Klamidia adalah salah satu infeksi menular seksual yang sangat umum terjadi, tetapi banyak orang tidak menyadari karena gejala penyakit ini sering kali sulit dideteksi. Ketahui gejala, penyebab, dan pengobatan klamidiasis berikut ini.
Klamidia adalah salah satu infeksi menular seksual yang sangat umum terjadi, tetapi banyak orang tidak menyadari karena gejala penyakit ini sering kali sulit dideteksi. Ketahui gejala, penyebab, dan pengobatan klamidiasis berikut ini.

Klamidia atau klamidiasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini bisa menyerang baik pria maupun wanita melalui kontak seksual.
Bakteri Chlamydia trachomatis dapat menginfeksi serviks (leher rahim), anus, saluran kencing, mata, dan tenggorokan.
Penyakit ini sebenarnya tidak terlalu sulit diobati jika langsung ditangani sejak awal. Namun, jika dibiarkan, klamidia bisa menyebabkan masalah kesehatan serius.
Pasalnya, penyakit chlamydia bisa menyebabkan masalah pada sistem reproduksi wanita. Akibatnya, wanita yang terserang chlamydia berisiko sulit hamil.
Dikutip dari laman Planned Parenthood, kebanyakan orang yang terkena penyakit ini biasanya berusia 14 – 24 tahun.
Selain itu, klamidia 3 kali lebih umum terjadi daripada gonore (kencing nanah) dan 50 kali lebih umum dibandingkan dengan sifilis.
Jika Anda merasa bahwa Anda mungkin terinfeksi atau cukup berisiko, segera konsultasikan ke dokter.
Infeksi klamidia termasuk ke dalam infeksi menular seksual yang jarang disadari. Pasalnya, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan tanda dan gejala di awal kemunculannya.
Tanda dan gejala klamidia biasanya muncul 1 – 2 minggu setelah terpapar infeksi. Namun, gejala pun sering kali bersifat ringan dan hilang begitu saja sehingga tak begitu dihiraukan.
Ada berbagai tanda dan gejala yang biasanya muncul akan berbeda pada pria dan wanita, berikut selengkapnya.

Cukup sulit bagi wanita untuk mengetahui apakah ia menderita klamidia atau tidak. Ini karena penyakit chlamydia pada wanita kebanyakan tidak menimbulkan gejala apa pun.
Jika gejala-gejala muncul, biasanya akan berupa:
Gejala penyakit ini umumnya juga sulit dideteksi pada pria. Namun, ketika gejalanya muncul, tanda-tanda yang bisa dialami meliputi:
Berbagai gejala ini tidak selalu muncul pada orang yang terinfeksi klamidia. Ada orang yang bahkan tidak memiliki gejala sama sekali.
Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala, termasuk yang tidak disebutkan di atas, segera konsultasikan ke dokter.
Periksakan ke dokter jika Anda mengalami keluarnya cairan tak biasa dari vagina, penis, atau rektum serta merasa sakit ketika buang air kecil.
Selain itu, pertimbangkan memeriksakan diri ke dokter jika Anda merasa berisiko tinggi terkena penyakit kelamin.
Tak perlu sungkan atau malu untuk memeriksakannya karena semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penyakit tersebut ditangani.
Berikut beberapa penyebab klamidia.
Klamidia adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi ini dapat menyebar dengan mudah melalui seks vagina, oral, dan anal.
Seorang wanita tetap bisa terkena penyakit ini meski pasangannya tidak ejakulasi saat seks. Pasalnya, tak hanya lewat air mani, bakteri juga terdapat dalam cairan praejakulasi.
Selain itu, jika sudah pernah memiliki infeksi ini, risiko untuk terkena kembali sangat mungkin. Hal ini biasanya terjadi ketika Anda melakukan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi.
Karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala, orang yang telah terinfeksi tanpa disadari bisa dengan mudah menularkan ke pasangannya.
Jika Anda adalah seorang ibu hamil yang mengidap klamidia, Anda juga dapat menyebarkan infeksi ini ke bayi saat melahirkan.
Penyakit ini nantinya bisa menyebabkan pneumonia atau infeksi mata serius pada buah hati Anda.
Oleh karena itu, jika seorang ibu memiliki klamidia selama kehamilan, diperlukan tes 3 – 4 minggu setelah perawatan untuk memastikan kondisinya.
Masih banyak orang yang percaya bahwa penyakit menular seksual seperti klamidia bisa ditularkan melalui kontak fisik biasa, seperti bersalaman atau menyentuh pasien.
Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Penting untuk diingat bahwa penyakit kelamin ini tidak dapat ditularkan dengan cara berikut.
Penyakit klamidia bisa menyerang siapa saja. Namun, Anda akan berisiko tinggi terkena klamidia jika memiliki kondisi berikut.
Untuk mengurangi risiko, sebaiknya praktikkan seks yang aman dan lakukan tes secara rutin.
Selain menyebabkan infertilitas, klamidia dapat menyebabkan beberapa komplikasi penyakit, seperti di bawah ini.
Tes skrining kesehatan kelamin tahunan perlu dilakukan jika Anda berusia di bawah 25 tahun dan aktif secara seksual.
Namun, jika usia Anda di atas 25 tahun, tes perlu dilakukan bila Anda memiliki lebih dari satu pasangan seks dan faktor risiko lainnya.
Berikut berbagai skrining dan tes yang dilakukan untuk mendiagnosis klamidia.
Tes urine dilakukan dengan mengambil sampel urine, kemudian dianalisis di laboratorium.
Jika Anda memiliki penyakit chlamydia, tes akan menunjukkan hasil positif.
Tes swab (usap) biasanya dilakukan pada pria dan wanita untuk mendeteksi penyakit kelamin.
Pada wanita, tes ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari serviks untuk dilihat keberadaan bakteri di dalamnya.
Sementara pada pria, dokter biasanya akan mengambil sampel cairan dari ujung penis karena cairan tersebut berasal dari uretra, tempat bakteri klamidia biasanya menginfeksi.
Dalam beberapa kasus, dokter juga akan mengambil sampel cairan dari anus.
Jika Anda pernah menjalani pengobatan awal infeksi klamidia, Anda harus menjalani tes ulang dalam waktu sekitar 3 bulan setelahnya.
Klamidia dapat diobati dan disembuhkan dengan antibiotik. Dokter akan menyesuaikan dosis obat dengan keparahan kondisi Anda.
Biasanya, antibiotik yang diberikan berbentuk pil. Dosis yang diberikan bisa satu kali setiap hari atau beberapa kali sehari dalam 5 – 10 hari.
Selain antibiotik, pengobatan kondisi ini bisa dilakukan dengan perubahan gaya hidup. Untuk lebih lengkapnya, berikut beberapa jenis pengobatan klamidia.

