Gangguan Mental pada Lansia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 17 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Definisi gangguan mental pada lansia

Apa itu gangguan mental pada lansia?

Gangguan mental pada lansia adalah masalah kesehatan yang menyebabkan perubahan emosi, pikiran, dan perilaku pada orang lanjut usia.

Kondisi ini dapat menyebabkan lansia kesulitan untuk berfungsi sebagaimana mestinya dalam keluarga, urusan pekerjaan, dan kegiatan sosial.

Gangguan mental terdiri dari banyak jenis. Akan tetapi, ada beberapa jenis gangguan kejiwaan yang lebih umum menyerang lansia, di antaranya adalah:

  • Depresi (gangguan suasana hati yang membuat seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat).
  • Gangguan kecemasan (cemas berlebihan dan sangat mudah khawatir pada hal-hal yang dianggap normal oleh orang lain).
  • Bipolar disorder (perubahan suasana hati ekstrem yang membuat orang merasa sangat bahagia dan merasa sedih serta depresi)
  • Skizofrenia (penyakit kejiwaan yang menyebabkan seseorang tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan).

Seberapa umumkah kondisi ini?

Hasil riskesdas tahun 2018 menunjukan prevalensi penyakit depresi tertinggi ada pada lansia. Tercatat prevalensi depresi pada usia 55-64 tahun sebesar 6,5 persen, usia 65-74 tahun sebesar 8 persen, dan usia di atas 75 tahun sebesar 8,9 persen.

Berdasarkan peringkat, penyakit depresi pada lansia menduduki peringkat pertama sebagai penyakit mental yang paling umum menyerang. Kemudian, disusul dengan gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder.

Tanda & gejala gangguan mental pada lansia

Setiap jenis gangguan kejiwaan pada lansia menimbulkan gejala yang berbeda. Berikut ini penjelasan tanda dan gejala sesuai dengan jenis gangguan kejiwaan yang dimiliki lansia.

Tanda dan gejala depresi pada lansia

Pada lansia, rasa sedih bukanlah gejala utama dari depresi yang mereka idap. Terlebih, orang yang lebih tua juga enggan untuk meminta bantuan pada dokter. Itulah sebabnya, depresi pada usia ini lebih sulit dikenali ketimbang pada orang yang usianya lebih muda.

Meski begitu, ada beberapa gangguan mental depresi yang umumnya ditunjukkan lansia, seperti dilansir dari laman Mayo Clinic, di antaranya:

  • Kepribadian berubah dan daya ingat juga memburuk.
  • Sering kali mengalami nyeri otot.
  • Kelelahan disertai kehilangan nafsu makan dan minat pada seks menurun yang tidak disebabkan oleh masalah kesehatan lain maupun pengobatan.
  • Mengeluh sulit untuk tidur dan menarik diri dari lingkungan.
  • Terbesit pikiran untuk bunuh diri, terutama pada pria.

Tanda dan gejala gangguan kecemasan

Gejala gangguan kecemasan yang menyerang lansia tidak berbeda jauh dengan orang dewasa maupun remaja, meliputi:

  • Merasa gugup, gelisah, dan tegang karena berasumsi dirinya sedang dalam bahaya.
  • Tubuh berkeringat dan gemetar, detak jantung meningkat, serta napas juga menjadi lebih cepat.
  • Berusaha keras menghindari hal-hal memicu kecemasan hingga mengalami kesulitan tidur.
  • Sering kali mengalami masalah pencernaan.

Tanda dan gejala skizofrenia

Sama seperti gangguan kecemasan, skizofrenia juga menimbulkan gejala yang umumnya sama pada lansia maupun orang dewasa yang usianya lebih muda. Namun, gejala yang berbeda pada tiap pasien sangat mungkin terjadi. Berikut adalah gejala dari gangguan mental skizofenia pada lansia.

  • Delusi (memilik keyakinan yang tidak sesuai pada kenyataan, contoh merasa orang lain membenci atau mencintai Anda padahal tidak demikian).
  • Halusinasi (Melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada).
  • Sering berbicara ngawur dengan kalimat yang acak.
  • Gerakan tubuh menjadi lebih lambat atau melakukan suatu gerakan tanpa tujuan secara berlebihan.
  • Kehilangan minat pada aktivitas sehari-sehari, sehingga mengabaikan kebersihan diri.

Tanda dan gejala bipolar disorder

  • Mengalami gejala depresi, seperti terus merasa sedih, lelah, sulit tidur, dan terbesit untuk bunuh diri.
  • Menunjukkan episode mania dan hipomania, yakni kondisi yang membuat seseorang menjadi sangat bersemangat hingga melakukan tindakan tidak rasional, yang bisa merugikan diri sendiri atau prang lain.

Kapan harus ke dokter?

Lansia yang menderita gangguan kejiwaan umumnya enggan untuk memberi tahu kondisi yang dialaminya pada orang lain. Oleh karena itu, Anda sebagai keluarga atau pengasuh harus lebih jeli dalam mengawasi perubahan perilaku maupun suasana hati mereka.

Jika Anda sebagai keluarga atau pengasuh melihat tanda dan gejala yang disebutkan di atas pada lansia, segera periksa ke dokter.

Penyebab gangguan mental pada lansia

Setiap jenis gangguan mental yang menyerang lansia memiliki penyebab yang berbeda-beda. Penyebab depresi diketahui meliputi perubahan biologis dan senyawa kimia di otak, ketidakseimbangan hormon tubuh, serta kemungkinan diwariskan dalam keluarga.

Sementara gangguan mental pada lansia seperti bipolar disoder, tidak diketahui penyebab pastinya. Begitu juga dengan gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder. Meski begitu, kondisi ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya kelainan fungsi dan senyawa kimia di otak, serta kombinasi genetik tertentu.

Pada beberapa kasus, gangguan kecemasan bisa disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan masalah kesehatan lain, seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan tiroid.

Faktor-faktor risiko gangguan mental pada lansia

Meskipun penyebab pasti dari gangguan mental pada lansia tidak diketahui secara pasti, ilmuwan telah menemukan berbagai faktor yang bisa meningkatkan risikonya.

Berikut ini adalah faktor risiko dari depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder.

  • Menjadi korban pelecehan seksual atau kekerasan fisik di masa lalu menimbulkan trauma yang memicu depresi dan gangguan kecemasan.
  • Stres karena memiliki penyakit kronis, ditinggalkan orang yang dicintai, memiliki masalah keuangan, masalah pekerjaan, atau masalah keluarga.
  • Memiliki riwayat keturunan dengan depresi, gangguan kecemasan, skizfrenia, atau bipolar disorder.
  • Melakukan penyalahgunaan obat-obatan, seperti narkoba dan memiliki kecanduan alkohol.
  • Cenderung mudah cemas, pesimis, self estem yang rendah dan suka mengkritik diri sendiri.
  • Dilahirkan dari ibu yang mengalami komplikasi kehamilan, seperti kekurangan zat gizi, terpapar racun, atau terinfeksi virus yang mengganggu perkembangan otak.

Komplikasi gangguan mental pada lansia

Gangguan mental yang terjadi pada lansia harus diobati segera. Jika tidak, bisa menimbulkan berbagai komplikasi, di antaranya:

  • Kualitas hidup yang memburuk karena sulit untuk menjalin hubungan dengan keluarga, dan orang di sekitar dengan baik.
  • Kesehatan tubuh menjadi lebih buruk. Pada beberapa kasus, kecemasan dan stres bisa menyebabkan penyakit jantung, obesitas, dan gangguan pencernaan kronis.
  • Dapat menyebabkan cacat tubuh atau kematian jika penderitanya melakukan percobaan bunuh diri.

Diagnosis & pengobatan gangguan mental pada lansia

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Agar komplikasi tidak terjadi dan kualitas hidup lansia dengan penyakit mental bisa ditingkatkan, mereka perlu menjalani pengobatan. Sebelum pengobatan dilakukan ahli kejiwaan akan meminta pasien untuk menjalani serangkaian tes kesehatan dan kemudian menegakkan diagnosis.

Berikut ini adalah beberapa tes kesehatan untuk mendiagnosis gangguan mental pada lansia.

  • Tes fisik. Pada tes ini dokter akan menanyakan gejala apa saja yang dialami pada pasien dan anggota keluarga atau pengasuh. Selain itu, dokter juga akan melihat riwayat kesehatan pasien dan keluarga.
  • Tes laboratorium. Pada tes ini dokter mungkin akan memeriksa fungsi tiroid, jantung, atau kondisi otak pasien lewat tes darah, elektrokardiogram, ekokardiogram, dan tes pencitraan.
  • Evaluasi psikiatri. Dokter akan bertanya tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku pasien. Dokter juga akan meminta pasien untuk mengisi kuesioner.
  • Panduan DSM-5. Dokter dapat menggunakan kriteria depresi, gangguan kecemasan, bipolar disorder, atau skizofrenia yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).

Apa saja pilihan pengobatan untuk gangguan mental pada lansia?

Setelah dokter melakukan tes kesehatan dan menegakkan diagnosis, pasien akan diarahkan untuk menjalani pengobatan sesuai dengan kebutuhan, di antaranya:

Minum obat-obatan

Ada berbagai obat yang biasanya diresepkan dokter maupun psikiater pada pasien, seperti:

Menjalani psikoterapi

Selain minum obat, gangguan mental pada lansia juga bisa diobati dengan psikoterapi, khususnya jenis terapi perilaku kognitif. Pada terapi ini, terapis akan membantu pasien untuk mengelola gejala seperti stres atau kecemasan dan mengalihkan hal tersebut pada cara yang lebih sehat.

Pasien juga akan mendapatkan bimbingan untuk menjalani hidup dengan sehat, membantu pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam berkomunikasi.

Rawat inap di rumah sakit

Pada kasus parah, gangguan mental pada lansia bisa mengancam jiwa, baik pada penderitanya maupun orang di sekitarnya, Contohnya, berulang kali melukais diri sendiri atau melakukan percobaan bunuh diri. Jika sudah pada tahap ini, biasanya pasien akan dianjurkan menjalani rawat inap.

Selama di rumah sakit, dokter akan mengawasi gejala dan mencegah kemungkinan tindakan buruk yang akan dilakukan pasien.

Pengobatan gangguan mental pada lansia di rumah

Selain pengobatan di rumah sakit, perubahan gaya hidup juga diperlukan untuk mendukung efektivitas pengobatan. Berikut ini perubahan gaya hidup yang perlu diterapkan pada lansia dengan gangguan mental adalah:

  • Cukup tidur karena kurang tidur bisa memicu kecemasan, stres, depresi, maupun suasana hati yang buruk.
  • Konsumsi makanan yang sehat bergizi untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
  • Olahraga rutin untuk mengurangi stres dan kecemasan.
  • Ikut serta dalam kegiatan di rumah atau lingkungan jika memungkinkan.

Lansia dengan kondisi ini akan kesulitan untuk menerapkan hal ini sendiri. Oleh karena itu, butuh bantuan dan dukungan dari keluarga, pengasuh, amupun orang terdekat.

Pencegahan gangguan mental pada lansia

Gangguan mental pada lansia seperti skizofrenia tidak bisa dicegah. Namun, jika seseorang sudah didiagnosis memiliki penyakit mental ini, mengikuti pengobatan secara rutin sangat diwajibkan. Tujuannya, untuk mencegah kekaambuhan gejala sekaligus keparahannya.

Selain skizofrenia, tidak ada cara pasti yang sepenuhnya dapat mencegah gangguan mental seperti gangguan kecemasan, depresi, atau bipolar pada lansia. Meski begitu, penderitanya masih bisa mungkin menurunkan beberapa risikonya, seperti:

  • Berhenti minum alkohol dan obat-obatan yang sifatnya menimbulkan kecanduan dan euphoria (menimbulkan perasaan gembira dan “high”).
  • Belajar untuk mengurangi stres dengan cara yang sehat, seperti olahraga, berkebun, atau melakukan konseling ke psikolog.
  • Selalu terhubungan dengan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar agar tidak merasa sendiri dan kesepian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Self esteem adalah nilai seseorang terhadap dirinya sendiri secara menyeluruh. Secara singkat, disebut juga harga diri. Yuk, ketahui self esteem secara lengkap.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Gangguan Mental Lainnya 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kenapa Ada yang Butuh Tidur Lebih Lama Daripada Orang Lain?

Beberapa orang perlu tidur lebih lama agar tubuh bisa berfungsi normal di siang hari. Cari tahu berbagai penyebabnya karena mungkin Anda salah satunya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Pola Tidur Sehat, Tips Tidur 14 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sensory processing disorder

Mengenal Sensory Processing Disorder: Saat Otak Salah Menginterpretasikan Informasi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
stockholm syndrome adalah

Stockholm Syndrome: Ketika Sandera Justru Bersimpati Pada Penculiknya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 4 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
main boneka saat dewasa

Masih Suka Main Boneka Saat Dewasa, Apakah Normal?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
nomophobia

Cemas atau Takut Saat Tidak Memegang Ponsel? Bisa Jadi Pertanda Nomophobia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit