupan nutrisi vitamin E dan proses imunitas dan kualitas hidup lansia. Lansia yang memiliki konsentrasi vitamin E lebih tinggi dalam tubuhnya, memiliki status kesehatan yang lebih baik. Artinya, vitamin E dapat membantu meningkatkan sistem imun pada lansia. 

Hal ini terjadi karena vitamin E juga memiliki sifat sebagai antioksidan. Antioksidan bermanfaat bagi fungsi sistem imun dan dapat meningkatkan respons tubuh ketika terjadi peradangan. Apabila sistem imun bekerja dengan baik, tubuh dapat melawan virus atau bakteri penyebab penyakit dengan efektif.

Vitamin E dapat mudah ditemukan pada susu suplemen yang telah difortifikasi atau pada makanan seperti:

  • Kedelai
  • Selai kacang
  • Bayam
  • Brokoli
  • Mangga
  • Tomat

Dengan kata lain, vitamin E merupakan salah satu vitamin yang penting bagi lansia karena dapat menjaga daya tahan tubuh hingga menurunkan beberapa risiko penyakit.

Vitamin D

Vitamin D juga berhubungan dengan sistem imun lansia. Sebuah studi yang diterbitkan Journal of Investigative Medicine menyatakan, vitamin D tak hanya bermanfaat bagi kesehatan tulang saja, tetapi juga membantu menjaga fungsi daya tahan tubuh. Vitamin D dapat memodulasi respons imun bawaan atau non spesifik seperti neutrofil, eosinofil, basofil dan respons imun adaptif atau spesifik seperti sel T dan sel B.

Kekurangan vitamin D dapat berhubungan dengan penyakit autoimun, misalnya seperti multiple sclerosis dan diabetes melitus. Oleh karena itu, asupan vitamin D harian perlu selalu dipenuhi. 

Studi lain yang diterbitkan Journal of Aging and Gerontology, yang membahas peran vitamin D pada lansia menyatakan, lansia berisiko mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D apabila hanya mengandalkan makanan saja. Hal ini dikarenakan makanan yang dapat menjadi sumber vitamin D tidak terlalu bervariasi.

Makanan yang kaya akan vitamin D di antaranya adalah ikan salmon dan tuna. Namun, bukan berarti vitamin D tidak dapat ditemukan pada makanan lain, hanya saja jumlah terkadang tidak cukup. Lansia juga bisa mendapatkan tambahan vitamin D dari paparan sinar matahari dan disarankan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D, misalnya seperti susu. 

Zat besi (iron)

lansia susah makan / lansia minum susu

Sebuah jurnal yang diterbitkan The American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2004 menyatakan, kekurangan zat besi dikaitkan dengan gangguan imunitas (bawaan dan adaptif) sehingga membuat lansia lebih rentan terhadap infeksi. Hal terjadi karena menurunnya kemampuan sistem imun dalam melawan bakteri. 

Untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, salah satu caranya adalah mengonsumsi makanan dan suplemen.

Beberapa makanan yang tinggi akan zat besi adalah:

  • Ikan (tuna dan sarden)
  • Sereal dan susu fortifikasi zat besi
  • Telur
  • Sayuran hijau, seperti bayam
  • Kacang-kacangan, seperti kedelai dan kacang merah

Zinc

Sebuah studi yang dilansir di Immunity and Ageing menyatakan, zinc merupakan salah satu nutrisi esensial atau penting bagi sistem imun dalam tubuh manusia, terutama lansia.

Mineral ini perlu diperhatikan asupannya karena cukup sering terjadi defisiensi atau kekurangan zinc pada seseorang akibat bertambahnya usia. 

Tubuh membutuhkan zinc untuk meningkatkan dan mengaktifkan T-limfosit atau sel T. Saat kadar zinc dalam tubuh rendah, respons limfosit dalam sistem imun turut berkurang. Perubahan respons limfosit ini yang membuat kurangnya asupan zinc berhubungan dengan pneumonia pada lansia yang terjadi akibat infeksi paru-paru.

Infeksi dapat dicegah apabila sistem imun bekerja secara normal. Oleh karena itu, lansia perlu mengonsumsi makanan yang mengandung zinc, seperti:

  • Tiram
  • Daging unggas (seperti ayam)
  • Kacang-kacangan, seperti kacang merah, polong, dan almond 

Lansia dapat mengalami masalah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian akibat menurunnya kemampuan tubuh dalam menyerap vitamin dan mineral. Kebutuhan vitamin dan mineral harian harus selalu dipenuhi agar daya tahan tubuh dapat tetap bekerja melawan berbagai paparan virus atau bakteri penyebab penyakit.

Oleh karena itu, pertimbangkan untuk menambah asupan vitamin dan mineral, misalnya dari suplemen susu yang telah difortifikasi. Susu dapat menjadi sumber vitamin B12, B6, dan D sekaligus mineral seperti zat besi dan zinc dalam bentuk yang lebih praktis dan mudah dikonsumsi. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai vitamin dan mineral apa saja yang dibutuhkan lansia agar sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Leukemia Limfositik Kronis

Chronic Lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis adalah kondisi menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kanker, Kanker Darah 2 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ambeien (Wasir)

Ambeien (wasir) adalah membengkaknya pembuluh vena di anus yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan BAB berdarah. Bagaimana mengobati ambeien?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Ambeien 30 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan mendadak di celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak. Apa gejala, penyebab dan pengobatannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Trauma Otak

Trauma otak adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Direkomendasikan untuk Anda

urat menonjol pada orang muda

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
klaudikasio adalah

Klaudikasio

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Pseudogout

Pseudogout

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
congestive heart failure (CHF) gagal jantung kongestif adalah

Congestive Heart Failure (CHF)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit