home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengapa Halusinasi Bisa Muncul? Cari Tahu Penyebabnya di Sini

Mengapa Halusinasi Bisa Muncul? Cari Tahu Penyebabnya di Sini

Anda mungkin sudah sering mendengar soal fenomena halusinasi. Meski tidak tampak atau terdengar bagi orang lain, namun penderita halusinasi merasakannya sebagai suatu hal yang nyata. Mengapa dan bagaimana halusinasi bisa terjadi? Simak penjelasannya di bawah ini!

Apa itu halusinasi?

Halusinasi adalah gangguan yang membuat seseorang menyaksikan atau mengalami hal-hal yang sebenarnya tidak nyata dan hanya ada di dalam pikirannya sendiri. Sensasi yang dirasakan halusinasi sangat nyata, padahal sebenarnya dibuat oleh pikiran.

Halusinasi dapat memengaruhi kelima indra. Ya, kondisi ini tidak hanya membuat seseorang melihat hal-hal yang tidak nyata, melainkan juga mendengar, menyentuh, atau bahkan mengecap sesuatu yang tidak benar-benar ada.

Akan tetapi halusinasi tidak sama dengan mimpi yang muncul saat Anda sedang tidur. Pasalnya, halusinasi terjadi saat Anda dalam kondisi terbangun atau sadar, dan bisa muncul kapan saja, baik pagi, siang, sore, atau malam hari.

Umumnya, halusinasi adalah gejala dari kondisi kesehatan mental tertentu, contohnya psikosis. Bahkan, kondisi ini juga sering dikaitkan dengan berbagai gangguan mental lainnya.

Namun, tak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga menjadi gejala dari penyakit kelainan saraf, seperti penyakit Parkinson.

Macam-macam halusinasi

Seperti yang dijelaskan di atas, halusinasi dapat menyebabkan efek pada penglihatan, penciuman, perasa, pendengaran, serta sensasi peraba. Maka, jenis-jenis halusinasi adalah:

1. Halusinasi auditori

Halusinasi auditori adalah tipe halusinasi yang paling umum. Dengan kondisi ini, Anda mungkin akan mendengar suara yang berasal dari dalam atau luar pikiran Anda. Suara tersebut bisa jadi seperti berbicara dengan satu sama lain atau memerintahkan Anda untuk melakukan sesuatu.

2. Halusinasi visual

Tipe halusinasi visual adalah sensasi seperti melihat objek, pola, orang, atau cahaya yang tidak nyata. Sebagai contoh, Anda mungkin melihat seseorang di suatu ruangan atau cahaya yang tidak dapat dilihat orang lain.

3. Halusinasi olfaktori

Tipe halusinasi ini meliputi indra penciuman (pengidu) Anda. Mungkin saja, Anda merasa bahwa tubuh Anda berbau kurang sedap walau sebenarnya tidak ada bau apa-apa. Bau yang Anda cium mungkin berbau sedap maupun tidak sedap.

4. Halusinasi gustatori

Tipe halusinasi ini melibatkan indra pegecap Anda. Tidak seperti halusinasi olfaktori, rasa yang Anda kecap pada halusinasi gustatori sering kali tidak sedap. Halusinasi gustatori sering terjadi pada orang dengan epilepsi.

5. Halusinasi taktil

Halusinasi taktil berhubungan perasaan sentuhan atau pergerakan pada tubuh. Sebagai contoh, Anda dapat merasakan serangga merayapi punggung Anda atau tangan yang menyentuh tubuh Anda. Anda juga mungkin merasa organ dalam Anda bergerak-gerak.

6. Halusinasi temporer

Seseorang dapat mengalami tipe halusinasi ini apabila hubungan mereka dengan orang lain baru saja berakhir atau orang terdekat baru saja meninggal dunia. Anda mungkin mendengar suara atau melihat orang terdekatnya dalam waktu yang singkat. Halusinasi temporer akan menghilang begitu rasa sakit karena kehilangan mereda.

Apa penyebab halusinasi?

Halusinasi bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah:

1. Penyakit mental

Penyebab paling umum dari halusinasi adalah penyakit mental yang dapat meliputi skizofrenia, demensia, atau delirium.

2. Penyalahgunaan zat

Hal ini juga merupakan faktor yang paling banyak menyebabkan halusinasi. Terlalu banyak alkohol atau asupan obat membuat seseorang melihat atau mendengar hal yang tidak nyata.

3. Kurang tidur

Halusinasi adalah kondisi yang bisa muncul bila Anda benar-benar kurang tidur. Seseorang lebih berkemungkinan mengalami halusinasi apabila ia telah terjaga selama beberapa hari atau belum cukup tidur dalam jangka waktu yang lama.

4. Obat-obatan

Beberapa pengobatan dapat menyebabkan halusinasi, seperti obat-obatan yang digunakan untuk penyakit Parkinson, depresi, psikosis atau epilepsi.

Penyebab lainnya dari halusinasi meliputi:

  • Penyakit kronis seperti AIDS, kanker otak, gagal ginjal, dan gagal hati.
  • Demam tinggi terutama pada anak-anak kecil dan lansia.
  • Migrain.
  • Dikucilkan oleh (atau sengaja mengasingkan diri dari) lingkungan sosialnya.
  • Kejang.
  • Tuli, buta, atau gangguan penglihatan.
  • Kejang oksipital, kondisi ini membuat pasien melihat bercak atau cahaya yang berkedip.

Beberapa cara mengatasi halusinasi

Halusinasi adalah kondisi yang bisa dikendalikan, meskipun tidak bisa dijamin akan sembuh seratus persen. Presentase kesembuhan sangat tergantung pada penyebab halusinasi. Maka itu, dokter akan merekomendasikan perawatan yang paling efektif. Rencana perawatan dapat meliputi:

1. Obat-obatan

Pengobatan diresepkan menurut penyebab halusinasi. Apabila Anda berhalusinasi akibat berhenti mengonsumsi alkohol, Anda membutuhkan obat-obatan yang berfungsi untuk menenangkan sistem saraf.

Namun, bila halusinasi disebabkan oleh penyakit Parkinson dan demensia, pasien mungkin perlu menggunakan jenis obat lain yang lebih sesuai dengan penyebabnya.

2. Konseling psikologis

Konseling juga berperan penting dalam mengatasi halusinasi, terutama apabila halusinasi disebabkan oleh kondisi kesehatan mental. Konselor dapat membantu pasien mengerti lebih dalam mengenai kondisinya dan memberikan strategi untuk mengatasinya. Hal ini sangat penting terutama bagi pasien yang menderita paranoid.

Bagaimana membantu orang terdekat mengatasi halusinasi?

Jika orang terdekat Anda mengalami halusinasi, jangan tergesa-gesa untuk mengambil aksi. Lebih baik, pelajari kondisi dan situasi terlebih dahulu. Salah satunya, apakah halusinasi yang dialami oleh orang tersebut menyebabkannya melakukan hal-hal berbahaya, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain?

Jika halusinasi adalah kondisi yang membuatnya ketakutan, cobalah untuk membantu menenangkan dirinya terlebih dahulu. Selain itu, jangan mencoba untuk memaksa memberikan penjelasan bahwa ia sedang mengalami halusinasi.

Lebih baik, lakukan beberapa strategi yang dapat membantu orang terdekat mengatasi halusinasi, seperti berikut:

1. Berikan rasa aman dan nyaman

Saat mengalami halusinasi, orang terdekat Anda mungkin merasa ketakutan. Maka itu, cobalah berikan ia rasa aman dan nyaman. Yakinkan bahwa Anda akan menjaganya, sehingga ia tidak perlu merasa khawatir.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan rasa aman dan nyaman melalui sentuhan. Contohnya, menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan dan penuh perhatian. Hal ini diduga dapat membantu mengurangi halusinasi.

2. Alihkan perhatiannya

Menurut Alzheimer’s Association, salah satu cara untuk membantu orang terdekat mengatasi halusinasi adalah dengan mengalihkan perhatiannya. Ajak ia untuk berjalan kaki atau berpindah tempat jika ia menunjukkan gejala halusinasi saat berada di tempat tertentu.

Selain itu, Anda juga bisa mengalihkan perhatian orang terdekat dengan mengajaknya berbicara hal-hal yang menarik untuk kalian berdua. Contohnya, membicarakan tentang hobi, atau film dan musik yang sama-sama kalian sukai.

3. Tanggapi dengan kejujuran

Meski memahami bahwa orang terdekat sedang berhalusinasi, bukan berarti Anda harus berbohong kepadanya agar ia merasa dipercaya atau merasa lebih tenang. Apabila ia bertanya apakah Anda melihat atau mendengar hal yang sama dengannya, jawab sejujurnya.

Pasalnya, jika Anda menjawab seolah-olah juga mendengarnya padahal tidak sama sekali, hal ini hanya akan memperparah halusinasi yang dialaminya. Anda bisa mengatakannya dengan cara, “Saya tahu kamu mendengar sesuatu, tapi saya tidak mendengarnya.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa Anda memahami kondisinya, tapi bukan berarti apa yang dilihat, didengar, atau dirasakannya itu nyata.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hallucinations and hearing voice. Retrieved 21 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/hallucinations/

Hallucinations. Retrieved 21 January 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/003258.htm

Hallucinations. Retrieved 21 January 2021, from https://www.alz.org/help-support/caregiving/stages-behaviors/hallucinations

What are hallucinations? Retrieved 21 January 2021, from https://wexnermedical.osu.edu/blog/what-are-hallucinations

Hallucinations and hearing voices. Retrieved 21 January 2021, from https://healthywa.wa.gov.au/Articles/F_I/Hallucinations-and-hearing-voices

Foto Penulis
Ditulis oleh Annisa Hapsari pada 19/01/2021
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x