Panduan Memenuhi Kebutuhan Gizi Lansia

Oleh

Tubuh kita mengalami perubahan sesuai dengan masanya. Semakin bertambah usia, maka akan semakin berkurang fungsi tubuh kita. Pada mereka yang berusia lanjut atau lansia, terjadi berbagai perubahan baik secara fisik maupun persepsi yang kemudian mempengaruhi kebutuhan gizi lansia tersebut.

Perubahan fisiologis pada lansia

Salah satu hal yang menyebabkan perubahan kebutuhan zat gizi seseorang adalah keadaan fisiknya. Pada lansia, kebutuhan gizinya terkadang susah untuk digeneralisasi. Meskipun secara umum lansia akan mengalami penurunan kebutuhan gizi, tetapi karena penurunan massa tubuh dan kecepatan metabolisme basalnya berbeda-beda, maka kebutuhan gizinya berbeda-beda pula. Selain karena penurunan massa tubuh dan kecepatan metabolisme basal, menurunnya kemampuan organ-organ untuk bekerja secara maksimal juga mempengaruhi kebutuhan gizi lansia.

Sebagai contoh, kerja sistem pencernaan dalam mencerna lemak sudah tidak semaksimal ketika muda, maka konsumsi lemak juga sebaiknya dikurangi. Masalah pencernaan seperti konstipasi dan gastritis juga sering terjadi pada mereka yang berusia lanjut sehingga pemenuhan gizi lansia terkadang menjadi tantangan tersendiri.

Perubahan indra pada lansia mempengaruhi makanan

Tidak hanya perubahan fisik, perubahan indra dan persepsi seperti kepekaan terhadap rasa, aroma, bahkan pendengaran dan penglihatan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pemenuhan gizi lansia. Salah satu masalah terkait persepsi yang biasa terjadi pada lansia adalah berkurangnya kemampuan indera pengecapan. Ketika kemampuan seseorang untuk mengecap rasa berkurang, makanan dapat terasa hambar atau pahit sehingga cenderung menambahkan bumbu seperti garam atau penyedap ke dalam makanan, padahal konsumsi garam dan penyedap termasuk yang harus dibatasi pada lansia. Penurunan fungsi penciuman juga mempengaruhi bagaimana seseorang memilih jenis makanan.

Apa saja kebutuhan gizi lansia?

Sebagai contoh, pada perempuan berusia antara 50-64 tahun, kebutuhan energi per hari adalah 1900 kkal, lebih kecil kira-kira 300 kalori jika dibandingkan dengan kebutuhan energi orang dewasa berusia 19-29 tahun. Perubahan lain yang terlihat signifikan adalah kebutuhan lemak dan karbohidrat. Pada orang dewasa kebutuhan lemaknya sebesar 60-75 gram per hari, sementara pada lansia kebutuhan lemaknya hanya sebesar 43-53 gram saja.

Mayoritas kebutuhan zat gizi makronutrien (seperti karbohidrat, lemak, dan protein) pada lansia berkurang seiring dengan meningkatkanya usia. Tetapi pada zat gizi mikronutrien (seperti vitamin dan mineral) cenderung tidak mengalami perubahan, hanya natrium yang jumlahnya harus dikurangi seiring dengan meningkatnya usia.

Panduan menjaga gizi seimbang untuk lansia

1. Biasakan mengonsumsi sumber kalsium

Kalsium berperan untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tulang. Pada lansia, kepadatan tulang mulai berkurang sehingga berisiko menimbulkan pengeroposan tulang dan gigi. Lansia dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan kalsium serta vitamin D seperti ikan dan susu. Sering terpapar sinar matahari pagi juga dapat membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh.

2. Biasakan mengonsumsi makanan berserat

Sembelit merupakan salah satu masalah pencernaan yang sering dialami oleh lansia. Berkurangnya konsumsi sayur buah pada usia lanjut menjadi salah satu faktor penyebabnya. Terkadang buah yang keras atau sayur yang terlalu berserat membuat lansia kesulitan mengonsumsi sayur buah sehingga membatasi lansia mendapat asupan sayur buah yang cukup. Selain sayur buah, lansia dapat mengonsumsi produk whole grain yang juga tinggi serat. Serat penting bagi kesehatan lansia karena selain untuk melancarkan pencernaan, serat juga berfungsi untuk mengontrol kadar lemak dan gula dalam darah.

3. Minum air putih sesuai kebutuhan

Seiring dengan menurunnya usia, sistem hidrasi pada lansia juga menurun sehingga lansia kurang peka terhadap kekurangan maupun kelebihan cairan. Dehidrasi yang terjadi pada lansia dapat menimbulkan demensia dan mudah lupa. Selain itu ketika kekurangan cairan, kadar natrium dalam darah akan meningkat sehingga meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Sebaliknya, kelebihan cairan dapat memperberat kerja jantung dan ginjal. Sebaiknya lansia mengonsumsi air sebanyak 1500-1600 ml atau sekitar 6 gelas per harinya. Ini lebih sedikit daripada anjuran konsumsi air untuk orang dewasa yang sebanyak 8 gelas per harinya.

4. Tetap melakukan aktivitas fisik

Kelenturan otot akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Kekakuan otot sering terjadi pada lansia karena kemampuan otot untuk berkontraksi dan relaksasi juga berkurang. Lansia dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik ringan seperti berjalan santai, bersepeda, berkebun, yoga, atau senam usia lanjut. Selain menjaga kelenturan otot, aktivitas fisik tersebut dapat membantu menjaga kesehatan jantung dan kebugaran tubuh.

5. Batasi konsumsi gula, garam, dan lemak

Karena kerja sistem pencernaan bagi mereka yang berusia lanjut sudah tidak semaksimal saat usia muda, maka membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak menjadi sangat penting untuk menjaga kesehatan lansia. Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih akan meningkatkan kemungkinan lansia mengalami hipertensi, hiperkolesterol, hiperglikemia, stroke, penyakit jantung, dan diabetes. Lansia lebih rentan terhadap penyakit degeneratif karena sistem yang berfungsi untuk membantu metabolisme gula, garam, dan lemak sudah tidak bisa bekerja sebaik dulu.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca