5 Hal yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Penurunan Fungsi Otak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Saat memasuki usia senja, tidak hanya tampilan fisik dari luar saja yang mengalami perubahan. Berbagai organ tubuh pun mengalami penuaan, termasuk otak. Ya, saat usia Anda bertambah, terjadi pula penurunan fungsi otak yang terjadi secara perlahan. Umumnya, penurunan fungsi otak akan mulai terjadi sejak usia 40 tahun karena berbagai alasan. Nah, tahukah An da apa yang dimaksud dengan penurunan fungsi otak? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan penurunan fungsi otak?

Pernahkah Anda merasa lupa meletakkan suatu benda? Biasanya, mendadak sering lupa dengan berbagai hal sederhana sering kali dikaitkan dengan pertambahan usia. Pasalnya, pertambahan usia seiring sejalan dengan penurunan fungsi otak.

Penurunan fungsi otak adalah suatu kondisi yang ditandai dengan beberapa hal berikut:

  • Proses regenerasi saraf otak melambat.
  • Jumlah neurotransmitter (zat untuk membantu komunikasi antar sel di otak) berkurang.
  • Kadar hormon pada otak tidak seimbang.
  • Penyusutan volume otak, khususnya pada area yang digunakan untuk belajar dan berbagai aktivitas mental yang kompleks.
  • Aliran darah menuju otak mulai berkurang.
  • Risiko peradangan pada otak, yang biasanya hanya muncul sebagai respons tubuh terhadap cedera dan penyakit, mulai bertambah.

Namun demikian, penurunan fungsi otak tidak hanya dipengaruhi oleh pertambahan usia saja. Ada beberapa faktor lain yang dapat mempercepat proses tersebut. Contohnya:

  • Memiliki gen spesifik yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
  • Berkurangnya aktivitas otak.
  • Penggunaan zat-zat tertentu secara berlebihan, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol.
  • Kekurangan latihan fisik.
  • Malnutrisi.
  • Stres kronis.
  • Kondisi medis tertentu, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, depresi, dan gangguan penglihatan serta pendengaran.
  • Berkurangnya keterlibatan dalam berbagai aktivitas sosial.

Meski demikian, usia memang faktor utama penyebab berbagai masalah pada otak, termasuk penurunan fungsi dari organ tersebut. Nah, terjadinya penurunan fungsi otak dapat meningkatkan risiko mengalami penyakit Alzheimer, demensia, hingga stroke.

Terjadinya penurunan fungsi otak pada lansia

Salah satu perubahan paling menonjol yang dialami oleh lansia akibat penurunan fungsi otak adalah perubahan pada kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir. Kondisi ini menyebabkan performa otak dalam proses berpikir menjadi lebih lamban.

Artinya, kemampuan otak untuk mengolah informasi, termasuk kecepatan otak untuk memroses informasi, mengambil keputusan, mengingat, berimajinasi, dan berbagai aktivitas otak lainnya tidak bisa dilakukan secepat dahulu.

Meski begitu, penurunan fungsi otak tidak menandakan bahwa saat memasuki usia senja, otak Anda sudah tidak bisa digunakan kembali. Pasalnya, yang terpengaruh dari kondisi ini adalah perubahan fungsi dan strukturalnya saja.

Selain itu, orang di usia senja mungkin akan menyadari bahwa kemampuannya dalam berpikir atau mengingat sudah tidak sama dibanding saat ia masih muda. Namun, jika diberi cukup waktu untuk mempelajari suatu hal baru, para lansia akan tetap mampu melakukannya.

Hal ini menandakan, yang membedakan hanyalah kecepatannya dalam memahami suatu hal. Pasalnya, meski mengalami penurunan fungsi otak, organ ini tetap memiliki kemampuan untuk berubah dan beradaptasi dengan tantangan baru meski Anda sudah mengalami pertambahan usia.

Gaya hidup sehat yang bisa mencegah penurunan fungsi otak

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 menyatakan bahwa penurunan fungsi otak bisa dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Berikut ini adalah beberapa perubahan gaya hidup yang bisa dilakukan sebagai bentuk pencegahan:

1. Lebih aktif berolahraga

Tahukah Anda bahwa fungsi kognitif pada seseorang dengan usia lanjut bisa meningkat dengan rutin berolahraga? Ya, ternyata aktivitas sehat seperti ini dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif dengan meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres serta berbagai faktor risiko lain yang dapat memengaruhi penurunan fungsi kognitif otak.

Namun, olahraga yang dilakukan tidak harus yang berat. Setidaknya, gerakkan tubuh secara aktif kurang lebih 30 menit setiap hari sebanyak lima kali dalam seminggu. Salah satu pilihan olahraga yang tepat adalah aerobik yang dapat membantu memperlambat berkembangnya penyakit Alzheimer dan gangguan memori lainnya.

Intinya, lakukan berbagai aktivitas fisik yang positif setiap harinya. Tak hanya itu, kelola stres dengan baik, tidur yang cukup, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi alkohol juga dapat membantu Anda menjaga fungsi otak tetap baik.

2. Makan sehat

Selain tetap terus aktif bergerak, Anda juga perlu memerhatikan pola diet dan menu makanan sehari-hari jika ingin mencegah penurunan fungsi otak. Utamakan menu makanan harian yang rendah akan kolesterol dan juga lemak. Pasalnya, diet rendah kolesterol dan lemak jenuh dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, diaetes, hingga stroke.

Selain itu, konsumsi lebih banyak ikan berlemak, khususnya yang memiliki kandungan omega-3 seperti salmon, tuna, makerel, sarden, serta sayuran dan buah yang mengandung antioksidan tinggi seperti beri, bayam, brokoli, bawang, dan terong.

3. Tantang pikiran Anda untuk tetap belajar

Usia tubuh boleh bertambah tua, tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti belajar. Melatih otak dengan terus “menelan” informasi baru adalah cara yang baik untuk mencegah penurunan fungsi otak.

Jika Anda punya dana finansial yang cukup, tak ada salahnya untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau mengambil kursus bahasa asing maupun keterampilan baru lainnya: memasak, menjahit, alat musik, dan seterusnya.

Cara lain untuk mencegah penurunan fungsi otak yang lebih sederhana adalah membaca dan melakukan permainan seperti sudoku, scrabble, dan teka teki silang untuk mengasah fungsi otak. Melatih pikiran Anda untuk terus belajar hal yang baru dan sulit dapat sangat membantu mencegah penurunan fungsi otak.

Hal ini terbukti pada kelompok individu superagers, sebutan untuk individu lansia diatas 65 tahun yang mempunyai fungsi kognitif otak seperti usia 25 tahun. Menantang diri untuk menguasai hal baru akan meningkatkan komunikasi di dalam otak dan sebagai hasilnya, fungsi kognitif otak pun akan meningkat.

Selain itu, belajar juga mempunyai dampak positif seperti meningkatkan rasa kepercayaan diri dan melatih kreativitas serta rasa ingin tahu yang tinggi.

4. Tetap tenang dan istirahat yang cukup

Memang melatih dan menantang pikiran Anda penting, tetapi jangan sampai hal tersebut membuat Anda panik dan stres. Kombinasi antara panik dan stress dapat menganggu proses kognitif otak untuk belajar dan mengingat.

Jika dibiarkan, hal tersebut dapat membatasi kapasitas kemampuan individu itu sendiri. Oleh sebab itu, cobalah untuk melakukan aktivitas seperti yoga, meditasi, dan jangan lupa untuk tetap bersenang-senang agar dapat mengurangi stres dan menenangkan pikiran.

Selain itu, pastikan bahwa Anda memiliki jam istirahat yang cukup. Jika Anda mengalami gangguan tidur, yang biasanya dialami saat memasuki usia senja, segera diskusikan dengan dokter. Pasalnya, gangguan tidur yang tidak diatasi dengan baik juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang.

5. Bersosialisasi

Tahukah Anda bahwa semakin sedikit Anda bergaul dengan orang lain, semakin tinggi risiko Anda mengalami demensia? Tentu saja hal ini juga berkaitan erat dengan penurunan fungsi otak pada lansia. Oleh sebab itu, jika Anda ingin fungsi otak tetap terjaga, lakukan sosialisasi dengan banyak orang.

Pada lansia, cara ini bisa dilakukan dengan rutin menjalin komunikasi dengan keluarga, teman, hingga tetangga. Tak hanya itu, ikutlah berbagai kegiatan sosial yang menarik dan mempertemukan Anda dengan banyak orang baru.

Dengan begitu, Anda mungkin akan terhindar dari penurunan fungsi otak karena kegiatan tersebut membantu menstimulasi pikiran dan menguji kemampuan lansia untuk menjalin komunikasi dengan orang lain.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Terapi Oksigen untuk Mengatasi Masalah Sesak Napas

Beberapa orang mungkin membutuhkan terapi oksigen untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darahnya. Siapa saja yang membutuhkannya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Pernapasan 2 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit

9 Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid Tanpa Obat

Sebelum terburu-buru mengambil obat, ikutilah tips-tips berikut untuk mengurangi nyeri haid Anda.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Wanita, Menstruasi 2 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit

Tips Membedakan Sakit Perut Karena Gas dan Karena Penyakit Lain

Sakit perut merupakan gejala dari masalah pencernaan yang sering muncul. Namun, apa bedanya sakit perut karena gas dan karena penyakit lain?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Monika Nanda
Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit

Begini Cara Memilih Multivitamin yang Aman dan Sesuai untuk Anda

Banyak jenis multivitamin yang ada di pasaran. Tapi yang manakah yang sesuai dengan Anda? Berikut cara memilih multivitamin yang tepat.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Fakta Gizi, Nutrisi 2 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tanaman untuk kamar

Selain Mempercantik Kamar, 7 Tanaman Ini Juga Bisa Bantu Tidur Nyenyak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
mulut bayi berjamur

Ciri-ciri Infeksi Jamur (Oral Thrush) di Mulut Anda

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 9 menit
Bekas luka

Cara Menghilangkan Bekas Luka dengan Langkah yang Tepat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
minyak kelapa untuk bayi

Manfaat Minyak Kelapa untuk Bayi, Mulai dari Mengatasi Eksim Sampai Melebatkan Rambut

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit