home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Skrining Penyakit Menular Seksual: Siapa yang Perlu dan Apa Saja Jenis Tesnya?

Skrining Penyakit Menular Seksual: Siapa yang Perlu dan Apa Saja Jenis Tesnya?

Penting untuk melakukan skrining penyakit menular seksual (PMS). Apalagi jika kehidupan seksual Anda tergolong aktif, pernah melakukan hubungan seks tanpa pengaman, atau berhubungan intim dengan orang yang terinfeksi.

Jika tidak secepatnya ditangani, penyakit kelamin dapat meningkatkan risiko ketidaksuburan, dan mengalami jenis kanker tertentu. Berikut semua hal yang perlu Anda tahu seputar skrining penyakit menular seksual.

Kenapa perlu skrining penyakit menular seksual?

Penyakit kelamin atau penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, termasuk dari penetrasi vagina, seks oral, dan seks anal.

Penyakit kelamin dapat menular antar pria dan wanita, antar wanita, maupun antar pria.

Seorang wanita hamil atau menyusui juga bisa menularkan infeksi seksual pada bayinya.

Selain itu, beberapa jenis penyakit kelamin membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi HIV.

Anda bisa berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan penyakit menular seksual, seperti HIV, yakni dengan tes skrining.

Jika Anda berpikir butuh tes skrining IMS, Anda perlu meminta secara spesifik kepada dokter.

Tes skrining sangat penting karena penyakit menular seksual sering kali tidak menunjukkan gejala apapun.

Akibatnya, Anda tak menyadari bahwa telah terinfeksi sampai penyakit telanjur bertambah parah.

Jenis skrining (tes) untuk deteksi penyakit kelamin

tes VCT 90 hari untuk mendeteksi HIV

Berikut ini adalah sejumlah panduan skrining untuk beberapa penyakit infeksi menular seksual (PMS) yang umum dilakukan:

1. Skrining PMS untuk klamidia dan gonore

Skrining penyakit menular seksual untuk klamidia dan gonore direkomendasikan satu tahun sekali.

Anda dianjurkan untuk menjalani skrining, apabila:

  • Anda adalah wanita yang aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun.
  • Anda wanita berusia lebih dari 25 tahun dan berisiko mengidap penyakit kelamin (misal, Anda berganti pasangan seksual atau memiliki pasangan seksual lebih dari satu).
  • Anda seorang pria yang pernah berhubungan seks dengan pria lain.
  • Anda mengidap HIV.
  • Anda pernah terlibat dalam aktivitas seksual atas dasar paksaan.

Skrining PMS khusus klamidia dan gonore dilakukan melalui tes urine atau tes usab (swab test) pada penis atau pada rahim.

Sampel dari tes ini kemudian akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

2. Skrining HIV, sipilis, dan hepatitis

Skrining IMS khusus HIV direkomendasikan untuk dilakukan setidaknya satu kali seumur hidup, termasuk dalam check-up rumah sakit rutin mulai dari usia 15-65 tahun.

Orang-orang yang berusia sekitar 15 tahun atau kurang dari itu diharuskan menjalankan skrining jika mereka berada pada risiko yang sangat tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS).

Skrining HIV dilakukan setiap tahun jika Anda berisiko tinggi terhadap infeksi.

Berikut kelompok orang yang perlu menjalankan skrining penyakit menular seksual seperti HIV, sifilis, dan hepatitis:

  • Terdiagnosis positif mengidap penyakit kelamin lain yang berarti Anda berisiko lebih besar terhadap penyakit lainnya.
  • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang sejak skrining terakhir.
  • Menggunakan narkotika suntik.
  • Anda seorang pria dan pernah berhubungan seks dengan pria lain.
  • Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan.
  • Anda pernah terlibat dalam aktivitas seksual atas dasar paksaan.

Skrining sifilis dilakukan dengan uji darah atau tes usap dari sampel jaringan genital Anda.

Skrining HIV dan hepatitits hanya membutuhkan uji darah.

3. Skrining infeksi menular seksual untuk herpes genital

Herpes genital atau herpes oral adalah infeksi virus yang mudah ditularkan bahkan jika orang tersebut tidak menunjukkan gejala apapun.

Hingga saat ini belum ada skrining penyakit menular seksual yang spesifik untuk mendeteksi herpes.

Akan tetapi, dokter bisa melakukan biopsi (sampel jaringan) dari kutil atau luka lecet untuk memeriksa herpes.

Sampel ini kemudian dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Ketika hasil tes skrining IMS negatif bukan berarti Anda tidak memiliki herpes.

Biasanya, dokter menyarankan Anda untuk melakukan uij darah.

Hanya saja, hasil pemeriksaan tersebut tidak bisa pasti karena tergantung dari tingkat sensitivitas tes dan stadium infeksi yang Anda alami.

Masih terdapat peluang kesalahan dalam hasil skrining infeksi menular seksual untuk herpes.

4. Skrining penyakit menular seksual HPV

Beberapa tipe human papillomavirus (HPV) bisa mengakibatkan kanker rahim, sedangkan jenis lainnya bisa menyebabkan kutil kelamin.

Orang-orang yang terinfeksi HPV bisa saja tidak menunjukkan tanda dan gejala sama sekali.

Virus ini umumnya hilang dalam 2 tahun sejak kontak pertama. Skrining infeksi menular seksual untuk HPV untuk pria belum tersedia.

Menurut Mayo Clinic, biasanya HPV pada pria didiagnosis dari pemeriksaan visual oleh dokter atau biopsi dari kutil genital.

Sementara untuk wanita, skrining penyakit menular seksual yang perlu dilakukan yakni:

Pap test

Tes untuk memeriksa adanya pertumbuhan sel abnormal di dalam rahim.

Pap test direkomendasikan dilakukan oleh wanita setiap tiga tahun sekali mulai usia 21-65 tahun.

Tes HPV

Tes HPV biasanya dilakukan sebagai tindak lanjut bagi wanita usia 30 tahun ke atas setelah melakukan pap test.

Jadwal tes HPV dapat dilakukan setiap 5 tahun sekali jika pap test sebelumnya tergolong normal.

Wanita berusia 21-30 tahun akan disarankan tes HPV bila menunjukkan hasil abnormal pada pap test terakhir.

HPV juga dikaitkan dengan kanker vulva, vagina, penis, anus, serta kanker mulut dan tenggorokan.

Vaksin HPV bisa melindungi wanita dan pria dari beberapa jenis infeksi HPV, tetapi hanya efektif jika diberikan sebelum memulai aktivitas seksual.

Jika skrining PMS positif, apakah penyakit kelamin bisa diobati?

penyakit menular seksual

Untuk beberapa tipe infeksi menular seksual, pengobatan mungkin melibatkan konsumsi rutin antibiotik resep atau melalui suntikan oleh dokter.

Penyakit tertentu, seperti herpes atau HIV/AIDS, tidak bisa disembuhkan.

Namun, kondisi tersebut bisa dikelola dengan pengobatan dan terapi jangka panjang untuk mencegah infeksi meluas ke bagian tubuh lainnya atau menyebar ke orang lain.

Selain itu, terbukalah dengan pasangan mengenai penyakit seksual Anda.

Pasangan Anda juga perlu mendapatkan pemeriksaan karena ia mungkin tertular infeksi dari Anda maupun sebaliknya.

Selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual untuk menghindari penyebaran infeksi lebih lanjut.

Sadari setiap perubahan yang terjadi pada tubuh Anda sekecil apapun itu.

Jangan merasa segan untuk melakukan skrining PMS. Dokter juga bisa memberikan konsultasi lanjutan tentang cara mengurangi risiko penularan penyakit seksual di kemudian hari.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

NHS. (2018). Sexual health.Retrieved 13 January 2021, from https://www.nhs.uk/live-well/sexual-health/

Mayo Clinic. (2021). STD testing: What’s right for you?. Retrieved 13 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sexually-transmitted-diseases-stds/in-depth/std-testing/art-20046019?pg=2

Womenshealth.gov. (2017). Sexually transmitted infections. Retrieved 13 January 2021, from https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/sexually-transmitted-infections

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Tanggal diperbarui 06/01/2021
x