Kanker Esofagus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu kanker esofagus?

Kanker esofagus adalah jenis penyakit kanker yang berkembang di esofagus. Esofagus dikenal juga dengan kerongkongan, merupakan bagian tubuh yang menyerupai tabung hampa dan menghubungkan tenggorokan hingga lambung.

Untuk mencapai lambung, apapun yang masuk ke dalam mulut Anda, terutama makanan dan minuman, harus melewati esofagus. Organ ini terletak tepat di belakang saluran pernapasan (trakea) dan di depan tulang belakang.

Kanker ini bisa terjadi di mana saja sepanjang organ kerongkongan Anda. Akan tetapi, pada umumnya di mulai dari lapisan dalam dinding esofagus, lalu tumbuh ke luar melalui lapisan lainnya.

Beberapa lapisan kerongkongan tersebut antara lain mukosa, epitel, lamina propria, submukosa, muskularis propia, dan adventitia.

Kanker esofagus terbagi menjadi beberapa jenis, yakni:

Karsinoma sel skuamosa

Tipe kanker ini biasanya terjadi pada sel skuamosa yang berada di lapisan mukosa. Sel kanker paling sering terjadi di area leher (serviks kerongkongan) dan dua pertiga bagian atas rongga dada (kerongkongan dada bagian atas dan tengah).

Adenokarsinoma

Tipe kanker ini bermula di sel kelenjar yang membuat lendir. Paling sering, adenokarsinoma terjadi di area sepertiga bagian bawah kerongkongan.

Pada beberapa kondisi, yakni Barrett’s esophagus sel kelenjar mulai menggantikan sel skuamosa di bagian bawah kerongkongan sehingga menyebabkan adenokarsinoma.

Jenis kanker esofagus lain

Selain jenis adenokarsinoma dan sel skuamosa, ada juga jenis lain seperti limfoma, melanoma, dan sarkoma yang juga menyerang esofagus. Akan tetapi, jenis kanker ini sangat jarang terjadi.

Seberapa umumkah penyakit kanker ini?

Kanker esofagus adalah jenis kanker yang cukup umum terjadi di Indonesia, meskipun kasusnya tidak setinggi kanker paru atau kanker payudara. Menurut data Globocan 2018, tercatat 1.154 kasus baru dengan angka kematian mencapai 1.058 jiwa.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala kanker esofagus?

Gejala kanker kerongkongan biasanya tidak muncul di awal perkembangan penyakit. Gejala akan mulai bermunculan ketika penyakit kanker sudah memasuki stadium lanjut, mulai dari stadium 2, 3, atau 4.

Gejala kanker esofagus (kerongkongan) yang umumnya terjadi adalah:

Kesulitan menelan

Ciri-ciri kanker kerongkongan (esofagus) yang paling umum adalah kesulitan menelan. Kondisi ini dikenal juga dengan disfagia dan digambarkan seperti sensasi makanan tersangkut di tenggorokan, sehingga membuat seseorang jadi mudah tersedak.

Gejalanya mungkin sesekali muncul. Namun, seiring waktu menjadi semakin memburuk karena adanya tumor mempersempit jalannya makanan di kerongkongan.

Biasanya orang yang mengalami ciri kanker pada kerongkongan ini, akan lebih banyak memproduksi air liur (ludah) yang kental di mulutnya.

Nyeri dada

Selain kesulitan menelan, dada juga akan terasa sakit atau tidak nyaman. Bukan di area dada sebelah kanan atau kiri, melainkan area tengah. Beberapa juga merasakan sensasi terbakar di dada dan ini disebut juga dengan heartburn.

Rasa nyeri biasanya muncul beberapa detik setelah menelan makanan. Rasa menyakitkan ini disebut dengan istilah odynophagia. Ini terjadi karena makanan atau minuman yang melewati kerongkongan tidak bisa masuk dengan lancar karena adanya tumor.

Gejala kanker esofagus lain yang menyertai

Selain gejala yang disebutkan di atas, ada pula yang mengalami gejala lain. Gejala kanker kerongkongan yang menyertai tersebut, antara lain:

  • Penurunan berat badan karena sulit makan dan nafsu makanan menurun.
  • Suara serak dan sering muntah
  • Perdarahan di kerongkongan. Darah akan mengalir ke saluran cerna sehingga membuat feses menjadi berwarna kehitaman.
  • Anemia (jumlah sel darah merah rendah), sehingga membuat tubuh cepat lelah.
  • Nyeri pada tulang menandakan kanker telah menyebar ke area tersebut.

Setiap orang sangat mungkin mengalami gejala yang berbeda-beda. Bahkan, di antaranya ada juga mengalami gejala yang tidak disebutkan di atas.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas dan tidak membaik dalam waktu 2 minggu, segera periksa ke dokter. Terutama, Anda yang didiagnosis dengan Barrett’s esophagus.

Kondisi prekanker yang meningkatkan risiko kanker ini disebabkan oleh asam lambung kronis. Tanyakan dokter Anda tentang tanda-tanda dan gejala kanker yang menandakan memburuknya kondisi.

Penyebab

Apa penyebab kanker esofagus?

Penyebab kanker esofagus (kerongkongan) tidak diketahui secara pasti. Meski begitu, ilmuwan sudah menemukan berbagai faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

Ilmuwan berpendapat bahwa penyakit ini berkaitan dengan rusaknya DNA dalam sel yang melapisi bagian dalam esofagus. Hal ini mengarah pada penyebab kanker yang umumnya, yakni mutasi DNA.

Adanya mutasi atau kerusakan DNA membuat serangkaian perintah bagi sel menjadi kacau. Sel akan terus membelah tanpa kendali dan tidak mati. Akibatnya, sel akan menumpuk membentuk jaringan abnormal dan menjadi kanker.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko kanker esofagus?

Berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko kanker esofagus adalah:

Pertambahan umur dan jenis kelamin pria

Risiko kanker kerongkongan ini meningkat seiring bertambahnya usia. Sebanyak 15% kasus kanker ini, terjadi di bawah usia 55 tahun. Selain itu, kebanyakan pasien yang terkena adalah pria ketimbang wanita.

Kebiasaan merokok dan alkohol

Merokok atau mengunyah tembakau bisa meningkatkan risiko kanker esofagus. Pasalnya, rokok atau tembakau mengandung bahan kimia yang bisa mengiritasi lapisan kerongkongan sehingga sangat mungkin membuat sel-sel di sekitarnya menjadi abnormal. Seseorang yang berhenti merokok menunjukkan penurunan risiko penyakit ini.

Selain rokok, kebiasaan minum alkohol juga bisa meningkatkan risikonya. Apalagi jika alkohol dikonsumsi secara berlebihan. Risikonya menjadi lebih besar jika Anda punya kebiasaan minum alkohol sekaligus merokok.

Konsumsi daging olahan berlebihan

Konsumsi daging olahan dalam jumlah banyak dapat meningkatkan risiko banyak jenis kanker. Risikonya akan semakin meningkat, jika asupan buah dan sayur sangat minim.

Keseringan minum panas sekitar 65 ° C juga dapat merusak sel-sel yang melapisi esofagus sehingga meningkatkan risiko kanker.

Kurang aktivitas dan obesitas

Orang yang kurang olahraga alias malas gerak cenderung memiliki berat badan berlebihan (obesitas). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya malah refluks gastroesofagus yanga mengarah kanker.

Riwayat GERD

GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi asam lambung naik ke kerongkongan. Orang yang memiliki masalah ini rentan mengalami iritasi pada kerongkongan. Dalam jangka panjang, iritasi tersebut bisa memicu kanker.

Riwayat penyakit Barrett’s esophagus

Refluks asam lambung yang mencapai esofagus dalam waktu lama bisa merusak lapisan esofagus. Akibanya, sel skuamosa yang melapisi akan tergantikan oleh sel kelenjar yang secara alami tidak bisa melindungi lapisan kerongkongan dari asam lambung.

Kondisi ini akan menyebabkan Barrett’s esophagus. Jika sudah terkena penyakit ini, risiko kanker sangat tinggi.

Masalah kesehatan tertentu

Risiko kanker juga meningkat pada orang dengan kondisi berikut ini:

  • Achalasia (otot di ujung bawah esofagus tidak rileks dengan baik sehingga membuat makanan sulit ditelan). Rata-rata kanker berkembang dalam 15-20 tahun setelah achalasia terjadi.
  • Tylosis (kondisi langka bawaan yang menyebabkan pertumbuhan ekstra sel-sel pada lapisan atas kulit dan kerongkongan).
  • Sindrom Plummer-Vinson (sindrom langka yang menyebabkan adanya jaringan tipis menjulur keluar dari lapisan dalam esofagus yang menyebabkan penyempitan.
  • Cedera pada kerongkongan akibat tidak sengaja menelan alkali, lye, atau bahan kimia lain yang merusak lapisan esofagus.
  • Terinfeksi virus HPV (virus papiloma manusia) yang menyebabkan tumbuhnya kutil (papiloma).
  • Ada anggota keluarga dengan riwayat kanker paru-paru, kanker mulut, dan kanker tenggorokan.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana kanker esofagus didiagnosis?

Dokter akan meminta Anda menjalani serangkaian tes kesehatan untuk mendiagnosis kanker esofagus (kerongkongan), seperti:

  • Tes fisik. Pemeriksaan gejala yang dirasakan dan mengecek perubahan pada tubuh yang terjadi. Dokter juga akan melihat riwayat kesehatan Anda dan keluarga.
  • Barium swallow. Anda menelan cairan barium dan melakukan tes X-ray, sehingga gambaran kondisi esofagus akan terlihat jelas.
  • CT scan. Tes X-ray untuk melihat penyebaran sel kanker ke organ tubuh lainnya.
  • MRI (magnetic resonance imaging) scan. Menggunakan gelombang radio dan magnet kuat untuk menghasilkan gambaran lebih detail dari esofagus Anda.
  • PET (positron emission tomography) scan. Menyuntikkan zat radioaktif ke dalam tubuh. Zat ini lebih mudah diserap oleh sel-sel kanker. Dengan kamera khusus, sel-sel kanker yang telah menyerap zat radioaktif tersebut akan terdeteksi.
  • Endoskopi. Menggunakan endoskopi melalui tenggorokan menuju ke esofagus dan lambung untuk memeriksa kondisinya.

Bagaimana pengobatan kanker esofagus?

Cara mengobati kanker esofagus yang biasanya direkomendasikan dokter adalah:

1. Operasi

Operasi biasanya dapat dikombinasikan dengan kemoterapi dan radioterapi. Beberapa jenis operasi yang dilakukan oleh tim bedah adalah:

  • Operasi pengangkatan sebagian kecil esofagus (esofagektomi).
  • Operasi pengangkatan sebagian esofagus dan bagian atas lambung (esofagogastrektomi).
  • Operasi pengangkatan kelenjar getah bening yang terkena kanker.

Efek samping dari pengobatan kanker ini adalah perdarahan, infeksi, komplikasi paru-paru, dan suara berubah.

2. Kemoterapi

Kemoterapi adalah pengobatan yang ditujukan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat-obatan kemoterapi dapat disuntikkan atau diminum secara langsung. Beberapa obat kemoterapi yang digunakan untuk mengobati kanker esofagus (kerongkongan) adalah:

Kemoterapi dapat menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, diare, rambut rontok, dan tubuh kelelahan.

3. Terapi radiasi atau radioterapi

Radioterapi menggunakan cahaya X-ray berkekuatan tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Umumnya, terapi ini dilakukan dengan menggunakan mesin yang memancarkan radiasi dari luar (eksternal), atau memasukkan zat radiasi ke dalam tubuh Anda (internal).

Perawatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau perawatan rumahan  untuk kanker esofagus?

Hingga saat ini perawatan rumahan, seperti obat herbal (alami) atau pengobatan alternatif tidak terbukti dapat menyembuhkan kanker esofagus (kerongkongan). Jadi, tetap harus mengutamakan pengobatan yang direkomendasikan dokter.

Di samping itu, terapkan juga gaya hidup yang sehat dan sesuai untuk pasien kanker, seperti:

  • Hindari rokok, mengunyah tembakau, dan sebaiknya berhenti dulu minum alkohol.
  • Terapkan pola makan dengan banyak buah dan sayur serta jaga berat badan yang sehat.
  • Kebiasaan makan pun harus berubah, seperti makan dalam porsi kecil, mengunyah lebih lama, dan hati-hati.
  • Sesuaikan aktivitas harian, agar tidak memperburuk gejala.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit kanker esofagus?

Meski tidak 100% mencegah kanker esofagus, cara berikut ini bisa tetap membantu beberapa orang untuk menurunkan risikonya, yaitu:

  • Berhenti merokok secepat mungkin dan menghindari menghirup asap rokok.
  • Batasi kebiasaan minum alkohol.
  • Kurangi konsumsi daging olahan. Sebaliknya, perbanyak asupan sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Jaga pola makan dan olahraga rutin agar berat badan tetap terkendali.
  • Bagi Anda yang memiliki masalah kesehatan tertentu yang bisa meningkatkan risiko kanker kerongkongan, cek kesehatan rutin ke dokter diperlukan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kanker Mulut (Gusi, Lidah dan Bibir)

Kanker mulut menandakan sel abnormal yang menyerang gusi, lidah, bibir, atau area lain di mulut. Yuk, pelajari mengenai gejala, penyebab, dan obatnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

Perawatan paliatif adalah perawatan suportif yang umumnya dijalani pasien kanker. Namun, seperti apa sih perawatan ini? Pelajari selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Cara Mengobati Kanker, Mulai dari Minum Obat Hingga Prosedur Medis

Cara mengobati penyakit kanker tidak hanya dengan minum obat. Tersedia juga prosedur medis lain yang dapat mengatasi kanker. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 12 menit

5 Jenis Obat Herbal yang Berpontensi Mengobati Kanker Kolorektal

Selain pengobatan dokter, ada beberapa obat herbal yang digunakan secara tradisional sebagai obat kanker kolorektal (usus besar dan rektum). Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker Usus Besar, Kanker 31 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala kanker tiroid

Kanker Tiroid

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
gejala kanker mata

Kanker Mata

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
kanker penis

Kanker Penis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 8 menit
gejala kanker lidah

Kanker Lidah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 10 menit