Protein Tikus, Cara Mutakhir Mengobati Kanker di Masa Depan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 23/06/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Jumlah penderita kanker di dunia terus bertambah banyak. Namun sayangnya, obat penawar untuk kanker belum juga berhasil ditemukan sampai saat ini. Peneliti dan ahli kesehatan terkemuka tak henti-hentinya berjibaku dengan waktu untuk bisa menemukan obat kanker yang paling manjur. Nah, beberapa penelitian menyebutkan bahwa protein buatan yang ditiru dari sel protein tikus bisa menghambat pertumbuhan sel kanker. Mari simak faktanya di bawah ini.

Sel protein tikus bisa hambat pertumbuhan kanker

Teori di atas disampaikan oleh tim peneliti dari Cornell University setelah menciptakan sebuah liposom, sel tubuh buatan, yang berisi sel protein TRAIL (Tumor Necrosis Factor Related Apoptosis-Inducing Ligand) dari tikus.

Protein TRAIL tersebut menempel pada leukosit (sel darah putih). Ketika sel-sel darah putih ini beredar ke seluruh tubuh, protein TRAIL yang terbawa bersamanya akan langsung mencari dan membunuh sel-sel kanker. Protein TRAIL tersebut juga sekaligus mencegah penyebaran sel kanker (metastasis).

Meski demikian, penelitian tersebut dilakukan masih terbatas pada tikus lab yang didiagnosis terkena kanker prostat. Selain itu, meski jumlah sel kanker dalam tubuh mereka berkurang setelah disuntik protein TRAIL, namun tetap tidak sepenuhnya hilang. Maka, tikus-tikus tersebut juga tetap menjalankan kemoterapi dan tadioterapi untuk mempercepat kematian sel kanker.

Butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas dan keamanan dari protein tikus untuk dijadikan obat kanker pada manusia. Namun, studi ini menjadi bahan pertimbangan kuat sebagai alternatif pengobatan kanker yang bisa memperlambat penyebaran sel kanker.

Protein tikus sudah pernah diujicobakan sebagai obat kanker untuk manusia

Meski keamanan dan efektivitasnya belum terjamin, tim dokter dari IWK Health Center di Halifax, Canada, pernah menggunakan sel protein tikus untuk mengobati Zac Conolly, seorang balita yang menderita kanker neuroblasma, pada tahun 2001 silam. Kanker neuroblasme merupakan kanker langka yang hanya menyerang 2 dari 100.000 anak. Kanker ini menyerang sistem jaringan saraf tubuh manusia.

Tim dokter Conolly memberikan sel protein tikus lewat infus dengan tujuan untuk menyerang sel kanker sekaligus meningkatkan daya tahan tubuhnya selama dalam terapi. Cara kerjanya mirip vaksinasi. Sistem imun tubuh membaca sel protein tikus sebagai zat asing, yang harus dilawan. Ketika berusaha membasmi sel protein tersebut, sistem imun diharapkan akan juga ikut membunuh sel kanker karena sel protein tersebut akan menempel pada sel kanker.

Sekali lagi, butuh penelitian yang lebih banyak dan lebih matang lagi untuk bisa memastikan kemanjuran dari obat kanker yang satu ini.

Protein punya peran penting untuk penyembuhan kanker

Kenapa protein diyakini sebagai salah satu obat kanker yang potensial? Protein, dari mana pun asalnya, mengandung asam amino. Asam amino bekerja mendukung pertumbuhan dan perbaikan sel serta jaringan tubuh yang rusak, dan pemeliharaan sistem kekebalan tubuh.

Protein juga membantu tubuh untuk membuat sel, hormon, dan enzim. Tanpa asupan protein yang cukup, tubuh akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan penyakit dan dapat menurunkan ketahanan tubuh terhadap infeksi.

Orang yang menjalani pengobatan kanker memerlukan lebih banyak protein. Mengonsumsi protein sebelum dan setelah operasi, kemoterapi, atau terapi radiasi dapat  membantu tubuh dalam menyembuhkan jaringan dan mencegah infeksi.

Sumber protein yang baik ada dalam makanan hewani seperti daging tanpa lemak, ikan, unggas, telur, dan produk susu. Makanan nabati seperti kacang-kacangan, kacang kering, kacang polong, dan makanan kedelai juga merupakan sumber protein. Kandungan protein lebih banyak ditemukan dalam tumbuhan daripada hewan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Kuku yang cantengan tak hanya mengerikan untuk dipandang mata, namun bisa terasa menyakitkan dan mungkin bernanah. Begini cara mengobatinya.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
tanggal kedaluwarsa

4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit