Patah Tulang (Fraktur)

Patah Tulang (Fraktur)

Pernahkah Anda membayangkan atau mungkin merasakan bagaimana rasanya ketika tulang patah? Tentu sangat menyakitkan, bukan?

Oleh karena itu, menjaga kesehatan tulang serta menghindari berbagai penyebabnya sangat penting untuk mencegah kondisi ini. Ketahui fakta lengkapnya melalui ulasan berikut.

Apa itu patah tulang atau fraktur?

Pengertian fraktur (fraktura) atau patah tulang adalah kondisi ketika tulang menjadi patah, retak, atau pecah sehingga mengubah bentuk tulang.

Tulang yang mengalami fraktur dapat terjadi di area tubuh manapun. Namun, kasus ini lebih sering terjadi di beberapa bagian tubuh.

Misalnya, patah tulang selangka atau bahu, patah tulang tangan (termasuk pergelangan tangan dan lengan), patah kaki (termasuk tungkai dan engkel), patah tulang belakang, serta fraktur panggul.

Fraktur adalah kondisi yang sering terjadi serta dapat dialami oleh siapapun dan pada usia berapapun karena tekanan kuat pada tulang, misal akibat kecelakaan.

Namun, kondisi ini juga umum terjadi pada lansia karena faktor penuaan yang membuat tulangnya cenderung rapuh (osteoporosis) dan rentan patah.

Menurut data International Osteoporosis Foundation, fraktur akibat kerapuhan tulang terjadi pada 1 dari 3 wanita dan 1 dari 5 pria di dunia yang berusia di atas 50 tahun.

Diperkirakan ada jutaan orang di dunia mengalami fraktur akibat kerapuhan tulang setiap tahunnya.

Berbagai jenis patah tulang

patah tulang selangka atau fraktur klavikula

Fraktur memiliki beragam jenis. Secara garis besar, berikut adalah beberapa jenis fraktur yang umum terjadi.

  • Fraktur terbuka, yaitu kondisi ketika patahan tulang menembus kulit sehingga bisa dilihat.
  • Fraktur tertutup, yaitu kondisi ketika patahan tulang tidak menembus kulit atau kulitnya masih utuh.
  • Fraktur parsial, yaitu kondisi ketika patahnya tulang tidak seutuhnya atau tidak lengkap.
  • Fraktur total, yaitu ketika patahnya tulang terjadi secara total atau lengkap, sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian atau lebih.

Dari empat tipe besar tersebut, fraktur terbagi lagi ke dalam beberapa jenis.

Setiap jenis fraktur membutuhkan teknik dan prosedur yang berbeda untuk memperbaikinya.

Apa saja tanda dan gejala patah tulang?

Tanda dan gejala fraktur dapat berbeda pada setiap orang, tergantung jenis, lokasi, dan tingkat keparahan yang dialami.

Namun secara umum, gejala yang bisa terjadi jika seseorang mengalami patah tulang atau fraktur, yaitu:

  • nyeri atau sakit hebat di area tulang yang fraktur,
  • pembengkakan di area tubuh yang terdampak,
  • deformitas atau perubahan bentuk yang terlihat jelas di area tubuh yang mengalami fraktur,
  • sulit menggerakkan bagian tubuh di area patahnya tulang,
  • kemerahan, memar, dan terasa hangat di kulit sekitar tubuh yang terdampak, serta
  • mati rasa dan kesemutan di area tubuh yang terkena.

Bila Anda merasakan tanda dan gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Anda pun perlu mendapat perawatan darurat bila mengalami jenis fraktur terbuka yang berisiko lebih besar mengalami infeksi.

Fraktur yang terjadi di bagian kepala, leher, serta tulang belakang pun juga merupakan kondisi darurat sehingga perlu mendapatkan penanganan medis segera.

Apa penyebab patah tulang?

Fraktur terjadi karena adanya tekanan atau benturan yang kuat ke tulang yang melebihi kekuatan dari tulang itu sendiri.

Hal ini umumnya disebabkan oleh cedera, seperti jatuh, kecelakaan, atau benturan langsung yang kuat ke area tubuh, atau gerakan yang berulang hingga menyebabkan tulang retak.

Tidak hanya itu, penyebab fraktur juga bisa berupa kondisi tulang yang lemah yang membuatnya rentan patah.

Umumnya, ini disebabkan oleh gangguan muskuloskeletal atau penyakit tertentu yang melemahkan tulang, seperti osteoporosis maupun kanker tulang.

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko patah tulang?

mencegah jatuh terpeleset

Meski dapat terjadi pada siapapun, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami fraktur.

Berikut adalah beberapa faktor risiko dari patah tulang.

  • Berusia lanjut atau di atas usia 50 tahun.
  • Berjenis kelamin wanita.
  • Kebiasaan merokok.
  • Konsumsi alkohol.
  • Konsumsi obat kortikosteroid.
  • Kekurangan nutrisi, terutama kalsium dan vitamin D.
  • Kurang aktif bergerak atau berolahraga.
  • Terdapat riwayat penyakit rheumatoid arthritis atau rematik.
  • Kelainan kronis, seperti penyakit Celiac, penyakit Crohn, atau kolitis ulseratif (radang usus).
  • Pernah mengalami fraktur sebelumnya.
  • Riwayat keluarga, terutama untuk fraktur yang terjadi di pinggul.

Apa komplikasi yang bisa terjadi dari patah tulang?

Bila tidak segera ditangani, fraktur bisa menimbulkan komplikasi yang semakin mengganggu kesehatan Anda.

Berikut adalah komplikasi akibat patah tulang yang mungkin terjadi.

  • Malunion, yaitu ketika tulang sudah sembuh dan menyatu, tetapi tidak pada posisi yang tepat.
  • Infeksi, yang umum terjadi pada fraktur terbuka akibat bakteri yang masuk dan menginfeksi tulang atau sumsum tulang.
  • Sindrom kompartemen, yaitu perdarahan atau pembengkakan yang terjadi di dalam otot-otot sekitar fraktur.
  • Nekrosis avaskular, yaitu ketika tulang kehilangan suplai darah yang esensial, sehingga menyebabkan kematian jaringan tulang.
  • Haemarthrosis, yaitu ketika perdarahan ke dalam ruang sendi yang menyebabkan sendi bengkak.
  • Penggumpalan darah, yang bisa pecah dan dapat memengaruhi seluruh tubuh.
  • Cedera pada organ atau jaringan di sekitarnya. Misalnya, otak dapat mengalami kerusakan akibat patahnya tulang tengkorak atau organ di bagian dada bisa rusak bila mengalami patah tulang rusuk.
  • Pertumbuhan tulang terhambat, terutama pada anak yang mengalami fraktur di tulang panjang di dekat lempeng pertumbuhan.

Bagaimana dokter mendiagnosis fraktur?

Untuk mendiagnosis fraktur, dokter akan menanyakan kondisi medis yang Anda miliki, termasuk bila Anda mengalami cedera atau kecelakaan, serta gejala yang Anda rasakan.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta beberapa tes lain untuk memastikan diagnosisnya.

Berikut adalah beberapa tes yang membantu menentukan diagnosis fraktur.

  • Sinar-X.
  • MRI.
  • CT scan.
  • Tes pemindaian tulang (bone scan).

Bagaimana cara mengobati patah tulang?

jenis-jenis atau macam-macam fraktur (patah tulang)

Pengobatan untuk patah tulang umumnya bertujuan untuk:

  • mengembalikan potongan tulang ke tempat semula,
  • mengontrol rasa sakit,
  • memberikan waktu pada tulang untuk sembuh,
  • mencegah komplikasi,
  • serta memulihkan fungsi gerak tubuh yang terpengaruh menjadi sedia kala.

Adapun jenis penanganan atau pengobatan yang diberikan bisa berbeda pada setiap orang tergantung jenis fraktur, lokasi tulang yang terkena, serta kondisi pasien secara keseluruhan.

Berikut adalah beberapa pengobatan yang umumnya diberikan untuk mengobati fraktur.

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi fraktur?

Fraktur dapat sembuh dalam beberapa minggu atau bulan setelah menjalani pengobatan secara medis.

Untuk membantu proses penyembuhan, Anda dapat melakukan pengobatan rumahan atau perubahan gaya hidup di bawah ini.

  • Istirahatkan area tulang yang mengalami fraktur.
  • Hindari mengangkat beban berat atau mengemudi hingga retak atau patahnya tulang sembuh.
  • Rawat gips dengan baik, seperti tidak membasahinya atau hindari terkena panas secara langsung saat gips belum terpasang dengan benar.
  • Penuhi nutrisi yang membantu proses penyembuhan tulang Anda, seperti vitamin D atau makanan untuk penderita patah tulang lainnya.
  • Berhenti merokok.
  • Bila sudah pulih, latihan gerak pada area tubuh yang mengalami fraktur, guna membantu memulihkan kekuatan otot, gerakan sendi, dan kelenturan. Konsultasikan pada dokter atau fisioterapi Anda terkait hal ini.

Bagaimana cara mencegah patah tulang?

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda praktikkan untuk mencegah terjadinya fraktur.

  • Menciptakan rumah yang aman untuk Anda dan keluarga, terutama anak. Misalnya, memasang pagar di tangga agar tidak jatuh, memasang terali pada jendela, atau menyingkirkan kabel di lantai.
  • Menggunakan karpet antiselip di dalam rumah.
  • Menggunakan alat pelindung ketika beraktivitas fisik di luar rumah atau berolahraga. Misalnya, helm, bantalan siku, bantalan lutut, atau pelindung pergelangan tangan dan kaki, saat bersepeda.
  • Memastikan penerangan di rumah dan sekitar rumah Anda baik saat gelap.
  • Mengenakan sepatu bersol karet.
  • Memperhatikan sekeliling Anda ketika berjalan.
  • Mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, terutama vitamin D dan kalsium untuk memperkuat tulang.
  • Berolahraga rutin untuk memperkuat tulang.
  • Menghentikan kebiasaan merokok.
  • Menghindari konsumsi alkohol.
  • Melakukan konsultasi dengan dokter jika Anda berisiko mengalami osteoporosis.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 03/10/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan