Jenis-jenis Obat Darah Tinggi yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 September 2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Tekanan darah tinggi atau hipertensi yang dibiarkan dapat berisiko menyebabkan komplikasi hipertensi, seperti serangan jantung atau stroke. Oleh karena itu, selain menerapkan gaya hidup sehat, penderita tekanan darah tinggi mungkin perlu mengonsumsi obat untuk menurunkan tekanan darahnya. 

Lantas, apa saja jenis obat hipertensi yang biasa diresepkan dokter dan bagaimana aturan minum obatnya yang tepat? Kemudian, adakah obat-obatan tertentu yang perlu dihindari dan diwaspadai penderita darah tinggi?

Jenis-jenis obat darah tinggi

Obat darah tinggi, atau disebut juga dengan obat antihipertensi, memiliki beragam jenis atau golongan. Tiap obat menimbulkan reaksi yang berbeda pada setiap penderita hipertensi.

Oleh karena itu, dokter akan meresepkan obat-obatan yang paling tepat, sesuai dengan kondisi tekanan darah tinggi yang Anda alami. Berikut adalah jenis-jenis obat darah tinggi yang umum diberikan dokter.

Diuretik

1. Diuretik

Diuretik adalah salah satu golongan obat yang paling sering digunakan dalam pengobatan hipertensi. Obat ini bekerja dengan cara menghilangkan kelebihan air dan garam yang merupakan salah satu penyebab hipertensi.

Cara kerja obat ini membuat Anda jadi lebih sering buang air kecil. Selain itu, obat hipertensi diuretik juga dapat menimbulkan efek samping lainnya, yaitu kelelahan, kram otot, lesu, nyeri dada, pusing, sakit kepala, atau sakit perut.

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat 3 jenis utama dari obat darah tinggi diuretik, yaitu thiazide, potassium-sparing, dan diuretik loop.

  • Thiazide

Obat hipertensi diuretik jenis thiazide bekerja dengan mengurangi jumlah natrium dan air dalam tubuh. Thiazide merupakan satu-satunya jenis diuretik yang dapat memperlebar pembuluh darah sehingga membantu menurunkan tekanan darah.

Contoh obat thiazide: chlorthalidone (Hygroton), chlorothiazide (Diuril), hydrochlorothiazide (Hydrodiuril, Microzide), indapamide (Lozol), metolazone (Zaroxolyn).

  • Potassium-sparing

Obat penurun tekanan darah diuretik jenis potassium-sparing membantu mengurangi jumlah air dalam tubuh dengan mempercepat proses diuresis (buang air kecil). Namun, berbeda dengan jenis diuretik lainnya, obat ini bekerja tanpa membuang kalium dari dalam tubuh.

Contoh obat potassium-sparing: amiloride (Midamor), spironolactone (Aldactone), triamterene (Dyrenium).

  • Diuretik loop

Obat hipertensi ini merupakan jenis diuretik yang paling kuat apabila dibandingkan dengan jenis lainnya. Diuretik loop bekerja dengan cara membuang garam, klorida, dan kalium, sehingga semua zat tersebut akan terbuang melalui urin, sehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Contoh obat diuretik loop: bumetanide (Bumex), furosemide (Lasix), torsemide (Demadex)

2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor adalah obat darah tinggi yang bekerja dengan menurunkan produksi angiotensin, yang merupakan penyebab pembuluh darah menyempit dan menimbulkan tekanan darah tinggi.

Obat hipertensi jenis ini dapat menyebabkan efek samping, berupa kehilangan indra perasa, kehilangan nafsu makan, batuk kering kronis, pusing, sakit kepala, lelah, gangguan tidur atau insomnia, dan detak jantung cepat.

Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, benazepril hydrochloride, perindopril, ramipril, quinapril hydrochloride, dan trandolapril.

3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

Serupa dengan ACE inhibitor, obat angiotensin II receptor blocker (ARB) juga bekerja dengan cara menghalangi angiotensin dalam tubuh. Namun, obat ini menghalangi kerja angiotensin dalam tubuh bukan menghalangi produksi angiotensin, sehingga tekanan darah menurun.

Adapun efek samping obat darah tinggi ini, yaitu pusing sesekali, masalah sinus, maag, diare, dan sakit punggung.

Contoh obat ARB: azilsartan (Edarbi), candesartan (Atacand), irbesartan, losartan potassium, eprosartan mesylate, olmesartan (Benicar), telmisartan (Micardis), dan valsartan (Diovan). 

4. Calcium channel blocker (CCB)

Obat calcium channel blocker (CCB) dapat menurunkan tekanan darah dengan mencegah kalsium memasuki sel-sel jantung dan arteri. Adapun kalsium dapat menyebabkan jantung dan pembuluh darah berkontraksi lebih kuat.

Obat darah tinggi ini mempunyai efek samping seperti mengantuk, sakit kepala, sakit perut, bengkak di tangan atau kaki, sembelit, kesulitan bernapas, pusing, dan palpitasi atau detak jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.

Contoh obat CCB: amlodipine, clevidipine, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nimodipine, dan nisoldipine.

5. Beta blocker

Obat hipertensi ini bekerja dengan cara menghalangi efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Hal ini membuat jantung bekerja lebih lambat serta detak jantung dan kekuatan pompa jantung menjadi menurun. Dengan demikian, volume darah yang mengalir di pembuluh darah menurun dan tekanan darah pun ikut turun.

Adapun efek samping dari obat hipertensi beta blocker, yaitu insomnia, tangan dan kaki dingin, kelelahan, depresi, detak jantung lambat, sesak napas, nyeri dada, batuk, impotensi, sakit perut, sakit kepala, pusing, serta sembelit atau diare.

Contoh obat beta blocker: atenolol (Tenormin), propranolol, metoprolol, nadolol (Corgard), betaxolol (Kerlone), metoprolol tartrate (Lopressor) acebutolol (Sectral), bisoprolol fumarate (Zebeta), nebivolol, dan solotol (Betapace).

6. Alpha blocker

Obat jenis alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi kerja hormon norepinephrine, yang dapat mengencangkan otot-otot pembuluh darah. Dengan konsumsi obat hipertensi ini, otot-otot pembuluh darah dapat mengendur dan melebar, sehingga tekanan darah pun menurun.

Obat darah tinggi golongan ini biasanya menimbulkan efek samping berupa, detak jantung yang cepat, pusing, dan penurunan tekanan darah saat berdiri.

Contoh obat alpha blocker: doxazosin (Carduar), terazosin hydrochloride, dan prazosin hydrochloride (Minipress).

7. Alpha-beta blocker

Alpha-beta blocker memiliki cara kerja yang sama dengan obat beta blocker. Obat ini biasanya diresepkan untuk pasien hipertensi yang berisiko tinggi terkena gagal jantung. Efek dari pengobatan ini adalah menurunnya laju detak jantung, tensi darah, dan juga ketegangan jantung. Tak hanya itu, obat ini juga membantu mencegah stroke dan gangguan ginjal.

Contoh obat alpha-beta blockercarvedilol dan labetalol.

8. Vasodilator

Obat vasodilator bekerja dengan cara membuka atau melebarkan otot-otot pembuluh darah, sehingga darah akan mengalir dengan lebih mudah dan tekanan darah Anda menjadi turun. Adapun efek samping tiap obat golongan vasodilator berbeda, tetapi umumnya tidak parah dan bisa hilang dengan sendirinya.

Contoh obat vasodilator: hydralazine dan minoxidil.

9. Central-acting agents

Central-acting agents atau central agonist merupakan obat darah tinggi yang bekerja dengan cara mencegah otak mengirim sinyal ke sistem saraf untuk mempercepat detak jantung dan mempersempit pembuluh darah. Dengan demikian, jantung tidak perlu memompa darah dengan lebih keras dan darah mengalir lebih mudah di pembuluh darah.

Contoh obat central-acting agent: clonidine (Catapres, Kapvay), guanfacine (Intuniv), dan methyldopa.

10. Direct renin inhibitor (DRI)

Obat direct renin inhibitor (DRI) bekerja dengan cara mencegah enzim renin yang memicu tekanan darah tinggi, sehingga tekanan darah menurun.

Obat darah tinggi umumnya menimbulkan efek samping seperti, diare, batuk, pusing, dan sakit kepala, yang dapat menghilang dengan sendirinya. Namun, bila Anda merasakan efek samping lain yang mengkhawatirkan, seperti kesulitan bernapas, segera periksakan diri ke dokter.

Contoh obat direct renin inhibitor: aliskiren (Tekturna).

11. Aldosterone receptor antagonist

Obat aldosterone receptor antagonist lebih umum digunakan untuk mengobati penyakit gagal jantung, tetapi obat ini juga dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Menyerupai diuretik, obat ini membantu membuang cairan berlebih tanpa mengurangi kadar kalium di dalam tubuh, sehingga tekanan darah menurun.

Adapun efek samping yang umum ditimbulkan seperti, mual dan muntah, kram perut, atau diare.

Contoh obat aldosterone receptor antagonist: Eplerenone, spironolactone.

Kombinasi obat hipertensi

Setiap obat tekanan darah tinggi memberikan efek yang berbeda pada masing-masing penderita hipertensi. Satu jenis obat saja mungkin dapat menurunkan tekanan darah pada satu orang, tetapi tidak pada orang lain.

Orang lain mungkin butuh jenis obat lain atau ditambah dengan obat hipertensi lini kedua atau kombinasi obat hipertensi. Selain itu, pemberian obat lini kedua atau kombinasi obat juga bisa untuk mengurangi efek samping dari obat hipertensi yang dirasakan.

Obat hipertensi lini pertama yang biasanya diberikan oleh dokter, yaitu beta blocker, ACE inhibitor, diuretik, dan calcium channel blocker.

Bila obat ini belum cukup untuk menurunkan tekanan darah, dokter akan memberikan obat tekanan darah lini kedua, yang biasanya yaitu vasodilator, alfa blocker, alfa-beta blocker, dan aldosterone receptor antagonist. Namun, beberapa jenis obat diuretik juga biasa diberikan sebagai obat lini kedua.

Selain itu, ada pula obat-obatan hipertensi yang sudah dikombinasikan, yang biasanya dari golongan diuretik, beta blocker, (ACE inhibitor), angiotensin II receptor blocker (ARB), dan calcium blocker. Beberapa contohnya, yaitu lotensin HCT (kombinasi ACE inhibitor benazepril dan diuretik hydrochlorothiazide) atau tenoretic (kombinasi beta blocker atenolol dan diuretik chlortalidone).

Selain itu, berikut beberapa kombinasi obat hipertensi yang juga umum diberikan dokter:

  • Diuretik potassium-sparing dan thiazide.
  • Beta blocker dan diuretik.
  • ACE inhibitor dan diuretik.
  • Angiotensin II receptor blocker (ARB) dan diuretik.
  • Beta blocker dan alpha blocker.
  • ACE inhibitor dan calcium channel blocker.

Bagaimana aturan minum obat darah tinggi?

obat sakit jantung pengobatan penyakit jantung

Saat tekanan darah Anda naik, dokter tidak selalu meminta Anda untuk  minum obat antihipertensi. Bila jenis hipertensi yang Anda miliki tergolong prehipertensi, Anda hanya diminta melakukan perubahan gaya hidup.

Saat Anda sudah tergolong hipertensi, dokter pun umumnya tidak langsung meresepkan obat, tetapi meminta Anda untuk mengubah gaya hidup terlebih dahulu. Bila dirasa belum cukup untuk menurunkan tekanan darah, dokter baru akan meresepkan obat tekanan darah tinggi untuk Anda konsumsi.

Terkecuali, jika Anda memiliki masalah medis lainnya yang menjadi penyebab hipertensi, dokter umumnya akan langsung meresepkan obat tekanan darah tinggi untuk Anda.

Minum obat hipertensi harus sesuai aturan

American Heart Association menyebut, obat hipertensi perlu diminum secara rutin dan teratur, sesuai dengan dosis dan waktu yang ditentukan oleh dokter agar bekerja secara maksimal.

Bila tidak diminum sesuai ketentuan, misal melewatkan minum obat sehari atau mengurangi/menambah dosis, tekanan darah Anda tidak akan terkendali dengan baik, sehingga dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya, seperti gagal jantung atau gagal ginjal.

Anda pun perlu ingat untuk tidak pernah berhenti atau mengganti obat hipertensi tanpa sepengetahuan dokter, meski Anda sudah merasa lebih baik. Hal ini justru akan membahayakan diri Anda.

Waktu yang tepat untuk minum obat

Sebagian besar obat hipertensi hanya diminum satu kali sehari, yaitu pada pagi atau malam hari. Dokter menentukan waktu konsumsi obat hipertensi ini tergantung pada puncak tekanan darah tinggi Anda.

Umumnya, tekanan darah akan lebih tinggi pada pagi hingga siang hari, sedangkan pada malam hari dan ketika tidur, tekanan darah menjadi lebih rendah. Namun, pada lansia atau yang berusia lebih dari 55 tahun, umumnya tekanan darah tetap tinggi meski sudah memasuki malam hari.

Obat antihipertensi yang biasanya diminum pada pagi hari, yaitu diuretik. Sementara obat darah tinggi yang umumnya diminum pada malam hari, yaitu angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin II receptor blocker (ARB).

Meski demikian, tidak selamanya obat-obatan itu dikonsumsi pada waktu tersebut. Dokter akan menentukan jenis obat dan waktu konsumsi obat hipertensi yang tepat sesuai dengan kondisi Anda.

Selain mengonsumsi obat dari dokter, Anda pun perlu mengimbanginya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti diet hipertensi. Mineral dan vitamin penurun darah tinggi atau obat alami hipertensi pun bisa menjadi pilihan untuk mengontrol tekanan darah Anda.

Kondisi yang menyebabkan obat darah tinggi tidak ampuh

Pada beberapa kasus, obat hipertensi dari dokter menjadi tidak ampuh dan tidak mempan bekerja. Bukannya terkontrol, tekanan darahnya malah tetap terus naik saat dilakukan cek tekanan darah berikutnya.

Mengapa hal ini terjadi? Berikut adalah kemungkinan kondisi yang menyebabkan obat hipertensi yang Anda minum tidak mempan pada diri Anda:

  • Sindrom jas putih, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami tekanan darah tinggi saat berada di sekitar dokter atau petugas medis lainnya. Meski minum obat, seseorang dengan kondisi ini akan tetap mengalami kenaikan tekanan darah saat melakukan pengecekan di sekitar dokter.
  • Tidak minum obat sesuai anjuran dokter.
  • Melakukan kesalahan saat pengecekan tekanan darah.
  • Menerapkan pola makan yang tidak sehat.
  • Kurang bergerak atau perokok aktif.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu yang mengganggu kerja obat hipertensi atau disebut interaksi obat.
  • Kondisi medis lain yang dimiliki yang memengaruhi tekanan darah.

Jenis obat yang harus diwaspadai penderita darah tinggi

Berbagai jenis obat batuk berdarah

Mengonsumsi obat memang tidak boleh sembarangan, termasuk bagi penderita hipertensi. Pasalnya, ada beberapa obat yang memiliki interaksi dengan obat hipertensi, yang dapat menaikkan tekanan darah atau menimbulkan masalah kesehatan lainnya.

Untuk itu, bila Anda memiliki masalah kesehatan tertentu dan membutuhkan obat, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat, yang tidak memperparah hipertensi Anda. Berikut beberapa obat yang harus diwaspadai:

1. Obat pereda nyeri atau NSAID

Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) atau disebut juga dengan obat pereda nyeri bekerja dengan menahan cairan di dalam tubuh sehingga menurunkan fungsi ginjal. Adapun kondisi ini dapat meningkatkan darah Anda. NSAID yang paling umum digunakan adalah aspirinibuprofen, dan naproxen.

2. Obat batuk dan demam (dekongestan)

Obat batuk dan demam umumnya mengandung dekongestan. Dekongestan dapat mempersempit pembuluh darah Anda sehingga meningkatkan tekanan darah. Dekongestan juga dapat membuat beberapa obat tekanan darah menjadi kurang efektif.

3. Obat migrain

Beberapa obat sakit kepala sebelah alias migrain bekerja dengan mempersempit pembuluh darah di kepala Anda. Adapun pembuluh darah yang sempit dapat meningkatkan tekanan darah.

4. Obat penurun berat badan

Selain dapat memperparah penyakit jantung, obat-obatan penurun berat badan juga dapat meningkatkan tekanan darah.

5. Obat antidepresan

Obat antidepresan dapat memengaruhi suasana hati Anda dan dapat menyebabkan tekanan darah Anda meningkat. Beberapa obat antidepresan yang dapat meningkatkan tekanan darah, yaitu venlafaxine (Effexor XR), monoamine oxidase inhibitors, antidepresan trisiklik, dan fluoxetine (prozac, sarafem, lainnya). 

6. Antibiotik

Selain obat-obatan di atas, beberapa obat antibiotik juga memiliki interaksi dengan obat darah tinggi tertentu yang justru dapat mengganggu kesehatan Anda.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan Canadian Medical Association Journal (CMAJ) menemukan fakta bahwa mengonsumsi antibiotik makrolida, seperti erythromycin dan clarithromycin, pada orang lansia berisiko terkena syok atau penurunan tekanan darah secara drastis hingga hipotensi (tekanan darah rendah) bila dikonsumsi bersamaan dengan obat hipertensi calcium channel blockers.

Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Meski demikian, mekanisme dan penyebab interaksi obat ini belum dipahami dengan jelas.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Penyakit yang Banyak Menyerang Lansia di Indonesia

Semakin bertambah usia seseorang, pada umumnya semakin banyak penyakit yang diderita. Apa saja penyakit pada lansia yang sering terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 12 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Saling Berkaitan, Ini Tips Cegah Hipertensi dan Atrial Fibrilasi

Hipertensi dan atrial fibrilasi berhubungan erat terhadap kualitas kesehatan. Cari tahu langkah cerdas bagaimana cara mencegah hipertensi dan dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
alat mencegah hipertensi
Hipertensi, Kesehatan Jantung 30 September 2020 . Waktu baca 6 menit

5 Jenis Pantangan Makanan untuk Pasien Penyakit Jantung

Pasien penyakit jantung, perlu berhati-hati dalam memilih makanan. Berikut ini ada berbagai makanan yang dilarang (pantangan) untuk penyakit jantung.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tekanan darah normal tensi normal tekanan darah rendah tekanan darah tinggi tekanan darah ibu hamil tekanan darah wanita tekanan darah berdasarkan usia

Berapa Tekanan Darah yang Masih Dianggap Normal?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 November 2020 . Waktu baca 8 menit

10 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 November 2020 . Waktu baca 12 menit
ibu hamil makan daging kambing

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya makanan asin

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit