home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Membedakan Mania dan Hipomania Pada Orang dengan Gangguan Bipolar

Membedakan Mania dan Hipomania Pada Orang dengan Gangguan Bipolar

Bipolar disorder atau gangguan bipolar adalah penyakit mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem. Orang yang mengalami kondisi ini kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam menjalin hubungan. Gejala utamanya meliputi mania, hipomania, dan depresi. Sekilas hipomania dan mania terdengar sama, tapi keduanya merupakan gejala bipolar yang berbeda. Apa itu mania dan hipomania? Apa perbedaan keduanya? Simak terus jawabannya di sini.

Kenali gejala bipolar, yaitu mania dan hipomania

Kebanyakan orang mengalami pasang surut emosi atau perubahan suasana hati dari waktu ke waktu. Akan tetapi, seseorang yang memiliki bipolar suasana hatinya bisa berubah sangat dratis dalam waktu yang sangat cepat. Terkadang ia bisa merasa sangat bersemangat atau penuh tenaga. Di lain waktu, ia merasa depresi. Setiap perubahan suasana yang terjadi pada orang dengan bipolar disebut dengan episode karena terjadi secara bergantian. Setiap episode menunjukkan tiga gejala utama yaitu mania, hipomania, dan juga depresi.

Mania adalah kondisi gangguan suasana hati yang membuat seseorang merasa sangat bersemangat secara fisik dan mental. Orang dengan bipolar yang mengalami episode ini, akan membuat keputusan yang tidak rasional. Misalnya menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membeli sesuatu yang sangat mahal. Pasien juga rentan melakukan hal yang sifatnya kekerasan atau pelecehan seksual.

Sementara hipomania adalah bentuk mania yang lebih ringan atau tidak terlalu ekstrem perubahan suasana hatinya. Meskipun tidak terlalu ekstrem, orang yang mengalami episode ini akan melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kondisi ini sulit untuk diketahui, tapi orang-orang di sekitar pasien mampu mengenali perubahan tersebut. Perubahan yang dipengaruhi oleh obat-obatan atau alkohol bukan termasuk episode hipomania.

Perbedaan mania dan hipomania

1. Gejala yang menyertainya

Gejala mania dan hipomania hampir sama, tapi tingkat kepadarahannya berbeda. Dikutip Medicine Net, gejala mania bisa dikelompokkan, seperti:

Gejala mania

  • Muncul perasaan senang berlebihan yang tidak berasalan
  • Berpikir cepat sehingga penilaian dan pengambilan keputusan menjadi buruk
  • Tidak butuh tidur atau istirahat
  • Terlihat sangat gelisah
  • Ucapan tangensial, yaitu berulang kali mengulang topik percakapan yang tidak sesuai

Jika kondisiya parah, maka gejala yang timbul meliputi:

  • Melihat atau melihat sesuatu yang tidak ada tapi terasa nyata (halusinasi)
  • Tidak bisa membedakan antara imajinasi atau kenyataan (delusi)
  • Merasa berada dalam bahaya

Gejala hipomania

  • Merasa diri sangat bersemangat sehingga lebih aktif dari biasanya
  • Lebih banyak berbicara daripada biasanya
  • Bicara cepat-cepat, tapi tidak nyambung
  • Susah fokus dan konsentrasi

2. Menunjukkan tipe bipolar yang berbeda

Ada empat tipe dasar gangguan bipolar, yaitu bipolar 1, bipolar 2, cyclothymic, dan gangguan bipolar campuran antara ketiganya. Episode mania sering muncul pada orang dengan bipolar tipe 1. Gejala tersebut biasanya bergantian terjadi dengan episode depresi.

Sementara orang yang mengalami bipolar 2 tidak akan mengalami episode mania, tapi hipomania. Sering kali orang dengan bipolar 2 didiagnosis sebagai depresi, padahal sebenarnya bukan.

3. Lamanya episode berlangsung

Bukan hanya tingkat keparahan, lamanya episode berlangsung juga berbeda. Episode mania pada orang dengan bipolar 1 akan bertahan hingga satu minggu bahkan lebih. Sementara episode hipomania pada orang dengan bipolar 2 akan bertahan paling lama hingga 4 hari.

4. Perawatan yang diberikan

Selama episode mania atau hipomania terjadi, aktivitas sehari-hari bisa sangat terganggu. Namun, sulit untuk mengalihkan seseorang yang mengalami episode mania menuju keadaan yang lebih tenang dan lebih masuk akal. Apalagi episode mania akan berlangsung dalam berminggu-minggu.

Itulah sebabnya orang yang mengalami episode mania cukup parah harus mendapat perawatan dan pengawasan dari rumah sakit.

Berbeda dengan hipomania, gejalanya yang tidak terlalu parah masih bisa ditangani dengan obat-obatan dan orang-orang di sekitarnya di rumah.

Bila Anda mengalami gejala bipolar, seperti mania, hipomania, atau depresi secara bergantian dengan waktu sangat cepat, sebaiknya segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter atau psikolog. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Ingat, gangguan bipolar tidak dapat disembuhkan. Namun, melakukan terapi untuk mengubah gaya hidup, mengikuti pengobatan, dan menghindari pemicu bisa membantu pasien mengurangi keparahan gejala.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mania vs. Hypomania. https://www.medicinenet.com/mania_vs_hypomania/article.htm#is_it_possible_to_prevent_mania_and_hypomania. Diakses pada 24 April 2018.

What You Should Know About Mania vs. Hypomania. https://www.healthline.com/health/mania-vs-hypomania#treatment. Diakses pada 24 April 2018.

Bipolar 1 vs. Bipolar 2: Know the Difference. https://www.healthline.com/health/bipolar-disorder/bipolar-1-vs-bipolar-2. Diakses pada 24 April 2018.

 

 

 

 

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 15/02/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x