Kenali Gejala Depresi Berdasarkan Usia dan Tingkat Keparahannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Stres berat tak berujung bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi. Depresi sendiri adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan seseorang terus-menerus merasa sedih dan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas. Selain itu, adakah gejala lain yang ditimbulkan bila seseorang merasa depresi? Yuk, pahami lebih dalam ciri-ciri orang yang mengalami stres dan depresi berikut ini.

Tanda dan gejala depresi berdasarkan usia

Ada beberapa gejala yang tumpang tindih antara stres dan depresi, seperti sulit berkonsentrasi, tidak bersemangat, dan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya selalu Anda nikmati. Padahal, stres, depresi, dan gangguan kecemasan memiliki perbedaan.

Umumnya, tanda-tanda depresi lebih terasa melelahkan dan bisa menghambat aktivitas sehari-hari penderitanya. Ciri-ciri depresi biasanya ditandai dengan memburuknya suasana hati yang menetap selama berminggu-minggu atau lebih dari 6 bulan berturut-turut.

Gejala depresi yang umum terjadi pada orang dewasa

Berikut beberapa gejala atau ciri depresesi yang umum terjadi:

Gejala depresi dari segi psikis

  • Suasana hati memburuk secara drastis.
  • Merasa sedih terus-menerus.
  • Merasa putus asa.
  • Merasa tidak berharga dan tidak berdaya.
  • Tidak minat melakukan apa pun.
  • Sering menangis tersedu-sedu.
  • Terus-terusan diselimuti perasaan bersalah.
  • Merasa kesal, gampang emosi, dan tidak toleran terhadap orang lain.
  • Sulit membuat keputusan.
  • Tidak bisa merasakan kebahagiaan atau kesenangan sedikit pun dari situasi dan kejadian yang positif.
  • Selalu merasa cemas atau khawatir.
  • Berpikir untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri

Gejala depresi secara fisik

  • Bergerak atau berbicara lebih lambat dari biasanya.
  • Banyak makan atau justru malas makan.
  • Berat badan turun atau naik drastis karena nafsu makan berubah.
  • Sembelit.
  • Merasa sakit di sekujur tubuh tanpa sebab.
  • Tampak lemas, lesu, tidak berenergi atau selalu kelelahan.
  • Gairah seks menurun atau bahkan hilang sama sekali.
  • Menstruasi tidak teratur.
  • Timbul gangguan tidur, termasuk insomnia, bangun kepagian, atau justru banyak tidur.

Gejala depresi yang memengaruhi kehidupan sosial

  • Tidak bisa bekerja atau beraktivitas seperti biasa, tidak fokus dan sulit berkonsentrasi.
  • Menutup diri, menghindari bersosialisasi dengan teman dan keluarga.
  • Mengabaikan atau membenci hobi dan kegiatan yang sebelumnya sangat disukai.
  • Sulit berinteraksi di rumah dan lingkungan kerja, bahkan sangat rentan menghadapi masalah dengan orang sekitar.

Setiap orang bisa merasakan tanda-tanda depresi yang berbeda-beda. Gejala umum yang disebutkan di atas, lebih umum dirasakan oleh penderita usia dewasa. Meski tak terlalu mencolok, nyatanya gejala depresi yang khas juga bisa muncul pada kelompok usia tertentu, seperti pada anak dan remaja, serta lansia.

Gejala depresi pada anak dan remaja

Sebetulnya, ciri-ciri depresi pada anak dan remaja mirip dengan yang terjadi pada orang dewasa. Hanya saja, ada beberapa gejala depresi yang khas terjadi pada anak dan remaja, seperti dilansir dari laman Mayo Clinic:

  • Anak-anak yang depresi umumnya sering merasa sedih, cemas, dan clingy alias selalu ingin “nempel” dengan orang lain. Kondisi ini sering kali membuat anak-anak jadi malas ke sekolah, malas makan, hingga berat badan turun drastis.
  • Remaja yang depresi biasanya menjadi mudah marah, sensitif, menjauh dari teman sebayanya, perubahan nafsu makan, hingga menyakiti diri sendiri. Bahkan, remaja yang mengalami depresi rawan terjerumus dengan penggunaan narkoba atau alkohol karena tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Gejala depresi pada lansia

Depresi bukan hal yang normal terjadi pada orang yang berusia lanjut. Sayangnya, depresi pada lansia sulit dideteksi sehingga sulit diobati.

Gejala depresi pada lansia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa pada umumnya. Akan tetapi, bisa pula muncul gejala lain yang mengikuti, berupa:

  • Mudah lelah.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Gangguan tidur, entah tidak bisa tidur, bangun terlalu pagi, atau terlalu banyak tidur.
  • Pikun atau mudah lupa.
  • Malas keluar rumah dan menolak untuk bersosialisasi.
  • Muncul pikiran ingin bunuh diri.

Berbagai gejala yang sudah disebutkan di atas bisa dikatakan sebagai depresi bila berlangsung setidaknya dua minggu atau lebih. Meski begitu, mungkin masih banyak tanda dan gejala depresi lainnya yang tidak disebutkan di atas.

Tingkat keparahan depresi berdasarkan gejala yang ditimbulkan

Depresi yang tidak diobati akan semakin membahayakan jiwa penderitanya. Ini karena mereka bisa saja melakukan tindakan berbahaya yang membahayakan diri sendiri, contohnya melukai diri sendiri.

Guna mencegah hal tersebut, dokter biasanya akan meresepkan obat antidepresan atau psikoterapi. Pilihan pengobatan untuk depresi ini akan disesuaikan dengan keparahan gejala yang dialami. 

Berikut ini adalah pembagian tingkat keparahan depresi yang biasanya dilihat dari tanda dan gejala yang dialami penderitanya. 

Depresi ringan

Orang yang merasakan depresi ringan, biasanya merasakan perasaan lebih dari sekadar sedih. Ciri-ciri depresi ringan ini bisa berlangsung selama berhari-hari dan mengganggu aktivitas yang biasanya dilakukan. 

Selain ciri tersebut, dokter mungkin mengkategorikan seseorang mengalami depresi tingkat ringan bila juga mengalami kondisi berikut ini:

  • Mudah tersinggung atau marah, merasa putus asa, membenci diri sendiri, dan terus-menerus merasa bersalah.
  • Kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, tidak tertarik untuk bersosialisasi, dan hilang motivasi.
  • Mengalami insomnia, nafsu makan berubah, tubuh nyeri tanpa sebab, dan memiliki kecanduan karena melampiaskan diri dari stres dan tekanan dengan cara yang salah.

Jika gejala Anda bertahan hampir sepanjang hari, rata-rata empat hari dalam seminggu selama dua tahun, kemungkinan besar Anda akan didiagnosis jenis depresi seperti gangguan depresi persisten (dysthymia). Meskipun gejala depresi tersebut terlihat, beberapa orang mungkin mengabaikan atau menghindari konsultasi ke dokter. 

Depresi menengah

Dalam hal keparahan gejala, depresi sedang naik tingkat dari kasus ringan. Depresi sedang dan ringan memiliki tanda yang sama, hanya saja lebih parah. Diagnosis untuk depresi tingkat sedang ini, biasanya ditandai dengan kondisi, seperti:

  • Merasa rendah diri dan produktivitas berkurang.
  • Merasa tidak berharga dan kurang peka dengan emosi maupun kondisi lingkungan.
  • Terus merasa gelisah dan khawatir secara berlebihan. 

Perbedaan terbesar pada tingkat depresi ini yakni gejalanya berdampak buruk pada aktivitas di rumah, prestasi di sekolah, maupun produktivitas di tempat kerja.

Depresi parah

Depresi tingkat parah ini biasanya menimbulkan gejala yang berlangsung rata-rata 6 bulan atau lebih. Kadang, gejalanya bisa hilang beberapa saat, tapi bisa juga kembali berulang. Orang yang didiagnosis memiliki depresi tingkat ini biasanya menunjukkan ciri-ciri, seperti:

  • Delusi dan atau halusinasi
  • Pernah terpikir untuk melakukan bunuh diri atau sudah melukai diuiri sendiri. pikiran atau perilaku bunuh diri.

Jangan sepelekan sekecil apa pun gejala depresi yang terjadi pada diri Anda. Jika Anda khawatir atau curiga akan gejala tertentu, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter/psikolog/psikiater/terapis terpercaya.

Ingat, gangguan mental bisa dialami oleh siapa saja. Nah, langkah paling pertama untuk mencapai penyembuhan adalah menyadari bahwa Anda memang mengalaminya.

Jangan malu untuk melakukan konsultasi karena stigma yang berkembang, sebab kesehatan mental Anda dan orang tercinta adalah yang utama.

Jika Anda, kerabat, atau anggota keluarga menunjukkan tanda-tanda depresi atau gejala penyakit mental lainnya, atau menunjukkan keinginan atau perilaku atau ingin mencoba bunuh diri, segera hubungi hotline darurat polisi 110; hotline Pencegahan Bunuh Diri (021)725 6526/(021) 725 7826/(021) 722 1810; atau LSM Jangan Bunuh Diri (021) 9696 9293

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Borderline Personality Disorder (Gangguan Kepribadian Ambang)

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang bisa menyerang siapa saja. Cari tahu selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit

Kenali Ciri Bipolar Disorder yang Sering Diabaikan atau Disalahartikan

Perhatikan jika Anda melihat kondisi gejolak emosi ekstrem. Hal tersebut bisa jadi ciri bipolar disorder. Yuk, kenali ciri-ciri khasnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 8 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ciri Depresi Pada Remaja dan Hal yang Perlu Orangtua Lakukan

Depresi bisa terjadi pada siapapun, termasuk remaja. Apa saja yang sering jadi penyebab depresi pada remaja, dan bagaimana cara mengenalinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 5 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit

Putus Asa Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Anda mungkin pernah punya masalah yang tak kunjung reda hingga merasa putus asa. Lantas, apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 4 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

terapi cahaya cara mengatasi depresi menghilangkan depresi

Memanfaatkan Cahaya, Terapi yang Dapat Membantu Mengatasi Depresi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
gangguan bipolar adalah

Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
merasa kesepian

Apakah Ada Perbedaan Kesepian yang Wajar dengan Kesepian Akibat Depresi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit