home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Apa Itu Karsinogen (Senyawa Penyebab Kanker) dan Cara Menghindarinya

Mengenal Apa Itu Karsinogen (Senyawa Penyebab Kanker) dan Cara Menghindarinya

Selama ini, Anda mungkin pernah mendengar bahwa karsinogen adalah zat yang terdapat pada jenis makanan tertentu dan berpotensi menyebabkan kanker. Namun, apakah Anda tahu apa itu sebenarnya karsinogen? Nah, tidak hanya terkandung dalam makanan saja, zat karsinogenik juga dapat Anda temukan pada banyak hal di sekitar. Untuk lebih memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan karsinogen, simak penjelasannya berikut ini, yuk!

Apa itu karsinogen?

Karsinogen adalah hal-hal yang dapat menyebabkan kanker. Jadi, tidak hanya terbatas pada zat berbahaya yang terdapat pada makanan, karsinogen juga bisa terdapat dalam bentuk bahan kimia, virus, atau bahkan obat-obatan dan radiasi untuk pengobatan kanker itu sendiri.

Jika suatu zat atau paparan telah mendapatkan label sebagai karsinogen, tandanya para ahli sudah melakukan penelitian secara mendalam dan menyeluruh mengenai pengaruhnya terhadap potensi kanker.

Karsinogen dapat bekerja dalam banyak cara, yaitu langsung merusak DNA dalam sel sehingga menyebabkan kelainan pada sel normal.

Akan tetapi, cara lainnya yaitu dengan menyebabkan kerusakan sel yang menyebabkan sel-sel membelah lebih cepat, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan berkembangnya penyakit kanker.

Apa saja contoh-contoh karsinogen?

The International Agency for Research on Cancer telah mengklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Klasifikasi tersebut terdiri dari agen dan kelompok agen, campuran, dan paparan lingkungan.

Agen dan kelompok agen

Sebagai contoh:

  • Aflatoksin, secara alami dihasilkan oleh jamur tertentu.
  • Senyawa arsenik.
  • Asbestos.
  • Bensol.
  • Benzidine.
  • Senyawa nikel.
  • Radiasi matahari.
  • Bedak yang mengandung serat asbestiform.
  • Vinil klorida.

Campuran

Contoh karsinogen dalam kelompok ini adalah:

Paparan lingkungan

Contohnya seperti:

  • Produksi aluminium.
  • Pembuatan atau perbaikan sepatu dan boot.
  • Pengolahan batu bara dengan coal gasification.
  • Produksi coke.
  • Pembuatan furniture.
  • Pembentukan besi dan baja.
  • Industri karet.
  • Paparan asam sulfat di lingkungan kerja.

Pada intinya, karsinogen ini dapat Anda temukan pada bahan kimia yang ada pada lingkungan sekitar, radiasi lingkungan (seperti dari cahaya matahari), radiasi dari peralatan medis, virus, obat-obatan, dan faktor gaya hidup.

Meski demikian, orang yang terkena karsinogen ini tidak pasti langsung mengalami kanker. Pasalnya, kemampuan karsinogen dalam menyebabkan kanker antar individu berbeda-beda.

Kemampuan tersebut tergantung dari jumlah paparan, lamanya paparan, kesehatan individu yang terpapar, dan faktor lainnya. Kerentanan tiap orang yang terpapar karsinogen dalam menyebabkan kanker juga tergantung dari faktor keturunan.

Faktor keturunan memainkan peranan penting sebagai penyebab kanker. Dalam banyak kasus, seseorang dapat mengidap kanker karena banyak faktor yang bekerja sama.

Karsinogen yang terdapat pada makanan

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, makanan tertentu yang biasa Anda makan mungkin juga mengandung senyawa karsinogen.

Baru-baru ini terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa daging olahan mengandung senyawa karsinogen. Ini artinya, mengonsumsi daging olahan dapat meningkatkan risiko Anda mengalami kanker, khususnya kanker kolorektal dan kanker perut (kanker lambung).

Daging olahan adalah daging yang telah melalui proses penggaraman, pengawetan, fermentasi, pengasapan, atau proses lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan rasa dan daya simpan.

Menurut Centre for Food Safety, zat karsinogen juga bisa terbentuk saat proses pengolahan, saat nitrat dan nitrit digunakan untuk memberikan bumbu pada daging. Oleh sebab itu, hindari mengonsumsi olahan daging yang berlebihan. Contoh dari daging olahan adalah bacon, ham, sosis, salami, kornet, dan lain sebagainya.

Daging olahan mengandung karsinogen

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin meningkatkan potensi Anda menyerap zat karsinogen ke dalam tubuh saat mengonsumsi daging olahan:

  • Pengolahan daging, seperti pengawetan (yang menambahkan zat nitrat atau nitrit pada daging) atau pengasapan, dapat memicu pembentukan senyawa yang dapat menyebabkan kanker ini, seperti N-nitroso-compound (NOC) dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH).
  • Adanya kandungan zat besi heme memperburuk kondisi tersebut yang dapat mendukung produksi NOC dalam daging.
  • Memasak daging pada temperatur tinggi, seperti digoreng atau dipanggang, juga dapat memicu produksi senyawa karsinogen, seperti heterocyclic amine (HCA) dan PAH. HCA terbentuk ketika keratin dan asam amino pada daging bereaksi terhadap panas yang dihasilkan dari proses memasak. HCA merupakan salah satu agen yang dapat menyebabkan kanker.

Oleh sebab itu, jika Anda ingin mengonsumsi daging, lebih baik pilih daging merah yang masih segar. Lalu, masak daging itu dengan cara yang sehat. Hal ini tentu akan lebih baik daripada mengonsumsi daging olahan pabrik.

Anda bisa mengolah daging merah tersebut dengan cara merebus atau mengukusnya. Hal ini lebih baik daripada menggoreng atau membakar daging, karena dapat menghasilkan panas yang lebih tinggi dan meningkatkan potensi Anda terpapar zat karsinogen.

Merebus atau mengukus daging tentu membuatnya lebih sehat untuk Anda konsumsi. Selain mengonsumsi daging, Anda juga perlu menyeimbangkan pola makan sehat dengan mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Sayur dan buah dapat mengurangi tingkat kerusakan DNA dan oksidasi dari senyawa karsinogenik. Alhasil, Anda dapat mengurangi risiko terkena kanker.

Tindak pencegahan agar tidak terpapar oleh karsinogen

Mengingat zat karsinogenik dapat membahayakan kesehatan tubuh, akan lebih baik jika Anda bisa menghindar agar tak terpapar atau terkena oleh zat ini. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, seperti:

  • Membaca label dan berbagai bahan yang terkandung dalam suatu produk makanan atau kosmetik.
  • Mengikuti petunjuk penggunaan yang benar dan aman saat menggunakan bahan kimia di rumah.
  • Menggunakan alat pengaman saat hendak membersihkan rumah dengan bahan kimia tertentu.
  • Mencari tahu bahan alami yang bisa membantu Anda membersihkan rumah agar bisa meminimalkan penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya.
  • Mencari tahu cara memasak makanan dengan cara memanggang untuk mengurangi potensi terpapar zat karsinogen.
  • Memelihara tanaman dalam rumah untuk membersihkan udara dalam ruangan. Ada beberapa jenis tanaman dalam rumah yang dapat menyerap zat karsinogenik sehingga membantu mengurangi paparannya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Claudio L. (2011). Planting healthier indoor air. Environmental health perspectives119(10), A426–A427. https://doi.org/10.1289/ehp.119-a426

Carcinogens. Retrieved 31 May 2021, from https://www.safeworkaustralia.gov.au/carcinogens

Determining if Something is a Carcinogen. Retrieved 31 May 2021, from https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/general-info/determining-if-something-is-a-carcinogen.html

Known and Probable Human Carcinogen. Retrieved 31 May 2021, from https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/general-info/known-and-probable-human-carcinogens.html

Food Safety Focus. Retrieved 31 May 2021, from https://www.cfs.gov.hk/english/multimedia/multimedia_pub/multimedia_pub_fsf_115_02.html

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Annisa Hapsari Diperbarui 29/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x