Epirubicin

Epirubicin

Epirubicin (epirubisin) sering digunakan dengan kombinasi obat lain dalam pengobatan kanker payudara. Ketahui informasi selengkapnya mengenai obat epirubisin lewat ulasan berikut ini.

Golongan obat: Antrasiklin

Merk dagang: Epirubicin HCL, Rubisandin, Episindan, Kemopirin, Ciazil

Apa itu obat epirubicin?

Epirubisin merupakan obat kemoterapi yang kerap digunakan dalam perawatan kanker payudara. Obat ini juga bisa digunakan untuk menangani kanker lambung, ovarium, paru-paru, dan kandung kemih.

Epirubicin bekerja dengan memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Obat ini termasuk dalam kelas obat yang dikenal sebagai antrasiklin.

Dosis obat epirubicin

suntik penyubur kandungan

Epirubicin tersedia dalam bentuk cairan yang diberikan dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah.

Dosis epirubicin pada setiap pasien bisa berbeda-beda, tergantung jenis kanker yang ingin ditangani dan kondisi pasien sendiri.

Berikut dosis umum yang biasanya diberikan kepada pasien.

Leukemia akut, limfoma, multiple myeloma, tumor padat

  • Dewasa: 60–90 mg/m2 luas permukaan tubuh (LPT) setiap 3–4 minggu sekali. Dosis bisa dibagi menjadi 2–3 hari, diberikan sebagai dosis tunggal. Untuk perawatan paliatif, dosis yang diberikan sebanyak 12,5–25 mg/m2 sekali seminggu.

Kanker payudara dengan penyebaran ke kelenjar getah bening

  • Dewasa: 100–120 mg/m2 LPT, diberikan sebagai pengobatan lanjutan dari terapi awal. Obat bisa diberikan sebagai dosis tunggal pada hari pertama atau dibagi menjadi dua dosis yang diberikan pada hari ke-1 dan ke-8 dari siklus 28 hari. Pemberian obat diulangi sebanyak 6 siklus.

Karsinoma kandung kemih

  • Dewasa: sebagai larutan 0,1% diberikan sebanyak 50 mg setiap minggu selama 8 minggu. Dosis bisa dikurangi menjadi 30 mg dalam 50 ml.

Aturan pakai obat epirubicin

Karena epirubisin berupa suntikan, pemberiannya harus dilakukan oleh dokter atau perawat di rumah sakit.

Obat dapat disuntikkan satu kali setiap 21 hari selama 6 siklus terapi, tetapi bisa juga disuntikkan dua kali setiap 28 hari selama 6 siklus.

Dokrer biasanya akan menyusun jadwal temu untuk pemberian obat sebelum memulai perawatan. Pastikan Anda memenuhi setiap janji temu yang sudah ditentukan.

Bila Anda melewatkan sesi kemoterapi, segera beri tahu dokter agar segera diberikan dosis pengganti.

Efek samping obat epirubicin

mual muntah

Obat epirubisin dapat meningkatkan risiko pasien terhadap penyakit infeksi, sebab kemoterapi membuat kadar sel darah putih dalam tubuh menurun. Gejalanya meliputi perubahan suhu, nyeri otot, sakit kepala, dan kedinginan.

Beberapa efek samping lainnya termasuk:

  • mual setelah kemoterapi,
  • muntah,
  • memar,
  • gusi berdarah,
  • mimisan,
  • sakit perut,
  • diare,
  • kehilangan nafsu makan dan berat badan,
  • kelelahan atau kelemahan yang tidak biasa,
  • rambut rontok,
  • serangan panas,
  • perubahan warna urine selama 1–2 hari,
  • iritasi mata, serta
  • perubahan warna kulit dan kuku.

Pada beberapa kasus, pasien juga bisa mengalami efek samping berupa kulit pucat, pusing, dan sulit menelan. Bila Anda mengalami salah satu atau beberapa efek samping yang tidak kunjung membaik dan semakin parah, segera hubungi dokter.

Peringatan dan perhatian saat pakai obat epirubisin

obat sakit perut melilit

Sebelum memulai kemoterapi kanker payudara maupun pengobatan kanker lainnya, beri tahu dokter bila Anda:

  • memiliki alergi terhadap epirubicin atau bahan lain yang mungkin terkandung dalam obat,
  • sedang mengonsumsi obat, suplemen gizi, vitamin, atau produk herbal,
  • memiliki riwayat penyakit hati atau ginjal,
  • pernah menerima terapi radiasi, atau
  • pernah menjalani pengobatan dengan epirubicin atau obat lain yang serupa dalam dosis yang besar.

Perlu Anda ketahui, epirubisin dapat menyebabkan masalah jantung yang mengancam jiwa. Dampak ini bisa terjadi saat Anda masih menjalani perawatan maupun berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah perawatan selesai.

Karena itu, dokter biasanya akan melakukan uji dan pemeriksaan jantung untuk memastikan jantung Anda merespons obat-obatan dengan baik.

Epirubisin juga dapat meningkatkan risiko Anda terhadap leukemia, terutama bila obat diberikan dalam dosis tinggi atau digunakan sebagai kombinasi dengan obat kemoterapi lainnya.

Apakah obat epirubicin aman bagi ibu hamil dan menyusui?

Bila diberikan pada ibu hamil, epirubicin bisa membahayakan kondisi janin di dalam kandungan. Hal ini tertera dalam peringatan oleh US Food and Drug Administration (FDA) yang setara dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.

Maka dari itu, pasien tidak disarankan untuk hamil selama menjalani perawatan sampai enam bulan setelahnya.

Epirubisin mungkin dapat mengalir ke dalam ASI. Jadi, jangan menyusui saat Anda masih dalam perawatan dengan obat ini.

Interaksi obat epirubicin dengan obat lain

Interaksi obat dapat mengubah kinerja obat Anda atau meningkatkan risiko efek samping yang serius. Berikut merupakan jenis obat-obatan yang dapat menimbulkan interaksi bila digunakan bersamaan dengan epirubicin.

  • Vaksin hidup seperti vaksin Rotavirus atau Influenza. Efikasi vaksin akan berkurang bila diberikan bersama dengan epirubicin.
  • Cimetidine untuk mengobati penyakit lambung, dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping bila digunakan bersama epirubisin.
  • Obat penghambat saluran kalsium untuk jantung.
  • Kina, obat untuk malaria.
  • Antibiotik seperti sulfonamida dan kloramfenikol.
  • Diphenylhydantoin untuk epilepsi.
  • Antoretroviral untuk infeksi HIV.
  • Terapi trastuzumab untuk pengobatan kanker.

Masih ada interaksi obat epirubisin dengan obat lain. Bila Anda khawatir akan kemungkinan interaksi obat lainnya, konsultasikan kepada dokter atau apoteker.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

Apt. Seruni Puspa Rahadianti, S.Farm.

Farmasi · Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita


Ditulis oleh Winona Katyusha · Tanggal diperbarui 07/10/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan