Plus Minus Mengobati Kanker Dengan Terapi Imun

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal tayang Desember 15, 2017
Bagikan sekarang

Terapi imun untuk kanker adalah pilihan pengobatan yang bisa dilakukan pasien kanker selain kemoterapi atau radiasi. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa efektif pengobatan terapi imun untuk mengobati kanker? Bila dilakukan, apa sajakah efek sampingnya? Simak pertimbangan soal plus minus terapi imun untuk kanker berikut ini.

Potensi pengobatan terapi imun untuk kanker

Dilansir dari Science Daily, penelitian yang dilakukan oleh Ribert Ferris, MD, Ph.D, Kepala Divisi Bedah Kepala dan Leher, dan rekannya mempresentasikan bahwa nivolumab pada terapi imun yang diberikan secara rutin dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan menyebabkan sedikit efek samping pada pasien dengan kanker kepala dan leher. Obat nivolumab memiliki respon lebih tinggi terhadap sel kekebalan tumor (TAIC) yang memainkan peran penting terhadap pertumbuhan tumor.

Dilansir dari Healthline, satu dekade yang lalu, kanker payudara diobati dengan antibodi HER2. Namun, sel kanker kadang menipu sel T (sel pembunuh kanker) yang ada pada antibodi HER2 dengan bantuan protein yang disebut PD-L1. Itu terjadi sebelum ditemukan terapi imun. Sekarang terapi imun dengan herceptin membantu mengikat reseptor HER2 membantu menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkan sel kanker.

Namun, kedua penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa walaupun terapi imun membantu kekebalan tubuh pasien kanker, tingkat keberhasilan pengobatan terapi ini terhadap sel kanker bergantung kepada tingkat sel kekebalan tubuh pasien. Sel kekebalan yang berada di lingkungan sekitar tumor, memainkan peran penting bagaimana pasien merespons terapi imun.

Jadi, tidak semua pasien bisa merespon pengobatan ini. Pasalnya, setiap orang memiliki sel kekebalan tubuh yang berbeda, sel kanker yang ada pada tubuhnya juga berbeda. Namun, untuk saat ini, terapi imun cukup bisa ditoleransi dengan baik dan dapat berlanjut tanpa batas waktu. Tidak seperti kemoterapi dan radiasi, terapi imun meninggalkan sel sehat tanpa kerusakan.

Namun untuk beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap terapi ini. Itu berarti pengobatan harus segera dihentikan sampai efek sampingnya ditangani.

Efek samping pengobatan terapi imun untuk kanker

Penggunaan obat-obatan yang aman juga pasti memiliki efek samping, sama seperti halnya pengobatan terapi imun untuk kanker. Meski dinyatakan aman, berikut efek samping yang mungkin terjadi pada pengobatan terapi imun:

Kelelahan

Hal ini merupakan efek samping umum karena pasien harus menjalani berbagai perawatan. Untuk itu, penderita kanker harus membiasakan diri untuk melatih tubuh, misalnya dengan melakukan olahraga ringan atau jalan santai. Kemudian, mengonsumsi air secukupnya dan makan makanan yang sesuai dengan saran dokter. Semua ini dilakukan untuk mempertahankan kekuatan dan energi pasien supaya tidak mulai kelelahan.

Demam

Bila ini terjadi tanyakan dokter terlebih dahulu obat mana yang aman Anda konsumsi untuk menurunkan demam.

Gejala mirip flu

Beberapa obat terapi imun bisa membuat Anda merasa terserang flu, seperti mual, sakit kepala, sakit otot atau sendi, menggigil, lemas, dan pusing. Pada beberapa kasus juga terjadi diare dan batuk kering. Untuk mengatasinya, meminta pertolongan kepada dokter adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan.

kulit gatal selama kemoterapi kanker

Masalah kulit

Pengobatan terapi imun kadang menimbulkan reaksi pada kulit. Bisa terjadi kulit memerah, gatal, dan bengkak. Lepuhan dan luka mulut juga sering terjadi. Supaya kulit Anda yang meradang tidak semakin memburuk, gunakan sabun ringan tanpa wewangian atau pewarna. Jangan mandi terlalu lama dan gunakan pelembap. Biasanya dokter akan meresepkan krim atau antibiotik agar kulit pasien segera sembuh dari peradangan.

Gangguan autoimun

Tidak seperti kemoterapi atau radiasi, terapi imun tidak menargetkan pada semua sel pada tubuh Anda. Terapi imun hanya menargetkan dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh pasien. Jika ini terjadi kemungkinan akan menyerang jaringan atau organ sehat dalam tubuh Anda, seperti:

  • Pneumonitis (paru-paru yang meradang), biasanya nyeri dada dan sesak napas
  • Kolitis (usus yang meradang), biasanya diare, kram perut, feses berdarah atau berlendir
  • Hepatitis (radang hati), biasanya urin berwarna gelap, mudah memar atau berdarah, nyeri di sisi kanan perut, dan kulit atau mata menjadi kuning.
  • Kelainan endokrin (hormon bermasalah), biasanya kelelahan, sakit kepala, rambut rontok, detak jantung cepat, dan berkeringat.
  • Uveitis (mata yang meradang), biasnya terjadi perubahan pada kemampuan penglihatan
  • Arthritis, yaitu nyeri pada persendian atau pada otot dan tendon Anda.

Perhatikan bila efek samping muncul, bisa ringan, parah, bahkan fatal. Untuk itu, bila terjadi hal seperti ini segera periksakan kesehatan Anda ke dokter. Biasanya dokter akan memberikan kortikosteroid untuk menenangkan sistem kekebalan tubuh pasien. Bila parah, kemungkinan besar pasien harus menghentikan pengobatan terapi imun untuk kanker ini sementara sampai efek sampingnya hilang.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Puasa menjadi tantangan tersendiri untuk Anda yang memiliki maag. Namun, jangan khawatir, berikut tips-tips mencegah maag saat puasa.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Hari Raya, Ramadan Mei 7, 2020

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Punya masalah hipertensi alias tekanan darah tinggi saat puasa tentu memberikan tantangan sendiri. Agar puasa tetap lancar, ikuti tips ampuhnya berikut ini!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan Mei 4, 2020

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Donor darah sebaiknya dilakukan teratur. Tapi bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Bolehkah donor darah saat puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan Mei 2, 2020

Dua Vitamin dan Mineral yang Paling Diperlukan Tubuh Selama Puasa

Ketika bulan puasa, banyak orang yang mudah sakit dan merasa cepat lemas. Karena itu, Anda butuh minum vitamin C dan zinc untuk mengatasinya. Mengapa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Hari Raya, Ramadan Mei 1, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal tayang Mei 17, 2020
3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

3 Buah Selain Kurma yang Baik untuk Berbuka Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Monika Nanda
Tanggal tayang Mei 14, 2020
7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

7 Cara Menjaga Tubuh Agar Tetap Fit Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal tayang Mei 9, 2020
Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 7, 2020