Albuminuria (Proteinuria)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Agustus 2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu albuminuria (proteinuria)?

Albuminuria (proteinuria) adalah kondisi urine atau air kencing mengandung jumlah albumin yang tidak normal. Albumin merupakan salah satu jenis protein dalam darah. Kondisi ini bukanlah penyakit, tetapi merupakan gejala yang bisa menandakan penyakit tertentu.

Ginjal yang sehat tidak membiarkan jumlah protein keluar terlalu banyak melalui filter ginjal. Namun, filter yang rusak akibat penyakit ginjal dapat membuat protein seperti albumin bocor dari darah ke dalam urine.

Kondisi yang disebut juga sebagai proteinuria ini sering kali merupakan gejala sakit ginjal, terutama jika Anda mengalami proteinuria berat di mana urine mengandung protein sebanyak 2-3 gram per hari.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun. Albuminuria dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala albuminuria?

Biasanya pasien yang memiliki kondisi ini tidak menunjukkan gejala, terutama saat penyakit baru muncul. Namun, albuminuria dapat menimbulkan gejala setelah penyakitnya menjadi lebih parah, beberapa di antaranya adalah:

  • urinasi yang lebih sering (overactive bladder),
  • sesak napas,
  • mual dan muntah,
  • kelelahan,
  • menghilangnya nafsu makan,
  • pembengkakan di area wajah, perut, atau kaki dan sekitar pergelangannya,
  • kram otot di malam hari,
  • mata bengkak, dan
  • urine yang berbusa.

Gejala ini juga merupakan tanda dari penyakit ginjal kronis. Selain itu, tingginya jumlah protein dalam urine juga akan menimbulkan kondisi bernama sindrom nefrotik.

Sindrom nefrotik menyebabkan penimbunan air di dalam tubuh. Kelebihan air inilah yang akan membuat tubuh Anda membengkak di beberapa bagian.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera periksa ke dokter ketika telah merasakan satu atau lebih dari berbagai gejala. Terutama jika Anda mulai mengalami pembengkakan dan urine berbusa, segera kunjungi dokter agar bisa mendapatkan penanganan secepatnya.

Penyebab

Apa penyebab kondisi ini?

Protein bisa masuk ke dalam urine bila ginjal tidak bekerja dengan baik. Pembuluh darah dalam ginjal yang bernama glomerulus bekerja dengan menyaring produk sisa dari darah dan menjaga komponen yang diperlukan tubuh, termasuk protein. 

Glomerulus akan memastikan protein dan sel darah yang lebih besar tidak masuk ke dalam urine. Jika ada yang masuk pun bagian tubulus ginjal akan menangkap kembali protein tersebut dan menyimpannya di dalam tubuh.

Namun ketika keduanya mengalami gangguan atau jika ada beban protein berlebihan, protein ini akan ikut mengalir dalam urine.

Selain itu, adanya batu saluran kemih juga bisa menyebabkan proteinuria.

Tak hanya penyakit yang berhubungan dengan ginjal, penyakit ini bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan yang berlangsung sementara seperti dehidrasi, peradangan, dan tekanan darah rendah.

Olahraga yang terlalu intens, stres, pemakaian obat aspirin, dan paparan terhadap dingin adalah penyebab lain yang mungkin bisa menimbulkan terjadinya proteinuria.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena albuminuria?

Ada beberapa faktor yang bisa membuat Anda lebih berisiko terkena albuminuria. Dua penyakit yang paling sering menjadi pemicunya adalah diabetes dan darah tinggi.

Jenis lain dari penyakit ginjal yang tidak terkait dengan diabetes atau tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan protein bocor ke urine.

Faktor risiko lainnya meliputi:

  • obesitas,
  • usia di atas 65, dan
  • riwayat keluarga terhadap penyakit ginjal.

Beberapa orang memiliki lebih banyak protein dalam urine saat berdiri daripada saat berbaring. Kondisi ini disebut orthostatic proteinuria.

Ada juga berbagai kondisi yang turut memicu peningkatan kadar protein dalam urine, meliputi:

  • penyakit autoimun,
  • kanker sel plasma (multiple myeloma),
  • penyakit jantung,
  • peradangan ginjal akut,
  • preeklampsia, komplikasi berupa tekanan darah tinggi pada ibu hamil,
  • hemolisis intravaskular atau penghancuran sel darah merah dan pelepasan hemoglobin dalam aliran darah,
  • kanker ginjal, dan
  • gagal ginjal kongestif.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Proteinuria dapat dideteksi dengan tes urine. Anda tak memerlukan persiapan khusus untuk melakukannya. Bahkan tes ini juga bisa dilakukan di rumah, mengikuti instruksi yang diberikan oleh dokter.

Tes dipstick

Tes sederhana adalah tes urine dengan menggunakan dipstick (strip plastik kecil dengan kertas indikator) yang dapat mendeteksi jumlah protein yang sangat kecil.

Nantinya jika ada terlalu banyak zat yang terkandung pada urine, bagian ujungnya akan berubah warna. Karena protein dalam urine bisa bertahan hanya sementara, maka tes ini harus dilakukan secara rutin untuk menentukan apakah Anda benar-benar mengalami masalah pada ginjal.

Tes dipstick ini sangat sensitif, namun tidak dapat mengukur dengan persis seberapa banyak protein albumin dalam urine. Untuk mendapatkan pengukuran yang tepat, urine harus diperiksa di laboratorium.

Ketika hasilnya belum meyakinkan, sisa urine diperiksa di bawah mikroskop. Dari pengamatan itu dokter akan mengetahui zat-zat yang seharusnya tak ada pada urine, seperti sel darah merah dan putih, bakteri, atau kristal yang bisa tumbuh menjadi batu ginjal.

Satu kali hasil tes urine yang positif mengandung protein belum bisa menentukan apakah Anda benar-benar mengalami penyakit ginjal. Namun jika hasil tetap positif setiap Anda melakukan tesnya, maka besar kemungkinan ginjal mengalami masalah.

Tes kadar albumin dan kreatinin

Tes ini dilakukan untuk menunjukkan seberapa banyak kadar protein albumin dan kreatinin yang telah dikeluarkan dalam 24 jam pada urine. Kreatinin adalah produk limbah yang telah disaring di ginjal lalu dikeluarkan dengan mengalirnya urine.

ACR dikatakan tinggi bila hasilnya di atas 30, hal ini menunjukkan kebocoran protein yang signifikan. Semakin tinggi levelnya, akan semakin berbahaya pula dampaknya.

ACR yang berkisar antara 3-30 biasanya tidak memerlukan tindakan, tetapi pasien perlu melakukan pemeriksaan setiap tahun. Sedangkan ACR yang kurang dari 3 mg/mmol tidak memerlukan tindakan lebih lanjut.

Pemeriksaan lebih lanjut

Apabila ACR tinggi, dokter akan melihat riwayat kesehatan pasien dan keluarganya, lalu melakukan pemeriksaan ginjal lebih lanjut. Pemeriksaan tersebut bisa meliputi:

  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar kreatinin, protein, dan memperkirakan laju filtrasi glomerulus. Tes ini juga bisa menjadi gambaran atas seberapa baik ginjal Anda bekerja.
  • Tes pemindaian. Tes seperti CT scan atau ultrasounds dapat menunjukkan gambar ginjal yang akan membantu dokter menemukan masalah di dalamnya.
  • Elektroforesis protein urine. Dokter akan melihat jenis protein tertentu dalam sampel urine yang bisa mengindikasikan suatu penyakit.
  • Tes darah imunoterapi. Tes bertujuan untuk menemukan protein bernama imunoglobulin yang merupakan antibodi pelawan infeksi dalam darah.
  • Biopsi ginjal. Prosedur ini melibatkan pengangkatan sebagian kecil organ ginjal. Nantinya sampel ini akan diperiksa di bawah mikroskop.

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pengobatan untuk albuminuria?

Albuminuria bukanlah penyakit yang spesifik, sehingga perawatan tergantung pada identifikasi dan penanganan penyebab. Umumnya, jika proteinuria yang diderita cenderung normal, Anda tidak memerlukan perawatan.

Lain lagi apabila kondisi disebabkan oleh penyakit ginjal, perawatan medis yang tepat sangat penting dilakukan. Penyakit ginjal kronis yang tidak diatasi dapat menyebabkan gagal ginjal.

Obat-obatan kadang diberikan, terutama pada orang dengan diabetes dan/atau tekanan darah tinggi. Obat dapat berasal dari dua kelas obat, yaitu ACE (angiotensin-converting enzyme) inhibitors dan ARB (angiotensin receptor blockers).

Dua jenis obat tersebut sebenarnya lebih banyak digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah. Namun pada pasien yang mengalami albuminuria, obat ini bisa membantu melindungi ginjal dari kerusakan.

Perawatan yang tepat–terutama pada pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi–penting dilakukan untuk mencegah kerusakan ginjal progresif yang menyebabkan timbulnya kondisi albuminuria.

Pada pasien dengan diabetes dan tekanan darah tinggi, pasien yang mengalami albuminuria juga harus mengontrol kadar gula darah.

Selain itu, pasien diabetes harus melakukan tes laju filtrasi glomerulus (GFR) setiap tahunnya. Jika ada masalah pada ginjal, pasien akan dirujuk ke nephrologist, dokter yang berspesialisasi dalam bidang penyakit ginjal.

Sedangkan jika albuminuria terjadi pada ibu hamil yang memiliki preeklamsia, kondisinya harus lebih diawasi. Untungnya, kebanyakan albuminuria akan sembuh sendiri setelah bayinya lahir.

Walau jika pasien tidak memiliki penyakit lain seperti diabetes, masalah tekanan darah, atau kondisi lain, obat tekanan darah mungkin masih akan diresepkan untuk mencegah kerusakan ginjal.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi albuminuria?

Karena kondisi ini bisa disebabkan oleh penyakit yang Anda derita, maka Anda harus melakukan perawatan yang bertujuan untuk menjauhi hal-hal yang menjadi pemicu gejalanya.

Namun, umumnya Anda harus melakukan berbagai perubahan, terutama pada pola makan Anda. Berikut adalah cara yang dapat membantu Anda mengatasi albuminuria.

  • Jika Anda memiliki kondisi retensi air yang menyebabkan albuminuria, kurangi jumlah asupan garam dan air pada pola makan harian. Natrium dalam garam juga meningkatkan tekanan kapiler glomerulus yang membuat kerjanya jadi terganggu.
  • Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, juga kurangi garam dalam makanan, dan atur pola makan dengan baik.
  • Jagalah berat tubuh Anda tetap di angka yang sehat. Obesitas sudah sering menjadi pemicu akan timbulnya berbagai masalah kesehatan, tak terkecuali untuk kesehatan ginjal dan sistem urinasi Anda. Selain makan makanan sehat, buat juga tubuh Anda menjadi lebih aktif dengan berolahraga atau aktivitas fisik lainnya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Penyakit Ginjal

Penyakit atau sakit ginjal adalah gangguan fungsi pada organ ginjal. Apa saja gejala dan penyebab penyakit ini? Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Urologi, Ginjal 16 September 2020 . Waktu baca 12 menit

Transplantasi Ginjal

Pelajari hal-hal yang perlu Anda ketahui sebelum menjalani transplantasi ginjal, mulai dari persiapan, proses, pemulihan, sampai risikonya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Urologi, Ginjal 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit

Begini Akibat Jika Anda Terlalu Sering Menahan Kencing

Kebiasaan seseorang menahan kencing dapat memberikan akibat yang serius yaitu munculnya penyakit dalam sistem urologi. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Urologi 7 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Untuk Apa Cuci Darah, dan Siapa yang Harus Rutin Cuci Darah?

Mendengar istilah cuci darah dapat membuat bulu kuduk merinding. Tapi satu hal yang pasti, prosedur medis ini bertujuan untuk menyelamatkan nyawa.

Ditulis oleh: Priscila Stevanni
Hidup Sehat, Tips Sehat 28 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sel epitel dalam urin

Apa Artinya Jika Terdapat Sel Epitel dalam Urine?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
kencing bercabang

Normalkah Kencing Bercabang Saat Buang Air Kecil?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 5 menit
uretritis adalah

Uretritis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit
hemodialisis

Hemodialisis, Prosedur Cuci Darah untuk Penyakit Gagal Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 11 menit