Stroke

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Definisi stroke

Penyakit stroke adalah masalah kesehatan yang terjadi saat asupan darah menuju ke otak terganggu atau sama sekali terhenti, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Akibatnya, dalam hitungan menit saja, sel-sel otak mulai mati.

Kondisi ini tergolong sebagai penyakit yang serius dan dapat membahayakan nyawa, oleh sebab itu membutuhkan pertolongan medis segera. Pertolongan yang cepat dan tepat dapat mengurangi risiko kerusakan otak dan berbagai komplikasi lainnya.

Gejala stroke sangat beragam, mulai dari yang ringan hingga yang berat, seperti kelumpuhan atau mati rasa di salah satu sisi wajah atau tubuh. Ada pula gejala lain dari penyakit ini seperti sakit kepala, kelemahan, masalah pada penglihatan, kesulitan berbicara dan memahami ucapan orang lain.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Penyakit ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari stroke pada anak hingga lansia. Untuk mencegahnya, Anda bisa meminimalisasi faktor risiko dari kondisi ini. Silakan berdiskusi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Jenis-jenis stroke

Setelah memahami apa itu stroke dan definisi lengkapnya, kini saatnya Anda memahami beberapa jenis kondisi tersebut, di antaranya:

1. Stroke iskemik

Stroke iskemik tergolong jenis stroke yang paling banyak terjadi dibanding jenis stroke lainnya. Penyakit ini terjadi saat pembuluh darah yang terdapat di otak menyempit atau tersumbat, sehingga aliran darah menuju ke otak terhambat.

2. Stroke hemoragik

Stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami kebocoran atau pecah. Kondisi ini berawal dari pembuluh darah yang melemah, kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya. 

Kebocoran ini menyebabkan penumpukan darah yang mendorong jaringan otak di sekitarnya. Kematian atau koma panjang akan terjadi jika pendarahan terus berlanjut.

Stroke hemoragik terbagi ke dalam dua jenis:

  • Perdarahan intraserebral, yaitu perdarahan yang muncul saat pembuluh arteri yang terdapat di kepala pecah dan menyebabkan perdarahan di dalam otak. Biasanya, kondisi ini terjadi karena tekanan darah tinggi.
  • Perdarahan subarachnoid, yaitu perdarahan yang terjadi pada permukaan otak. Terdapat tiga lapisan yang melapisi otak, dan perdarahan ini terjadi antara lapisan paling dekat dengan otak dan lapisan kedua.

3. Stroke ringan

Transient ischemic attack (TIA) atau sering disebut stroke ringan adalah kekurangan darah pada sistem saraf yang berlangsung singkat, biasanya kurang dari 24 jam atau bahkan hanya dalam beberapa menit.

Kondisi ini terjadi ketika terdapat gumpalan atau pembekuan darah yang menghambat aliran darah di sistem saraf pusat. Penyumbatan darah hanya terjadi sementara sehingga tidak menyebabkan kerusakan jaringan.

Namun, Anda memiliki risiko lebih tinggi apabila Anda pernah mengalami transient ischemic attack.

Tanda-tanda & gejala stroke

Gejala stroke cenderung terjadi secara tiba-tiba dan hanya selalu menyerang satu sisi bagian tubuh. Hal ini semakin memburuk dalam jangka waktu 24 sampai 72 jam. Gejala yang biasa terjadi termasuk:

  • Sakit kepala tiba-tiba.
  • Kehilangan keseimbangan, bermasalah dengan berjalan.
  • Kelelahan.
  • Kehilangan kesadaran atau koma.
  • Vertigo dan pusing.
  • Penglihatan yang buram dan menghitam.
  • Kelemahan atau mati rasa pada satu sisi bagian tubuh di wajah, tangan, kaki.
  • Adanya masalah dengan berbicara dan pendengaran.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala stroke yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda. 

Kapan harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala stroke berikut ini:

  • Mati rasa, tidak berdaya, atau perasaan seperti kesemutan yang muncul tiba-tiba atau kehilangan kemampuan untuk menggerakan wajah, lengan, atau kaki terutama jika terjadi hanya pada satu sisi tubuh.
  • Perubahan penglihatan secara tiba-tiba.
  • Susah bahkan tidak dapat berbicara.
  • Pusing secara tiba-tiba dan mengalami kesulitan dalam memahami kalimat sederhana.
  • Bermasalah dengan berjalan dan menyeimbangkan badan.
  • Rasa sakit kepala yang parah dan tidak pernah dirasakan sebelumnya.
  • Anda mengonsumsi aspirin atau obat-obatan yang menghambat pembekuan darah tapi Anda melihat adanya tanda-tanda pendarahan.
  • Tersedak, dikarenakan makanan yang jatuh ke dalam tenggorokan.
  • Memiliki tanda-tanda pembekuan darah di pembuluh dalam seperti: merah, panas, dan sakit pada daerah tertentu di lengan atau kaki Anda.
  • Lengan dan kaki semakin menjadi kaku dan tidak bisa diregangkan (spastisitas)

Mengenali gejala stroke pada orang lain

Jika seseorang memiliki kecenderungan untuk terkena gejala stroke, Anda sebaiknya memperhatikan aktivitasnya untuk menjaga dan membawa mereka ke dokter sesegera mungkin;

  • Mintalah orang tersebut untuk tersenyum. Periksa apakah satu sisi dari wajahnya tidak bereaksi
  • Mintalah orang tersebut untuk mengangkat kedua tangannya. Perhatikan apabila ada satu tangan yang menggeluyur ke bawah.
  • Mintalah orang tersebut untuk mengulangi kalimat sederhana. Periksa apakah ada kata-kata yang tidak jelas dan apakah kalimat dapat diulang dengan benar.

Anda juga perlu memberikan pertolongan pertama pada pasien stroke jika terjadi serangan secara tiba-tiba.

Penyebab stroke

Penyebab stroke biasanya tergantung pada jenisnya. Berikut ini adalah penyebab yang bisa Anda pelajari berdasarkan jenisnya.

Penyebab stroke iskemik

Ada tiga jenis kondisi yang bisa menyebabkan stroke iskemik, seperti:

Penumpukan plak

Penumpukan plak pada dinding arteri ternyata tidak hanya menyebabkan serangan jantung, tapi kondisi lain seperti aterosklerosis. Penumpukan plak ini menyebabkan pembuluh arteri menyempit, sehingga menghambat aliran darah menuju ke jaringan atau organ di dalam tubuh.

Penumpukan plak ini juga bisa terjadi pada pembuluh arteri di dalam otak maupun leher. Jika terjadi penyumbatan akibat plak yang menumpuk pada arteri baik di dalam otak maupun di leher, pasien akan mengalami stroke iskemik.

Terjadi penggumpalan darah

Selain menyumbat, plak yang terdapat di dalam pembuluh arteri juga bisa pecah. Sel darah di sekitar plak yang pecah akan saling menempel dan membentuk gumpalan darah. Darah yang menggumpal juga dapat menyumbat pembuluh arteri.

Meski penggumpalan darah terjadi pada bagian tubuh yang lain, gumpalan darah ini bisa bergerak hingga ke otak. Kondisi ini disebut juga sebagai stroke embolik.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh masalah kelainan darah seperti atrial fibrilasi dan penyakit sel sabit yang memicu penggumpalan darah dan menyebabkan stroke.

Penyebab stroke hemoragik

Berikut adalah beberapa kondisi penyebab stroke hemoragik:

Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan serangan stroke hemoragik. Hipertensi dapat terjadi akibat adanya kelainan atau masalah pada ginjal, gaya hidup tidak sehat, atau konsumsi obat-obatan tertentu.

Aneurisma

Aneurisma adalah peradangan atau pembengkakan dinding arteri yang terletak di dalam otak. Kondisi ini disebabkan dinding arteri mengalami penipisan dan menjadi lemah, sehingga peradangan terjadi.

Aneurisma bisa muncul sedari lahir (kongenital) atau berkembang seiring dengan berjalannya waktu, terutama jika memiliki riwayat hipertensi.

Malformasi arteri (AVM)

Malformasi arteri atau AVM adalah kondisi di mana terjadinya kelainan pada pembuluh darah. Sebenarnya kelainan ini dapat terjadi di bagian tubuh manapun, termasuk otak.

AVM biasanya didapati sejak lahir. Jika AVM terletak di otak, kondisi ini berisiko menyebabkan terjadinya pendarahan.

Pengobatan antikoagulan (pengencer darah)

Beberapa orang yang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah untuk mengurangi risiko penggumpalan darah justru berpotensi mengalami pendarahan pada otaknya.

Penyebab stroke ringan

Kondisi ini terjadi ketika plak atau darah beku pada pembuluh arteri yang terletak pada sistem saraf pusat menghambat pembuluh darah yang memasok darah ke otak.

Kondisi ini menyebabkan aliran darah ke otak menjadi tersumbat dan menimbulkan serangan stroke yang terjadi secara singkat. 

Faktor-faktor risiko stroke

Ada banyak faktor risiko penyebab stroke:

Faktor risiko gaya hidup

  • Berat badan berlebih atau obesitas.
  • Kebiasaan bermalas-malasan.
  • Terlalu banyak mengonsumsi alkohol.
  • Menggunakan obat terlarang seperti kokain dan metamfetamin.

Faktor risiko medis

  • Tekanan darah tinggi.
  • Kebiasan merokok atau paparan asap rokok (perokok pasif).
  • Kolesterol tinggi.
  • Diabetes.
  • Gangguan tidur.
  • Penyakit jantung.
  • Riwayat kesehatan keluarga yang berkaitan dengan stroke, serangan jantung, atau stroke ringan.
  • Infeksi COVID-19.
  • Penggunaan obat antikoagulan (pengencer darah) secara berlebih atau diluar aturan yang dianjurkan dokter.

Faktor lainnya

  • Berusia di atas 55 tahun.
  • Laki-laki memiliki risiko lebih tinggi dibanding perempuan.
  • Menggunakan pil KB.

Tidak memiliki faktor-faktor risiko seperti di atas bukan berarti Anda tidak dapat terkena stroke. Faktor-faktor ini hanya sebagai referensi. Anda sebaiknya konsultasi dengan dokter Anda untuk penjelasan yang lebih rinci.

Diagnosis & pengobatan stroke

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Ada beberapa jenis tes yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis kondisi ini, di antaranya:

  • Pemeriksaan fisik.
  • Tes darah.
  • CT Scan.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).
  • Carotid ultrasound.
  • Cerebral angiogram. 
  • Ekokardiogram.

Apa saja pilihan pengobatan stroke?

Sama seperti gejala dan penyebab, pilihan untuk pengobatan stroke juga dibedakan berdasarkan jenisnya.

Pengobatan stroke iskemik

Pengobatan yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Penggunaan obat

Pengobatan utama yang biasa diberikan untuk mengatasi stroke iskemik adalah pemberian tissue plasminogen activator (tPA). Obat stroke ini dapat memecah gumpalan darah yang menghalangi aliran darah menuju otak.

Biasanya, dokter akan memberikan obat ini dengan cara menyuntikkannya di pembuluh vena pada lengan pasien. Obat ini dapat bekerja efektif jika diberikan dalam kurun waktu kurang lebih tiga jam saat gejala muncul.

Namun, jika Anda tidak bisa menerima pengobatan menggunakan tPA, dokter mungkin akan memberikan obat antikoagulan atau obat pengencer darah seperti aspirin atau klopidrogrel.

Fungsi dari obat ini adalah menghentikan pembentukan gumpalan darah atau mencegahnya berubah menjadi lebih besar. Efek samping dari penggunaan obat ini adalah perdarahan.

2. Prosedur medis

Selain penggunaan obat, Anda juga bisa menjalani prosedur medis untuk membuka arteri yang tersumbat dan mengembalikan aliran darah ke otak. Ada beberapa cara untuk melakukannya:

  • Trombektomi, untuk mengeluarkan gumpalan darah dari pembuluh darah.
  • Angioplasti dan prosedur stenting, untuk membuka arteri yang tersumbat.

Pengobatan untuk stroke hemoragik

Pengobatan yang dapat dilakukan, termasuk:

1. Penggunaan obat

Obat untuk darah tinggi biasanya diberikan oleh dokter untuk membantu menurunkan tekanan darah dan regangan pada pembuluh darah yang terdapat di otak.

Anda juga akan disarankan untuk berhenti mengonsumsi obat antikoagulan atau obat pengencer darah yang berpotensi memicu perdarahan.

2. Prosedur medis

Ada pula beberapa prosedur medis yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi stroke hemoragik, seperti:

  • Transfusi darah.
  • Aneurisma clipping, untuk mencegah aneurisma dari pembuluh darah di otak.
  • Embolisasi koil, untuk menyumbat aliran darah atau mencegah aneurisma.
  • Mengeringkan kelebihan cairan di dalam otak.
  • Operasi atau radiasi untuk memindahkan atau menyusutkan malformasi arteriovena.
  • Operasi untuk memindahkan darah yang berkumpul.
  • Operasi untuk mengangkat sebagian dari tengkorak untuk sementara jika pasien mengalami pembengkakan.

Sementara itu, pengobatan untuk stroke ringan biasanya hampir sama dengan pengobatan untuk stroke iskemik.

Pengobatan stroke di rumah

Apa saja ­perubahan gaya hidup atau obat stroke yang bisa dilakukan di rumah?

Berikut adalah gaya hidup dan perawatan di rumah yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit ini:

  • Berhenti merokok.
  • Minumlah obat-obatan yang diberikan oleh dokter Anda.
  • Olahraga sesuai dengan petunjuk dokter Anda.
  • Makanlah makanan yang mengandung sedikit lemak dan kurangi meminum minuman beralkohol minimal satu kali sehari.
  • Kendalikan tekanan darah, tingkat kolesterol dan diabetes Anda.

Komplikasi stroke

Jika kondisi ini tidak segera diatasi, stroke dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan lainnya. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, berikut adalah beberapa komplikasi stroke yang mungkin terjadi:

1. Penggumpalan darah

Kesulitan untuk aktif bergerak seperti biasanya dalam jangka waktu yang lama meningkatkan potensi pasien untuk mengalami penggumpalan darah pada pembuluh vena di area kaki.

Bahkan, gumpalan darah ini bisa bergerak menuju ke organ tubuh lain, misalnya paru-paru. Meski begitu, kondisi ini bisa dicegah menggunakan obat atau alat bantu medis yang dapat memberikan tekanan pada betis untuk membantu darah di area tersebut tetap mengalir.

2. Kesulitan berbicara

Jika kondisi ini menyerang otot yang digunakan untuk berbicara, pasien mungkin akan mengalami kesulitan berbicara atau berkomunikasi seperti biasanya.

3. Kehilangan kontrol pada kandung kemih atau usus

Pada kasus tertentu, stroke dapat menyerang otot yang digunakan untuk buang air kecil dan mengatur pergerakan usus. Pasien mungkin harus menggunakan kateter hingga bisa buang air kencing secara mandiri seperti biasa.

Namun, pasien diharapkan untuk selalu waspada, karena penggunaan kateter juga dapat memicu terjadinya infeksi saluran kencing.

4. Osteoporosis

Kondisi ini juga dapat memicu terjadinya osteoporosis, meski hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh saja. Untuk mencegah terjadinya pengeroposan tulang, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani aktivitas fisik sebagai bagian dari rehabilitasi.

5. Kehilangan kemampuan melihat, mendengar, atau menyentuh

Kemampuan untuk merasakan rasa sakit atau suhu, baik dingin maupun panas, mungkin akan terdampak setelah mengalami stroke. Pasien mungkin juga akan mengalami gangguan penglihatan atau pendengeran sehingga tidak bisa melihat dan mendengar sebaik biasanya.

6. Kelemahan otot

Penyakit ini bisa menyebabkan kekakuan atau kelemahan pada otot. Kondisi ini tentu membuat pasien menjadi kesulitan untuk berdiri atau berjalan seperti biasa. Bahkan, pasien mungkin tidak akan mampu menjaga keseimbangan atau mengontrol otot-otot pada tubuh.

7. Kesulitan mengunyah dan pneumonia

Penyakit ini juga mungkin menyerang otot yang biasanya digunakan untuk mengunyah, sehingga pasien mungkin akan kesulitan saat sedang makan atau minum.

Bahkan, kondisi ini meningkatkan risiko pasien untuk memasukkan makanan atau minuman ke saluran pernapasan. Hal ini bisa memicu terjadinya pneumonia.

8. Masalah berkomunikasi dan berpikir

Kondisi ini mungkin akan mengganggu kemampuan pasien untuk fokus dalam melakukan aktivitas atau membuat keputusan. Penyakit ini juga meningkatkan risiko pasien mengalami demensia.

9. Kejang

Seringnya, kejang dialami oleh pasien dalam kurun waktu beberapa minggu setelah mengalami stroke. Namun, komplikasi ini kemungkinannya semakin kecil seiring berjalannya waktu.

10. Pembengkakan pada otak

Setelah serangan stroke, cairan akan menumpuk pada otak dan tengkorang menyebabkan pembengkakan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Congestive Heart Failure (CHF)

Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif adalah kondisi jantung tidak mampu memompa darah. Apa penyebab, gejala, dan cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Leukemia Limfositik Kronis

Chronic Lymphocytic leukemia (CLL) atau leukemia limfositik kronis adalah kondisi menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kanker, Kanker Darah 2 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ambeien (Wasir)

Ambeien (wasir) adalah membengkaknya pembuluh vena di anus yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan BAB berdarah. Bagaimana mengobati ambeien?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Ambeien 30 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Kejang Parsial

Kejang parsial bisa terjadi pada siapa saja. Seberapa umumkah kondisi ini? Bisakah dicegah dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Otak dan Saraf, Epilepsi 23 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
klaudikasio adalah

Klaudikasio

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Pseudogout

Pseudogout

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
gegar otak adalah

Gegar Otak

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit