backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

5

Tanya Dokter
Simpan

Methylprednisolone

Ditinjau secara medis oleh Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm. · Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 07/09/2023

Methylprednisolone

Methylprednisolone adalah obat untuk mengatasi peradangan. Obat ini umumnya berguna untuk mengatasi masalah peradangan dan reaksi alergi.

Meski demikian, obat ini juga sering digunakan untuk menangani penyakit lainnya. Obat ini tergolong ke dalam obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dari resep dokter. 

Golongan obat: kortikosteroid

Merek dagang: Prolon, Lameson, Tisolon, Solfion, Ersolon.

Apa itu methylprednisolone?

Methylprednisolone adalah obat dengan kandungan yang menyerupai hormon kortikosteroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal.

Fungsi obat ini adalah untuk mengatasi pembengkakan, kemerahan, nyeri, dan sensasi panas akibat peradangan. 

Metilprednisolon juga meredakan kondisi alergi, reaksi alergi berat atau anafilaksis, dan peradangan pada beberapa bagian tubuh.

Inilah daftar penyakit yang bisa dikendalikan oleh metilprednisolon berdasarkan organ tubuh.

  • Otak: tuberkulosis meningitis.
  • Darah: leukemia.
  • Usus: penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
  • Mata: neuritis optik, uveitis, dan iritis.
  • Sendi: artritis reumatoid dan demam rematik.
  • Paru-paru: asma dan tuberkulosis.
  • Otot: dermatomiositis dan polimiositis.
  • Kulit: eksim.

Tidak hanya itu, methylprednisolone juga diberikan untuk beberapa penyakit dan kondisi, seperti lupus, masalah sumsum tulang belakang, kanker tertentu, dan multiple sclerosis

Tujuan pemberian obat ini adalah untuk menambah kadar kortikosteroid di dalam tubuh pada orang yang mengalami masalah kelenjar adrenal sehingga memicu kondisi di atas. 

Kortikosteroid ini bersifat anti-inflamasi dan mengendalikan sistem imun (imunomodulasi).

Mengutip situs PubChem, cara kerja metilprednisolon adalah dengan menghambat senyawa sitokin yang memicu peradangan dan reaksi imun berlebih yang mengakibatkan alergi.

Sediaan dan dosis metilprednisolon

Apa Fungsi Obat Methylprednisolone

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan bubuk injeksi.

Dosis tablet terdiri dari 4 mg, 8  mg, dan 16 mg. Sementara itu, sediaan injeksi memiliki dosis sebesar 125 mg dan 500 mg.

Sementara itu, obat injeksi hanya digunakan dalam waktu relatif singkat.

Dosis methylprednisolone tablet 

Inilah pengelompokan dosis obat tablet berdasarkan penyakit dan kondisi yang muncul.

Masalah kulit

Berikut beberapa masalah kulit yang bisa dikendalikan dengan obat kortikosteroid ini:

  • Alopesia.
  • Lesi kulit.
  • Lichen simplex chronicus.
  • Psoriasis.
  • Granuloma annulare.
  • Lichen planus.
  • Keloid.
  • Reaksi alergi kulit.

Dosis awal diberikan sebanyak 4–48 mg sekali sehari atau dibagi ke dalam beberapa dosis.

Alternatif pemberian dosis bisa diberikan dengan cara berikut:

  • Hari pertama: 24 mg (8 mg sebelum sarapan, 4 mg setelah makan siang, 4 mg setelah makan malam, dan 8 mg sebelum tidur).
  • Hari kedua: 20 mg (4 mg sebelum sarapan, 4 mg setelah makan siang, 4 mg setelah makan malam, dan 8 mg sebelum tidur)
  • Hari ketiga: 16 mg: (4 mg sebelum sarapan, 4 mg setelah makan siang, 4 mg setelah makan malam, dan 4 mg sebelum tidur).
  • Hari keempat: 12 mg (4 mg sebelum sarapan, 4 mg setelah makan siang, dan 4 mg sebelum tidur).
  • Hari kelima: 8 mg (4 mg sebelum sarapan dan 5 mg sebelum tidur).
  • Hari keenam: 4 mg sebelum sarapan.

