Peneliti Uji Potensi Aspirin untuk Mengobati Kanker. Apakah Hasilnya Menjanjikan?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Aspirin adalah obat yang paling banyak digunakan di dunia. Aspirin ini merupakan obat jenis NSAID (antiradang nonsteroid) yang pertama ditemukan di dunia. Umumnya obat aspirin ini digunakan sebagai pereda nyeri. Selain itu, obat ini bisa digunakan juga untuk mengurangi demam, anti peradangan dan pengencer darah. Nah, sekarang ini beberapa penelitian menunjukan bahwa aspirin juga bisa digunakan sebagai pengobatan kanker. Betulkah ada manfaat aspirin untuk pengobatan kanker?

Kata penelitian tentang aspirin dan kanker

minum aspirin meningkatkan peluang hamil

Sebuah penelitian pada tahun 2012 melakukan percobaan untuk menguji efek aspirin. Para peneliti membuat 2 kelompok untuk diuji coba, kelompok yang mengonsumsi aspirin setiap hari, dan kelompok lain yang tidak mendapatkan pengobatan aspirin.

Peneliti menemukan bahwa kelompok yang minum aspirin dan sudah didiagnosis kanker stadium awal (belum ada penyebaran kanker) mengalami perkembangan kanker yang jauh lebih lambat, dan penyebaran kanker ke tempat lainnya yang lebih lama.

Penelitian juga menemukan bahwa orang yang minum aspirin, ketika dilihat diagnosis awal kankernya, kebanyakan kondisi kankernya masih terlokalisasi alias masih di satu tempat dan belum menyebar dibandingkan dengan orang yang tidak minum aspirin.

Dilansir dari Cancer Research UK, pada bulan Agustus 2014 para ilmuwan juga menemukan bahwa aspirin khususnya lebih efektif menurunkan risiko penyebaran jenis kanker usus, lambung, dan esofagus. Selain itu, juga bisa menurunkan risiko kanker paru-paru, prostat dan payudara tetapi tidak seefektif jenis kanker usus, lambung, dan esofagus (kerongkongan).

Dari penemuan-penemuan ini para ahli merasa cukup optimis karena bisa jadi terobosan pengobatan baru yang terjangkau. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai seberapa ampuh pengobatan dengan aspirin untuk kanker.

Seberapa ampuh aspirin untuk pengobatan kanker?

waktu pengobatan kanker payudara

Beberapa penelitian membuktikan aspirin memang dapat membantu mencegah beberapa jenis kanker dan menurunkan penyebaran kanker. Namun, bukan berarti semua orang yang berisiko kanker atau yang punya kanker harus mulai minum aspirin.

Efek positif aspirin ini tidak berpengaruh pada orang yang berusia di bawah 50 tahun, tetapi akan muncul manfaatnya pada usia 50 tahun ke atas. Penggunaan aspirin untuk pengobatan kanker ini memang masih diamati lebih jauh, dan tidak bisa disamakan untuk setiap kasus kanker.

Aspirin pada dasarnya tetap memiliki efek samping yang harus dipertimbangkan. Para peneliti belum tahu apakah manfaat aspirin ini bisa lebih besar dari efek sampingnya, atau justru sebaliknya. Oleh karena itu, tidak bisa sembarangan langsung menggunakan aspirin pada pasien kanker.

Orang yang mengalami kanker tidak bisa sepenuhnya bergantung pada aspirin untuk mengobati penyakitnya, apa pun jenis kankernya.

Aspirin sendiri memiliki efek samping yang serius bagi sebagian orang. Salah satunya memicu terjadinya perdarahan di dalam tubuh. Beberapa orang dengan kanker justru memiliki risiko lebih tinggi mengalami perdarahan daripada orang biasanya. Maka itu, efek samping ini harus sangat dipertimbangkan.

Beberapa obat kanker juga dapat menyebabkan efek samping yang cukup berbahaya jika diminum bersama dengan aspirin, sehingga perlu pertimbangan yang tepat oleh dokter.

Selain itu, aspirin dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius jika penderita kanker tersebut mengalami kondisi medis seperti asma, sakit maag, dan hemofilia (gangguan pembekuan darah).

Berapa dosis aspirin untuk membantu mengobati kanker?

sembuh dari kanker

Hingga kini, tidak ada pedoman khusus yang merekomendasikan seberapa banyak dosis aspirin untuk pengobatan kanker.

Namun, dalam penelitian yang berhasil menemukan bahwa aspirin mampu mencegah atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, sejauh ini yang digunakan dosisnya berbeda-beda. Ada yang menggunakan dosis 75 mg sampai 300 mg.

Namun, dosis tersebut tidak bisa langsung diikuti tanpa pemeriksaan oleh dokter terlebih dahulu. Intinya, apa pun jenis obatnya, tidak boleh melebihi dari dosis yang bisa ditoleransi oleh tubuh. Jika berlebihan, efek samping yang serius akan muncul.

Baca Juga:

Sumber