home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Skizofrenia

Pengertian skizofrenia|Jenis-jenis skizofrenia|Tanda & gejala skizofrenia|Penyebab skizofrenia|Faktor risiko skizofrenia|Diagnosis & pengobatan skizofrenia|Pengobatan skizofrenia di rumah
Skizofrenia

 

Pengertian skizofrenia

Apa itu penyakit skizofrenia?

Skizofrenia atau schizophrenia adalah penyakit mental serius yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku penderitanya.

Orang dengan skizofrenia umumnya mengalami psikosis, yaitu suatu kondisi di mana penderitanya tidak dapat menafsirkan realita secara normal. Dengan kata lain, penderita penyakit ini tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan.

Tak hanya itu, seseorang yang mengalami penyakit ini pun kerap memiliki perilaku yang tidak teratur, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-harinya. Hal itu yang menyebabkan penderita skizofrenia sering disebut “gila”.

Kondisi-kondisi tersebut umumnya terjadi dalam jangka panjang. Artinya, seseorang dengan kondisi skizofrenia perlu mendapatkan perawatan seumur hidup untuk dapat mengontrol gejala, mencegah komplikasi, serta membantu menjalani aktivitas sehari-harinya.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Data World Health Organization (WHO) menyebut, skizofrenia adalah kondisi mental kronis dan serius yang memengaruhi sekitar 20 juta orang di dunia. Seseorang dengan kondisi ini pun 2-3 kali lebih mungkin meninggal lebih awal daripada populasi umum, karena kondisi medis serius lain yang sering terjadi bersamaan, seperti penyakit jantung atau diabetes.

Adapun penderita penyakit mental ini memengaruhi wanita dan pria sama rata. Namun, dalam banyak kasus, pria merasakan gejala skizofrenia lebih awal dibandingkan wanita.

Jenis-jenis skizofrenia

Ada beberapa jenis atau tipe skizofrenia yang mungkin terjadi pada seseorang. Berikut adalah jenis yang dimaksud:

  • Skizofrenia paranoid

Skizofrenia paranoid merupakan jenis yang paling umum terjadi. Gejala paling khas dari jenis ini adalah delusi dan halusinasi akan suatu ketakutan tertentu (waham paranoid). Tidak hanya itu, penderita kondisi ini pun tidak dapat mengendalikan perilakunya. Akibatnya, pengidap skizofrenia paranoid sering berperilaku tidak pantas, sulit mengendalikan emosi, hasrat, serta keinginannya.

  • Skizofrenia katatonik

Kebalikan dari paranoid, skizofrenia katatonik adalah jenis yang paling langka. Kondisi ini umumnya ditandai dengan gerakan yang tidak biasa, terbatas, dan tiba-tiba. Penderitanya mungkin sering beralih dari sangat aktif ke sangat diam dan sebaliknya. Mereka pun mungkin tidak banyak bicara, tetapi juga sering meniru ucapan atau gerakan lain.

  • Skizofrenia tidak terdiferensiasi

Jenis ini ditandai dengan berbagai gejala dari tipe skizofrenia lainnya. Penderitanya mungkin menjadi tidak banyak bicara atau mengekspresikan diri, tetapi mereka juga bisa menjadi bingung atau paranoid.

  • Schizoaffective disorder

Penderita schizoaffective disorder umumnya mengalami delusi (waham) dan gejala skizofrenia lainnya, tetapi juga disertai dengan satu atau lebih gejala gangguan mood. Ini termasuk depresi serta mania atau hipomania.

Tanda & gejala skizofrenia

Apa saja ciri-ciri dan gejala skizofrenia?

Gejala skizofrenia pada dasarnya bervariasi berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Meski demikian, ada beberapa gejala yang paling khas diantaranya:

  • Halusinasi

Gejala halusinasi ini biasanya ditandai dengan sering mendengar, melihat, mencium, atau merasakan hal-hal yang tidak nyata. Namun, di antara semuanya, mendengar suara yang tidak nyata adalah tanda yang paling sering terjadi.

  • Delusi

Penderita skizofrenia kerap memiliki keyakinan kuat akan suatu hal yang salah, seperti merasa orang lain ingin mencelakakan atau membunuh dirinya. Gejala yang satu ini akan berdampak langsung pada perilaku pengidapnya.

  • Pikiran kacau dan ucapan membingungkan

Orang dengan kondisi ini sering kesulitan untuk mengatur pikiran mereka. Mereka mungkin tidak memahami apa yang Anda bicarakan saat Anda mengajaknya berbicara. Tidak hanya itu, ketika mereka berbicara, mereka sering mengeluarkan ucapan yang tidak masuk akal dan terdengar membingungkan.

  • Masalah kognitif

Ini termasuk masalah dalam perhatian, konsentrasi, dan memori. Penderita skizofrenia umumnya mengalami gejala berupa sulit fokus dan konsentrasi serta tidak dapat memproses informasi untuk membuat keputusan dengan baik.

  • Gerakan yang tidak teratur

Beberapa orang dengan kondisi ini sering nampak gelisah atau melakukan hal-hal yang konyol seperti anak kecil. Mereka juga sering kali melakukan gerakan yang sama berulang kali atau berlebihan.

Selain itu, gejala, tanda-tanda, atau ciri-ciri skizofrenia lainnya juga dapat meliputi:

  • Kurangnya minat pada hal-hal yang dulunya sangat disukai.
  • Tidak peduli terhadap kebersihan dan penampilan diri.
  • Penarikan diri dari lingkungan sosial, seperti teman dan keluarga.
  • Susah tidur atau pola tidur yang berubah.
  • Sangat sensitif dan memiliki perubahan suasana hati atau mood yang tertekan.
  • Tidak responsif terhadap lingkungan sekitar
  • Kurang motivasi dalam menjalani hidup, termasuk untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Kesulitan untuk mengekspresikan dan memperlihatkan emosi.
  • Ketakutan akan tempat umum yang ramai.
  • Paranoid, seperti kecemasan berlebihan, percaya dirinya mempunyai kemampuan khusus atau mengidap penyakit tertentu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya.

Gejala di atas terkadang sulit dikenali karena biasanya umum terjadi pada remaja. Akibatnya, banyak orang menganggap jika gejala tersebut adalah hal yang lumrah sebagai fase remaja.

Pada pria, gejala penyakit ini biasanya dimulai pada awal pubertas hingga pertengahan usia 20. Sementara pada wanita, gejala biasanya dimulai pada akhir usia 20-an. Adapun anak-anak dan lansia di atas 45 tahun jarang memiliki kondisi ini.

Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala yang tidak disertakan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala tertentu, segera konsultasikanlah ke dokter Anda.

Kapan harus periksa ke dokter?

Dalam banyak kasus, orang dengan kondisi ini biasanya tidak menyadari jika mereka memiliki skizofrenia dan membutuhkan pengobatan. Oleh sebab itu, jika Anda mencurigai seseorang di sekitar Anda menunjukkan gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, segera ajak orang tersebut ke dokter.

Pasien mungkin akan berontak dan mencoba untuk lari. Jadi Anda harus berdiskusi dengan pihak rumah sakit atau ahli jiwa untuk mengusahakan upaya pengobatan yang aman bagi pasien.

Penyebab skizofrenia

Sampai saat ini, para ahli belum mengetahui apa yang menyebabkan seseorang mengalami skizofrenia. Meski demikian, para peneliti percaya bahwa ada beberapa hal yang dapat memicu penyakit ini. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab penyakit skizofrenia adalah:

  • Masalah dengan keseimbangan kimia di otak

Kadar dopamine dan glutamat di dalam otak yang tidak seimbang diyakini para ahli bisa menyebabkan penyakit ini.

  • Perbedaan struktur otak

Studi pemindai saraf otak menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan sistem saraf pusat orang dengan penyakit ini. Para peneliti tidak yakin mengapa hal tersebut bisa terjadi, tetapi mereka menyebutkan bahwa gangguan kejiwaan ini terkait dengan penyakit otak.

  • Genetik

Faktor genetik atau keturunan bisa menjadi penyebab skizofrenia. Jadi, jika salah satu keluarga inti Anda terkena penyakit ini, Anda berisiko tinggi mengalami hal yang serupa.

  • Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang mungkin menjadi penyebab termasuk infeksi virus dan kekurangan beberapa nutrisi ketika masih dalam kandungan, atau berada di lingkungan yang penuh tekanan dan mengakibatkan stres.

  • Obat-obatan tertentu

Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti narkotika disebut dapat menjadi penyebab skizofrenia.

Faktor risiko skizofrenia

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Berikut adalah faktor risiko skizofrenia yang dimaksud:

  • Terdapat keluarga dengan riwayat schizophrenia.
  • Infeksi virus, keracunan, dan kekurangan gizi saat masih di dalam kandungan khususnya pada usia kandungan 6 bulan pertama.
  • Konsumsi obat-obatan yang mengubah pikiran (psikoaktif atau psikotropika) selama masa remaja dan dewasa muda.
  • Penderita penyakit autoimun.

Diagnosis & pengobatan skizofrenia

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes untuk mendiagnosis penyakit skizofrenia?

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan menanyakan riwayat medis serta melakukan beberapa tes guna memastikan bahwa gejala yang muncul bukan karena penyalahgunaan zat atau kondisi medis lainnya.

Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan dokter untuk mendiagnosis skizofrenia adalah:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu memastikan ada tidaknya masalah lain yang dapat menyebabkan gejala.
  • Pemeriksaan darah lengkap. Tes ini juga dilakukan untuk mengenyampingkan kondisi medis lain yang mungkin jadi sumber gejala.
  • Tes pencitraan, seperti MRI atau CT scan, untuk melihat ada tidaknya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat pasien.
  • Evaluasi kejiwaan. Dokter atau ahli kesehatan mental akan memeriksa status mental pasien dengan mengamati penampilan, pikiran, suasana hati, serta diskusi tentang keluarga atau pengalaman pribadi pasien.

Bagaimana cara mengobati penyakit skizofrenia?

Skizofrenia adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, gejala penyakit ini dapat ditangani dengan berbagai pengobatan, sehingga penderitanya dapat lebih mudah untuk menjalani aktivitas.

Orang dengan kondisi ini bisanya dirawat oleh seorang psikiater dan psikolog berpengalaman. Dalam banyak kasus, perawatan di rumah sakit jiwa diperlukan agar kebersihan, nutrisi, serta keamanan pasien terjamin. Secara umum, beberapa pilihan pengobatan untuk penyakit skizofrenia adalah:

Konsumsi obat skizofrenia

Obat-obatan memegang peranan penting untuk membantu mengendalikan gejala penyakit ini. Adapun obat skizofrenia yang biasa diresepkan adalah antipsikotik, yang bekerja dengan memengaruhi dopamin di dalam otak, sehingga dapat membantu meringankan gejala.

Penggunaan obat skizofrenia dapat digunakan lewat oral atau suntikan. Jika gejala tergolong ringan, dokter akan memberikan obat oral. Namun, jika pasien mengembangkan gejala parah sehingga sulit untuk diatur, dokter akan memberikan obat melalui injeksi atau suntikan.

Secara umum, antipsikotik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antipsikotik generasi pertama dan generasi kedua. Antipsikotik generasi kedua umumnya lebih sering diresepkan dokter karena memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripadai antipsikotik generasi pertama. Obat skizofrenia antipsikotik generasi kedua meliputi:

  • Aripiprazole (Abilify)
  • Asenapine (Saphris)
  • Brexpiprazole (Rexulti)
  • Cariprazine (Vraylar)
  • Clozapine (Clozaril)
  • Iloperidone (Fanapt)
  • Lurasidone (Latuda)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Paliperidone (Invega)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Ziprasidone (Geodon)

Adapun obat antipsikotik generasi pertama memiliki efek samping yang memengaruhi saraf (neurologis), seperti kejang otot, kedutan, dan gemetar. Meski demikan, obat generasi pertama cenderung lebih murah. Beberapa obat skizofrenia antipsikotik generasi pertama meliputi:

Dokter Anda juga mungkin akan meresepkan obat lain, seperti antidepresan atau obat antikecemasan. Selalu konsultasi ke dokter tentang manfaat dan efek samping dari obat apapun yang diresepkan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Pengobatan psikososial

Setelah diberikan obat-obatan, penderita skizofrenia umumnya membutuhkan pengobatan atau terapi psikologis dan sosial (psikososial). Jenis pengobatan ini dapat membantu penderita schizophrenia untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja, sekolah, melakukan kegiatan sosial, hingga menjalin hubungan.

Bentuk dari pengobatan psikososial bisa beragam. Diantaranya terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) untuk membantu menemukan pola pikir yang lebih realistis, pelatihan keterampilan perilaku, terapi individu, pelatihan keterampilan sosial, terapi keluarga, serta rehabilitasi untuk mendukung pekerjaan.

Pengobatan skizofrenia di rumah

Apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi penyakit skizofrenia?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin dapat membantu Anda mengatasi penyakit skizofrenia adalah:

  • Minum obat secara teratur sesuai resep, termasuk tidak mengganti obat tanpa sepengetahuan dokter.
  • Saat halusinasi muncul, cobalah untuk mengabaikan halusinasi itu dengan memfokuskan diri Anda pada hal lain, seperti membaca buku, mendengarkan musik, berdoa, atau berbicara dengan teman.
  • Ikut berpartisipasi dalam program atau aktivitas yang dianjurkan. Pertimbangkan untuk ikut dalam support group pekerja sosial.
  • Hindari mengonsumsi alkohol karena dapat menghambat efek obat skizofrenia.
  • Jangan biarkan anggota keluarga yang mengidap penyakit ini merasa tertekan. Stres, kurang tidur, pola makan yang tidak seimbang, dan kafein dapat menyebabkan gejala kambuh.
  • Hubungi dokter apabila Anda atau keluarga Anda mendengar suara, merasa paranoid atau memiliki pikiran-pikiran yang aneh.
  • Segera konsultasi dokter apabila Anda atau anggota keluarga Anda kurang tidur, terlihat depresi, atau mempunyai perasaan ingin bunuh diri.

Tips merawat orang dengan penyakit skizofrenia di rumah

Hidup serumah dengan orang yang memiliki penyakit ini memang bukan hal yang mudah. Anda membutuhkan sejumlah strategi untuk membimbing dan menghadapi pasien agar mempercepat proses pemulihannya. Tips atau panduan merawat pengidap skizofrenia adalah:

1. Pelajari penyakitnya sebaik mungkin

Belajar tentang penyebab, faktor pemicu, gejala, hingga pengobatannya akan membantu Anda dalam membuat keputusan bagaimana cara terbaik merawat pasien.

2. Konsultasi ke psikiater atau lembaga bantuan lokal

Supaya dapat memberikan dukungan dan perawatan yang baik kepada pasien, Anda membutuhkan bantuan dari pihak luar. Itu sebabnya, jangan ragu untuk meminta bantuan dengan ahli kejiwaan, psikiater, atau komunitas terkait penyakit ini.

3. Pandu pasien untuk mendapatkan perawatan medis

Dalam banyak kasus, orang yang memiliki penyakit ini sering diasingkan atau bahkan dipasung karena sering dianggap berbahaya. Ingat, seseorang dengan penyakit ini sering tidak menyadari bahwa mereka tidak sehat, sampai mereka mendapatkan perawatan. Oleh karena itu, memotivasinya untuk mendapatkan bantuan medis guna mengelola gejala adalah landasan perawatan yang tepat.

4. Selalu dampingi pasien

Meski pasien sudah keluar dari rawat inap, mereka juga butuh didampingi agar teta berada di jalur pemulihan yang benar. Dorongan dan dukungan Anda serta orang-orang di sekitarnya adalah hal yang penting baginya untuk melanjutkan terapi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Schizophrenia – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443.

NIMH » Schizophrenia. Nimh.nih.gov. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia/index.shtm.

What Is Schizophrenia?. Psychiatry.org. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.psychiatry.org/patients-families/schizophrenia/what-is-schizophrenia.

Schizophrenia. nhs.uk. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/schizophrenia/.

What Are the 4 Types of Schizophrenia and How Do They Affect You?. Health Essentials from Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://health.clevelandclinic.org/what-are-the-4-types-of-schizophrenia-and-how-can-they-affect-you/.

Psychosis. nhs.uk. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/psychosis/.

Schizophrenia. Who.int. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/schizophrenia.

Types of schizophrenia – Mental Health UK. Mental Health UK. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://mentalhealth-uk.org/help-and-information/conditions/schizophrenia/types-of-schizophrenia/.

Helping Someone with Schizophrenia – HelpGuide.org. Helpguide.org. (2021). Retrieved 19 January 2021, from https://www.helpguide.org/articles/mental-disorders/helping-someone-with-schizophrenia.htm.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui 12/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x