home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Demensia

Definisi demensia|Jenis-jenis demensia|Tanda dan gejala demensia|Penyebab demensia|Faktor-faktor risiko demensia|Komplikasi demensia|Obat & pengobatan demensia|Perawatan demensia di rumah|Pencegahan demensia
Demensia

Definisi demensia

Apa itu penyakit demensia?

Pengertian penyakit demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat (memori), berpikir, bertingkah laku, dan berbicara (berbahasa).

Sebenarnya, demensia bukanlah penyakit sungguhan, melainkan istilah untuk menggambarkan sekelompok gejala yang mengganggu fungsi otak.

Kondisi ini memiliki banyak sebutan lain, seperti gangguan neurokognitif mayor atau penyakit pikun. Meski, pada dasarnya tidak semua orang yang pikun (pelupa atau sering kali lupa) mengalami demensia.

Pikun sendiri adalah menurunnya daya ingat seseorang, yang umumnya disebabkan oleh menuanya usia. Namun, orang dengan penyakit demensia sangat khas mengalami gejala pikun yang cukup parah.

Tingkat keparahan kondisi ini bisa beragam, mulai berkisar dari yang ringan hingga berat sekali pun. Bahkan bukan tidak mungkin, kondisi yang memengaruhi fungsi otak ini bisa mengubah kepribadian seseorang.

Penyakit yang menyerang otak ini juga bisa bersifat progresif, yang artinya dapat berkembang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Beberapa kasus yang mengakibatkan demensia cenderung sulit untuk pulih.

Risiko mengalami demensia memang biasanya semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Namun penting untuk dipahami, bahwa kondisi ini sebenarnya bukan merupakan bagian dari penuaan.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Demensia adalah penyakit yang umum terjadi pada lansia, tepatnya orang di usia 65 tahun ke atas, baik pria maupun wanita.

Bahkan, kemungkinannya bisa semakin tinggi setelah seseorang berusia lebih dari 85 tahun. Faktor genetik juga turut menyumbang andil sebagai salah satu faktor risiko kondisi ini.

Di Indonesia, tahun 2016 diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang yang memiliki penyakit demensia. Angka ini akan terus melonjak seiring waktu dengan perkiraan 2 juta jiwa di tahun 2030 dan 4 juta jiwa di tahun 2050.

Jenis-jenis demensia

Berdasarkan situs National Institute of Aging, ada beberapa jenis dari demensia (penyakit pikun), di antaranya adalah:

1. Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum. Terbukti dengan sekitar 60-80 persen dari semua kasus demensia ditempati oleh penyakit Alzheimer, sebagian kecil kasus terkait dengan mutasi gen yang diturunkan orangtua ke anak.

Salah satu gen yang mewariskan tingginya risiko penyakit ini adalah apolipoprotein E4 (APOE). Sementara kasus lain kemungkinan terjadi akibat adanya plak (gumpalan protein) di otak.

2. Demensia vaskular

Demensia vaskular adalah gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah pada otak. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh adanya penumpukan plak di dalam pembuluh darah arteri.

Padahal normalnya, pembuluh darah tersebut seharusnya bertugas sebagai pemasok darah untuk otak. Stroke atau gangguan lainnya bisa menjadi penyebab masalah pada pembuluh darah ini.

3. Lewy body dementia

Lewy body dementia adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya endapan protein di dalam sel saraf pada otak. Akibatnya, fungsi otak untuk menghantarkan sinyal kimia ke seluruh tubuh pun terhambat.

Itulah mengapa orang yang mengalami hal ini biasanya memiliki penurunan daya ingat, dan respon yang cenderung lambat. Lewy body dementia merupakan salah satu jenis demensia progresif yang cukup umum.

4. Demensia frontotemporal

Demensia frontotemporal adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan rusaknya sel-sel saraf di lobus frontal temporal otak, yakni di bagian depan. Bagian otak ini umumnya bertugas untuk mengatur kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbicara (bahasa).

5. Kombinasi demensia

Penyakit pikun ini merupakan gabungan dari dua atau lebih jenis demensia, seperti penyakit Alzheimer, demensia vaskular, dan Lewy body disease.

Tanda dan gejala demensia

Berikut ini adalah berbagai tanda, gejala, maupun ciri-ciri yang ditunjukkan oleh orang yang mengalami demensia (penyakit pikun):

Gejala terkait perubahan kognitif

  • Kehilangan ingatan
  • Kesulitan berbahasa, berkomunikasi dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Mengalami disorientasi atau kebingungan akan waktu dan tempat.
  • Kesulitan dalam berpikir dan mencerna informasi.
  • Sering lupa dan salah saat meletakkan suatu benda.

Gejala terkait perubahan psikologis

  • Perubahan perilaku, kepribadian, dan suasana hati yang kerap terjadi secara tiba-tiba.
  • Kehilangan inisiatif atau apatis pada hal apa pun, termasuk pada kegiatan yang sebelumnya pernah ditekuni.
  • Kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Mengalami depresi.
  • Mengalami halusinasi.
  • Mengalami paranoia.
  • Merasa gelisah.

Seiring bertambahnya usia pasien, gejala demensia di tahap akhir biasanya dapat semakin memburuk. Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas.

Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda atau orang terdekat memiliki satu atau lebih gejala baik di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda.

Penyebab demensia

Ada berbagai penyebab demensia. Namun secara umum, kondisi ini disebabkan adanya kerusakan sel-sel otak (neuron) yang bisa terjadi di beberapa bagian otak.

Selain itu, kondisi ini juga bisa diawali karena muncul gangguan pada bagian tubuh lain yang kemudian memengaruhi fungsi neuron tersebut.

Neuron atau sel-sel otak akan melemah dan kehilangan fungsinya secara bertahap, sampai akhirnya mati.

Kondisi ini akhirnya memengaruhi koneksi antar neuron, yang disebut sebagai sinapsis. Alhasil, pesan yang seharusnya dihantarkan oleh otak pun terputus sehingga mengakibatkan timbulnya berbagai masalah.

Hal inilah yang nantinya dapat menghambat sel-sel otak untuk menjalankan fungsinya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan, turut memengaruhi perilaku dan perasaan orang yang mengalaminya.

Demensia dapat memengaruhi seseorang dengan cara yang berbeda, tergantung dari area otak yang bermasalah. Berikut ini adalah berbagai kondisi dan hal yang bisa menjadi penyebab penyakit pikun (demensia).

  • Gangguan pada struktur otak, seperti hidrosefalus dan hematoma subdural atau tumor dan infeksi pada otak atau penyakit Parkinson.
  • Gangguan pada sistem metabolisme, misalnya hipotiroidisme, kekurangan vitamin B-12, kalium, natrium, kadar gula darah rendah (hipoglikemia), serta masalah ginjal dan hati.
  • Terpapar zat kimia yang menyebabkan keracunan, seperti timah, logam berat, dan pestisida.
  • Anoxia, atau juga disebut sebagai hipoksia, yang terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Anoxia bisa berkembang karena asma yang parah, serangan jantung, keracunan karbon monoksida, dan lainnya.
  • Kurang gizi. Misalnya karena kekurangan cairan (dehidrasi), vitamin, dan mineral lainnya yang diperlukan tubuh.

Faktor-faktor risiko demensia

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko demensia, di antaranya adalah:

Faktor risiko demensia yang tidak bisa diubah

  • Usia. Anda lebih rentan terkena kondisi ini setelah berusia 65 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk terjadi saat usia muda.
  • Riwayat keluarga. Memiliki anggota keluarga dengan penyakit ini, menempatkan seseorang memiliki risiko lebih besar untuk mengalaminya.
  • Down syndrome. Banyak orang dengan Down syndrome mengalami penyakit Alzheimer pada usia paruh baya.

Faktor risiko demensia yang bisa diubah

  • Penyalahgunaan alkohol. Sering minum alkohol dalam jumlah banyak, bisa membuat Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini.
  • Faktor risiko penyakit kardiovaskular. Faktor risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, menumpuknya lemak pada dinding arteri (aterosklerosis), dan obesitas. Kesemua hal tersebut dapat meningkatkan risiko terkena kondisi ini.
  • Depresi. Meski belum dapat dipahami dengan baik, depresi pada usia lanjut mungkin mengindikasikan perkembangan demensia.
  • Diabetes. Jika Anda memiliki diabetes, Anda memiliki risiko lebih tinggi terhadap demensia, terutama jika tidak ditangani dengan baik.
  • Merokok. Meningkatkan risiko terhadap demensia dan penyakit lainnya seperti penyakit pembuluh darah (vaskular).
  • Sleep apnea. Orang yang sering mendengkur dan berhenti bernapas saat tidur dapat mengalami kondisi yang ditandai dengan gangguan pada fungsi kognitif.

Komplikasi demensia

Demensia yang semakin memburuk seiring waktu dapat menimbulkan komplikasi, di antaranya adalah:

  • Kekurangan nutrisi. Kondisi terjadi karena pasien lupa untuk makan dengan baik, atau mungkin tidak bisa menelan dan mengunyah.
  • Pneumonia (radang paru-paru). Kesulitan menelan meningkatkan risiko tersedak atau menyedot makanan ke dalam paru-paru, yang dapat menghalangi pernapasan dan menyebabkan pneumonia.
  • Tidak bisa merawat diri. Ketidakmampuan untuk melakukan perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, menyikat rambut atau gigi, menggunakan toilet sendiri, dan minum obat secara akurat.
  • Kematian. Demensia stadium akhir menyebabkan koma dan kematian, seringkali karena infeksi.

Obat & pengobatan demensia

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Kondisi yang memengaruhi fungsi kognitif otak ini biasanya tidak hanya melibatkan satu jenis pemeriksaan saja. Dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes diagnosa untuk penyakit demensia, meliputi:

1. Riwayat medis

Dokter akan menanyakan tentang sejarah keluarga, penyakit, cedera, dan operasi yang pernah dialami. Selain itu, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, serta kondisi kronis juga akan diperiksa guna mencari tahu penyebab kondisi ini.

2. Pemeriksaan fisik

Tes pendengaran dan penglihatan, tekanan darah, denyut jantung, dan berbagai indikator lainnya akan diperiksa. Tujuannya untuk mendeteksi apakah kondisi kesehatan Anda tergolong akut atau kronis.

3. Tes laboratorium

Tes darah bisa digunakan untuk membantu mendeteksi masalah fisik yang turut memengaruhi kerja otak. Entah itu karena kekurangan vitamin B-12, atau kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Terkadang, cairan tulang belakang juga diperiksa guna mengetahui adanya infeksi, peradangan, atau pertanda beberapa penyakit degeneratif.

4. Tes pencitraan

Electroencephalography (EEG), PET scan, dan MRI, bisa menjadi pilihan pengobatan lainnya. Namun hal ini tergantung dari sejarah medis dan gejala yang Anda miliki.

5. Tes neuropsikologis

Dokter biasanya akan meminta pasien untuk mengingat kata-kata atau menyebutkan objek tertentu. Hal ini bertujuan untuk menentukan seberapa parah kondisi, melacak perubahan pada kemampuan tubuh, serta menilai kemampuan yang berfungsi dengan baik.

Secara keseluruhan, pemeriksaan ini bertugas untuk menilai berbagai fungsi. Meliputi memori, bahasa, penglihatan, perhatian, pemecahan masalah, gerakan tubuh, sistem indra, keseimbangan, hingga refleks tubuh.

6. Evaluasi kejiwaan

Seorang ahli kesehatan jiwa biasanya akan menilai apakah depresi atau kondisi kesehatan mental lainnya, turut terkait dengan kondisi penurunan fungsi otak ini.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk demensia?

Demensia dapat ditangani dengan menggunakan dua cara, yakni obat-obatan dan terapi:

1. Obat-obatan

Ada beberapa obat yang digunakan untuk mengobati demensia alias penyakit pikun, di antaranya adalah:

Obat penghambat kolinesterase

Obat ini bekerja dengan meningkatkan senyawa kimia di otak yang terlibat dalam memori dan penilaian. Contoh obat-obatan yang digunakan adalah donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon) dan galantamine (Razadyne). Efek samping dari obat ini adalah gangguan pencernaan, denyut jantung melambat, dan gangguan tidur.

Obat memantine

Memantime bekerja dengan mengatur aktivitas glutamat, pembawa pesan kimiawi lain yang terlibat dalam fungsi otak, yakni pembelajaran dan pengolahan memori. Efek samping dari obat ini adalah kepala pusing.

2. Terapi demensia

Cara mengobati dan mengatasi demensia selain obat adalah dengan mengikuti terapi. Perawatan ini bertujuan untuk membantu pasien memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Terapi yang dilakukan umumnya meliputi:

  • Terapi okupasi. Perawatan ini membantu pengasuh pasien dan pasien ketika gejala muncul. Tujuannya, untuk mencegah terjadi kecelakaan atau terjatuh yang bisa memengaruhi kesehatan.
  • Perubahan lingkungan. Suasana yang jauh dari kebisingan dan aman tentu membantu pasien demensia untuk lebih fokus dalam menjalankan aktivitas. Keluarga dan pengasuh biasanya akan diminta untuk menyembunyikan berbagai benda yang sifatnya membahayakan, seperti pisau.
  • Menyederhanakan tugas harian. Pasien demensia mudah kesulitan melakukan aktivitas yang biasanya mudah dilakukan orang normal. Oleh karena itu, dalam terapi ini, pasie akan diajarkan untuk lebih fokus serta mengikuti langkah-langkah mudah dalam menyelesaikan suatu kegiatan.

Perawatan demensia di rumah

Hampir semua kasus demensia, menyebabkan seseorang untuk melakukan perawatan di rumah karena gejala yang dialaminya. Oleh karena itu, pasien membutuhkan bantuan Anda dan keluarga. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk merawat pasien demensia adalah:

  • Anda harus membantu pasien mengikuti pengobatan yang direkomendasikan dokter. Bahkan, mengatur jadwal pengobatan rutin lanjutan agar kondisi tubuhnya tetap sehat.
  • Anda perlu membantu pasien untuk melakukan perawatan diri, seperti menyiapkan makanan dan memastikan pola makannya sesuai anjuran dokter, membersihkan tubuhnya, dan mengajaknya untuk melakukan berbagai aktivitas yang memberi manfaat pada kesehatan otaknya, seperti berkebun atau olahraga.
  • Cobalah berkomunikasi dengan pasien dengan cara yang benar, yakni menggunakan pilihan kata yang mudah dimengerti, tidak terburu-buru, dan gunakan gestur tubuh untuk menunjukkan suatu hal.
  • Paling penting adalah bagaimana Anda bisa menjaga emosi pasien tetap stabil. Hindari berbicara membentak, dan tidak mengabaikannya.

Pencegahan demensia

Tidak cara khusus yang bisa mencegah seseorang dari penyakit demensia. Meski begitu, Anda bisa menurunkan risiko sebagai tindakan pencegahan demensia di kemudian hari, di antaranya adalah:

  • Jagalah pikiran Anda agar tetap aktif, seperti membaca, memecahkan teka-teki, atau mengikuti permainan tebak kata atau mengasah memori.
  • Aktif baik secara fisik, maupun sosial, yakni dengan menjalankan olahraga secara rutin dan berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling, seperti mengikuti komunitas.
  • Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.
  • Ikuti pengobatan dari masalah kesehatan yang Anda miliki, seperti depresi, hipertensi, atau kolesterol tinggi.
  • Penuhi nutrisi dari berbagai makanan yang sehat, terutama dari vitamin D, vitamin B kompleks, dan vitamin C. Anda bisa mendapatkan berbagai nutrisi dari sayur, buah, kacang-kacangan, telue, daging, dan biji-bijian.
  • Jaga pola makan tetap sehat, agar berat badan Anda tetap ideal.
  • Pastikan Anda cukup beristirahat. Jika Anda memiliki gangguan tidur, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dementia – Symptoms and causes. (2019, April 19). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dementia/symptoms-causes/syc-20352013 [Accessed on November 11th, 2020]

Symptoms of dementia – NHS. (2017, December 21). nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/dementia/symptoms/ [Accessed on November 11th, 2020]

Statistik tentang Demensia. Alzheimer Indonesia – Jangan Maklum dengan Pikun. https://alzi.or.id/statistik-tentang-demensia/ [Accessed on November 11th, 2020]

What is dementia? Symptoms, types, and diagnosis. National Institute on Aging. https://www.nia.nih.gov/health/what-dementia-symptoms-types-and-diagnosis [Accessed on November 11th, 2020]

Causes of dementia. (2017, December 21). nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/dementia/causes/ [Accessed on November 11th, 2020]

Robinson, L. Tips for Alzheimer’s and dementia caregivers. HelpGuide.org. https://www.helpguide.org/articles/alzheimers-dementia-aging/tips-for-alzheimers-caregivers.htm [Accessed on November 11th, 2020]

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 09/01/2016
x