5 Obat Kanker Alami yang Terbukti Bisa Melawan Efek Samping Kemoterapi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Jamu tradisional dan obat herbal telah turun temurun digunakan untuk mengobati berbagai macam kondisi medis. Ada beberapa obat herbal tertentu yang dipercaya bisa membantu mencegah penyebaran sel kanker dalam tubuh hingga yang mengurangi efek samping kemoterapi. Meski demikian, bukti ilmiah tentang efektivitas obat herbal masih terbatas. Untuk itu, diskusikan dulu dengan dokter jika Anda berniat mengonsumsi salah satu obat kanker herbal di bawah ini selama menjalani pengobatan kanker.

Beragam jenis obat kanker herbal yang bisa digunakan selama pengobatan kanker

1. Echinacea

Echinacea adalah tanaman aromatik dari keluarga Asteraceae yang banyak terdapat di  bagian timur Amerika Utara dan Eropa. Obat kanker herbal ini punya 3 spesies umum: Echinacea purpura, Echinacea angustifolia, dan Echinacea pallida. Echinacea purpura adalah spesies yang paling sering digunakan dalam penelitian dan pengobatan. Echinacea juga disebut sebagai coneflower ungu, snakeroot Kansas, atau black Sampson. Studi hewan menunjukkan bahwa Echinacea purpurea bisa efektif dalam pengobatan kanker. Flavonoid yang terdapat dalam Echinacea dipercaya meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi tubuh dari efek samping radioterapi dan kemoterapi. Echinacea bisa membantu memperpanjang tingkat harapan hidup pasien dalam kanker stadium lanjut.

2. Bawang putih

Bawang putih digadang sebagai obat kanker herbal karena mengandung ajoene, zat pengikat sulfur yang bekerja memperlambat produksi sel-sel kanker. Sifat anti-kanker dari bawang putih juga sebagian besar berasal dari kadar sulfida organik dan polisulfidanya yang tinggi. Para ilmuwan percaya bahwa zat dalam bawang putih membunuh sel-sel kanker dan mengganggu metabolismenya. Ekstrak dari bawang putih matang dapat mencegah dampak negatif dari karsinogen pada DNA, mendukung sistem kekebalan tubuh, membantu eliminasi karsinogen, dan meningkatkan efektifitas enzim detoksifikasi. Bawang putih juga bermanfaat bagi penderita kanker usus besar, kanker lambung, kanker payudara, dan kanker kandung kemih, karena herbal ini memperlambat penyebaran sel-sel kanker.

3. Kunyit

Kunyit kaya akan kurkumin, suatu antioksidan dan zat anti-kanker, dan dilaporkan efektif dalam menghambat perkembangan dan perluasan kanker paru, kanker payudara, kanker kulit, dan kanker lambung. Kurkumin mengubah produksi eicosanoid (prostaglandin E-2, misalnya) dan melawan peradangan. Penelitian mengungkapkan bahwa kurkumin dapat menghambat pertumbuhan kanker di setiap stadium, termasuk inisisasi, perkembangan, dan perluasannya. Kunyi juga mengganggu produksi nitrosamin, yang berakibat pada peningkatan kadar antioksidan alami dalam tubuh.

4. Teh hijau

Polifenolik merupakan senyawa yang berperan penting di balik manfaat teh hijau sebagai obat kanker herbal. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa teh hijau efektif dalam melawan tumor dan mutasi genetik. Epigallocatechin (EGGG), suatu polifenol yang terdapat dalam teh hijau melindungi sel dari kerusakan DNA yang disebabkan oleh spesies oksigen yang reaktif. Studi hewan menunjukkan bahwa folifenol dalam teh hijau tidak hanya mencegah pembelahan diri sel kanker, tetapi juga menyebabkan kerusakan dan membunuh sel-sel tumor. Efektivitas teh hijau melawan tumor juga diamati pada pasien kanker usus besar dan lambung.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Banyak produk herbal di pasaran yang mengandung bahan kimia obat dan tidak mendapat izin edar BPOM. Begini cara tahu mana obat herbal yang aman dikonsumsi.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit