home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Vaksin untuk Pencegahan dan Terapi Kanker, Benarkah Bermanfaat?

Vaksin untuk Pencegahan dan Terapi Kanker, Benarkah Bermanfaat?

Vaksin adalah sediaan yang berfungsi untuk membantu tubuh dalam melawan penyakit. Vaksin dapat melatih sistem kekebalan tubuh untuk menemukan dan menghancurkan kuman yang berbahaya. Sering digunakan untuk mencegah penyakit infeksi, ternyata vaksin juga bisa diberikan sebagai pencegahan dan pengobatan kanker. Seperti apa manfaatnya?

Bagaimana cara kerja vaksin untuk kanker?

Vaksin telah terbukti efektif dalam mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri selama bertahun-tahun lamanya.

Pada penyakit yang disebabkan oleh infeksi, vaksin bekerja dengan memaparkan tubuh pada virus dan bakteri yang sudah tidak aktif atau telah dilemahkan.

Vaksin akan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan meningkatkan respons untuk melawan patogen penyebab penyakit. Biasanya, vaksin bekerja paling baik sebagai pencegahan, diberikan sebelum seseorang terinfeksi.

Untuk kasus kanker, sebagian besar vaksin yang digunakan bekerja dengan cara yang sama. Namun prosesnya tentu lebih rumit, sebab tidak seperti bakteri dan virus yang tampak asing bagi sistem kekebalan tubuh, sel kanker lebih mirip dengan sel normal yang sehat.

Sel tumor sering mengekspresikan antigen berbeda yang dikenal sebagai antigen terkait tumor (TAA). Masalahnya, TAA juga ditemukan dalam sel yang normal. Sistem imun menganggap antigen ini sebagai antigen dari tubuh sendiri, sehingga tidak terjadi respons imun untuk melawannya.

Maka dari itu, vaksin akan melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali TAA sebagai benda asing. Dengan menargetkan TAA, vaksin dapat mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker sambil membiarkan sel yang normal dan sehat tetap utuh.

Saat ini, para ahli masih melakukan uji klinis untuk membuat vaksin yang menargetkan kanker payudara, prostat, hati, paru-paru, dan melanoma.

Jenis vaksin untuk kanker

Vaksin terdiri dari dua jenis, yaitu cancer prophylactic vaccines untuk pencegahan, dan cancer therapeutic vaccines yang digunakan untuk terapi pengobatan.

Perlu diketahui, beberapa jenis kanker bisa dipicu dari infeksi virus. Salah satu contohnya, infeksi HPV (human papillomavirus) dapat menjadi penyebab kanker serviks serta beberapa jenis kanker kepala dan leher.

Meski bisa bantu mencegah kanker, vaksin ini bukanlah vaksin kanker. Vaksin bekerja untuk melawan virus, bukan kanker itu sendiri.

Beberapa vaksin yang telah disetujui oleh FDA (Food and Drugs Administration) adalah Cervarix dan Gardasil. Cervarix dapat mencegah dua jenis HPV, yaitu tipe 16 dan 18. Sedangkan Gardasil dapat melindungi dari infeksi HPV tipe 16, 18, 6, dan 11.

Efektivitas vaksin untuk mencegah kanker serviks diperkirakan mencapai 70-100% dan dapat mengurangi jumlah kasus baru kanker serviks sampai 90 persen. Lama proteksi vaksin adalah 5 tahun.

Sedangkan vaksin untuk pengobatan kanker terbuat dari sel atau antigen murni sel kanker. Terkadang, sel dari sistem imun pasien dipaparkan dengan zat-zat ini dalam pembuatan vaksin.

Setelah vaksin siap, vaksin akan disuntikkan ke dalam tubuh guna meningkatkan respons kekebalan tubuh terhadap sel kanker.

Dua vaksin untuk terapi pengobatan di antaranya adalah Sipuleucel-T dan Talimogene laherparepvec (T-VEC). Sipuleucel-T digunakan untuk terapi kanker prostat stadium lanjut, di sisi lain T-VEC digunakan untuk terapi kanker kulit melanoma stadium lanjut.

Fokus


Adakah efek samping vaksin?

Seperti sediaan farmasi lainnya, vaksin tak terlepas dari risiko efek samping. Efek samping yang muncul dapat bervariasi sesuai dengan jenis, target pengobatan, dan kesehatan pasien secara keseluruhan.

Potensi efek samping bisa terjadi bila ada respons imun yang salah, di mana sistem kekebalan tubuh malah menargetkan sel-sel sehat yang mengekspresikan antigen yang sama dengan sel-sel kanker.

Beberapa efek sampingnya antara lain nyeri punggung, kedinginan, kelelahan, demam, sakit kepala, nyeri sendi, mual, dan gejala lainnya yang mirip dengan flu.

Selain itu, pemberian vaksin untuk kanker mungkin tidak cukup efektif pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya mereka yang memiliki kondisi tertentu atau mereka yang sudah lanjut usia.

Sistem imun yang lemah tidak dapat menghasilkan respons imun yang kuat setelah menerima vaksin. Beberapa perawatan kanker juga dapat melemahkan sistem kekebalan seseorang. Ini akan membatasi kerja vaksin dan seberapa baik respons tubuh terhadap vaksin.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Vaccine Therapy for Cancer. (2020). OncoLink. Retrieved 20 December 2021, from https://www.oncolink.org/cancer-treatment/gene-immunotherapy/vaccine-therapy-basics

Cancer Vaccines: Preventive and Theurapeutic. (n.d.). Cancer Research Institute. Retrieved 20 December 2021, from https://www.cancerresearch.org/en-us/immunotherapy/treatment-types/cancer-vaccines

Cancer Vaccines and Their Side Effects. (2020). American Cancer Society. Retrieved 20 December 2021, from https://www.cancer.org/treatment/treatments-and-side-effects/treatment-types/immunotherapy/cancer-vaccines.html

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.