Penyakit Saraf

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi penyakit saraf

Apa itu penyakit saraf?

Penyakit saraf adalah gangguan, kelainan, atau kerusakan yang terjadi pada sistem saraf manusia, sehingga memengaruhi fungsinya.

Sistem saraf adalah sistem penghubung yang sangat kompleks yang dapat mengirim dan menerima informasi dalam jumlah besar secara bersamaan. Sistem ini memiliki dua bagian, yaitu sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang), serta sistem saraf tepi atau perifer (semua elemen saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan berbagai organ tubuh).

Otak, sumsum tulang belakang, dan saraf-saraf ini saling bekerja sama dalam mengatur dan mengoordinasikan seluruh aktivitas tubuh. Bila ada bagian di antara ketiganya yang rusak atau mengalami gangguan, dapat menimbulkan kesulitan bergerak, bicara, menelan, bernapas, atau mempelajari sesuatu. Tak hanya itu, Anda juga bisa mengalami masalah dengan ingatan, panca indra, hingga suasana hati Anda.

Penyakit pada sistem saraf dapat terjadi secara perlahan dan menyebabkan hilangnya fungsi secara bertahap (degeneratif). Namun, kondisi ini juga bisa terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan masalah yang mengancam jiwa (akut).

Seberapa umumkah kondisi ini?

World Health Organization menyebut, ratusan juta orang di seluruh dunia terkena gangguan sistem saraf. Jumlah ini terdiri dari berbagai jenis penyakit saraf dari yang umum terjadi hingga yang langka.

Gangguan pada sistem saraf, baik pusat maupun tepi, dapat terjadi pada siapapun. Penyakit ini pun dapat memengaruhi wanita maupun pria di segala usia, termasuk penyakit saraf pada anak.

Anda dapat mencegah penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang mungkin menyebabkannya. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Jenis-jenis penyakit saraf

Ada lebih dari 600 penyakit sistem saraf yang bisa terjadi. Dari jumlah tersebut, beberapa penyakit yang umum diantaranya:

  • Stroke

Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup. Kondisi ini menyebabkan sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit.

  • Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah kelainan progresif yang menyebabkan sel-sel otak merosot atau mati. Penyakit ini merupakan penyebab umum dari demensia, yang dapat memengaruhi ingatan, pemikiran, dan perilaku penderitanya.

  • Parkinson

Penyakit Parkinson adalah gangguan yang terjadi ketika sel-sel saraf tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia yang berperan penting dalam mengontrol otot dan gerakan.

  • Multiple sclerosis

Multiple sclerosis adalah penyakit kronis yang memengaruhi saraf pusat. Kondisi ini ditandai dengan  kerusakan pada selaput mielin, yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

  • Epilepsi

Epilepsi adalah kondisi yang ditandai dengan kejang yang berulang atau kambuhan. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan aktivitas listrik di otak.

  • Meningitis

Meningitis adalah salah satu penyakit infeksi yang memengaruhi selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri.

  • Ensefalitis

Ensefalitis adalah penyakit infeksi yang ditandai dengan munculnya peradangan pada jaringan otak. Penyakit ini dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi yang umum adalah infeksi virus.

  • Bell’s palsy

Bell’s palsy adalah kondisi lemah atau lumpuh pada satu sisi wajah secara tiba-tiba. Kondisi ini disebabkan oleh peradangan atau kerusakan ada saraf di wajah. Biasanya, kondisi ini hanya sementara dan bisa pulih dalam jangka waktu tertentu.

  • Neuropati perifer

Neuropati perifer adalah penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (saraf tepi/perifer). Kondisi ini menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan nyeri, yang biasanya terjadi di tangan dan kaki, tetapi juga dapat memengaruhi area lain dari tubuh.

  • Tumor otak

Tumor otak adalah gumpalan sel abnormal yang tumbuh di otak. Gumpalan ini bisa jinak, tetapi bisa juga ganas atau disebut dengan kanker otak. Kondisi ini bisa merusak otak Anda, sehingga dapat memengaruhi fungsi normalnya.

Tanda dan gejala penyakit saraf

Tanda-tanda, ciri-ciri, atau gejala penyakit sistem saraf bisa berbeda pada setiap orang. Hal ini tergantung pada area mana dari sistem saraf yang rusak dan apa yang menyebabkan masalah tersebut.

Gejalanya pun bisa ringan atau berat, tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya.

Gejala-gejala umum penyakit saraf

Secara umum, berikut adalah tanda-tanda dan gejala yang paling umum dari gangguan sistem saraf.

  • Sakit kepala yang muncul mendadak dan terus menerus.
  • Sakit kepala yang berubah atau terasa berbeda dengan jenis sakit kepala umumnya.
  • Mati rasa atau kesemutan.
  • Pusing atau goyah hingga tidak mampu berdiri atau berjalan.
  • Kelemahan atau kehilangan kekuatan otot.
  • Kehilangan penglihatan atau penglihatan ganda.
  • Kehilangan memori atau hilang ingatan.
  • Gangguan kemampuan mental.
  • Kurangnya koordinasi tubuh.
  • Otot kaku.
  • Tremor dan kejang.
  • Nyeri punggung yang menjalar ke telapak atau jari kaki atau bagian tubuh lainnya.
  • Atrofi otot dan cadel.
  • Kesulitan bicara atau kesulitan memahami pembicaraan.
  • Mual atau muntah yang parah.

Gejala gangguan sistem saraf dapat menyerupai kondisi atau masalah medis lainnya. Selalu konsultasikan pada dokter untuk diagnosis yang tepat.

Kapan harus periksa ke dokter?

Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah gangguan saraf memburuk dan mengurangi risiko komplikasi. Jadi, konsultasikan pada dokter sesegera mungkin jika Anda mengalami satu pun tanda atau gejala yang disebutkan di atas.

Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara berbeda. Selalu diskusikan dengan dokter untuk solusi terbaik sesuai kondisi Anda.

Penyebab penyakit saraf

Apa penyebab penyakit saraf?

Penyakit saraf dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan sistem saraf:

  • Faktor keturunan atau genetik.
  • Masalah pasokan darah (gangguan vaskuler).
  • Cedera atau trauma, terutama pada kepala (cedera otak) dan sumsum tulang belakang (cedera tulang belakang).
  • Masalah yang muncul pada saat lahir (kongenital).
  • Masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau psikosis.
  • Paparan zat beracun, seperti karbon monoksida, arsenik, atau timah.
  • Rusak atau matinya sel saraf yang menyebabkan hilangnya fungsi secara bertahap (degeneratif), seperti penyakit Parkinson, multiple sclerosis (MS), Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit Alzheimer, penyakit Huntington, dan neuropati perifer.
  • Infeksi, seperti penyakit ensefalitis, abses otak, atau meningitis.
  • Penggunaan berlebihan atau penarikan obat-obatan resep dan nonbebas, obat-obatan terlarang, atau alkohol.
  • Jaringan sel yang abnormal (tumor atau kanker).

Kondisi gagal organ yang bisa menyebabkan penyakit saraf

Tak hanya itu, beberapa kondisi atau kegagalan yang terjadi di organ lainnya juga bisa menjadi penyebab gangguan sistem saraf. Sebagai contoh gagal jantung, gagal hati, atau gagal ginjal. Selain itu, kondisi lain yang bisa menyebabkan kelainan sistem saraf, yaitu:

  • Disfungsi tiroid, baik tiroid terlalu aktif maupun kurang aktif.
  • Gula darah tinggi (diabetes) atau gula darah rendah (hipoglikemia).
  • Masalah elektrolit.
  • Kekurangan nutrisi, seperti vitamin B1 (tiamin) atau defisiensi vitamin B12.
  • Sindrom Guillain-Barre’.

Faktor risiko penyakit saraf

Setiap jenis penyakit saraf mungkin memiliki faktor risiko yang berbeda. Namun, secara umum, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kelainan pada sistem saraf, yaitu:

  • Usia lanjut, karena efek penuaan terhadap sistem saraf, terutama pada kelainan degeneratif seperti penyakit Alzheimer, parkinson, dan lainnya.
  • Riwayat penyakit sistem saraf dalam keluarga.
  • Sistem kekebalan yang lemah, termasuk pengidap HIV/AIDS.
  • Pola makan buruk yang berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi, seperti vitamin B1 dan B12.
  • Konsumsi alkohol.
  • Kebiasaan merokok.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas. (Anda bisa mengecek kalkulator BMI ini untuk mengetahui apakah berat Anda berlebih dan berisiko).
  • Kurang aktivitas fisik, termasuk olahraga.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, termasuk obat-obatan terlarang karena efek buruk narkoba pada otak.

Perlu diketahui pula, memiliki faktor risiko di atas bukan berarti Anda akan terkena penyakit saraf. Sebaliknya, seseorang yang memiliki gangguan pada sistem saraf pun mungkin memiliki faktor risiko yang tidak diketahui. Untuk informasi lebih lanjut, konsultasikan selalu dengan dokter Anda.

Diagnosis dan pengobatan penyakit saraf

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Bagaimana gangguan sistem saraf didiagnosis?

Untuk mendiagnosis sakit saraf, dokter akan menanyakan gejala yang Anda rasakan, riwayat medis yang Anda dan keluarga miliki, serta berbagai faktor lain yang mungkin menyebabkannya. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis untuk mengevaluasi gejala tersebut.

Setelah itu, dokter biasanya akan meminta Anda untuk melakukan beberapa tes pemeriksaan. Berikut beberapa tes yang umumnya perlu Anda jalani:

  • CT scan, untuk melihat gambar bagian tubuh Anda, seperti tulang, otot, atau organ tubuh tertentu.
  • Magnetic resonance imaging (MRI), untuk melihat struktur tubuh atau organ Anda secara lebih detail.
  • Elektroensefalografi (EEG), untuk mengukur aktivitas listrik di otak.
  • Tes elektrodiagnostik, seperti elektromiografi (EMG) dan studi konduksi saraf, untuk mendiagnosis gangguan otot dan neuron motorik.
  • Angiogram, untuk mendeteksi penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah.
  • Positron emission tomography (PET), untuk mengukur aktivitas metabolisme sel.
  • Pungsi lumbal (spinal tap), dengan mengambil sampel cairan serebrospinal dari tulang belakang untuk mendeteksi infeksi atau masalah saraf lainnya.
  • Evoked potentials, untuk mencatat respons listrik otak terhadap rangsangan visual, pendengaran, dan sensorik.
  • Neurosonografi, untuk menganalisis aliran darah jika terjadi stroke.

Beberapa tes lainnya pun mungkin dibutuhkan, termasuk tes urine atau tes darah, untuk mengidentifikasi kondisi medis lainnya yang mungkin memengaruhi sistem saraf. Konsultasikan selalu dengan dokter untuk jenis pemeriksaan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Apa saja pengobatan untuk penyakit saraf?

Pengobatan untuk gangguan sistem saraf disesuaikan dengan jenis penyakit dan kondisi yang menyebabkannya. Misalnya, pada gangguan saraf yang terjadi karena penggunaan obat tertentu, dokter mungkin akan mengganti obat atau menyesuaikan dosis obat yang Anda konsumsi.

Bila terjadi karena tumor atau kanker, dokter akan memberikan serangkaian pengobatan untuk kanker, seperti radioterapi, kemoterapi, atau bahkan operasi pengangkatan tumor.

Selain itu, obat-obatan pun mungkin saja diberikan untuk mengatasi berbagai gejala lain yang timbul, seperti obat pereda nyeri, antikonvulsan, atau antidepresan. Obat-obatan ini umumnya diberikan untuk mengatasi nyeri yang terkait dengan saraf (neuropati). Namun, obat antikonvulsan juga merupakan pengobatan epilepsi yang utama untuk mengontrol kejang yang terjadi.

Pada kondisi tertentu, tindakan operasi atau pembedahan pun mungkin dilakukan. Selain itu, berbagai macam terapi atau rehabilitasi, seperti terapi fisik, okupasi, atau wicara, juga sering direkomendasikan untuk membantu Anda menjalani aktivitas sehari-hari. Konsultasikan selalu dengan dokter untuk jenis pengobatan yang tepat.

Pencegahan penyakit saraf

Anda dapat mengikuti panduan pencegahan berikut untuk menjaga kesehatan sistem saraf, serta terhindar dari penyakit saraf:

  • Olahraga teratur, seperti berjalan atau jenis olahraga untuk kesehatan otak lainnya.
  • Berhenti merokok.
  • Istirahat yang cukup.
  • Tangani kondisi kesehatan yang dapat menurunkan fungsi sistem saraf, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi.
  • Terapkan pola makan yang sehat dan seimbang, dengan mengurangi lemak serta memperbanyak asupan vitamin B6, B12, dan folat.
  • Minum banyak air putih untuk membantu mencegah dehidrasi, yang dapat menyebabkan linglung dan masalah memori.
  • Hindari mengonsumsi alkohol dan narkoba.
  • Konsumsi obat-obatan sesuai dengan dosis dan ketentuan yang direkomendasikan dokter.
  • Lakukan perlindungan diri untuk mencegah cedera.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter untuk memahami solusi terbaik untuk Anda.

5 Makanan Bernutrisi Baik untuk Kesehatan Otak

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Info Lengkap Pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi) yang Perlu Anda Tahu

Tes electroencephalography (EEG) adalah pemeriksaan untuk gangguan otak, seperti epilepsi. Ketahui info lengkap tentang tes elektroensefalografi di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 20 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Informasi Lengkap mengenai PET Scan, Mulai dari Manfaat Hingga Risiko

PET scan adalah pemeriksaan medis untuk mendeteksi penyakit tertentu dengan melihat fungsi jaringan atau organ. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 20 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Hipoksia Serebral

Hipoksia serebral merupakan masalah kesehatan yang terjadi saat otak kekurangan oksigen. Lalu apa gejala, penyebab dan cara mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 13 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Berbagai Penyebab Kesemutan yang Mungkin Anda Alami dan Cara Mengatasinya

Kesemutan itu wajar terjadi. Namun pada beberapa kasus, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya kondisi medis yang lebih serius. Yuk, ketahui lebih lanjut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 8 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kaki terasa panas, kaki panas

Berbagai Hal yang Bisa Menyebabkan Kaki Terasa Panas di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
hidrosefalus pada anak

Hidrosefalus

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit
olahraga jalan kaki

Foot Drop

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
atrofi otak

Semua yang Perlu Diketahui Seputar Atrofi Otak, Ketika Ukuran Otak Menciut

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit