home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Gagal Ginjal Kronis

Definisi gagal ginjal kronis|Tanda dan gejala|Penyebab dan faktor risiko|Komplikasi|Diagnosis dan pengobatan|Pengobatan di rumah
Gagal Ginjal Kronis

Definisi gagal ginjal kronis

Gagal ginjal kronis adalah kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap, alias berlangsung dalam waktu yang lama. Kondisi ini dikenal dalam istilah medis dengan chronic kidney disease (CKD).

Pada kondisi ini, ginjal tidak dapat menyaring kotoran, tidak mampu mengendalikan kadar air dalam tubuh, dan kadar garam serta kalsium dalam darah dengan baik.

Jenis penyakit gagal ginjal ini menyebabkan penumpukan zat sisa metabolisme pada tubuh dan bisa berakibat fatal.

Gagal ginjal kronis dapat berlangsung lama. Bahkan, penyakit ini tidak langsung menunjukkan gejala hingga kondisi ginjal semakin parah.

Seberapa umumkah gagal ginjal kronis?

Gagal ginjal kronis merupakan penyakit umum yang berkaitan dengan proses penuaan. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi risikonya.

Melansir Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan populasi umur lebih dari 15 tahun terdiagnosis penyakit ini sebesar 0,2 persen.

SRiset juga memperlihatkan peningkatan risiko seiring dengan bertambahnya umur. Risiko meningkat tajam pada kelompok umur 35 – 44 tahun dibandingkan mereka yang masih berusia 25 – 34 tahun.

Diperkirakan risiko ini lebih tinggi 0,3% pada pria dibandingkan wanita (0,2%).

Anda dapat menurunkan peluang terkena penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko. Silakan konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Tanda dan gejala

Awalnya, gagal ginjal kronis tidak menunjukkan gejala dan akan berkembang secara perlahan. Melansir Mayo Clinic, beberapa gejala penyakit gagal ginjal kronis pada tahap akhir yaitu:

  • nyeri dada,
  • kulit kering dan gatal,
  • sering merasa lelah,
  • perubahan frekuensi buang air kecil,
  • sakit kepala,
  • tidak nafsu makan,
  • kram otot,
  • mual dan muntah,
  • pembengkakan pada lengan dan kaki,
  • sesak napas,
  • mati rasa pada bagian tangan dan kaki,
  • gangguan tidur,
  • sulit berkonsentrasi, dan
  • berat badan menurun.

Pasien gagal ginjal kronis juga berisiko mengalami anemia, penyakit tulang, dan kekurangan gizi. Selain itu, Anda juga bisa mengembangkan tanda dan gejala yang tidak tercantum di atas.

Jika memiliki kekhawatiran tertentu terkait gejala, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala gagal ginjal kronis yang meliputi mual, diare, hingga kejang-kejang, silakan konsultasikan ke dokter.

Semakin cepat penyakit gagal ginjal ditangani, Anda mungkin dapat menghindari kerusakan yang lebih parah.

Selain itu, kondisi kesehatan berbeda pada setiap orang. Oleh sebab itu, jangan lupa memberitahu dokter agar mendapatkan diagnosis dan perawatan yang terbaik untuk Anda.

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab gagal ginjal kronis?

Penyebab gagal ginjal kronis biasanya diketahui setelah pasien menjalani serangkaian pemeriksaan. Pasalnya, apa yang menyebabkan seseorang mengalami gagal ginjal kronis akan memengaruhi jenis perawatan yang diterima.

Berikut beberapa masalah dan kondisi kesehatan yang meimbulkan gagal ginjal kronis pada seseorang.

  • Diabetes tipe 1 atau tipe 2
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Penyakit ginjal polikistik (PKD)
  • Penyakit autoimun, seperti lupus nefritis
  • Penyakit glomerulonefritis, peradangan pada ginjal
  • Gangguan ketika sistem imun menyerang sel dan organnya sendiri
  • Tubuh keracunan logam berat
  • Masalah pada saluran kemih, seperti obstruksi saluran kemih
  • Vesicoureteral reflux, urine kembali ke ginjal
  • Infeksi ginjal berulang (pielonefritis)
  • Penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti ibuprofen

Apa yang meningkatkan risiko untuk mengalami kondisi ini?

Gagal ginjal kronis memang dapat terjadi pada siapa saja. Namun, di bawah ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini.

  • Usia. Semakin tua usia seseorang, risiko penyakit pun ikut meningkat.
  • Ras dan etnis, orang Afrika, Amerika dan suku asli Amerika berisiko lebih tinggi.
  • Riwayat kesehatan keluarga dengan penyakit gagal ginjal kronis.
  • Jenis kelamin, yaitu pria lebih berisiko dibandingkan wanita.
  • Berat badan saat lahir yang rendah.
  • Obesitas dan pola makan yang tidak sehat.
  • Kebiasaan merokok.
  • Penderita diabetes dan hipertensi.
  • Penggunaan jenis obat tertentu yang merusak ginjal, seperti antibiotik atau obat NSAID.

Komplikasi

Apabila Anda menderita gagal ginjal kronis, kondisi tersebut dapat memengaruhi hampir setiap bagian tubuh. Bahkan, ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika penyakit ini tidak segera ditangani.

Asam urat tinggi

Gagal ginjal kronis yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan asam urat hingga menyebabkan encok. Hal ini terjadi mengingat asam urat disaring oleh ginjal dan ketika fungsi ginjal rusak, asam urat pun ikut meningkat.

Anemia

Komplikasi gagal ginjal kronis lainnya yakni penyakit anemia. Anemia pada penyakit ini disebabkan kurangnya EPO (erythropoietin) yang membuat sumsum tulang memproduksi sel darah merah lebih sedikit.

Saat kekurangan sel darah merah, tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Anemia akibat gagal ginjal juga terjadi karena kehilangan darah saat menjalani hemodialisis dan tidak mendapatkan cukup nutrisi.

Asidosis metabolik

Asidosis terjadi ketika tubuh mengandung terlalu banyak pH asam dan bisa membahayakan nyawa jika tak segera diobati. Kondisi ini terjadi pada pasien CKD karena ginjal tidak mampu menyaring darah dengan baik.

Gangguan mineral dan tulang

Bagi para pasien gagal ginjal kronis mungkin sering mengalami gangguan mineral dan tulang. Pasalnya, peran ginjal yang tidak dapat menyeimbangkan kadar fosfat di tubuh bisa berbahaya bagi tulang.

Saat kelebihan mineral fosfor dan kekurangan vitamin D, tubuh mencoba memperbaiki masalah tersebut dengan melepaskan hormon paratiroid.

Pelepasan hormon tersebut akan menarik kalsium dari tulang dan menyeimbangkan zat yang ada di darah. Namun, kehilangan kalsium ini ternyata berdampak pada kesehatan tulang.

Penyakit jantung

Penyakit jantung bisa menimbulkan penyakit ginjal dan hal ini juga berlaku sebaliknya. Bahkan, penyakit jantung adalah penyebab kematian paling sering terjadi pada orang yang menjalani dialisis.

Ginjal yang tidak berfungsi membuat hormon bekerja keras agar pasokan darah ke ginjal tetap cukup. Kondisi tersebut ternyata membuat jantung harus memompa lebih keras hingga berisiko gangguan pada jantung.

Hiperkalemia

Hiperkalemia yaitu kondisi ketika tubuh memiliki terlalu banyak kalium dalam darah. Kondisi ini bisa terjadi pada pasien gagal ginjal kronis mengingat organ tersebut tidak dapat menyaring kalium ekstra dalam darah.

Penumpukan cairan

Penumpukan cairan (retensi) termasuk komplikasi CKD yang sering terjadi. Jika tidak berfungsi, organ ginjal tidak dapat mengeluarkan cairan berlebih dan membiarkannya menumpuk di tubuh.

Jika dibiarkan, paru-paru dapat dipenuhi cairan. Risiko serangan jantung pun meningkat hingga tekanan darah naik drastis. Oleh sebab itu, pasien CKD perlu mengontrol kebutuhan cairan agar tidak terkena komplikasi ini.

Diagnosis dan pengobatan

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kondisi ini?

Langkah pertama diagnosis penyakit ginjal yakni bertanya seputar riwayat penyakit pribadi dan keluarga: Apakah Anda memiliki riwayat hipertensi atau pernah mengonsumsi obat yang memengaruhi fungsi ginjal.

Selain itu, dokter akan berdiskusi seputar gejala CKD, seperti perubahan frekuensi buang air kecil. Kemudian, pemeriksaan fisik akan dilakukan, termasuk tanda-tanda masalah dengan jantung atau pembuluh darah hingga kondisi neurologis.

Ada beberapa jenis tes untuk memeriksan fungsi dan kelainan ginjal yang biasa dilakukan dokter, yaitu:

  • Tes darah untuk melihat jumlah limbah, termasuk uji kreatinin dan urea dalam darah
  • Tes urine dengan menganalisis sampel urine dan membantu mengidentifikasi penyebabnya
  • Tes pencitraan berupa USG atau CT scan untuk melihat struktur dan ukuran ginjal
  • Biopsi ginjal untuk mengambil sampel jaringan ginjal yang akan diteliti di laboratorium

Apa saja pilihan pengobatannya?

Sejauh ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ginjal kronis. Namun, obat dan perawatan yang direkomendasikan dokter bertujuan membantu meringankan gejala yang dialami pasien.

Selain itu, terapi dilakukan untuk mengurangi risiko komplikasi dan memperlambat tingkat keparahan penyakit. Berbagai terapi dan perawatan seperti dialisis dan transplantasi ginjal juga dilakukan untuk bertahan hidup.

Bahkan, dokter juga akan menganjurkan Anda untuk menjalani diet khusus gagal ginjal, konsumsi obat-obatan tertentu, hingga mengontrol olahraga untuk mengurangi tingkat kerusakan ginjal.

Di bawah ini beberapa pilihan pengobatan untuk gagal ginjal kronis.

  • Dialisis, baik hemodialisis atau dialisis peritoneal (cuci darah).
  • Transplantasi ginjal, yaitu mengganti ginjal yang rusak dengan donor ginjal sehat.
  • Minum suplemen zat besi untuk mengatasi anemia akibat ginjal kronis.
  • Konsumsi obat pengendali tekanan darah, seperti ACE inhibitors.
  • Penggunaan obat bersifat diuretik untuk mencegah penumpukan cairan.
  • Konsumsi obat antihistamin untuk meredakan rasa gatal pada kulit.
  • Minum suplemen kalsium dan vitamin D untuk memperkuat tulang.
  • Menjalani diet rendah protein untuk mengurangi limbah dalam darah.

Pengobatan di rumah

Pencegahan komplikasi akibat CKD dapat dilakukan dengan melakukan gaya hidup menjadi lebih sehat. Dengan begitu, Anda bisa memperlambat tingkat kerusakan ginjal sambil menjalani perawatan dari dokter.

  • Konsumsi makanan rendah sodium dan menyehatkan untuk jantung.
  • Berhenti merokok.
  • Rutin berolahraga, tetapi hindari aktivitas berat dan sesuai anjuran dokter.
  • Mendapatkan tidur yang cukup.
  • Menggunakan obat sesuai dengan arahan dokter.
  • Mencatat berat badan harian, jumlah cairan yang diminum, dan urine yang dikeluarkan.
  • Diet rendah protein dan rendah lemak.
  • Berhati-hati mengonsumsi obat yang dijual bebas di apotek.
  • Melakukan pemeriksaan ginjal secara rutin.

Tips mengelola stres dan depresi bagi pasien gagal ginjal kronis

Hasil diagnosis bahwa Anda menderita CKD tentu membuat pikiran semakin cemas dan khawatir. Faktanya, hal ini bisa berujung pada stres yang tidak terkendali hingga depresi.

Oleh sebab itu, pengelolaan stres dan depresi ternyata penting karena dapat memengaruhi kondisi ginjal. Di bawah ini beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengatasi perasaan cemas.

  • Bergabung dengan kelompok pasien penyakit ginjal untuk mendapatkan dukungan.
  • Mempertahankan rutinitas normal dan melakukan kegiatan yang disukai.
  • Aktif melakukan aktivitas fisik dan berolahraga yang aman untuk penderita gagal ginjal setiap minggu
  • Berbicara dengan orang yang dipercayai, seperti teman atau anggota keluarga.
  • Meminta rekomendasi psikolog yang dapat membantu masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, F. F. (2012). Ferri’s Netter Patient Advisor E-Book. St. Louis, MO: Elsevier Health Sciences.

Chronic kidney disease – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 21 March 2018, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-kidney-disease/symptoms-causes/syc-20354521

Chronic kidney disease (CKD). (2020). Retrieved 21 March 2018, from https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Infodatin: Situasi Penyakit Ginjal Kronis. Retrieved 09 July 2020, from https://www.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin%20ginjal%202017.pdf

Causes of Chronic Kidney Disease. (2016). National Institution of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 09 July 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/causes

Complication of CKD. American Kidney Fund. Retrieved 09 July 2020, from https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/complications/

Kazancioğlu R. (2013). Risk factors for chronic kidney disease: an update. Kidney international supplements3(4), 368–371. https://doi.org/10.1038/kisup.2013.79. Retrieved 09 July 2020.

Managing Chronic Kidney Disease. (2016). National Institution of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 09 July 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/managing

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 30/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro