home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Perlukah Orang Tua Lanjut Usia Minum Vitamin untuk Tulang? Ini Jawabannya

Perlukah Orang Tua Lanjut Usia Minum Vitamin untuk Tulang? Ini Jawabannya

Semakin tua, kepadatang tulang akan menurun sehingga rentan keropos dan patah. Itu sebabnya banyak orang yang sedari muda sudah rajin minum suplemen vitamin D dan kalsium agar tulang tetap kuat. Kebiasaan minum suplemen ini berlanjut sampai tua nanti, meski ada juga lansia yang baru minum suplemen untuk mengurangi risiko osteoporosis. Namun, sebenarnya orang tua lanjut usia perlukah minum vitamin untuk tulang? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Perlukah orang tua lanjut usia minum vitamin untuk tulang?

manfaat konsumsi kalsium

Setiap hari, sel tulang yang rusak akan berganti dengan sel tulang baru yang sehat. Proses penggantian sel tulang ini pada anak-anak hingga orang dewasa berusia di bawahn 30 tahun berjalan dengan cepat.

Namun, setelah memasuki usia 30 tahun ke atas, proses pembentukan sel tulang baru menjadi lebih lambat. Hal ini menyebabkan massa tulang hilang lebih cepat daripada pembuatan tulang baru. Kondisi tersebut membuat risiko osteroporosis (pengeroposan tulang) dan patah tulang menjadi lebih besar.

Awalnya, ahli kesehatan menyarankan para lansia untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang diperlukan tulang orang tua usia lanjut agar risiko masalah pada tulang tidak semakin meningkat.

Salah satunya, dengan cara minum suplemen vitamin D atau kalsium. Alasannya karena tubuh tidak memproduksi nutrisi tersebut secara alami.

Namun, studi terbaru yang diterbitkan Journal of American Medical Association (JAMA) menyangkal anjuran tersebut. Orang dewasa kini tak perlu repot-repot lagi mengonsumsi suplemen tersebut. Pasalnya, suplemen vitamin D dan kalsium dinilai tidak memberikan efek berarti untuk mencegah risiko patah tulang panggul pada lansia.

Penelitian ini melibatkan 51 ribu lansia yang hidup di tengah masyarakat (bukan di panti jompo, rumah sakit, atau institusi lainnya). Hasilnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara risiko patah tulang pada lansia yang rajin minum suplemen kalsium dan vitamin D dengan lansia yang minum pil plasebo (pil kosong).

Apa efeknya jika orang tua minum vitamin untuk tulang?

Vitamin Cegah COVID-19

Selain tidak efektivitas, ada alasan lain yang membuat ahli kesehatan tidak menyarankan orang tua usia lanjut untuk minum suplemen untuk tulang. Orang tua yang minum suplemen tulang meningkatkan risiko keracunan vitamin D.

Keracunan vitamin D atau Anda kenal juga dengan sebutan hipervitaminosis D, adalah kondisi langka yang serius akibat serius akibat kadar vitamin D yang berlebihan dalam tubuh.

Hipervitaminosis D biasanya terjadi akibat konsumsi suplemen vitamin D dalam jumlah besar, bukan karena makanan atau paparan sinar matahari. Kelebihan dosis vitamin D ini nantinya dapat menyebabkan penumpukan kalsium dalam darah atau hiperkalsemia.

Hiperkalsemia akan menimbulkan gejala seperti mual dan muntah, lemas, dan sering buang air kecil. Tanpa perawatan yang tepat, kondisi ini dapat menyebabkan nyeru tulang dan masalah pada ginjal, yakni pembentukan batu kalsium.

Jadi, bagi orang tua lanjut usia yang ingin mengonsumsi vitamin untuk tulang, ada baiknya konsultasi lebih dahulu pada dokter.

Lantas, bagaimana cara menjaga kesehatan tulang lansia?

aktivitas lansia

Konsumsi vitamin yang tidak efektif dan malah berisiko mengancam jiwa, membuat ahli kesehatan lebih merekomendasikan cara berikut ini dalam menjaga kesehatan tulang.

1. Pastikan lansia selalu aktif

Lansia harus tetap aktif meskipun tubuhnya sudah tidak sebugar dulu. Pasalnya, lansia yang mengadopsi gaya hidup sedentari alias malas gerak dapat menyebabkan otot dan tulang kehilangan kekuatannya. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk atau berbaring membuat risiko osteoporosis dan patah tulang semakin meningkat.

Oleh karena itu, lansia perlu berolahraga secara rutin, setidaknya 150 menit dalam seminggu. Ada banyak jenis olahraga yang aman untuk lansia, seperti jalan santai, berenang, senam lansia, latihan peregangan untuk lansia, atau bersepeda. Selain olahraga, agar tetap aktif, lansia bisa mencoba untuk berkebun atau berbelanja.

Pada lansia yang memiliki masalah tulang atau sendi, konsultasi lebih dahulu pada dokter dalam memilih jenis olahraga yang tepat untuk lansia.

Selain menjaga kesehatan tulang, olahraga memberikan banyak manfaat untuk lansia, seperti menjaga kesehatan jantung, mengendalikan berat badan pada lansia, dan membantu lansia berhenti dari kebiasaan merokok.

2. Konsumsi makanan yang menyehatkan tulang

Guna memenuhi kebutuhan vitamin D atau kalsium untuk tulang, selain dari suplemen, orang tua lanjut usia bisa mendapatkannya dari makanan. Ada banyak sumber makanan yang mengandung kalsium tinggi, seperti susu dan produk olahan susu, sayuran hijau, serta ikan sarden.

Sementara makanan yang kaya vitamin D antara lain hati sapi, kuning telur, ikan salmon, ikan tuna, dan yogurt atau produk susu yang diperkaya vitamin D.

Jika kebutuhan vitamin lansia tercukupi, tubuh akan lebih mudah menyerap kalsium. Kedua nutrisi ini bermanfaat memelihara kesehatan otot dan memperkuat tulang sehingga tidak mudah rapuh.

Bagi lansia yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, nafsu makan bisa terpengaruh. Oleh karena itu, keluarga atau pengasuh harus bisa membujuk lansia untuk makan dengan baik dan benar agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

3. Berjemur

Berjemur dapat membantu lansia memenuhi kebutuhan vitamin D, selain minum suplemen untuk tulang. Ini karena sinar matahari adalah sumber vitamin D terbesar, bahkan lebih besar dari makanan.

Jadi ketika sinar matahari mengenai kulit, akan ada interaksi antara sinar ultaviolet B dengan protein 7-DHC pada kulit. Protein ini mengubah UVB menjadi vitamin D3, yakni bentuk aktif dari vitamin D. Nah, vitamin inilah yang membantu tubuh menjaga kesehatan tulang dan otot.

Waktu yang paling baik untuk berjemur adalah di pagi hari, yakni sebelum masuk ke pukul 10 pagi. Lansia bisa berjemur di pagi hari setidaknya 10 menit setiap hari. Pastikan sinar matahari mengenai langsung ke kulit Anda, bukan dari sinar yang menembus kaca jendela.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Keep bones healthy over 65. (2018, April 26). NHS.uk. https://www.nhs.uk/live-well/healthy-body/keep-your-bones-strong-over-65/ [Accessed on March 1st, 2021]

Osteoporosis – Symptoms and causes. (2019, June 19). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/symptoms-causes/syc-20351968 [Accessed on March 1st, 2021]

Women’s health: Keeping your bones strong as you age. (2017, August 3). University of Utah Health | University of Utah Health. https://healthcare.utah.edu/the-scope/shows.php?shows=0_8em2s0c4 [Accessed on March 1st, 2021]

Sattari, M., Cauley, J., Garvan, C., Johnson, K., LaMonte, M., & Li, W. et al. (2017). Osteoporosis in the Women’s Health Initiative: Another Treatment Gap?The American Journal Of Medicine130(8), 937-948. doi: 10.1016/j.amjmed.2017.02.042 [Accessed on March 1st, 2021]

US Preventive Services Task Force. Interventions to Prevent Falls in Community-Dwelling Older AdultsUS Preventive Services Task Force Recommendation Statement. JAMA. 2018;319(16):1696–1704. doi:10.1001/jama.2018.3097 [Accessed on March 1st, 2021]

Vitamins and minerals – Calcium. (2017, October 23). nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/vitamins-and-minerals/calcium/ [Accessed on March 1st, 2021]

Vitamin D toxicity: What if you get too much? (2020, April 17). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/vitamin-d-toxicity/faq-20058108 [Accessed on March 1st, 2021]

Benefits of exercise: MedlinePlus. (n.d.). MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/benefitsofexercise.html [Accessed on March 1st, 2021]

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 21/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri