Mengenal Fentanyl, Obat Penghilang Nyeri Penyebab Kematian Prince

Oleh

Setelah Prince Roger Nelson, alias Prince, musisi legendaris tahun 80-an ditemukan meninggal dunia pada 21 April 2016 lalu, petugas medis dan ahli forensik akhirnya merilis pernyataan resmi mengenai penyebab kematian pelantun “Purple Rain” tersebut. Prince ternyata meninggal akibat overdosis fentanyl, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Midwest Medical Examiner’s Office, dilansir dari The Huffington Post.

Apa itu fentanyl?

Fentanyl adalah sebuah obat psikoaktif sintetik yang umum digunakan untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca-pembedahan. Dokter juga meresepkan fentanyl untuk pasien kanker dan nyeri kronis yang tidak toleran terhadap opiat lain, seperti morfin atau heroin, atau ketika obat penghilang nyeri lainnya tidak lagi bekerja efektif.

Pertama kali dikembangkan sekitar tahun 1960-an, obat ini dimaksudkan sebagai alternatif dari morfin. Dokter akan menggunakan fentanyl untuk mengobati rasa nyeri tidak tertahankan dari terapi kanker atau sakit pasca-operasi. Fentanyl bersifat cepat tanggap, melintasi batasan darah-dan-otak lebih cepat daripada obat lainnya, dan terbukti sangat efisien menargetkan reseptor opiat dalam tubuh.

Menurut National Institute of Drug Abuse (NIDA), layaknya heroin, morfin, dan jenis opiat (obat candu) lainnya, fentanyl bekerja mengikat reseptor opiat tubuh, yang terkonsentrasi di area otak tertentu tempat mengontrol rasa sakit dan emosi. Saat obat-obatan candu mengikat diri pada reseptor ini, mereka bisa meningkatkan kadar dopamin dalam area penghargaan otak, sehingga memproduksi mood bahagia dan santai.

Penyalahgunaan fentanyl

Obat-obatan opiat akan mengembangkan ketergantungan, dan beberapa pasien cenderung untuk mencari obat-obatan lain dengan dosis yang lebih kuat begitu dosis awal berhenti bekerja.

Fentanyl sangat mudah untuk disalahgunakan, bahkan pada kasus yang tidak disengaja sekalipun. Potensi dan efektivitas obat membuatnya sebagai target empuk untuk penyalahgunaan.

Ada banyak efek samping fentanyl, baik jika digunakan secara medis dalam pengawasan dokter maupun secara ilegal, yang tidak diinginkan. Apa saja?

  • Pusing dan kepala berkunang-kunang
  • Mulut kering
  • Retensi urin
  • Penekanan pernapasan
  • Sembelit parah
  • Ruam atau gatal-gatal merah
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Hilang berat badan
  • Sakit kepala
  • Kesulitan melihat
  • Depresi
  • Halusinasi
  • Mimpi buruk
  • Sulit tidur
  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Tangan dan kaki bengkak

Formulasi waktu rilis untuk fentanyl memberikan bantuan pereda nyeri yang kuat seiring dengan waktu penggunaan. Fentanyl umumnya  tersedia dalam bentuk permen lollipop dan koyo. Obat ini juga tersedia dalam lembaran film yang larut dalam mulut dan pil yang ditanamkan dalam pipi. Ketika diresepkan oleh dokter, fentanyl akan diberikan kepada pasien melalui injeksi. Namun, kini jenis fentanyl yang terkait dengan kasus ketergantungan diproduksi dalam pasar gelap dan dicampur dengan — atau diganti dengan — heroin dalam bentuk bubuk.

Mencampur fentanyl dengan heroin atau kokain ilegal terbukti bisa melipatgandakan potensi mematikan, karena perbedaan antara dosis terapi dan dosis mematikan sangatlah tipis.

Sama seperti opiat lainnya, gejala utama dari penyalahgunaan fentanyl termasuk euforia (kebahagiaan amat sangat;heboh), mengantuk, lesu, depresi, kebingungan, teler, hilang kesadaran, koma, hingga kecanduan.

Mengutip Gulf News, Prince pernah diberikan obat penawar overdosis seminggu sebelum hari kematiannya.

Obat yang disebut sebagai reseptor opiat antagonis bekerja menghadang efek dari obat-obatan opiat. Overdosis fentanyl harus ditangani segera dengan opiat antagonis.

Kematian Prince dan epidemi opiat di Amerika Serikat

Sejumlah sumber mengatakan bahwa Prince pertama kali diresepkan fentanyl saat ia mulai mengalami masalah pinggang dan kaki kanan bawah. Laporan tim medis juga mencatat bahwa terdapat luka parut bekas operasi dari pembedahan terdahulu yang mungkin terkait dengan operasi nyeri sendi. Prince diduga mengalami nyeri persendian dan lutut kronis selama bertahun-tahun sebagai hasil dari performa panggung.

Kematian Prince — dan penyalahgunaan fentanyl pada umumnya — adalah bagian dari epidemi opiat yang kini tengah marak berlangsung di Amerika Serikat; juga terjadi hingga ribuan kali setiap tahunnya di antara penderita penyakit kronis. Korban jiwa terhitung mencapai ribuan jiwa. Pada tahun 2014, lebih dari 18 ribu penduduk Amerika meninggal akibat opiat resep, dan 700 di antaranya adalah akibat fentanyl.

Fentanyl adalah candu sintetik yang memiliki kekuatan 80 kali lipat lepih kuat daripada morfin dan ratusan kali lebih mematikan daripada heroin, ungkap CDC, dilansir dari The Guardian. Dosis kecil dari obat ini dapat mendorong penggunanya hingga ke dalam tahap overdosis, melewati batas toleransi. Obat ini begitu kuat sehingga resepn akan ditulis dalam takaran mikrogram; fentanyl dalam ukuran dan dosis tablet aspirin (80 – 500 gram) akan dengan sangat cepat membunuh Anda.

Prince diduga meninggal akibat terapi fentanyl berkelanjutan yang berujung pada overdosis, atau terapi fentanyl ini kemudian menuntunnya pada penyalahgunaan obat-obatan opiat.

BACA JUGA:

Yang juga perlu Anda baca