Dokter biasanya akan memberikan doxycycline untuk membunuh bakteri dan mencegah Anda terkena infeksi kembali.
Selain doxycycline, dokter biasanya memiliki beberapa alternatif antibiotik terutama untuk wanita hamil, seperti azithromycin yang aman untuk wanita hamil
Hal ini karena doxycycline atau tetracycline bisa menyebabkan masalah perkembangan tulang dan gigi bayi.
Mengutip Centers Disease for Control and Prevention, berikut ini beberapa antibiotik alternatif yang juga direkomendasikan untuk mengobati klamidia, yaitu:
Sebagian orang biasanya akan mengalami berbagai efek samping ringan setelah minum antibiotik, seperti:
Dalam kebanyakan kasus, infeksi biasanya akan sembuh dalam waktu satu sampai dua minggu.
Selama waktu pengobatan, Anda tidak diperbolehkan berhubungan seks untuk mencegah penyebaran.
Dokter juga akan menyarankan pasangan Anda untuk mendapatkan pengobatan yang sama meski tidak memiliki gejala.
Jika tidak, infeksi bisa bolak-balik muncul pada tubuh Anda dan pasangan. Artinya, setelah sembuh, Anda masih bisa terinfeksi lagi di masa mendatang jika terus melakukan hal yang berisiko menyebabkan penyakit chlamydia.
Meski memang belum terbukti, Anda bisa mengurangi gejala klamidia dengan melakukan diet sehat.
Biasanya, makanan yang dianjurkan dalam perawatan penyakit ini yaitu buah-buahan, sayuran, dan probiotik.
Berbagai makanan ini memang tidak akan menyembuhkan klamidia. Akan tetapi, konsumsi makanan tersebut diharapkan bisa menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap kuat untuk melawan infeksi.
Selain itu, makanan yang mengandung probiotik dapat membantu melindungi usus dan meminimalkan efek samping antibiotik pada saluran pencernaan Anda. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk dikonsumsi.
Echinacea adalah tanaman yang banyak digunakan untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Selain itu, tanaman ini mampu mengatasi berbagai infeksi dari mulai dari flu (influenza) hingga luka pada kulit.
Kandungan antiradang didalamnya juga dipercaya mampu membantu mengurangi gejala klamidia.
Berikut berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi akibat klamidia:
Klamidia sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani.
Oleh sebab itu, deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta penerapan seks yang aman bisa jadi cara untuk mencegah penyakit ini berkembang lebih lanjut.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Chlamydia – Fact sheet – CDC. (2025). Retrieved 07 April 2025, from http://www.cdc.gov/std/chlamydia/stdfact-chlamydia.htm
Chlamydia – Planned Parenthood. (n.d.). Retrieved 07 April 2025, from https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/chlamydia
Sexual transmitted infections (STIs) – WHO. (2024). Retrieved 07 April 2025, from http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs110/en/
Chlamydia Trachomatis – Mayo Clinic. (2024). Retrieved 07 April 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chlamydia/symptoms-causes/syc-20355349
Chlamydia Symptoms and Treatment – Avert. (n.d). Retrieved 07 April 2025, from https://www.avert.org/sex-stis/sexually-transmitted-infections/chlamydia
Chlamydia – NHS. (2024). Retrieved 07 April 2025, from https://www.nhs.uk/conditions/chlamydia/symptoms/
Sexually transmitted diseases (STDs) – Mayo Clinic. (2023). Retrieved 07 April 2025, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sexually-transmitted-diseases-stds/symptoms-causes/syc-20351240
Echinacea – National Center for Complementary and Integrative Health. (2024). Retrieved 07 April 2025, from https://www.nccih.nih.gov/health/echinacea
Páez-Canro, C., Alzate, J., González, LM., Rubio-Romero, J., Lethaby, A., Gaitán, HG. (2019). Antibiotics for treating genital Chlamydia trachomatis infection in men and non-pregnant women. Cochrane Database of Systematic Reviews.
Versi Terbaru
22/04/2025
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)