Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Penyakit katup jantung merupakan kelainan yang terjadi pada satu atau lebih dari katup jantung Anda. Penyakit ini dapat terjadi karena kondisi medis lain, seperti hipertensi, gagal jantung, demam rematik, atau infeksi jantung akibat bakteri (endokarditis). Tidak hanya kondisi tersebut, kelainan katup jantung ini juga bisa terjadi karena faktor bawaan, yang bisa mulai ditemukan pada bayi sebelum atau sesudah dilahirkan. Lantas, apa penyebab penyakit katup jantung bawaan ini dan bagaimana mengatasinya?

Apa itu kelainan katup jantung bawaan?

Jantung memiliki empat katup yang bekerja dengan menutup dan membuka ketika jantung berdetak. Keempat katup jantung tersebut, yaitu katup mitral, trikuspid, pulmonal, dan aorta.

Katup-katup jantung ini memastikan darah mengalir ke arah yang benar melalui empat ruang jantung dan seluruh tubuh Anda. Bila katup mengalami gangguan, darah dapat mengalir kembali masuk ke jantung atau sulit keluar dari jantung.

Pada kondisi ini, jantung perlu bekerja lebih keras untuk memompa kembali darah tersebut. Organ-organ tubuh lainnya pun berisiko mengalami kekurangan nutrisi atau oksigen yang dibawa oleh darah. Seiring waktu, kondisi ini bisa menyebabkan masalah serius lainnya, seperti dilatasi kardiomiopati, gagal jantung, atau aneurisma aorta.

Pada kelainan katup jantung bawaan, gangguan tersebut dapat terjadi sejak bayi dilahirkan. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh struktur jantung yang tidak berkembang sempurna ketika bayi masih di dalam kandungan.

Penyakit katup jantung bawaan ini dapat terjadi sendiri atau bersamaan dengan cacat jantung bawaan lainnya. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menyebut, pada kondisi yang parah, katup tersebut perlu diperbaiki atau diganti ketika masih bayi, masih kanak-kanak, atau sebelum kelahiran. Namun, beberapa kasus lainnya mungkin tidak menimbulkan masalah hingga dewasa.

Jenis kelainan katup jantung bawaan yang sering terjadi

jantung

Penyakit katup jantung sejak lahir ini merupakan salah satu penyakit jantung bawaan yang umum terjadi. Kelainan katup bawaan ini paling sering memengaruhi katup aorta dan pulmonal di jantung. Ada beberapa jenis penyakit katup bawaan yang sering terjadi, yaitu:

1. Stenosis katup aorta

Katup aorta merupakan katup yang memisahkan ventrikel kiri dan pembuluh darah arteri besar (aorta). Pada kondisi normal, katup aorta memiliki tiga selebaran jaringan yang memudahkan darah melewati katup tersebut.

Pada stenosis aorta, katup aorta tidak memiliki bentuk yang sempurna. Pada kondisi ini, katup aorta bisa hanya memiliki satu selebaran jaringan atau dua selebaran jaringan yang tebal dan kaku. Selebaran-selebaran tersebut pun mungkin bisa saling menempel.

Selebaran jaringan yang menebal dan menyempit ini menyebabkan katup tidak bisa terbuka lebar. Pada kondisi ini, darah menjadi sulit untuk mengalir keluar dari ventrikel kiri menuju aorta serta organ tubuh lainnya.

2. Stenosis pulmonal

Katup pulmonal merupakan katup yang memisahkan ventrikel kanan dan arteri pulmonalis yang menuju paru-paru. Sama seperti stenosis aorta, stenosis katup pulmonal terjadi ketika katup menebal dan menyempit, sehingga darah sulit untuk keluar dari jantung menuju arteri pulmonal dan paru-paru.

Pada kondisi ini, jantung perlu bekerja lebih keras dalam memompa darah, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada otot jantung.

3. Atresia pulmonal

Selain kedua kondisi tersebut, atresia pulmonal juga umum terjadi pada bayi dengan kelainan jantung bawaan. Pada kondisi ini, katup pulmonal tidak terbentuk dan hanya terdapat selebaran jaringan yang berbentuk padat.

Pada kondisi ini, darah tidak bisa melewati jalur yang normal untuk mengambil oksigen dari paru-paru. Darah akan melalui saluran lainnya di dalam jantung dan pembuluh darah arteri.

Apa penyebab dan faktor risiko kelainan katup jantung bawaan?

Penyakit katup jantung bawaan umumnya tidak memiliki penyebab yang pasti. Kondisi ini bisa terjadi karena katup yang tidak berkembang dengan baik dan sempurna saat janin masih di dalam kandungan.

Namun, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko bayi memiliki penyakit jantung bawaan, seperti genetik (keturunan) dengan penyakit jantung bawaan, ibu yang selama kehamilan mengonsumsi obat tertentu, ibu yang memiliki diabetes, ibu yang merokok dan mengonsumsi alkohol selama kehamilan, atau ibu yang mengalami infeksi tertentu selama kehamilan, seperti rubella.

Apa gejala kelainan katup jantung bawaan?

Bayi yang memiliki penyakit katup jantung bawaan mungkin tidak merasakan gejala tertentu. Umumnya, gejala bisa dirasakan ketika sudah memasuki usia anak-anak yang lebih tua atau dewasa, bila penyakitnya sudah berkembang. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin timbul, yaitu:

  • Nyeri dada.
  • Pusing.
  • Pingsan.
  • Mudah lelah saat beraktivitas.
  • Sesak napas.
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Suara berdesing pada jantung atau murmur jantung.
  • Kulit berwarna kebiruan atau sianosis, terutama pada bayi dengan atresia pulmonal.

Bagaimana mendiagnosis kelainan katup jantung bawaan?

Beberapa penyakit jantung bawaan, termasuk katup jantung, dapat dideteksi saat janin masih di dalam kandungan. Pada kondisi ini, umumnya dokter akan melakukan fetal ekokardiografi untuk memeriksa fungsi jantung bayi sejak di dalam kandungan.

Ketika bayi dilahirkan, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes untuk mendiagnosis kelainan jantung bawaan ini. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan stetoskop untuk mendeteksi apakah terdapat suara berdesing dari dalam jantung (murmur jantung),yang merupakan salah satu tanda dari penyakit katup jantung.

Selain itu, beberapa tes lainnya yang mungkin dilakukan untuk mendeteksi kelainan katup jantung bawaan, yaitu:

  • Ekokardiografi
  • Elektrokardiografi (EKG)
  • Rontgen dada
  • Kateterisasi jantung
  • MRI jantung
  • CT scan

Bagaimana mengobati penyakit katup jantung bawaan?

Beberapa penyakit jantung bawaan, termasuk katup jantung, mungkin tidak memerlukan pengobatan medis. Namun, pengobatan medis bisa saja diberikan pada kelainan katup jantung bawaan, tergantung pada kondisi setiap penderitanya, termasuk pada bayi.

Beberapa pengobatan yang mungkin diberikan pada penyakit jantung bawaan ini, yaitu:

  • Balloon valvuloplasti, yaitu kateter dengan balon kecil di ujungnya, yang dimasukkan melalui pembuluh darah dari pangkal paha ke katup aorta. Balon tersebut akan dipompa untuk meregangkan katup sehingga aliran darah dapat lewat dengan mudah.
  • Obat-obatan, terutama pada jenis atresia pulmonal. Obat juga bisa diberikan bila kelainan jantung bawaan ini ditemukan pada usia paruh baya. Obat yang mungkin diberikan, seperti obat antihipertensi.
  • Operasi perbaikan atau penggantian katup jantung. Operasi ini bisa mencegah kerusakan yang lebih parah pada jantung bayi.

Setiap penderita kelainan jantung bawaan, termasuk katup jantung, memiliki kondisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai pemilihan pengobatan yang tepat, termasuk pada bayi Anda.

Meski pengobatan sudah dilakukan, penting juga untuk selalu kontrol ke dokter mengenai perkembangan kesehatan. Apalagi, kondisi penyakit bawaan ini tidak dapat disembuhkan dan penderitanya mungkin perlu perawatan medis seumur hidup.

Orang dengan kelainan katup jantung bawaan juga perlu menerapkan gaya hidup sehat untuk kesehatan jantung. Beberapa diantaranya pola makan sehat, menjaga berat badan, mengelola stres, serta melakukan aktivitas fisik sesuai rekomendasi dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Obat Herbal untuk Penyakit Jantung Koroner, Aman atau Tidak?

Obat herbal untuk jantung koroner harus dilakukan dengan hati-hati. Apa saja obat herbal untuk penderita jantung koroner dan cara aman mengonsumsinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Koroner 22/06/2020 . Waktu baca 6 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Cara Memilih Makanan untuk Penderita Jantung Koroner

Menerapkan pola makan sehat merupakan cara untuk mengatasi penyakit jantung koroner. Apa saja makanan sehat untuk penderita jantung koroner?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Koroner 17/06/2020 . Waktu baca 8 menit

8 Langkah Pencegahan Penyakit Jantung Koroner

Ada berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penyakit jantung koroner. Apa saja upaya pencegahan jantung koroner yang bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Koroner 16/06/2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 5 menit
endokarditis adalah

Endokarditis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . Waktu baca 11 menit
apakah aritmia jantung bisa sembuh

Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . Waktu baca 5 menit