home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

HIV dan AIDS (HIV/AIDS)

Pengertian HIV/AIDS|Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS|Penyebab HIV/AIDS|Faktor risiko HIV/AIDS|Komplikasi HIV/AIDS|Diagnosis HIV/AIDS|Pengobatan HIV/AIDS|Pencegahan HIV/AIDS
HIV dan AIDS (HIV/AIDS)

Pengertian HIV/AIDS

Pengertian HIV atau kepanjangan dari human immunodeficiency virus adalah infeksi virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Virus ini secara spesifik menyerang sel CD4 yang menjadi bagian penting dalam perlawanan infeksi.

Hilangnya sel CD4 akan melemahkan fungsi sistem imun tubuh manusia secara drastis.

Akibatnya, HIV akan membuat tubuh Anda rentan mengalami berbagai penyakit infeksi dari bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen merugikan lainnya.

Sering dikira sebagai satu kesatuan, HIV dan AIDS adalah kondisi berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan.

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah.

Biasanya, kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi oportunistik yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Sederhananya, infeksi HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS.

Jika infeksi virus ini dalam jangka panjang tidak diobati dengan tepat, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami AIDS.

Seberapa umumkah HIV dan AIDS?

Menurut laporan UN AIDS, pada akhir 2019 ada sekitar 38 juta orang di dunia yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS alias ODHA.

Sebanyak 4% kasus di antaranya di alami oleh anak-anak.

Di tahun yang sama, sekitar 690.000 orang meninggal akibat penyakit yang muncul sebagai komplikasi AIDS.

Dari total populasi itu, 19% orang sebelumnya tidak menyadari dirinya terinfeksi.

Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS

Infeksi penyakit ini pada umumnya tidak menampakkan wujud yang jelas di awal masa infeksi.

Kebanyakan ODHA tidak menunjukkan tanda atau gejala HIV/AIDS yang khas dalam beberapa tahun pertama saat terinfeksi.

Jika mengalami gejala, kemungkinan gangguan yang dirasakan tidak begitu berat.

Gejala yang muncul kerap disalahpahami sebagai penyakit lain yang lebih umum.

Namun, Anda patut waspada jika mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan melemahnya kondisi sistem imun tubuh.

Gejala awal penyakit HIV umumnya mirip dengan infeksi virus lainnya, yaitu:

  • Demam HIV.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Nyeri otot.
  • Kehilangan berat badan secara perlahan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha.

Infeksi virus HIV umumnya memakan waktu sekitar 2-15 tahun hingga menimbulkan gejala.

Infeksi virus ini memang tidak akan langsung merusak organ tubuh Anda.

Virus tersebut perlahan menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi.

Jika infeksi virus HIV dibiarkan berkembang, kondisi ini bisa berubah semakin parah menjadi AIDS.

Berikut ini adalah berbagai gejala penyakit AIDS yang dapat muncul:

  • Sariawan yang ditandai dengan adanya lapisan keputihan dan tebal pada lidah atau mulut.
  • Infeksi jamur vagina yang parah atau berulang.
  • Penyakit radang panggul kronis.
  • Infeksi parah dan sering mengalami kelelahan ekstrem yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya (mungkin muncul bersamaan dengan sakit kepala dan atau pusing).
  • Turunnya berat badan lebih dari 5 kg yang bukan disebabkan karena olahraga atau diet.
  • Lebih mudah mengalami memar.
  • Diare yang lebih sering.
  • Sering demam dan berkeringat di malam hari.
  • Pembengkakan atau mengerasnya kelenjar getah bening yang terletak di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha.
  • Batuk kering yang terus menerus.
  • Sering mengalami sesak napas.
  • Perdarahan pada kulit, mulut, hidung, anus, atau vagina tanpa penyebab yang pasti.
  • Ruam kulit yang sering atau tidak biasa.
  • Mati rasa parah atau nyeri pada tangan atau kaki.
  • Hilangnya kendali otot dan refleks, kelumpuhan, atau hilangnya kekuatan otot.
  • Kebingungan, perubahan kepribadian, atau penurunan kemampuan mental.

Ada juga kemungkinan bahwa Anda akan mengalami berbagai gejala di luar yang telah disebutkan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda menunjukkan gejala seperti yang telah disebutkan di atas atau termasuk orang yang berisiko terinfeksi, segera periksakan diri ke dokter.

Kondisi tubuh masing-­masing orang berbeda. Setiap orang mungkin menunjukkan tanda-tanda yang berbeda.

Anda mungkin juga sudah terinfeksi tetapi masih terlihat sehat, bugar, dan bisa berkegiatan normal selayaknya orang sehat lainnya.

Meski begitu, Anda masih dapat menularkan virus HIV ke orang lain.

Anda tidak dapat mengetahui secara pasti apakah benar terjangkit penyakit HIV/AIDS sampai melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh.

Penyebab HIV/AIDS

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus.

Adapun AIDS adalah kondisi yang terdiri dari kumpulan gejala terkait melemahnya sistem imun.

ADIS terjadi ketika infeksi HIV sudah berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan virus HIV dari orang yang terinfeksi hanya bisa diperantarai oleh cairan tubuh seperti:

  • Darah
  • Air mani
  • Cairan pra-ejakulasi
  • Cairan rektal (anus)
  • Cairan vagina
  • ASI yang berkontak langsung dengan luka terbuka di selaput lendir, jaringan lunak, atau luka terbuka di kulit luar tubuh orang sehat.

1. Hubungan seksual

Jalur penularan virus umumnya terjadi dari hubungan seks tanpa kondom (penetrasi vaginal, seks oral, dan anal).

Ingat, penularan hanya bisa terjadi dengan syarat, Anda sebagai orang yang sehat memiliki luka terbuka atau lecet di organ seksual, mulut, atau kulit.

Biasanya, perempuan remaja cenderung lebih berisiko terinfeksi HIV karena selaput vagina tipis sehingga rentan lecet dan terluka dibandingkan wanita dewasa.

Penularan lewat seks anal juga termasuk lebih rentan karena jaringan anus tidak memiliki lapisan pelindung layaknya vagina sehingga lebih mudah sobek akibat gesekan.

2. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril

Selain dari paparan antar cairan dengan luka lewat aktivitas seks, penularan HIV juga dapat terjadi jika cairan terinfeksi tersebut disuntikkan langsung ke pembuluh darah, misalnya dari:

  • Pemakaian jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terkontaminasi dengan human immunodeficiency virus.
  • Menggunakan peralatan tato (termasuk tinta) dan tindik (body piercing) yang tidak disterilkan dan pernah dipakai oleh orang dengan kondisi ini.
  • Memiliki penyakit menular seksual (PMS) lainnya seperti klamidia atau gonore. Virus HIV akan sangat mudah masuk saat sistem kekebalan tubuh lemah.
  • Ibu hamil pengidap HIV/AIDS dapat menularkan virus aktif kepada bayinya (sebelum atau selama kelahiran) dan saat menyusui.

Namun, jangan salah sangka. Anda TIDAK dapat tertular virus HIV melalui kontak sehari-hari seperti:

  • Bersentuhan
  • Berjabat tangan
  • Bergandengan
  • Berpelukan
  • Cipika-cipiki
  • Batuk dan bersin
  • Mendonorkan darah ke orang yang terinfeksi lewat jalur yang aman
  • Menggunakan kolam renang atau dudukan toilet yang sama
  • Berbagi sprei
  • Berbagi peralatan makan atau makanan yang sama
  • Dari hewan, nyamuk, atau serangga lainnya

Faktor risiko HIV/AIDS

Setiap orang, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan orientasi seksualnya bisa terinfeksi HIV.

Namun, beberapa orang lebih berisiko untuk terjangkit penyakit ini apabila memiliki faktor seperti:

  • Melakukan hubungan intim yang berisiko menyebabkan paparan penyakit menular seksual, seperti seks tanpa kondom atau seks anal.
  • Memiliki lebih dari satu atau berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian dengan orang lain.
  • Melakukan prosedur STI yakni pemeriksaan pada organ intim.

Komplikasi HIV/AIDS

Komplikasi dari infeksi virus human immunodeficiency virus adalah penyakit AIDS.

Artinya, AIDS menjadi kondisi lanjut dari infeksi HIV.

Infeksi virus ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa menyebabkan berbagai infeksi lainnya.

Jika Anda juga memiliki AIDS, Anda mungkin memiliki beberapa komplikasi kondisi yang cukup parah, seperti:

1. Kanker

Orang yang mengalami AIDS juga bisa terkena penyakit kanker dengan mudah.

Jenis kanker yang biasanya muncul yaitu kanker paru-paru, ginjal, limfoma, dan sarkoma Kaposi.

2. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi paling umum yang muncul saat seseorang mengidap HIV.

Pasalnya, orang dengan HIV/AIDS tubuhnya sangat rentan terkena virus.

Oleh sebab itu, tuberkulosis menjadi penyebab utama kematian di antara orang dengan HIV/AIDS.

3. Sitomegalovirus

Sitomegalovirus adalah virus herpes yang biasanya ditularkan dalam bentuk cairan tubuh seperti air liur, darah, urin, air mani, dan air susu ibu.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat akan membuat virus tidak aktif.

Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah karena Anda mengidap penyakit HIV dan AIDS, virus dapat dengan mudah menjadi aktif.

Sitomegalovirus dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru, atau organ lain.

4. Candidiasis

Candidiasis adalah infeksi yang juga sering terjadi akibat HIV/AIDS.

Kondisi ini menyebabkan peradangan dan menyebabkan lapisan putih dan tebal pada selaput lendir mulut, lidah, kerongkongan, atau vagina.

5. Kriptokokus meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges).

Meningitis kriptokokal adalah infeksi sistem saraf umum pusat yang bisa didapat oleh orang dengan penyakit HIV/AIDS.

Kriptokokus yang disebabkan oleh jamur di dalam tanah.

6. Toksoplasmosis

Infeksi yang mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii, parasit yang menyebar terutama melalui kucing.

Kucing yang terinfeksi biasanya memiliki parasit di dalam tinjanya.

Tanpa disadari, parasit ini kemudian dapat menyebar ke hewan lain dan manusia.

Jika orang dengan HIV/AIDS mengalami toksoplasmosis dan tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi otak serius seperti ensefalitis.

7. Cryptosporidiosis

Infeksi ini terjadi disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan.

Biasanya, seseorang bisa terkena parasit ini cryptosporidiosis ketika Anda menelan makanan atau air yang terkontaminasi.

Nantinya, parasit akan tumbuh di usus Anda dan saluran empedu, menyebabkan diare parah kronis pada orang dengan AIDS.

Selain infeksi, Anda juga berisiko mengalami masalah neurologis dan masalah ginjal jika memiliki penyakit AIDS.

Diagnosis HIV/AIDS

Mendiagnosis penyakit ini biasanya akan dilakukan dengan tes darah.

Ini adalah cara yang paling memungkinkan untuk dokter memeriksa sekaligus menentukan apakah Anda terinfeksi HIV atau tidak.

Keakuratan tes tergantung pada waktu paparan terakhir HIV, misalnya kapan terakhir kali berhubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum suntik dengan orang yang terinfeksi.

Jika Anda pernah melakukan berbagai tindakan berisiko, Anda bisa saja terinfeksi.

Meski begitu, butuh waktu sekitar 3 bulan setelah paparan pertama untuk antibodi human immunodeficiency virus bisa terdeteksi dalam pemeriksaan.

Oleh karena itu, lebih baik melakukan tes HIV untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda secara pasti.

Jika hasil tes Anda positif (reaktif), tandanya Anda memiliki antibodi HIV dan memiliki infeksi penyakit tersebut.

Meski positif HIV, namun belum berarti Anda juga memiliki AIDS.

Tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang terinfeksi virus HIV akan mengalami AIDS.

Jika hasil tes HIV negatif, artinya di dalam tubuh Anda tidak memiliki antibodi human immunodeficiency virus.

Pengobatan HIV/AIDS

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menghilangkan sepenuhnya infeksi virus HIV dari dalam tubuh.

Namun, gejala penyakit bisa dikendalikan dan sistem imun bisa ditingkatkan dengan pemberian terapi antiretoviral (ARV).

Terapi ARV tidak dapat membasmi virus seluruhnya, tetapi bisa membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan lebih sehat.

Setiap pengidap HIV bisa hidup sehat dan menjalani aktivitas secara normal selama menjalani pengobatan antiretroviral.

Selain itu, mengikuti pengobatan juga membantu mengurangi risiko penularan terutama pada orang-orang terdekat.

Terapi ARV terdiri dari penggunaan sekumpulan obat antiviral yang dapat mengurangi jumlah virus HIV di dalam tubuh dengan menghambat virus memperbanyak diri.

Berkurangnya virus memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus yang menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh.

Dengan begitu, jumlah virus di dalam tubuh dapat terkendali dan infeksinya tidak menimbulkan gejala.

Di samping itu, jumlah virus yang rendah membuat kemungkinan risiko penularan ke orang lain pun semakin berkurang.

Anda biasanya diminta untuk menjalani pengobatan ARV sesegera mungkin setelah terinfeksi HIV, terlebih jika sedang dalam kondisi berikut:

  • Hamil
  • Memiliki infeksi oportunistik (infeksi penyakit lain bersamaan dengan HIV)
  • Memiliki gejala yang parah
  • Jumlah sel CD4 di bawah 350
  • Memiliki penyakit ginjal akibat HIV
  • Sedang dirawat karena hepatitis B atau C

Dalam terapi ART, ada banyak obat untuk HIV yang biasanya dikombinasikan sesuai dengan kegunaannya. Beberapa jenis obat antiretroviral adalah:

Pemilihan jenis pengobatan akan berbeda untuk setiap orang karena perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien.

Dokterlah yang akan menentukan rejimen yang tepat untuk Anda.

Pengobatan di rumah

Selain terapi antiretroviral, berikut gaya hidup sehat yang perlu dilakukan ODHA untuk menjaga kesehatan:

  • ODHA harus makan makanan dengan gizi seimbang dan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.
  • Cukup istirahat.
  • Rutin berolahraga.
  • Menghindari obat-obatan terlarang termasuk alkohol.
  • Berhenti merokok.
  • Melakukan berbagai cara untuk mengelola stres seperti meditasi atau yoga.
  • Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap habis memegang hewan peliharaan.
  • Menghindari daging mentah, telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, dan makanan laut mentah.
  • Melakukan vaksin yang tepat untuk mencegah infeksi seperti radang paru dan flu.

Pencegahan HIV/AIDS

Jika Anda atau pasangan positif terinfeksi HIV/AIDS, Anda dapat menularkan virus ke orang lain, meski tubuh tidak menunjukkan gejala apapun.

Untuk itu, lindungi orang-orang di sekitar Anda dengan mencegah penyebaran HIV/AIDS seperti:

  • Selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks vagina, oral, atau anal.
  • Tidak berbagi jarum atau peralatan obat lainnya.

Jika Anda hamil dan terinfeksi HIV, berkonsultasilah dengan dokter yang memiliki pengalaman tentang pengobatan penyakit HIV.

Tanpa pengobatan, sekitar 25 dari 100 bayi yang lahir dari ibu juga bisa terinfeksi.

Jika memiliki pertanyaan, silakan berkonsultasi dengan dokter demi lebih memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet, 384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1

Günthard, H. F., Saag, M. S., Benson, C. A., del Rio, C., Eron, J. J., Gallant, J. E., Hoy, J. F., Mugavero, M. J., Sax, P. E., Thompson, M. A., Gandhi, R. T., Landovitz, R. J., Smith, D. M., Jacobsen, D. M., & Volberding, P. A. (2016). Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults: 2016 Recommendations of the International Antiviral Society-USA Panel. JAMA, 316(2), 191–210. https://doi.org/10.1001/jama.2016.8900

UN AIDS. (2021). Global HIV & AIDS statistics — 2020 fact sheet. Retrieved 14 January 2021, from https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet

National Institute of Health. (2021). HIV Treatment: The Basics.  Retrieved 14 January 2021, from https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-treatment-basics

HIV gov. (2020). What Are HIV and AIDS?. Retrieved 14 January 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/what-are-hiv-and-aids

WHO. (2020). HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

WHO. (2021). HIV data and statistics. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/data-use/hiv-data-and-statistics

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x