home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sindrom Nefrotik

Definisi sindrom nefrotik|Tanda dan gejala sindrom nefrotik|Penyebab dan faktor risiko|Komplikasi sindrom nefrotik|Diagnosis dan pengobatan|Pengobatan di rumah|Pencegahan sindrom nefrotik
Sindrom Nefrotik

Definisi sindrom nefrotik

Sindrom nefrotik adalah kondisi ketika ginjal mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urine yang keluar dari dalam tubuh. Kelainan ginjal ini dapat memicu hipoalbuminemia, edema, dan berbagai komplikasi lainnya.

Normalnya, ginjal akan menyimpan zat yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, di dalam darah. Bila seseorang mengalami penyakit ginjal ini, ginjal akan membuang protein bersamaan dengan limbah metabolik saat buang air kecil.

Hal ini dapat terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal yang bertugas menyaring limbah dan kelebihan air dari darah. Akibatnya, Anda mungkin akan mengalami berbagai gejala yang mengganggu, seperti pembengkakan (edema) pada kaki dan pergelangan kaki.

Seberapa umum sindrom nefrotik?

Ini merupakan penyakit kronis yang cenderung menyerang anak-anak di bawah usia 18 tahun. Selain itu, juga lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dalam kelompok usia yang lebih muda.

Peningkatan kasus penyakit ini juga lebih banyak dijumpai pada ras Afrika-Amerika dan Hispanik. Meski demikian, kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, terlepas jenis kelamin dan lingkungan tempat tinggal.

Tanda dan gejala sindrom nefrotik

Kebanyakan orang mungkin tidak mengetahui bahwa mereka tengah mengalami kondisi ini hingga menjalani tes darah (urinalisis). Pasalnya, hanya hasil tes yang dapat memperlihatkan kadar protein yang tinggi dalam urine.

Meski begitu, ada beberapa gejala yang muncul akibat sindrom nefrotik, antara lain:

  • pembengkakan (edema) pada mata, kaki, dan pergelangan kaki,
  • urine berbusa,
  • berat badan bertambah,
  • kelelahan, serta
  • kehilangan nafsu makan.

Kapan harus periksa ke dokter?

Bila Anda mengalami salah satu atau lebih gejala yang telah disebutkan, segera kunjungi dokter. Hal ini juga berlaku ketika Anda merasa khawatir akan sebuah gejala tertentu yang mungkin tidak disebutkan di atas.

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab sindrom nefrotik?

Penyebab umum kondisi ini yaitu kerusakan pada kelompok pembuluh darah kecil (glomeruli) pada ginjal. Glomeruli berperan penting dalam menyaring darah saat melewati ginjal untuk memisahkan zat yang dibutuhkan dan yang perlu dibuang.

Glomeruli yang sehat menjaga protein darah, terutama albumin, agar tidak bocor ke dalam urine. Jika mengalami masalah, glomeruli akan membiarkan protein darah keluar dari tubuh yang bisa menyebabkan sindrom nefrotik.

Di bawah ini beberapa kondisi yang dapat memicu kerusakan pada glomeruli yang dibagi menjadi dua bagian, penyebab utama dan sekunder.

1. Penyebab utama sindrom nefrotik

Penyebab utama sindrom nefrotik biasanya berkaitan dengan penyakit yang hanya menyerang ginjal, yaitu glomerulosklerosis fokal segmental (FSGS). Masalah ginjal ini hanya dapat didiagnosis melalui biopsi ginjal.

Meski sudah menjalani rawat inap, pasien FSGS biasanya berisiko terserang penyakit gagal ginjal yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.

2. Penyebab sekunder sindrom nefrotik

Berbeda dengan penyebab utama, penyebab sekunder sindrom nefrotik adalah penyakit yang menyerang seluruh tubuh, termasuk ginjal.

Kebanyakan kasus menunjukkan bahwa penyebab kelainan ginjal ini ditemui pada penyandang penyakit diabetes. Sayangnya, hal ini juga sering terjadi pada anak-anak yang mengalami diabetes.

Apa faktor yang meningkatkan risiko terkena kondisi ini?

Sindrom nefrotik memang cenderung terjadi pada anak-anak, tetapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa juga dapat mengalaminya.

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap penyakit ini, yaitu:

Komplikasi sindrom nefrotik

Sindrom nefrotik termasuk masalah kesehatan yang cukup serius. Bila tidak segera ditangani, kerusakan pada fungsi ginjal ini dapat memicu sejumlah komplikasi yang dapat membahayakan jiwa.

Di bawah ini beberapa komplikasi sindrom nefrotik yang perlu Anda waspadai.

1. Penggumpalan darah

Penggumpalan darah terjadi akibat fungsi glomeruli yang tidak menyaring darah dengan baik. Akibatnya, protein darah yang bertugas membantu mencegah pembekuan pun ikut hilang dan bisa menyebabkan penggumpalan darah.

2. Kolesterol darah tinggi

Bila kadar protein albumin dalam darah menurun, organ hati akan menghasilkan lebih banyak albumin. Pada saat yang sama, hati Anda juga akan melepaskan kolesterol dan trigliserida, sehingga tidak heran bila terjadi peningkatan kadar pada keduanya.

3. Kekurangan gizi

Kehilangan protein darah yang terlalu banyak dapat menyebabkan malnutrisi, alias kekurangan gizi. Kondisi ini tentu dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak terlalu terlihat akibat edema.

4. Tekanan darah tinggi

Glomeruli yang rusak dan penumpukan cairan dalam tubuh ternyata juga bisa memicu tekanan darah tinggi (hipertensi).

5. Cedera ginjal akut

Salah satu komplikasi sindrom nefrotik yang paling sering terjadi yaitu cedera ginjal akut. Hal ini terjadi akibat kerusakan fungsi ginjal yang memicu penumpukan limbah beracun dalam darah. Akibatnya, risiko cedera ginjal akut pun terjadi.

6. Penyakit ginjal kronis

Seiring dengan berjalannya waktu, sindrom nefrotik dapat menghilangkan fungsi ginjal sepenuhnya yang dapat berujung pada penyakit ginjal kronis.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Umumnya, dokter akan mendiagnosis sindrom nefrotik berdasarkan pemeriksaan fisik, riwayat penyakit, dan gejala yang diderita.

Selain itu, Anda juga akan diminta untuk menjalani beberapa pemeriksaan tambahan, meliputi:

Apa saja pengobatan sindrom nefrotik?

Sejauh ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan sindrom nefrotik. Namun, pilihan pengobatan biasanya tergantung dari penyebab yang mendasari masalah ginjal ini untuk meringankan gejala yang dialami.

Berikut ini beberapa cara meredakan gejala sindrom nefrotik yang biasa direkomendasikan dokter.

Obat-obatan

Beberapa obat-obatan untuk mengatasi penyebab sindrom nefrotik di antaranya:

Pengobatan di rumah

Selain obat-obatan, Anda juga perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat untuk mendukung pengobatan dari dokter. Hal ini bertujuan meringankan fungsi ginjal agar tidak bekerja terlalu keras dan meredakan gejala yang dialami.

Salah satu perubahan yang perlu diperhatikan adalah pola makan. Apa yang Anda makan tentu akan memengaruhi cara kerja ginjal yang tengah berjuang keras ketika diserang oleh penyakit ini.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengubah pola makan ketika mengalami sakit ginjal antara lain:

Sebelum melakukan perubahan pola makan, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan ahli gizi atau ahli diet. Hal ini bertujuan membantu Anda memahami cakupan kebutuhan nutrisi yang diperlukan ketika mengalami kondisi ini.

Pencegahan sindrom nefrotik

Satu-satunya cara untuk mencegah sindrom nefrotik yaitu dengan mengendalikan kondisi yang bisa menyebabkan gangguan pada ginjal muncul.

Jika Anda memiliki penyakit yang berhubungan dengan ginjal atau tidak, segera bicarakan dengan dokter untuk mengetahui pencegahan dan cara mengendalikan penyakit Anda. Dengan begitu, kerusakan ginjal bisa dihindari.

Sejumlah cara mencegah penyakit ginjal antara lain:

  • memperbanyak konsumsi buah dan sayur,
  • menghindari makanan berlemak dan purin,
  • menjalani diet DASH,
  • memilih produk susu atau susu rendah lemak,
  • membatasi asupan garam, gula, dan lemak,
  • mencukupi kebutuhan cairan harian,
  • rutin berolahraga,
  • berhenti merokok, serta
  • mengelola stres melalui yoga atau melakukan hal yang disenangi.

Bila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat bagi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, Fred. Ferri’s Netter Patient Advisor. Philadelphia, PA: Saunders / Elsevier, 2012. Downloaded
Porter, R. S., Kaplan, J. L., Homeier, B. P., & Albert, R. K. (2009). The Merck manual home health handbook. Whitehouse Station, NJ, Merck Research Laboratories. Printed. Page 274

Kodner, C. (2016). Diagnosis and Management of Nephrotic Syndrome in Adults. American Family Physician, 93(6), 479-485. Retrieved 16 March 2021 from https://www.aafp.org/afp/2016/0315/p479.html

Nephrotic syndrome – symptoms & causes. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 16 March 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nephrotic-syndrome/symptoms-causes/syc-20375608 

Tapia C, Bashir K. (2020). Nephrotic Syndrome. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Retrieved 16 March 2021, from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470444/ 

Nephrotic Syndrome – diagnosis & treatment. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 16 March 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nephrotic-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20375613 

Ashfaq, A. (2020). Nephrotic Syndrome. American Kidney Fund. Retrieved 16 March 2021, from https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/other-kidney-conditions/rare-diseases/nephrotic-syndrome/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 20/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x