Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Februari 2021 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi depresi

Apa itu depresi?

Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat.

Kondisi ini lebih dari sekadar perasaan sedih yang normalnya dialami orang-orang dengan kondisi mentalnya sehat. Ini karena perasaan sedih sangat sulit untuk disingkirkan sehingga terus menerus menghantui.

Sebutan lain untuk penyakit mental ini adalah depresi mayor atau depresi klinis, yang memengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku yang dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik.

Penderitanya bisa mengalami kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari, karena merasa hidup tidak layak untuk ia jalani.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Depresi adalah kondisi yang umum terjadi di masyarakat. Menurut penelitian, kondisi ini terjadi pada 80% orang pada beberapa waktu dalam hidupnya dan dapat terjadi pada usia berapa pun. Biasanya, depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.

Jenis-jenis depresi

Anda dapat mengalami gangguan suasanahati ini dengan bentuk yang berbeda-beda. Dikutip dari Mayo Clinic dan  National Institute of Mental Health, berikut adalah jenis-jenis depresi dalam bentuk yang lebih spesifik:

Beberapa penyakit mental lain memiliki gejala berupa depresi, seperti gangguan siklotimik, disruptive mood dysregulation disorder, dan gangguan dysphoric pramenstruasi.

Tanda & gejala depresi

Meskipun penyakit mental ini hanya dapat terjadi sekali selama hidup, penderita biasanya memiliki banyak episode. Selama episode ini, gejala depresi muncul hampir sepanjang hari, hampir setiap hari dan mungkin termasuk:

  • Perasaan sedih, menangis, hampa atau putus asa.
  • Mudah tersinggung, frustrasi, atau mudah marah, bahkan karena hal-hal kecil.
  • Kehilangan minat atau kesenangan dalam sebagian besar atau semua aktivitas normal, seperti seks, hobi, atau olahraga.
  • Gangguan tidur, termasuk insomnia atau terlalu banyak tidur.
  • Kelelahan dan kekurangan energi, sehingga tugas-tugas kecil membutuhkan usaha ekstra.
  • Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun atau meningkatnya keinginan untuk makan dan penambahan berat badan.
  • Kecemasan, agitasi atau kegelisahan.
  • Kemampuan berpikir yang melambat, ataupun berbicara atau gerakan tubuh.
  • Perasaan tidak berharga atau bersalah, terpaku pada kegagalan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri.
  • Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, membuat keputusan dan mengingat sesuatu.
  • Pikiran yang sering atau berulang tentang kematian dan berpikiran untuk bunuh diri.
  • Masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit punggung atau sakit kepala.

Bagiorang dengan gangguan suasana hati yang sudah parah, aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan, sekolah, aktivitas sosial, atau hubungan dengan orang lain menjadi memburuk.

Gejala depresi pada anak-anak dan remaja

Tanda dan gejala depresi pada anak-anak dan remaja serupa dengan orang dewasa, tetapi ada beberapa perbedaan, di antaranya:

  • Pada anak-anak yang lebih kecil, gejala depresi mungkin termasuk kesedihan, mudah tersinggung, clinginess atau susah berpisah, khawatir, sakit dan nyeri, menolak pergi ke sekolah, atau kekurangan berat badan.
  • Depresi pada remaja, gejalanya mungkin termasuk kesedihan, mudah tersinggung, merasa negatif dan tidak berharga, kemarahan, nilai yang buruk atau sering tidak masuk sekolah. Selain itu, depresi pada remaja juga dapat ditandai dengan perasaan disalahpahami dan sangat sensitif, menggunakan narkoba atau alkohol, makan atau tidur berlebihan, menyakiti diri sendiri, kehilangan minat. dalam aktivitas normal, dan menghindari interaksi sosial.

Gejala depresi pada orang lansia

Depresi bukanlah bagian normal dari bertambahnya usia, dan tidak boleh dianggap enteng. Sayangnya, gangguan suasana hati ini sering kali tidak terdiagnosis dan tidak diobati pada orang dewasa yang lebih tua, dan mereka mungkin merasa enggan untuk mencari bantuan.

Gejala depresi mungkin berbeda atau kurang jelas pada orang dewasa yang lebih tua, seperti:

  • Kesulitan memori atau perubahan kepribadian.
  • Sakit atau nyeri fisik.
  • Kelelahan, kehilangan nafsu makan, masalah tidur atau kehilangan minat pada seks yang bukan disebabkan oleh kondisi medis atau pengobatan.
  • Seringkali ingin tinggal di rumah, daripada keluar untuk bersosialisasi atau melakukan hal-hal baru.
  • Pikiran atau perasaan bunuh diri, terutama pada pria yang lebih tua.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasakan beberapa tanda di atas, buatlah janji dengan dokter Anda sesegera yang Anda bisa. Apabila Anda enggan untuk melakukan terapi, bicarakan dengan teman atau pasangan Anda, pelayan kesehatan, pemuka agama, atau orang lain yang dapat Anda percaya.

Tidak perlu malu untuk meminta pertolongan dokter atau pihak lain. Semakin dini Anda ke dokter, semakin baik.

Jika Anda berpikir akan melukai diri Anda atau mencoba bunuh diri, Anda dapat menghubungi nomor darurat Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di 021-500-454 atau nomor darurat 112

Selain itu, pertimbangkan pilihan berikut saat Anda berpikir akan bunuh diri:

  • Meminta bantuan saat depresi pada dokter Anda atau pelayan kesehatan yang lain.
  • Bicarakan dengan teman terdekat atau pasangan Anda.
  • Hubungi pemuka agama atau orang lain dalam komunitas iman Anda.

Jika pasangan atau teman Anda depresi dan dalam bahaya percobaan bunuh diri:

  • Pastikan orang lain tetap bersamanya.
  • Hubungi nomor darurat lokal sesegera mungkin.
  • Jika memungkinkan, bawalah orang tersebut ke instalasi gawat darurat di rumah sakit terdekat.

Penyebab depresi

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab depresi. Namun, beberapa penyebab yang membuat risiko depresi seseorang meningkat, antara lain:

1. Faktor genetik

Sebagian besar peneliti menduga bahwa genetik berpengaruh terhadap depresi . Jika Anda memiliki orangtua atau saudara kandung yang mengalami kondisi ini, Anda berpeluang untuk mengalaminya juga.

2. Zat kimiawi pada otak

Kondisi ini bisa sebabkan karena tidak seimbangnya kadar senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang mengatur suasana hati. Hal ini bisa menyebabkan serangkaian gejala yang dikenal sebagai depresi klinis.

3. Faktor lingkungan

Gangguan mental ini bisa disebabkan dari hal-hal yang ditemui sehari-hari, misalnya pekerjaan. Pekerjaan yang menumpuk, lingkungan kerja yang tidak nyaman, hingga masalah personal dengan bos atau rekan kerja bisa memicu seseorang mengalami depresi.

Tak melulu masalah pekerjaan, lingkungan di rumah atau pertemanan yang tidak mendukung juga bisa memicu kondisi ini.

4. Stres berat dan kronis

Kehilangan orang yang dicintai, hubungan bermasalah, atau berada dalam tekanan terus-menerus bisa jadi penyebab depresi. Para peneliti menduga kadar hormon kortisol yang terus-terusan tinggi dapat menekan kadar serotonin dan akhirnya memicu gejala depresi.

5. Riwayat penyakit tertentu

Seringnya, stres dan rasa sakit karena penyakit kronis dapat memicu depresi berat. Penyakit tertentu, seperti gangguan tiroid, penyakit Addison dan penyakit hati, juga dapat memunculkan gejala depresi.

6. Trauma masa kecil

Trauma pada masa kecil memberikan pengaruh yang besar pada kondisi psikologis seseorang ketika dewasa. Beberapa peristiwa buruk seperti pelecehan seksual, kehilangan orangtua, atau efek perceraian orangtua bisa memicu kondisi ini

Faktor risiko depresi

Depresi lebih sering muncul pada usia remaja, sekitar usia 20 atau 30. Namun, kondisi ini bisa terjadi pada semua usia. Wanita lebih banyak didiagnosis depresi dibandingkan dengan laki-laki, tapi ini bisa jadi karena penderita wanita lebih sering mencari bantuan dan pengobatan.

Faktor yang meningkatkan risiko atau memicu depresi adalah:

  • Memiliki riwayat keluarga kelainan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).
  • Penyalahgunaan alhohol atau obat terlarang.
  • Beberapa ciri kepribadian, seperti rendah diri, ketergantungan, kritis dengan diri sendiri atau pesimistik.
  • Penyakit kronis atau serius, seperti kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau obat tidur (diskusikan dengan dokter Anda sebelum menghentikan obat).
  • Kejadian traumatik atau yang dapat membuat stres, seperti kekerasan seksual, kematian, atau kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan
  • Hubungan darah atau genetik dengan penderita depresi, gangguan bipolar, alkoholisme, atau percobaan bunuh diri.

Diagnosis & pengobatan depresi

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Pada umumnya, dokter akan mendiagnosis dari gejala dan riwayat kesehatan Anda. Selain pemeriksaan yang dilakukan dokter untuk menentukan kondisi ini, antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan soal kesehatan Anda. Dalam beberapa kasus, depresi mungkin berhubungan dengan kesehatan fisik tertentu. 
  • Tes laboratorium. Dokter mungkin akan melakukan tes darah lengkap atau menguji tiroid Anda untuk memastikannya berfungsi dengan baik.
  • Evaluasi kejiwaan. Spesialis kesehatan mental akan bertanya tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku Anda. Anda mungkin diminta mengisi kuesioner untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
  • DSM-5. Tenaga medis dapat menggunakan kriteria untuk menentukan depresi yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association. 
  • PPDGJ. Tenaga  medis menggunakan kriteria tersebut, yang juga disebut dengan PPDGJ (Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa).

Apa saja pilihan pengobatan untuk depresi?

Terapi depresi biasanya menggunakan obat-obatan, psikoterapi, dan terapi elektrokonvulsif. Dokter akan meninjau kondisi Anda dan akan mempertimbangkan terapi apa yang cocok untuk Anda. 

Tidak perlu malu untuk mendiskusikan kekhawatiran Anda akan terapi yang dokter tawarkan. Pilihan pengobatan untuk mengatasi depresi adalah:

1. Obat-obatan

Obat-obatan yang digunakan, yaitu antidepresan, seperti escitalopram, paroxetine, sertraline, fluoxetine, dan citalopram.

Obat-obat tersebut termasuk obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)

Selain itu juga ada obat venlafaxine, duloxetine dan bupropion. Obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti:

  • Peningkatan berat badan
  • Masalah seksual
  • Mual

Antidepresan tidak menyebabkan kecanduan. Ketika Anda sudah tidak perlu antidepresan dan berhenti menggunakannya, tubuh tidak akan mengalami ketergantungan. 

Meskipun demikian, penggunaan dan penghentian antidepresan harus dalam pengawasan dokter. Penghentian yang mendadak dapat menyebabkan perburukan gejala depresi. Selalu konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan antidepresan.

2. Psikoterapi

Psikoterapi dilakukan dengan mengajari cara baru dalam berpikir dan berperilaku, dan mengubah kebiasaan yang menuntun Anda pada kondisi ini. 

Terapi ini dapat membantu Anda mengerti serta melewati hubungan yang penuh masalah atau situasi yang menyebabkan depresi atau bahkan memperburuknya.

3. Terapi elektrokonvulsif

Untuk gangguan suasana hati berat yang sulit diterapi atau tidak berhasil dengan obat dan psikoterapi, kadang diperlukan terapi elektrokonvulsif (ECT) yang dilakukan di bawah pengaruh obat bius. 

Walaupun dahulu ECT memiliki reputasi yang buruk, saat ini ECT sudah mengalami peningkatan dan dapat menyembuhkan saat pengobatan lainnya tidak bekerja. 

ECT dapat menyebabkan efek samping seperti bingung dan kehilangan memori. Walaupun efek samping ini hanya sementara, terkadang efek tersebut juga bisa melekat terus.

Pengobatan depresi di rumah

Selain menjalani pengobatan dokter, perubahan gaya hidup untuk pasien depresi juga perlu diterapkan, di antaranya adalah:

  • Ubah ekspektasi Anda, sehingga nantinya tidak membuat Anda merasa sedih, kecewa, dan putus harapan.
  • Partisipasi dalam aktivitas yang mungkin membuat Anda merasa lebih baik.
  • Kurangi stres dengan tidur cukup dan rajin olahraga karena keduanya memengaruhi kesehatan otak dan mental Anda.
  • Konsumsi makanan sehat untuk pengidap depresi seperti perbanyak sayur, buah, ikan, biji-bijian, kacang-kacangan, dan produk susu rendah lemak.

Pencegahan depresi

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah penyakit depresi. Akan tetapi, ada beberapa langkah yang bisa membantu Anda lakukan untuk menurunkan risikonya, seperti:

  • Saat Anda stres, pastikan untuk mencari cara meredakannya. Jangan biarkan diri Anda terlarut terhadap masalah yang Anda hadapi. Luangkan waktu untuk membebaskan diri dari rasa stres tersebut, sehingga lebih mudah mendapat solusi.
  • Jangan memendam rasa stres sendiri, jika Anda butuh seseorang untuk berbagi, cobalah membuka diri dengan keluarga atau sahabat. Jika tidak berhasil, jangan ragu untuk konsultasi ke psikolog.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Mengetahui anak Anda melakukan masturbasi mungkin akan menimbulkan rasa kaget pada orang tua. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi hal tersebut?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Parenting, Tips Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

7 Tanda Stres yang Sering Tidak Anda Sadari

Gejala-gejala berikut ini sering diabaikan dan dianggap normal, padahal ini adalah tanda jika Anda sedang mengalami stres.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Hidup Sehat, Psikologi 1 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
tips menghindari perceraian

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
bahaya cyber bullying

Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
makanan untuk yang kurang tidur

Berbagai Makanan yang Perlu Dikonsumsi Jika Anda Kurang Tidur

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit