home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Osteoporosis (Pengapuran Tulang)

Definisi osteoporosis|Tanda & gejala osteoporosis|Penyebab osteoporosis|Faktor risiko osteoporosis|Obat & pengobatan osteoporosis|Pengobatan di rumah untuk osteoporosis
Osteoporosis (Pengapuran Tulang)

Definisi osteoporosis

Apa itu osteoporosis?

Osteoporosis atau pengapuran tulang adalah penyakit yang terjadi saat tulang mulai mengalami pengeroposan secara berkelanjutan. Bagian dalam tulang yang sehat normalnya tampak memiliki banyak ruang kecil persis seperti sarang lebah. Pengeroposan tulang akan membuat ruangan-ruangan tersebut menjadi lebih lebar.

Kondisi ini lambat laun membuat tulang kehilangan kekuatannya, sehingga menjadi lebih rapuh, hingga bahkan rentan patah akibat trauma kecil. Pertumbuhan tulang bagian luar juga cenderung lebih lemah dan tipis daripada seharusnya.

Hal ini meningkatkan risiko gangguan pada struktur tulang, seperti patah tulang akibat pengeroposan. Penderita osteoporosis biasanya memiliki risiko tinggi mengalami patah tulang panggul, patah tulang pergelangan tangan, dan patah tulang belakang. Sayangnya, beberapa tulang seperti tulang panggul yang sudah rusak tidak dapat sembuh.

Mitos mengatakan bahwa osteoporosis adalah penyakit yang terjadi secara alami dan tidak dapat dihindari, karena dianggap bagian dari penuaan.

Padahal, penyakit kelainan tulang ini sebenarnya bisa dicegah atau diperlambat perkembangannya. Sayangnya, sering kali osteoporosis tidak terdeteksi hingga tulang tersebut akhirnya patah.

Osteoporosis sering kali disamakan dengan osteopenia. Padahal, osteopenia adalah penyakit dimana terjadi penurunan kepadatan tulang hingga di bawah batas normal, tapi tak separah osteoporosis. Jangan sampai tertukar, ya.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Tulang keropos karena osteoporosis adalah hal yang umum. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki dan wanita dari semua ras. Namun, orang kulit putih dan wanita Asia diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi. Risiko tersebut akan semakin meningkat bagi wanita berusia lanjut yang sudah tidak lagi mengalami menstruasi (menopause).

Orang yang memang memiliki osteoporosis berisiko lebih tinggi untuk mengalami patah tulang bahkan saat sedang melakukan kegiatan rutin. Termasuk berdiri, berjalan, atau mengangkat beban.

Namun, jangan khawatir. Anda dapat mengurangi risiko terserang penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang Anda miliki. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.

Tanda & gejala osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit yang biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu pada tahapan awal. Bahkan, dalam beberapa kasus, orang yang telah mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang tidak mengetahui secara pasti kondisinya, hingga mengalami patah tulang.

Gejala utama dari osteoporosis yang bisa terasa adalah tulang mudah patah karena insiden kecil, seperti terjatuh, terpeleset, bersin, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dapat muncul beberapa gejala osteoporosis lainnya, di antaranya adalah:

  • Nyeri tulang punggung bawah.
  • Nyeri leher.
  • Postur tubuh bungkuk.
  • Penurunan tinggi badan secara bertahap.
  • Mudah sekali mengalami patah tulang.

Jika kondisi tersebut tidak segera diobati, tulang yang keropos bisa semakin memburuk dari waktu ke waktu. Ketika struktur dan komposisi tulang sudah semakin menipis dan melemah, risiko patah tulang kemudian meningkat.

Gejala osteoporosis yang sudah tergolong parah bisa mengakibatkan tulang patah karena hal sepele sampai berat. Entah itu bersin atau batuk yang kuat, maupun karena terjatuh.

Bukan hanya itu. Beberapa orang kerap mengalami gejala berupa patah tulang iga, pergelangan tangan, atau panggul.

Namun sebagian besar kasus patah tulang karena pengeroposan ini, ketika terjadi di tulang belakang karena bisa sampai menyebabkan cacat.

Kemungkinan masih ada tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah segera dengan dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila sudah mulai memasuki fase awal menopause, rutin mengkonsumsi obat kortikosteroid selama beberapa bulan, atau orangtua mengalami patah tulang panggul.

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda.

Penyebab osteoporosis

Sebenarnya, tidak sepenuhnya salah jika ada yang mengatakan bahwa semakin bertambahnya usia, tulang akan semakin rentan mengalami pengeroposan. Namun, bukan berarti semua orang yang bertambah tua sudah pasti mengalami osteoporosis.

Pada dasarnya, setiap kali tulang manusia yang sudah tua patah, tubuh akan menggantinya dengan tulang yang baru. Saat masih berusia muda, proses pergantian tulang tersebut tentu lebih cepat.

Setelah melewati usia dua puluhan, proses ini akan sedikit demi sedikit melambat. Umumnya, massa tulang akan mencapai puncaknya di usia 30 tahun. Sejak saat itu, seiring dengan bertambahnya usia, massa tulang akan lebih cepat berkurang tanpa disertai dengan pembentukan tulang yang baru.

Secara tidak langsung, peluang Anda untuk terkena osteoporosis sebenarnya tergantung pada seberapa banyak massa tulang yang terbentuk saat Anda masih muda.

Semakin banyak massa tulang yang terbentuk, semakin banyak pula persediaan massa tulang yang disimpan. Alhasil, kemungkinan Anda untuk mengalami osteoporosis seiring bertambahnya usia pun semakin kecil.

Oleh karena itu, tidak bisa serta merta dikatakan bahwa penyebab osteoporosis adalah pertambahan usia. Meski, jika Anda tidak dapat merawat kesehatan tulang selagi muda, risiko mengalami osteporosis akan meningkat saat usia bertambah.

Faktor risiko osteoporosis

Ada banyak faktor risiko untuk osteoporosis. Beberapa di antaranya dapat diubah sejak dini, tapi beberapa lainnya cenderung sulit atau bahkan tidak bisa diubah.

Sejumlah faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat Anda ubah adalah:

1. Jenis kelamin wanita

Wanita diduga lebih banyak menderita osteoporosis dibanding laki-laki.

2. Pertambahan usia

Usia adalah salah satu faktor risiko dari osteoporosis. Semakin tua usia Anda, semakin besar pula risiko mengalami penyakit kelainan tulang ini.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, peningkatan risiko ini biasanya berlangsung sejak usia Anda menginjak 30 tahun, terutama setelah seorang wanita mengalami menopause.

3. Penurunan kadar hormon di dalam tubuh

Menurut Office on Women’s Health, alasan pengeroposan tulang pada wanita dapat dipengaruhi oleh kadar estrogen di dalam tubuh.

Semakin berkurang hormon estrogen, semakin tinggi risiko osteoporosis yang dialami wanita. Hal ini disebabkan estrogen memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan tulang.

Sedangkan pada pria, kadar testosteron yang rendah merupakan salah satu faktor risiko pengeroposan tulang.

4. Ukuran tubuh yang kecil dan kurus

Wanita dan pria dengan bentuk tubuh yang kecil dan kurus berisiko lebih tinggi untuk mengalami pengeroposan tulang. Sebaliknya, pria dan wanita dengan bentuk tubuh yang lebih besar cenderung memiliki risiko yang lebih rendah.

5. Riwayat keluarga mengalami osteoporosis

Osteoporosis adalah salah satu penyakit kelainan tulang yang bisa terjadi turun-menurun dalam keluarga. Itu artinya, jika ada anggota keluarga menderita osteoporosis atau pengeroposan tulang, Anda memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami kondisi tersebut.

6. Pernah mengalami patah tulang

Seseorang yang sebelumnya pernah mengalami patah tulang dalam tingkat ringan, lebih berisiko untuk mengalami pengeroposan tulang di kemudian hari. Terlebih jika patah tulang tersebut terjadi setelah berusia 50 tahun.

Sementara faktor risiko osteoporosis yang bisa Anda ubah adalah:

1. Mencegah gangguan anoreksia nervosa

Memiliki gangguan makan serta membatasi asupan makan dapat melemahkan kekuatan tulang, yang akhirnya menyebabkan osteoporosis.

2. Mengonsumsi asupan kalsium dan vitamin D

Diet rendah kalsium dan vitamin D menyebabkan tulang Anda lebih mudah keropos.

3. Mengonsumsi obat-obatan sesuai rekomendasi dokter

Beberapa obat-obatan meningkatkan risiko osteoporosis, seperti obat kortikosteroid, antidepresan, agen kemoterapi, dan lain sebagainya. Anda dapat bertanya lebih lanjut ke dokter mengenai konsumsi obat tersebut, terutama jika Anda memiliki risiko tinggi mengalami osteoporosis.

4. Malas beraktivitas

Kurang olahraga, sering bersantai sampai lupa waktu, atau berbaring terus dalam waktu lama bisa menyebabkan tulang menjadi keropos karena lemah dan kehilangan kekuatannya.

5. Kebiasaan merokok

Selain tidak baik untuk kesehatan jantung dan paru-paru, merokok juga bisa menurunkan kepadatan tulang. Ini karena zat kimia dalam rokok secara perlahan akan merusak berbagai sel-sel tubuh, termasuk sel-sel pada tulang.

Ketika sel tulang mengalami kerusakan, otomatis kepadatan tulang akan melemah yang membuatnya keropos dan mudah rapuh.

6. Konsumsi alkohol berlebihan

Terlalu banyak mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan tulang keropos dan akhirnya rusak.

Obat & pengobatan osteoporosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Cara mendiagnosis osteoporosis yang umum adalah melalui pemeriksaan densitas atau kepadatan tulang untuk menilai komposisi dan struktur tulang Anda. Tes yang disebut densitometri tulang atau dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA) ini melibatkan penggunaan sinar-x.

Pengecekan dengan sinar-x bertujuan untuk mengukur kepadatan tulang yang biasanya dilakukan di beberapa titik yang paling berisiko terkena pengeroposan. Misalnya pada pergelangan tangan, pinggung, atau tulang belakang.

Apa saja pilihan pengobatan untuk osteoporosis?

Jika Anda benar dinyatakan mengalami pengeroposan tulang, dokter akan menentukan rencana perawatan terbaik berdasarkan kondisi kesehatan Anda.

Beberapa pilihan pengobatan osteoporosis yang bisa dilakukan adalah:

1. Penggunaan obat bifosfonat

Kelas obat ini dapat membantu memperlambat pengeroposan tulang di dalam tubuh. Selain menjaga kepadatan tulang, obat ini juga mengurangi risiko patah tulang.

Obat ini bisa digunakan baik oleh perempuan maupun laki-laki. Bifosfonat tersedia dalam bentuk obat minum (tablet) atau obat injeksi.

2. Obat-obatan antibodi monoklonal

Obat-obatan ini dapat menjaga kepadatan tulang pasien osteoporosis. Bahkan, obat ini mungkin memberikan efek yang lebih baik dibanding bifosfonat. Obat ini juga dapat mengurangi risiko berbagai kerusakan tulang lainnya.

Biasanya, obat ini akan diberikan oleh dokter setiap 6 bulan sekali dengan cara disuntikkan ke dalam tubuh. Jika dokter menyarankan untuk menggunakan obat ini, Anda mungkin harus terus meminumnya.

3. Terapi hormon

Jika pengeroposan tulang yang Anda alami disebabkan oleh rendahnya kadar hormon tertentu, dokter biasanya akan menyarankan terapi hormon. Terapi ini bisa membantu meningkatkan kadar hormon rendah pada pria dan wanita.

4. Suplemen kalsium dan vitamin D

Kalsium adalah mineral yang dibutuhkan oleh tulang, sementara vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium ke dalam tubuh. Jika tubuh kekurangan vitamin dan mineral ini, risiko mengalami osteoporosis tentu lebih tinggi.

Oleh sebab itu, jika Anda kesulitan mendapatkan kalsium dan vitamin D dari berbagai sumber alami, seperti makanan, tak ada salahnya mengonsumsi suplemen vitamin D dan kalsium yang dapat membantu menjaga mempertahankan kepadatan tulang.

Menjalani pengobatan osteoporosis sesegera mungkin harus dilakukan demi menghindari terjadinya komplikasi osteporosis yang tidak diinginkan.

Pengobatan di rumah untuk osteoporosis

Berikut adalah gaya hidup untuk penderita osteoporosis yang dapat diterapkan sembari menjalani pengobatan osteporosis, di antaranya adalah:

  • Rutin berolahraga, misalnya melakukan senam dengan gerakan-gerakan yang cocok untuk penderita osteoporosis.
  • Konsutasi dengan terapis fisik atau rehabilitasi untuk membantu menguatkan otot dan tulang Anda.
  • Perbanyak sumber makanan penguat tulang, misalnya yang kaya kalsium dan vitamin D, seperti produk susu, ikan, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.
  • Hindari merokok.
  • Hindari mengonsumsi alkohol berlebihan.
  • Hindari kondisi yang bisa membuat Anda mudah terjatuh.

Hal-hal tersebut juga bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap osteoporosis. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Osteoporosis – Diagnosis & Treatment. Retrieved 31 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteoporosis/diagnosis-treatment/drc-20351974

What is Osteoporosis and What Causes It? Retrieved 31 August 2020, from https://www.nof.org/patients/what-is-osteoporosis/

Osteoporosis – Treatment. Retrieved 31 August 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/osteoporosis/treatment/

Osteoporosis. Retrieved 31 August 2020, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/osteoporosis

Osteoporosis Overview. Retrieved 31 August 2020, from https://www.bones.nih.gov/health-info/bone/osteoporosis/overview

Osteoporosis. Retrieved 31 August 2020, from https://www.rheumatology.org/I-Am-A/Patient-Caregiver/Diseases-Conditions/Osteoporosis

Osteoporosis. Retrieved 31 August 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4443-osteoporosis

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 08/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x