Masalah tulang, otot, sendi

Obat ini mengatasi beberapa jenis penyakit dan kondisi tertentu pada otot dan sendi berikut.

  • Rematik.
  • Asam urat.
  • Bursitis.
  • Osteoartritis.
  • Tendonitis.
  • Epicondylitis atau tennis elbow.
  • Synovitis.

Dosis permulaan diberikan sebanyak 4–48 mg sekali sehari atau pemberian dosis dibagi ke dalam beberapa kali dalam sehari.

Pemberian dilakukan secara bertahap dan dosisnya berkurang setiap harinya.

Dosis alternatif untuk pemberian obat untuk masalah tulang, sendi, dan otot sama dengan pemberian obat untuk masalah kulit.

Asma

  • Dewasa: 6–48 mg sehari sekali atau setiap dua hari sekali. Dosis perlahan diturunkan secara bertahap sampai dosis terendah.
  • Anak-anak: Bila berusia di bawah 11 tahun, dosis metilprednisolon sebesar 0,2–1,6 mg/kg berat badan sehari sekali atau setiap dua hari sekali. Dosis maksimum sebesar 48 mg. Anak berusia di atas 12 tahun mendapatkan dosis yang sama dengan orang dewasa.

Dosis methylprednisolone injeksi

Inilah penggunaan sediaan injeksi berdasarkan keluhan yang timbul.

Anti-inflamasi dan imunosupresi

Pemberian dosis ini berguna untuk penyakit akibat alergi, autoimun, dan peradangan pada tubuh.

Ada dua jenis injeksi yang diberikan, yakni intramuskular atau di bawah kulit serta intravena atau di pemberian obat di dalam pembuluh vena.

Inilah dosis untuk pemberian intramuskular.

  • Dewasa: 10–80 mg sekali sehari.
  • Anak-anak: 0,5-1,7 mg/kg berat badan setiap hari atau 5–25 mg/m2 setiap hari dalam dosis terbagi setiap 6–12 jam. Sebagai pulse therapy: 15–30 mg/kg berat badan/dosis selama 30 menit diberikan sekali sehari selama 3 hari.

Sementara itu, berikut dosis untuk sediaan injeksi intravena.

  • Dewasa: 10–500 mg setiap hari. Pemberian dosis sebesar 250 mg ke bawah diberikan selama minimal 5 menit. Sementara itu, dosis di atas 250 mg diberikan perlahan selama minimal 30 menit.
  • Anak-anak: 0,5–1,7 mg/kg berat badan setiap hari atau 5–25 mg/m2 setiap hari dalam dosis terbagi setiap 6–12 jam. Terapi “denyut”: 15-30 mg/kg berat badan/dosis selama 30 menit diberikan sekali sehari selama 3 hari.

Asma

  • Dewasa: 40 mg, diulang berdasarkan respon pasien.
  • Anak-anak: 1–4 mg/kg berat badan setiap hari dalam rentang waktu 1–3 hari.

Aturan pakai methylprednisolone

Aturan Pakai Methylprednisolone Untuk Radang Tenggorokan; Dosis Methylprednisolone Untuk Radang Tenggorokan

Konsumsi obat tablet dengan cara menelannya dengan air. Jangan dikunyah atau dihancurkan.

Hindari menghentikan obat secara mendadak karena membuat Anda mengalami hal-hal berikut:

  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sakit perut.
  • Muntah.
  • Mengantuk.
  • Kebingungan.
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Kulit terkelupas.
  • Berat badan turun.

Methylprednisolone dapat menyebabkan sakit perut. Konsumsilah dengan makanan atau susu.

Efek samping methylprednisolone

Efek Samping Methylprednisolone

Seperti obat pada umumnya, obat kortikosteroid ini juga memicu efek samping. Berikut beberapa kategori efek samping yang mungkin muncul.

  • Umum: efek samping diperkirakan timbul pada 1 dari 10 orang.
  • Jarang: efek samping mungkin muncul pada 1 dari 1.000 orang.
  • Tidak diketahui: jumlah kemunculannya tidak bisa diperkirakan.

Inilah efek samping yang menyerang bagian tubuh Anda.

Darah, jantung, dan sirkulasi darah

Efek samping umum yang kerap muncul adalah tekanan darah tinggi.

Tidak diketahui

  • Gagal jantung yang ditandai dengan pergelangan kaki bengkak, sulit bernapas, detak jantung abnormal.
  • Sel darah putih meningkat.
  • Tekanan darah turun.

Kadar air dan garam pada tubuh

Umum

  • Bengkak dan tekanan darah tinggi akibat peningkatan kadar air dan garam pada tubuh.
  • Kram dan kejang akibat kekurangan kalium pada tubuh.

Sementara itu, efek yang tidak diketahuinya berupa peningkatan kadar urea pada darah.

Saluran pencernaan

Tidak diketahui

  • Mual dan muntah.
  • Radang dan sariawan pada tenggorokan.
  • Peradangan lapisan pada lambung dan usus.
  • Gangguan pencernaan.
  • Perut kembung.
  • Sakit perut.
  • Diare.
  • Cegukan, terutama saat mengonsumsi obat dosis tinggi.

Mata

Efek samping yang umum terjadi pada mata adalah gangguan penglihatan kerusakan saraf optik atau katarak. Sementara itu, penglihatan yang kabur adalah efek samping yang langka.

Tidak diketahui

  • Glaukoma.
  • Saraf optik bengkak.
  • Penipisan kornea dan sklera.
  • Infeksi virus atau jamur.
  • Bola mata menonjol.
  • Penglihatan kabur akibat korioretinopati.

Gangguan hepatobilier

Efek samping yang bisa ditemukan pada liver dan saluran empedu adalah adanya peningkatan enzim pada liver.

Hormon dan sistem metabolik

Umum

  • Pertumbuhan lambat pada bayi, anak, dan remaja dan mungkin berefek permanen.
  • Wajah membulat dan bengkak.

Tidak diketahui

  • Haid tidak lancar atau tidak keluar.
  • Pertumbuhan rambut pada wajah dan tubuh yang berlebih atau hirsutisme.
  • Berat badan naik drastis.
  • Nafsu makan meningkat.
  • Lemak pada darah meningkat.
  • Peningkatan enzim alanin transaminase, aspartat transaminase, dan alkalin fosfat.
  • Penumpukan jaringan lemak pada bagian tubuh tertentu.

Sistem imun

Efek samping yang timbul adalah peningkatan kerentanan terhadap infeksi yang bisa mengubah reaksi normal terhadap kulit, seperti tuberkulosis.

Otot dan tulang

Otot lemah dan mengecil merupakan efek samping yang umum ditemukan.

Tidak diketahui

  • Tulang rapuh.
  • Tulang patah atau retak.
  • Nyeri pinggul akibat kerusakan pada tulang yang disebabkan sirkulasi darah memburuk.
  • Nyeri sendi.
  • Tendon otot robek.
  • Nyeri otot, kram, dan kejang.

Sistem saraf

Kortikosteroid bisa memicu masalah mental yang serius. Kondisi ini umum terjadi pada anak-anak dan dewasa. Efek samping ini bisa muncul sebanyak 5 dari 100 orang.

Umum

  • Depresi dan ide bunuh diri.
  • Mania atau suasana hari tidak stabil.
  • Cemas, sulit tidur, sulit berpikir, atau kebingungan dan kehilangan ingatan.
  • Merasakan, melihat, atau mendengarkan hal-hal yang tidak nyata.

Tidak diketahui

  • Mudah tersinggung.
  • Pusing dan kepala seperti berputar.

Kulit

Umum

  • Jerawat.
  • Luka sulit sembuh.
  • Kulit menipis.

Tidak diketahui

  • Stretch marks.
  • Lebam.
  • Berkeringat.
  • Gatal.
  • Ruam dan kemerahan.
  • Biduran atau bentol kemerahan dan gatal.
  • Guratan merah pada kulit.
  • Bintik dan bercak cokelat, ungu, dan kemerahan pada permukaan kulit dan dalam mulut.

Gangguan vaskular

Efek yang muncul adalah peningkatan pembekuan darah. Frekuensi efek ini samping ini tidak diketahui.

Efek samping lainnya

Tidak diketahui

  • Meriang.
  • Lelah.
  • Tubuh bagian bawah membengkak akibat penumpukan cairan.
  • Reaksi tes kulit yang berubah.

Peringatan dan perhatian saat pakai Obat methylprednisolone

Jangan konsumsi obat ini jika Anda memiliki kondisi berikut ini. 

  • Alergi obat methylprednisolone atau kandungan obat lainnya yang ada di dalam komposisi obat ini.
  • Terinfeksi jamur yang serius, seperti infeksi jamur pada paru-paru dan tenggorokan atau memiliki infeksi yang tidak diobati dengan obat antibiotik atau antivirus.
  • Baru saja atau berencana vaksin.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki masalah berikut ini.
  • Cacar air.
  • Campak.
  • Infeksi cacing.
  • Depresi berat atau bipolar.
  • Diabetes.
  • Kejang.
  • Glaukoma.
  • Katarak.
  • Pandangan kabur.
  • Penyakit jantung.
  • Hipotiroid atau kekurangan hormon tiroid.
  • Hipertensi.
  • Pankreatitis.
  • Peradangan lapisan usus dan lambung.
  • Penyakit liver atau ginjal.
  • Skleroderma atau penyakit autoimun yang menyerang jaringan ikat.
  • Kanker kulit sarkoma kaposi.
  • Riwayat masalah otot setelah mengonsumsi methylprednisolone.
  • Miastenia gravis.
  • Osteoporosis.
  • Feokromositoma atau tumor pada kelenjar adrenal.
  • Abses kulit.
  • Penyakit serius pada lambung atau usus.
  • Tromboflebitis atau radang pembuluh vena yang memicu gumpalan darah.
  • Tuberkulosis.
  • Penyakit Cushing atau kelebihan hormon kortisol.
  • Cedera otak akibat benturan.
  • Stres yang tidak biasa.

Apakah methylprednisolone aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Apabila Anda sedang hamil atau berencana hamil, konsultasikan pada dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Methylprednisolone berisiko memperlambat pertumbuhan bayi. 

Hal ini rentan menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah. Risiko ini bisa dikurangi dengan mengonsumsi obat berdosis rendah. 

Selan itu, ada risiko katarak pada bayi jika ibu mengonsumsi methylprednisolone dalam jangka panjang.

Bila sedang menyusui, konsultasikan ke dokter karena obat ini bisa terserap sedikit ke dalam ASI.

Interaksi methylprednisolone dengan obat lain

Inilah daftar obat yang memengaruhi kinerja methylprednisolone dan sebaliknya.

Obat kanker

  • Aminoglutethimide
  • Cyclophosphamide

Antikoagulan

Antibakteri

  • Isoniazid
  • Erythromycin
  • Clarithromycin
  • Troleandomycin

Obat untuk mengatasi epilepsi

  • Barbiturat
  • Carbamazepine
  • Phenytoin
  • Primidone

Obat untuk asam lambung

  • Carbenoxolone
  • Cimetidine

Obat untuk hipertensi

  • Diltiazem
  • Mibefradil

Kontrasepsi oral

  • Ethinylestridiol
  • Norethisterone

Antivirus

  • Ritonavir
  • Indinavir

Antijamur

  • Ketoconazole
  • Itraconazole

Obat-obatan yang mengurangi kadar kalium

  • Obat-obatan diuretik
  • Amphotericin B
  • Xanthine
  • Beta2 agonist

Antibiotik untuk tuberkulosis

  • Rifampicin
  • Rifabutin

Obat-obatan lainnya

  • Acetazolamide
  • Antidiabetes
  • Aprepitant
  • Fosaprepitant
  • Anticholinesterase
  • Ibuprofen
  • Ciclosporin
  • Digoxin
  • Pancuronium
  • Vecuronium

Methylprednisolone adalah obat keras yang berguna untuk mengatasi peradangan, alergi, dan gangguan imun.

Pastikan Anda mendapatkan obat kortikosteroid ini hanya dengan resep dokter.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.

Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari · Tanggal diperbarui 07/09/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan