Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Kanker Esofagus (Kerongkongan)

    Kanker Esofagus (Kerongkongan)

    Kerongkongan merupakan bagian tubuh berbentuk tabung yang menghubungkan tenggorokan hingga lambung. Penyakit kanker yang menyerang bagian tubuh ini disebut kanker esofagus. Simak gejala, penyebab, dan pengobatan kanker kerongkongan pada ulasan di bawah ini.

    Apa itu kanker esofagus?

    Kanker esofagus atau kanker kerongkongan adalah jenis penyakit kanker yang berkembang pada kerongkongan (esofagus).

    Untuk mencapai lambung, makanan dan minuman yang Anda telan harus melewati esofagus terlebih dulu. Organ ini terletak tepat pada bagian belakang saluran pernapasan (trakea) dan depan tulang belakang.

    Kanker ini bisa terjadi pada bagian mana saja sepanjang kerongkongan. Namun, kanker umumnya dimulai dari lapisan dalam dinding esofagus, lalu tumbuh ke luar melalui lapisan lainnya.

    Lapisan yang menyusun organ kerongkongan yaitu mukosa, epitel, lamina propria, submukosa, muskularis propia, dan adventitia.

    Seberapa umum kondisi ini?

    Kanker esofagus menjadi salah satu jenis kanker yang cukup umum terjadi di Indonesia meski kasusnya tidak setinggi kanker paru atau kanker payudara.

    Menurut data Global Cancer Observatory (Globocan) pada 2020, tercatat 1.327 kasus baru dan angka kematian 1.283 jiwa akibat kanker kerongkongan di Indonesia.

    Jenis-jenis kanker esofagus

    benjolan di tenggorokan

    Mengetahui jenis kanker esofagus yang dialami seseorang akan membantu dokter dalam menanganinya. Penyakit kanker esofagus dibedakan menurut sel yang terlibat sebagai berikut.

    1. Karsinoma sel skuamosa

    Tipe kanker ini biasanya terjadi pada sel skuamosa yang berada di lapisan mukosa. Sel kanker paling sering muncul pada area leher kerongkongan dan dua pertiga bagian atas rongga dada (kerongkongan dada bagian atas dan tengah).

    2. Adenokarsinoma

    Tipe kanker ini bermula pada sel kelenjar yang memproduksi lendir. Adenokarsinoma paling sering terjadi pada area sepertiga bagian bawah kerongkongan.

    Pada beberapa kondisi, misalnya Barrett’s esophagus, sel kelenjar mulai menggantikan sel skuamosa pada bagian bawah kerongkongan sehingga memicu adenokarsinoma.

    3. Kanker esofagus lainnya

    Selain jenis adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa, ada juga jenis kanker lain, termasuk limfoma, melanoma, dan sarkoma yang juga menyerang esofagus. Namun, kanker-kanker tersebut sangat jarang terjadi.

    Tanda dan gejala kanker esofagus

    disfagia, gejala kanker kerongkongan

    Gejala kanker kerongkongan biasanya tidak muncul pada awal perkembangan penyakit. Penyakit ini mulai tampak saat sudah memasuki stadium lanjut, mulai dari stadium 2, 3, atau 4.

    Berikut ini merupakan beberapa tanda kanker esofagus (kerongkongan) yang paling umum.

    1. Kesulitan menelan

    Ciri-ciri kanker kerongkongan yang paling umum yakni kesulitan menelan. Kondisi yang dikenal juga sebagai disfagia ini digambarkan seperti sensasi makanan tersangkut pada tenggorokan sehingga membuat seseorang mudah tersedak.

    Gejalanya mungkin hanya muncul sesekali pada awalnya. Seiring waktu, gejala makin memburuk karena tumor mempersempit jalannya makanan melalui kerongkongan.

    Pada umumnya, orang yang mengalami gejala kanker kerongkongan ini juga akan lebih banyak memproduksi air liur yang kental.

    2. Nyeri dada

    Selain kesulitan menelan, dada juga akan terasa sakit atau tidak nyaman. Hal ini bukan terjadi pada dada sebelah kanan atau kiri, melainkan pada area tengah. Beberapa orang juga merasakan sensasi terbakar pada ulu hati alias heartburn.

    Rasa nyeri biasanya muncul beberapa detik setelah menelan makanan. Rasa menyakitkan ini disebut dengan istilah odynophagia dalam dunia medis.

    Kondisi ini terjadi karena makanan atau minuman yang melewati kerongkongan tidak dapat masuk dengan lancar akibat terhalang tumor.

    3. Gejala lainnya

    Selain gejala yang disebutkan di atas, ada pula gejala kanker kerongkongan lain yang mungkin muncul, antara lain:

    • sering muntah,
    • suara serak,
    • penurunan berat badan karena sulit makan,
    • penurunan nafsu makan,
    • perdarahan pada kerongkongan yang mengalir ke saluran cerna sehingga membuat feses berwarna kehitaman,
    • anemia (jumlah sel darah merah rendah) sehingga membuat tubuh cepat lelah, dan
    • nyeri pada tulang yang menandakan kanker telah menyebar ke area tersebut.

    Setiap orang sangat mungkin mengalami gejala yang berbeda-beda. Bahkan, ada juga yang mengalami gejala yang tidak disebutkan di atas.

    Kapan harus periksa ke dokter?

    Jika Anda mengalami gejala kanker esofagus dan tidak membaik dalam dua minggu, segera periksa ke dokter, terlebih bagi Anda yang didiagnosis dengan Barrett’s esophagus.

    Kondisi prakanker yang meningkatkan risiko kanker ini disebabkan oleh penyakit asam lambung kronis. Konsultasikan dengan dokter Anda tentang tanda-tanda dan gejala kanker yang menandakan memburuknya kondisi.

    Penyebab kanker esofagus

    pemeriksaan dokter

    Penyebab kanker kerongkongan tidak diketahui secara pasti. Meski begitu, ilmuwan sudah menemukan berbagai faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

    Para ilmuwan berpendapat bahwa penyakit ini berkaitan dengan kerusakan DNA pada sel yang melapisi bagian dalam esofagus.

    Hal ini mengarah pada penyebab kanker pada umumnya, yakni mutasi DNA. Adanya kerusakan dan mutasi DNA membuat serangkaian mekanisme di dalam sel menjadi kacau.

    Sel akan terus membelah tanpa kendali dan tidak mati seperti seharusnya. Akibatnya, sel akan menumpuk membentuk jaringan abnormal dan menjadi kanker.

    Faktor apa saja yang meningkatkan risiko kondisi ini?

    Ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko kanker kerongkongan.

    1. Kebiasaan merokok dan alkohol

    Merokok meningkatkan risiko kanker esofagus. Rokok atau tembakau di dalamnya memiliki kandungan bahan kimia yang bisa mengiritasi lapisan kerongkongan. Kondisi ini tentu sangat mungkin membuat sel-sel pada bagian sekitarnya menjadi abnormal.

    Selain rokok, kebiasaan minum alkohol juga bisa meningkatkan risiko kanker. Terlebih bila alkohol dikonsumsi secara berlebihan dan diikuti dengan kebiasaan merokok.

    2. Pertambahan usia dan berjenis kelamin laki-laki

    Risiko kanker kerongkongan meningkat seiring bertambahnya usia. Sebanyak 15% kasus jenis kanker ini terjadi pada orang-orang di bawah usia 55 tahun. Selain itu, kebanyakan pasien yang terkena berjenis kelamin laki-laki.

    3. Kurang aktivitas dan obesitas

    Orang yang malas gerak dan kurang berolahraga cenderung memiliki berat badan berlebih (obesitas). Kondisi ini akan meningkatkan risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan.

    Asam lambung lama-kelamaan dapat mengikis, merusak, dan bahkan mengubah jaringan kerongkongan. Akibatnya, terjadilah Barrett’s Esophagus yang meningkatkan risiko kanker.

    4. Riwayat penyakit GERD

    GERD atau gastroesophageal reflux disease merupakan suatu kondisi saat asam lambung naik ke kerongkongan. Orang yang mengidap masalah ini rentan mengalami iritasi kerongkongan yang dalam jangka panjang bisa memicu kanker.

    5. Riwayat Barrett’s esophagus

    Refluks asam lambung yang mencapai esofagus dalam waktu lama bisa merusak lapisannya. Akibanya, sel skuamosa yang melapisi akan tergantikan oleh sel kelenjar yang secara alami tidak bisa melindungi lapisan kerongkongan dari asam lambung.

    Lama-kelamaan, kondisi ini akan menjadi penyebab Barrett’s esophagus. Apabila seseorang sudah terkena penyakit ini, risiko kanker esofagus tentu menjadi sangat tinggi.

    6. Masalah kesehatan tertentu

    Selain berbagai kondisi yang telah disebutkan di atas, risiko kanker esofagus juga meningkat pada orang dengan kondisi berikut ini.

    • Akalasia, kondisi ketika otot pada ujung bawah esofagus tidak rileks sehingga membuat makanan sulit ditelan. Rata-rata, kanker berkembang 15–20 tahun setelahnya.
    • Tilosis, kondisi langka bawaan yang menyebabkan pertumbuhan ekstra sel-sel pada lapisan atas kulit dan kerongkongan.
    • Sindrom Plummer-Vinson, sindrom langka yang menyebabkan tumbuhnya jaringan tipis yang menjulur keluar dari lapisan dalam esofagus. Jaringan ini dapat menyebabkan penyempitan.
    • Cedera kerongkongan akibat tidak sengaja menelan alkali, lye, atau bahan kimia lain yang merusak lapisan esofagus.
    • Infeksi virus HPV (human papillomavirus) yang menyebabkan pertumbuhan kutil (papiloma) pada kerongkongan.
    • Ada anggota keluarga dengan riwayat kanker lain, seperti kanker paru-paru, kanker mulut, dan kanker tenggorokan.

    Diagnosis kanker esofagus

    Dokter akan meminta Anda menjalani serangkaian tes kesehatan untuk mendiagnosis kanker esofagus (kerongkongan) seperti berikut ini.

    • Tes fisik. Pemeriksaan atas gejala yang dirasakan dan mengecek perubahan yang terjadi pada tubuh. Dokter juga akan melihat riwayat kesehatan Anda dan keluarga.
    • Barium swallow. Anda menelan cairan barium dan melakukan tes X-ray sehingga gambaran kondisi esofagus akan terlihat jelas.
    • CT scan. Tes X-ray untuk melihat penyebaran sel kanker ke organ tubuh lainnya.
    • MRI (magnetic resonance imaging). Tes dengan gelombang radio dan magnet kuat untuk menghasilkan gambaran lebih detail dari esofagus Anda.
    • PET (positron emission tomography). Tes dengan menyuntikkan zat radioaktif ke dalam tubuh yang sangat mudah diserap oleh sel-sel kanker. Dengan kamera khusus, sel-sel kanker yang telah menyerap zat radioaktif tersebut akan terdeteksi.
    • Endoskopi. Tes dengan memasukkan alat khusus yang disebut endoskop ke dalam esofagus dan lambung untuk memeriksa kondisinya.

    Pengobatan kanker esofagus

    endoskopi kanker esofagus

    Dokter bisa memberikan beberapa pilihan pengobatan untuk kanker esofagus tergantung pada kondisi kesehatan pasien seperti berikut.

    1. Operasi

    Operasi umumnya dikombinasikan dengan kemoterapi dan radioterapi. Beberapa jenis operasi yang dilakukan oleh tim bedah, antara lain:

    • operasi pengangkatan sebagian kecil esofagus (esofagektomi),
    • operasi pengangkatan sebagian esofagus dan bagian atas lambung (esofagogastrektomi), dan
    • operasi pengangkatan kelenjar getah bening yang terkena kanker.

    Efek samping dari pengobatan kanker ini meliputi perdarahan, infeksi, komplikasi paru-paru, dan perubahan pada suara pasien.

    2. Terapi radiasi (radioterapi)

    Radioterapi menggunakan cahaya X-ray berkekuatan tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Umumnya, terapi ini dilakukan dengan menggunakan mesin yang memancarkan radiasi dari luar (eksternal) atau memasukkan zat radiasi ke dalam tubuh Anda (internal).

    3. Kemoterapi

    Selain radioterapi, ada pula kemoterapi yang melibatkan penggunaan obat-obatan yang disuntik atau diminum untuk membunuh sel-sel kanker dalam tubuh.

    Beberapa obat kemoterapi untuk mengobati kanker esofagus (kerongkongan), meliputi:

    Kemoterapi pada umumnya bisa menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, diare, rambut rontok, dan kelelahan.

    Perawatan di rumah untuk kanker esofagus

    hidup sehat dengan ppok

    Berbagai perawatan rumahan, seperti obat herbal (alami) atau pengobatan alternatif, hingga saat ini tidak terbukti dapat menyembuhkan kanker kerongkongan. Jadi, Anda tetap harus mengutamakan pengobatan yang direkomendasikan dokter.

    Selain itu, penyandang kanker juga perlu melakukan gaya hidup sehat untuk pasien kanker yang telah disesuaikan dokter seperti berikut.

    • Hindari rokok, tembakau kunyah, dan alkohol.
    • Terapkan pola makan yang mengutamakan konsumsi sayuran dan buah-buahan.
    • Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat.
    • Mengubah kebiasaan makan yang disesuaikan untuk pasien kanker esofagus, seperti makan dalam porsi kecil, mengunyah lebih lama, dan berhati-hati saat menelan.
    • Sesuaikan tingkat aktivitas harian supaya tidak memperburuk gejala.

    Pencegahan kanker esofagus

    Meski tidak sepenuhnya mencegah penyakit kanker kerongkongan, beberapa langkah berikut ini bisa membantu Anda menurunkan risikonya.

    • Berhenti merokok secepat mungkin dan menghindari menghirup asap rokok.
    • Batasi minum alkohol atau berhenti jika perlu.
    • Kurangi konsumsi daging olahan. Sebaliknya, perbanyak asupan sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
    • Menjaga pola makan dan olahraga rutin agar berat badan tetap terkendali.
    • Cek kesehatan rutin dengan dokter bila mengidap masalah kesehatan yang bisa meningkatkan risiko kanker kerongkongan.

    Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, sebaiknya konsultasikanlah dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik dari masalah Anda.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Esophageal cancer. Mayo Clinic. (2022). Retrieved 20 May 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/esophageal-cancer/symptoms-causes/syc-20356084

    What Is Esophagus Cancer?. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/about/what-is-cancer-of-the-esophagus.html

    Symptoms of Esophageal Cancer. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/detection-diagnosis-staging/signs-and-symptoms.html

    Causes of Esophageal Cancer. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/causes-risks-prevention/what-causes.html

    Esophageal Cancer Risk Factors. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/causes-risks-prevention/risk-factors.html

    Chemotherapy for Esophageal Cancer. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/treating/chemotherapy.html

    Surgery for Esophageal Cancer. American Cancer Society. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://www.cancer.org/cancer/esophagus-cancer/treating/surgery.html

    Cancer in Indonesia. Global Cancer Observatory. (2020). Retrieved 20 May 2022, from https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Jun 07
    Ditinjau secara medis oleh dr. Bob Andinata Sp.B (K) Onk
    Next article: