Waspada, Gangguan Irama Jantung Dapat Membuat Anda Terkena Stroke

Oleh

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 yang dilakukan Departemen Kesehatan RI, penyebab utama kematian di Indonesia adalah stroke yaitu sekitar 15,4%. Stroke lebih banyak diderita oleh laki-laki, dan rata-rata pasien berumur 35-64 tahun. Kejadian penyakit stroke sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, misalnya diabetes melitus, hipertensi, pola hidup yang tidak sehat, dan salah satunya faktor risiko tertinggi adalah gangguan irama jantung misalnya fibrilasi atrium.

2,4 juta orang di Amerika Serikat menderita gangguan irama jantung berupa fibrilasi atrium dan jumlah kasusnya meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi ini banyak ditemukan pada usia di atas 60 tahun. Kondisi serupa juga ditemukan di Indonesia, walaupun angka kejadiannya beragam dari tiap daerah. Fibrilasi atrium adalah keadaan atrium (salah satu bagian jantung) yang tidak dapat memompa sempurna dan hanya bisa bergetar saja dan tidak terkoordinasi. Banyak penelitian menyatakan bahwa fibrilasi atrium merupakan faktor risiko utama stroke pada pasien usia tua. 

Jenis stroke apa yang disebabkan gangguan irama jantung?

Penyebab terjadinya stroke penyumbatan antara lain penurunan aliran darah ke otak, trombosis (kerak di dinding pembuluh darah otak), dan emboli serebral yang berasal organ lain. Emboli itu diibaratkan sebuah sampah yang terbawa aliran darah sampai ke otak, kemudian menyumbat pembuluh darah. Jadi, asal emboli bukan berasal dari otak, berbeda dengan trombosis. Sedangkan penyebab stroke perdarahan biasanya kelainan bawaan bentuk pembuluh darah otak (AVM). Namun, yang tersering adalah hipertensi. Tekanan yang tinggi dapat membuat pembuluh darah di otak pecah sehingga menimbulkan stroke perdarahan.

Gangguan irama jantung, atau fibrilasi atrium, lebih erat kaitannya dengan stroke penyumbatan dibandingkan dengan stroke perdarahan.

Apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan irama jantung (fibrilasi atrium)?

Fibrilasi atrium (FA) merupakan bentuk gangguan irama jantung yang sering terjadi dan jarang disadari karena gejalanya yang tidak terlalu berat. Penyebab fibrilasi atrium beragam dan dapat dibagi berdasarkan kondisi-kondisi yang berhubungan dengan kejadian fibrilasi atrium antara lain:

Penyakit jantung yang berhubungan dengan fibrilasi atrium (FA):

Penyakit di luar jantung yang berhubungan dengan fibrilasi atrium:

Mengapa fibrilasi atrium dapat menyebabkan stroke?

Seperti yang sudah disebutkan di atas, fibrilasi atrium lebih berperan pada stroke penyumbatan dibandingkan stroke perdarahan. Hal ini berkaitan dengan pembentukan emboli. Pembentukan emboli yang akan menyumbat pembuluh darah di otak dapat bersumber dari jantung sendiri atau berasal dari luar jantung, tetapi pada perjalanannya melalui jantung, misalnya sel tumor, udara dan lemak pada trauma, parasit dan telurnya. Namun yang sering terjadi adalah emboli dari bekuan darah (clots) karena penyakit jantung, terutama fibrilasi atrium.

Pembentukan emboli dari jantung belum sepenuhnya diketahui, tetapi ada beberapa faktor mengapa fibrilasi atrium dapat melakukan proses pembentukan emboli, yaitu:

  • Listrik yang timbul pada pasien fibrilasi atrium terjadi sangat cepat dan tidak teratur
  • Aktivitas atrium kiri menjadi tidak teratur dan menyebabkan aliran statis pada daerah tersebut. Artinya daerah tersebut mengalami “macet” aliran darah
  • Aliran statis tersebut merupakan salah satu penyebab terbentuknya bekuan di jantung
  • Bekuan jantung dapat terlepas menjadi emboli karena dirangsang kerja atrium yang cepat dan tidak teratur, kemudian terbawa aliran darah, menyumbat pembluh darah di otak yang lebih kecil dan menyebabkan terjadinya stroke

Sumber bekuan pada fibrilasi atrium adalah pada atrium kiri, dan dianggap merupakan faktor risiko yang penting dalam terjadinya kardioemboli (emboli yang berasal dari jantung). Beberapa penelitian membuktikan ada hubungan timbal balik antara fibrilasi atrium dengan stroke. Seperti yang dilakukan Puspaningtyas dan Kustiowati pada tahun 2008. Mereka menyatakan risiko menderita fibrilasi atrium hampir 3 kali lebih berisiko pada pasien stroke iskemik. Sedangkan sebuah penelitian lain menyebutkan pasien dengan fibrilasi atrium mempunyai kemungkinan 8,5 kali untuk mengalami stroke iskemik dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita fibrilasi atrium.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan sebuah “bad relationship” dapat terjadi di tubuh kita. Bahwa 1 penyakit dapat menyebabkan penyakit lainnya. Ada koneksi yang kuat antara 1 organ dengan organ lain di tubuh kita. Oleh sebab itu, yuk kita jaga kesehatan tubuh dengan pola hidup yang sehat, agar kita terhindar dari. penyakit-penyakit di atas.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca