Berbagai makanan yang Anda konsumsi sehari-hari, terutama makanan olahan, tidak lepas dari zat aditif pada makanan. Beberapa bahan tambahan pangan ini diketahui dapat memicu kanker dan berbagai penyakit kronis lainnya. Lantas, benarkah anggapan tersebut? Cari tahu jawabannya dalam artikel ini.

Apa itu zat aditif pada makanan?

Zat aditif  digunakan untuk memberikan fungsi tertentu pada makanan. Beberapa fungsi utama dari bahan tambahan pangan, di antaranya:

  • Untuk memberikan bentuk dan tekstur makanan.
  • Untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama penyulingan atau penggilingan.
  • Untuk mengawetkan makanan dan menjaganya agar tidak busuk.
  • Mengontrol kesiembangan asam-basa dalam makanan. Akibatnya, bila makanan dipanaskan, maka dapat membuat makanan tertentu menjadi mengembang.
  • Memberikan warna dan meningkatkan rasa. Pewarna yang sengaja ditambahkan dapat membuat warna makanan mejadi menarik. Sementara perasa digunakan untuk menghasilkan rasa yang kuat pada makanan tersebut.

Zat aditif pada makanan tidak selalu berbahaya

Secara umum, jika dikonsumsi dengan hati-hati dan dalam porsi yang secukupnya, zat aditif dalam makanan tidak akan memberikan efek samping yang berbahaya bagi tubuh. Bahkan, zat aditif pada makanan bisa membuat Anda menikmati beragam makanan sehat kapan pun yang dimau.

Namun, beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap bahan tambahan pangan tertentu. Akibatnya, orang yang sensitif tersebut bisa saja memunculkan reaksi ringan hingga berat setelah mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tambahan pangan tertentu.

Inilah mengapa, penting bagi Anda untuk selalu melihat label informasi yang tertera pada setiap kemasan makanan/ minuman yang akan Anda konsumsi. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui zat aditif yang terkandung pada setiap makanan kemasan.

Zat-zat aditif yang terlampir pada label makanan dengan nama kimiawi mereka terlihat lebih familiar apabila Anda tahu nama umumnya. Berikut beberapa nama lain dari zat aditif yang paling sering digunakan pada makanan kemasan:

Tidak semua aditif memiliki nama umum, tapi ada baiknya Anda mengingat bahwa semua makanan terbuat dari bahan-bahan kimia, seperti halnya tubuh kita. Produsen biasanya hanya menggunakan zat aditif sebanyak yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Apakah zat aditif pada makanan bisa bikin kanker kambuh?

Sampai saat ini belum ada bukti yang meyakinkan bahwa setiap zat aditif pada makanan dapat menyebabkan kanker atau membuat kanker kambuh kembali.

Sebuah penelitian besar yang didukung oleh National Cancer Institute menemukan bahwa minuman kemasan yang mengandung zat aditif seperti aspartam tidak meningkatkan risiko seseorang terkena limfoma, leukimia, atau kanker otak. Juru bicara Grocery Manufacturers Association di Washington D.C, Dr Robert E. Brackett pada laman WebMD mengatakan bahwa selama lebih dari tiga dekade penelitian telah menemukan jika aspartam aman digunakan dan sudah disetujui digunakan di lebih dari 100 negara.

Bahkan Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat, yang setara dengan Badan POM di Indonesia, telah mengonfirmasi keamanan aspartam 26 kali selama periode 23 tahun.

Namun, hal tersebut tidak bisa disamaratakan untuk semua bahan tambahan pangan. Sampai saat ini berbagai penelitian terus dilakukan guna memastikan ada tidaknya zat aditif tertentu dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker atau memicu kanker.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca