Memiliki penyakit jantung mengharuskan Anda hidup menghindari berbagai makanan tidak sehat, contohnya makanan berlemak dan tinggi garam, serta meninggalkan berbagai kebiasaan buruk — seperti merokok. Tapi ternyata tidak cuma kedua hal itu yang wajib Anda hindari. Beberapa obat pun harus Anda hindari untuk menjaga kesehatan jantung Anda. Pasalnya obat-obatan ini dapat berinteraksi dengan obat penyakit jantung Anda sehingga mungkin menimbulkan efek samping berbahaya. Apa saja itu?

Daftar obat yang dapat berinteraksi dengan obat penyakit jantung resep dokter

Obat penyakit jantung diresepkan dokter berdasarkan kondisi dan tingkat keparahannya. Misalnya, Heparin yang digunakan untuk mencegah komplikasi setelah serangan jantung; obat tekanan darah tinggi, seperti inhibitor ACE, diuretik, Angiotensin II receptor blocker (ARB), beta blocker, aldosteron, dan inotropik; hingga aspirin dan statin penurun kolesterol.

Berikut adalah daftar obat yang mungkin memunculkan efek samping berbahaya jika dikonsumsi dengan obat penyakit jantung di atas — maupun yang tidak tercantum.

1. Obat pereda nyeri NSAID

NSAID adalah obat pereda rasa sakit yang umum digunakan untuk mengobati nyeri karena keseleo/sakit kepala/migrain/rematik, juga meringankan demam. NSAID yang paling umum digunakan adalah aspirin dan ibuprofen. Obat ini biasanya ditemukan di apotek setempat dan dapat dibeli tanpa resep dokter.

Obat ini tidak dianjurkan dikonsumsi berbarengan dengan obat penyakit jantung karena dapat meningkatkan tekanan darah dan memperberat kerja jantung. Akibatnya, Anda dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke ketika menggunakan obat NSAID untuk jangka waktu lama padahal memiliki penyakit jantung aktif. NSAID juga tidak boleh digunakan tepat sebelum atau setelah operasi bypass jantung (CABG).

Dianjurkan untuk mengkonsumsi obat alternatif seperti paracetamol (Panadol 500 g) daripada ibuprofen. Jika dokter meresepkan Anda aspirin sebagai obat penyakit jantung Anda, pastikan konsumsi dengan dosis yang tepat dan jangan hentikan/kurangi dosisnya tanpa sepengetahuan dokter.

2. Kortikosteroid

Kortikosteroid digunakan untuk mengobati keluhan kulit bengkak, gatal-gatal, kemerahan akibat reaksi alergi; flu; pegal-pegal; asma akibat alergi; mata merah (konjungtivitis alergi); penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis dan lupus; pemulihan transplantasi organ; pembengkakan otak, dan masih banyak lagi.

Kortikosteroid dosis tinggi tidak disarankan untuk dikonsumsi berbarengan dengan obat penyakit jantung karena dapat menyebabkan irama jantung tak teratur (aritmia) dan meningkatkan tekanan darah.

3. Dekongestan

Dekongestan adalah jenis obat yang biasa digunakan untuk meredakan batuk dan flu. Namun, dalam dekongestan mungkin terdapat kandungan pseudoefedrin, phenylephrine, ephedrine yang memiliki efek samping berupa peningkatan tekanan darah dan jantung berdebar bagi orang dengan penyakit jantung.

4. Obat sembelit (pencahar)

Obat pencahar untuk mengobati sembelit dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh. Ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan denyut jantung jadi tidak beraturan.

5. Obat antidepresan

Interaksi obat antidepressan trisiklik dengan obat penyakit jantung seperti epinephrine (Epi-Pen) and cimetidine (Tagamet) dapat meningkatkan tekanan darah dan mengganggu ritme jantung.

Bagi orang dengan penyakit jantung disarankan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum mengkonsumsi obat untuk menyembuhkan penyakit lain, serta gunakan obat dalam dosis yang tepat. Biasakan membaca label kandungan pada obat sebelum dikonsumsi, dan untuk orang dengan penyakit tersebut juga dapat membuat list daftar obat yang harus dihindari agar tidak memperparah kondisi jantung Anda.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca