home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kolik Ginjal

Kolik Ginjal

Kondisi batu ginjal (nefrolitiasis) biasanya akan menimbulkan gejala, salah satunya kolik ginjal. Kolik ginjal akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri pada bagian tubuh tertentu. Lantas, bagaimana cara pengobatan untuk gangguan ini?

Apa itu kolik ginjal?

Kolik ginjal adalah kondisi timbulnya rasa sakit dan nyeri hebat yang seseorang rasakan saat batu atau endapan menghalangi saluran kemih. Kondisi ini juga dikenal dengan sebutan kolik renal.

Sesuai namanya, kolik ginjal berkaitan dengan batu ginjal (nefrolitiasis) yang menjadi gejala yang dikeluhkan penderitanya. Batu atau endapan tersebut bisa timbul sepanjang sistem kemih termasuk pada ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra.

Batu ginjal bisa terbentuk dari mineral, seperti kalsium, oksalat, dan asam urat, yang bercampur dalam urine sehingga membentuk sebuah kristal keras dalam sistem kemih.

Ukuran batu tersebut beragam, mulai dari yang kecil mirip butiran pasir hingga yang lebih besar sehingga bisa menyebabkan penyumbatan saluran kemih. Jika saluran ini tersumbat, maka akan timbul kondisi yang dikenal sebagai kolik ginjal.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Batu yang menutupi bagian dalam saluran kemih akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri yang hebat. Berdasarkan sebuah studi dalam British Medical Journal, sekitar 12% pria dan 6% wanita dapat mengalami kondisi ini pada organ ginjal mereka.

Persentase tersebut mungkin meningkat karena perubahan pola makan dan gaya hidup tidak sehat.

Tanda dan gejala kolik ginjal

Batu ginjal yang berukuran kecil umumnya tidak akan menimbulkan masalah. Lain halnya dengan yang berukuran besar, potensi terjadinya sumbatan akan muncul.

Kolik ginjal terbentuk saat batu menyumbat saluran kemih, yang seringkali terjadi pada ureter atau saluran penghubung ginjal dan kandung kemih. Adapun tanda dan gejala yang berkaitan dengan kondisi kolik ginjal, antara lain:

  • nyeri hebat di sepanjang sisi tubuh, dari tulang rusuk, pinggul, dan perut bagian bawah,
  • rasa sakit menyebar ke punggung dan selangkangan, serta
  • mual dan muntah.

Selain itu, beberapa gejala lain yang juga berkaitan dengan kondisi batu ginjal, termasuk:

  • rasa sakit dan sensasi terbakar saat buang air kecil,
  • kencing berdarah berwarna merah muda, merah, atau kecokelatan,
  • urine keruh dan berbau busuk, dan
  • demam dan menggigil apabila terjadi infeksi.

Lokasi timbulnya rasa sakit akibat kolik ginjal dapat berubah karena batu yang bergerak melalui saluran kemih. Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke dokter Anda.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda atau gejala kolik ginjal di atas, sebaiknya segera konsultasikanlah ke dokter. Terlebih apabila rasa sakit dan nyeri parah sehingga Anda tidak bisa duduk diam atau menemukan posisi nyaman.

Kondisi tubuh Anda berbeda satu sama lain. Selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Penyebab dan faktor risiko kolik ginjal

Kolik ginjal merupakan salah satu gejala batu ginjal atau batu saluran kemih, sehingga penyebab dan faktor risiko dari kondisi ini berkaitan dengan gangguan urologi tersebut.

Apa saja penyebab kolik ginjal?

Batu ginjal dapat terbentuk ketika cairan urine mengandung lebih banyak zat pembentuk kristal, seperti kalsium, oksalat, dan asam urat. Zat-zat ini akan membentuk endapan dan menyumbat saluran kemih, sehingga menimbulkan kondisi kolik ginjal.

Dengan mengetahui jenis batu ginjal dapat membantu Anda menentukan penyebab kolik ginjal, sekaligus menurunkan risiko memilikinya lebih banyak. Adapun beberapa jenis batu ginjal seperti di bawah ini.

  • Kalsium oksalat. Jenis batu ginjal paling umum yang terbentuk saat mineral kalsium bergabung dengan oksalat dalam urine. Asupan nutrisi kalsium berlebih bersamaan dengan cairan tubuh yang tidak memadai dan kondisi lain, dapat memicu pembentukannya.
  • Asam urat. Jenis batu ginjal paling umum lainnya akibat konsumsi makanan dengan kandungan senyawa purin berlebih, seperti jeroan dan kerang. Asupan purin tinggi memicu produksi monosodium urate yang dapat membentuk kristal di ginjal. Pembentukan jenis batu ini juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik.
  • Struvite. Jenis batu ginjal ini terbentuk sebagai respon terhadap infeksi saluran kemih (ISK) bagian atas. Batu ini mampu tumbuh besar dengan cepat dan hanya menimbulkan sedikit gejala sebelum kondisinya cukup parah.
  • Sistin. Jenis batu ginjal yang jarang terjadi dan terbentuk pada orang dengan kelainan sistinuria, yakni kondisi ginjal yang mengeluarkan terlalu banyak asam amino tertentu dalam urine.

Faktor apa saja yang meningkatkan risiko kondisi ini?

Terdapat beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko Anda memiliki batu ginjal seperti di bawah ini.

  • Riwayat pribadi atau anggota keluarga yang menderita penyakit batu ginjal.
  • Menjalani diet tertentu, seperti makan makanan yang tinggi protein, natrium, dan gula.
  • Kelebihan berat badan hingga obesitas.
  • Dehidrasi dan tidak minum cukup air setiap hari.
  • Penggunaan suplemen dan obat-obatan tertentu, seperti obat diuretik, antasida, pencahar, vitamin C, atau suplemen makanan.
  • Pernah melakukan prosedur bedah terkait pencernaan, seperti operasi gastric bypass.
  • Memiliki riwayat penyakit pencernaan, antara lain radang usus atau diare kronis.
  • Menderita kondisi medis lain, termasuk asidosis tubulus ginjal, sistinuria, hiperparatiroidisme, dan infeksi kandung kemih berulang.

Diagnosis dan pengobatan kolik ginjal

Diagnosis pada kolik ginjal akan membantu dokter dalam menentukan tingkat keparahan dan metode pengobatan yang tepat dalam menangani kondisi ini.

Apa saja pemeriksaan untuk mendeteksi kondisi ini?

Kolik ginjal umumnya menjadi pertanda adanya batu atau kristal pada saluran kemih, sehingga dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan dalam melakukan diagnosis. Sejumlah tes yang mungkin Anda lakukan seperti berikut ini.

  • Tes darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar kalsium atau asam urat dalam aliran darah.
  • Tes urine. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah cairan urine mengeluarkan terlalu banyak mineral atau tidak.
  • Tes pencitraan. Pemeriksaan dapat melalui ultrasound (USG) yang lebih cepat mendeteksi batu ginjal atau melalui prosedur CT-scan untuk mengetahui lebih detail ukuran dan letak batu.

Apa saja pilihan pengobatan untuk kolik ginjal?

Kolik ginjal yang menimbulkan rasa sakit dan nyeri hebat umumnya terjadi akibat penyumbatan batu yang berukuran besar. Batu ini harus segera diangkat agar tidak menimbulkan komplikasi, seperti infeksi saluran kemih atau kerusakan ginjal.

Dokter spesialis urologi umumnya akan merekomendasikan prosedur pembedahan, termasuk terapi ESWL, ureteroskopi, dan nefrolitotomi perkutan. Konsumsi obat-obatan juga bisa membantu meredakan nyeri kolik ginjal dalam jangka pendek.

Terapi ESWL

Terapi ESWL atau extracorporeal shock wave lithotripsy yaitu pilihan pengobatan batu ginjal dengan menggunakan gelombang kejut untuk menghancurkan batu dan membuangnya lewat saluran kencing bersama urine.

Tidak semua orang bisa melakukan metode pengobatan ini. Terlebih, terapi ESWL umumnya hanya efektif untuk memecahkan batu ginjal berukuran maksimal 2 centimeter (cm). Jika lebih dari itu, dokter akan menyarankan pengobatan lainnya.

Ureteroskopi

Ureteroskopi yaitu metode pengobatan kolik renal dan batu ginjal yang melibatkan alat bernama ureteroskop (ureteroscope) yang akan dokter masukkan melalui uretra dan kandung kemih hingga menuju ke ureter.

Saat batu yang memicu sumbatan ditemukan, dokter akan memecah batu menjadi bagian kecil yang akan keluar bersama urine. Dokter juga akan menempatkan tabung kecil (stent) untuk meredakan pembengkakan dan mempercepat penyembuhan.

Nefrolitotomi perkutan

Nefrolitotomi perkutan atau percutaneous nephrolithotomy yaitu prosedur operasi untuk mengangkat batu ginjal dengan bantuan teleskop dan instrumen kecil tertentu yang akan dokter masukkan melalui sayatan kecil di punggung.

Prosedur ini umumnya merupakan alternatif apabila terapi ESWL tidak berhasil. Pasien akan menerima anestesi umum yang menyebabkan tertidur selama prosedur berlangsung.

Obat-obatan

Dokter Anda juga bisa memberikan obat-obatan suportif tertentu untuk membantu meredakan nyeri kolik renal di bawah ini.

  • Non-steroid anti-inflamasi (NSAID), seperti ibuprofen dan ketorolac.
  • Analgesik non-opioid, seperti paracetamol.
  • Analgesik opioid, seperti, codeine, morphine sulfate, oxycodone, dan hydrocodone.
  • Penghambat alfa (alpha-blocker), seperti tamsulosin dan terazosin.
  • Antiemetik, seperti metoclopramide dan ondansentron.
  • Antibiotik, seperti ampicillin, ciprofloxacin, levofloxacin, dan ofloxacin.

Pengobatan di rumah untuk kolik ginjal

Selain melakukan pengobatan di rumah sakit, Anda juga perlu melakukan perawatan lanjutan di rumah untuk menangani masalah ini. Beberapa hal yang umumnya dokter rekomendasikan antara lain sebagai berikut.

  • Minum obat resep sesuai anjuran dokter.
  • Mengikuti saran dokter terkait pola makan dan gaya hidup sehat.
  • Minum air putih secara rutin, setidaknya 2 – 3 liter dalam satu hari.
  • Hubungi dokter apabila kondisi kolik ginjal Anda semakin memburuk.

Pencegahan kolik ginjal

Pengobatan kolik ginjal efektif untuk mengeluarkan batu ginjal dan meredakan rasa sakit dan nyeri hebat yang Anda rasakan. Namun, batu ginjal mungkin bisa muncul lagi pada sebagian orang meski sudah menjalani prosedur operasi.

Adapun sejumlah langkah pencegahan dan perubahan gaya hidup yang dapat mengurangi risiko Anda memiliki batu ginjal seperti berikut ini.

  • Pastikan rutin minum air putih sepanjang hari, minimal 8 – 10 gelas sehari.
  • Kurangi konsumsi minuman bersoda, terutama yang mengandung asam fosfat.
  • Pilih asupan makanan rendah garam dan batasi protein hewani, seperti daging merah, ikan, dan telur
  • Batasi mengonsumsi makanan yang tinggi oksalat, seperti bayam, buah bit, ubi jalar, kacang-kacangan, teh, dan cokelat.
  • Berhati-hati dalam menggunakan suplemen kalsium, lebih baik memilih asupan kalsium dalam makanan tidak berpengaruh pada risiko batu ginjal.
  • Menjaga berat badan agar ideal dengan mengatur pola makan dan berolahraga rutin.

Jika memiliki pertanyaan atau keluhan lain, sebaiknya konsultasi ke dokter spesialis urologi untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai kondisi Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Nephrolithiasis: Practice Essentials, Background, Anatomy. Medscape. (2020). Retrieved 21 July 2021, from https://emedicine.medscape.com/article/437096-overview

Kidney Stones. National Kidney Foundation. (2020). Retrieved 21 July 2021, from https://www.kidney.org/atoz/content/kidneystones 

Kidney stones – Symptoms and causes. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 21 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kidney-stones/symptoms-causes/syc-20355755

Kidney stones – Diagnosis and treatment. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 21 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kidney-stones/diagnosis-treatment/drc-20355759

Patti L, Leslie SW. (2021). Acute Renal Colic. StatPearls Publishing. Retrieved 21 July 2021, from  https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK431091/ 

Bultitude, M., & Rees, J. (2012). Management of renal colic. BMJ, 345(aug29 1), e5499-e5499. https://doi.org/10.1136/bmj.e5499

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 28/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x