Demensia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu demensia?

Demensia adalah sekumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan fungsi kognitif otak dalam mengingat (memori), berpikir, bertingkah laku, dan berbicara (berbahasa). Demensia bukanlah sebuah penyakit sungguhan, melainkan istilah untuk menggambarkan sekelompok gejala yang mengganggu fungsi otak.

Atau biasa disebut juga sebagai gangguan neurokognitif mayor. Gangguan ini bukanlah sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sekelompok gejala yang disebabkan oleh kondisi lainnya.

Singkatnya, kondisi ini kerap ditandai dengan sifat yang mudah lupa atau pikun karena memang mengganggu kemampuan otak untuk mengingat. Akan tetapi, mengalami penurunan daya ingat tidak lantas membuat Anda pasti terkena demensia. Sebab kondisi ini didasarkan oleh berbagai hal yang berbeda.

Tingkat keparahan kondisi ini bisa beragam, mulai berkisar dari yang ringan hingga berat sekali pun. Bahkan bukan tidak mungkin, kondisi yang memengaruhi fungsi otak ini bisa mengubah kepribadian seseorang. Demensia juga bisa bersifat progresif, yang artinya dapat berkembang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Beberapa kasus yang mengakibatkan demensia cenderung sulit untuk pulih. Meski begitu, tidak perlu khawatir karena beberapa lainnya masih bisa diobati dan disembuhkan.  

Risiko mengalami demensia memang biasanya semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Namun penting untuk dipahami, bahwa kondisi ini sebenarnya bukan merupakan bagian dari penuaan.

Berbagai penyakit yang bisa mengakibatkan demensia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, demensia adalah gejala dari suatu penyakit tertentu. Tidak hanya satu, melainkan ada berbagai penyakit yang bisa mengakibatkan demensia. Berikut beberapa jenis demensia sesuai penyakitnya, yakni:

1. Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum. Terbukti dengan sekitar 60-80 persen dari semua kasus demensia ditempati oleh penyakit Alzheimer.

2. Demensia vaskular

Jenis gangguan fungsi otak ini disebabkan oleh berkurangnya aliran darah pada otak. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh adanya penumpukan plak di dalam pembuluh darah arteri.

Padahal normalnya, pembuluh darah tersebut seharusnya bertugas sebagai pemasok darah untuk otak. Stroke atau gangguan lainnya bisa menjadi penyebab masalah pada pembuluh darah ini.

3. Lewy body dementia

Lewy body dementia adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya endapan protein di dalam sel saraf pada otak. Akibatnya, fungsi otak untuk menghantarkan sinyal kimia ke seluruh tubuh pun terhambat.

Itulah mengapa orang yang mengalami hal ini biasanya memiliki penurunan daya ingat, dan respon yang cenderung lambat. Lewy body dementia merupakan salah satu jenis demensia progresif yang cukup umum.

4. Demensia frontotemporal

Demensia frontotemporal adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan rusaknya sel-sel saraf di lobus frontal temporal otak, yang teletak di bagian depan. Bagian otak ini umumnya bertugas untuk mengatur kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbicara (bahasa).

Apa saja jenis demensia?

Terlepas dari berbagai penyakit yang menyebabkan demensia, secara garis besar kondisi ini dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pembagian tersebut berdasarkan bagian otak yang bermasalah, yakni:

Demensia kortikal

Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada korteks serebral, yakni lapisan luar otak. Bagian otak ini berperan penting dalam fungsi memori dan bahasa (berbicara). Itu sebabnya, orang yang mengalami kondisi ini biasanya akan mengalami kehilangan ingatan yang cukup parah.

Selain itu, kemampuannya untuk mengingat kata-kata dan mengerti bahasa atau pembicaraan pun menurun. Sebagai contohnya, penyakit Alzheimer masuk ke dalam jenis ini.

Demensia subkortikal

Kondisi ini terjadi karena adanya masalah pada bagian otak yang berada di bawah korteks. Orang dengan kondisi ini biasanya menjadi lebih sering lupa dan mengalami masalah dalam proses berbicara (bahasa). Penyakit Parkinson, serta HIV adalah beberapa contoh penyakit yang dapat menyebabkan jenis ini.

Seberapa umumkah demensia?

Demensia paling banyak menyerang orang di usia 65 tahun ke atas, baik pria maupun wanita. Bahkan, kemungkinannya bisa semakin setelah seseorang berusia lebih dari 85 tahun. Faktor genetik juga turut menyumbang andil sebagai salah satu faktor risiko kondisi ini.

Namun, Anda dapat menghindari kemungkinan terserang penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang Anda miliki. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala demensia?

Gejala-gejala umum dari demensia bisa meliputi perubahan secara kognitif dan psikologis.

Gejala terkait perubahan kognitif

  • Kehilangan ingatan
  • Kesulitan berbahasa, berkomunikasi dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari
  • Mengalami disorientasi atau kebingungan akan waktu dan tempat
  • Kesulitan dalam berpikir dan mencerna informasi
  • Sering lupa dan salah saat meletakkan suatu benda

Gejala terkait perubahan psikologis

  • Perubahan perilaku, kepribadian, dan mood yang kerap terjadi secara tiba-tiba
  • Kehilangan inisiatif atau apatis pada hal apa pun, termasuk pada kegiatan yang sebelumnya pernah ditekuni
  • Kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari
  • Mengalami depresi
  • Mengalami halusinasi
  • Mengalami paranoia
  • Merasa gelisah

Seiring bertambahnya usia pasien, gejala demensia di tahap akhir biasanya dapat semakin memburuk. Hanya saja, mengalami masalah bukan selalu pertanda demensia. Sebab bisa saja yang Anda alami hanyalah penurunan daya ingat biasa.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda atau orang terdekat memiliki satu atau lebih gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab demensia?

Ada berbagai penyebab demensia. Namun secara umum, kondisi ini disebabkan adanya kerusakan sel-sel otak (neuron) yang bisa terjadi di beberapa bagian otak. Selain itu, kondisi ini juga bisa diawali karena muncul gangguan pada bagian tubuh lain yang kemudian memengaruhi fungsi neuron tersebut.

Neuron atau sel-sel otak akan melemah dan kehilangan fungsinya secara bertahap, sampai akhirnya mati. Kondisi ini akhirnya memengaruhi koneksi antar neuron, yang disebut sebagai sinapsis. Alhasil, pesan yang seharusnya dihantarkan oleh otak pun terputus sehingga mengakibatkan timbulnya berbagai masalah.

Hal inilah yang nantinya dapat menghambat sel-sel otak untuk menjalankan fungsinya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan, turut memengaruhi perilaku dan perasaan orang yang mengalaminya. Demensia dapat memengaruhi seseorang dengan cara yang berbeda, tergantung dari area otak yang bermasalah.

Di samping karena berbagai penyakit, seperti Alzheimer, kondisi yang ditandai dengan penurunan fungsi otak ini juga bisa disebabkan oleh beberapa hal lainnya. Misalnya efek samping obat, minum alkohol berlebih (alkoholisme), serta tumor atau infeksi otak.

Bukan hanya itu saja, demensia juga bisa disebabkan oleh kondisi lainnnya, meliputi:

  • Gangguan pada struktur otak, seperti hidrosefalus dan hematoma subdural.
  • Gangguan pada sistem metabolisme. Misalnya hipotiroidisme, kekurangan vitamin B-12, kalium, natrium, kadar gula darah rendah (hipoglikemia), serta masalah ginjal dan hati.
  • Terapar zat kimia yang menyebabkan keracunan, seperti timah, logam berat, dan pestisida.
  • Anoxia, atau juga disebut sebagai hipoksia, yang terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Anoxia bisa berkembang karena asma yang parah, serangan jantung, keracunan karbon monoksida, dan lainnya.
  • Kurang gizi. Misalnya karena kekurangan cairan (dehidrasi), vitamin, dan mineral lainnya yang diperlukan tubuh.

Penyebab demensia ini kemungkinan masih dapat diobati ijika gejalanya terdeteksi sejak dini. Maka itu, penting untuk menemui dokter Anda dan mendapatkan pemeriksaan medis segera setelah gejalanya berkembang. Atau setidaknya, mengalami kondisi tertentu yang dirasa tidak biasa.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk demensia?

Ada banyak faktor risiko untuk osteoporosis. Beberapa di antaranya dapat diubah sejak dini, tapi beberapa lainnya cenderung sulit atau bahkan tidak bisa diubah.

Faktor risiko demensia yang tidak bisa diubah:

1. Usia

Anda lebih rentan terkena kondisi ini setelah berusia 65 tahun. Namun, demensia bukanlah bagian dari proses penuaan yang normal, melainkan juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadi saat usia muda.

2. Riwayat keluarga

Memiliki riwayat keluarga yang pernah mengalami kondisi ini, menempatkan Anda pada risiko lebih besar untuk mengalaminya. Namun, banyak juga orang dengan riwayat keluarga tapi tidak pernah mengalami gejalanya.

Sebaliknya, tidak sedikit juga orang yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini tapi justru mengalaminya. Dokter mungkin akan melakukan beberapa tes untuk menentukan kemungkinan yang Anda miliki terkait kondisi ini.

3. Down syndrome

Banyak orang dengan Down syndrome mengalami penyakit Alzheimer pada usia paruh baya.

4. Gangguan kognitif ringan

Kondisi ini meliputi gangguan ingatan namun tanpa hilangnya fungsi sehari-hari. Gangguan kognitif dapat meningkatkan risiko terserang demensia.

Faktor risiko demensia yang bisa diubah:

1. Penyalahgunaan alkohol

Sering minum alkohol dalam jumlah banyak, bisa membuat Anda memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini.

2. Faktor risiko penyakit kardiovaskular

Faktor risiko tekanan darah tinggi (hipertensi), kolestrol tinggi, menumpuknya lemak pada dinding arteri (aterosklerosis), dan obesitas. Kesemua hal tersebut dapat meningkatkan risiko terkena kondisi ini.

3. Depresi

Meski belum dapat dipahami dengan baik, depresi pada usia lanjut mungkin mengindikasikan perkembangan demensia.

4. Diabetes

Jika Anda memiliki diabetes, Anda memiliki risiko lebih tinggi terhadap demensia, terutama jika tidak ditangani dengan baik.

5. Merokok

Meningkatkan risiko terhadap demensia dan penyakit lainnya seperti penyakit pembuluh darah (vaskular).

6. Sleep apnea

Orang yang sering mendengkur dan berhenti bernapas saat tidur dapat mengalami kondisi yang ditandai dengan gangguan pada fungsi kognitif.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis demensia?

Kondisi yang memengaruhi fungsi kognitif otak ini biasanya tidak hanya melibatkan satu jenis pemeriksaan saja. Dokter mungkin akan melakukan serangakaian tes, meliputi:

1. Riwayat medis

Dokter akan menanyakan tentang sejarah keluarga, penyakit, cedera, dan operasi yang pernah dialami. Selain itu, obat-obatan yang pernah dikonsumsi, serta kondisi kronis juga akan diperiksa guna mencari tahu penyebab kondisi ini.

2. Pemeriksaan fisik

Tes pendengaran dan penglihatan, tekanan darah, denyut jantung, dan berbagai indikator lainnya akan diperiksa. Tujuannya untuk mendeteksi apakah kondisi kesehatan Anda tergolong akut atau kronis.

3. Tes laboratorium

Tes darah bisa digunakan untuk membantu mendeteksi masalah fisik yang turut memengaruhi kerja otak. Entah itu karena kekurangan vitamin B-12, atau kelenjar tiroid yang kurang aktif. Terkadang, cairan tulang belakang juga diperiksa guna mengetahui adanya infeksi, peradangan, atau pertanda beberapa penyakit degeneratif.

4. Tes pencitraan

Electroencephalography (EEG), PET scan, dan MRI, bisa menjadi pilihan pengobatan lainnya. Namun hal ini tergantung dari sejarah medis dan gejala yang Anda miliki.

5. Tes neuropsikologis

Dokter biasanya akan meminta pasien untuk mengingat kata-kata atau menyebutkan objek tertentu. Hal ini bertujuan untuk menentukan seberapa parah kondisi, melacak perubahan pada kemampuan tubuh, serta menilai kemampuan yang berfungsi dengan baik.

Secara keseluruhan, pemeriksaan ini bertugas untuk menilai berbagai fungsi. Meliputi memori, bahasa, penglihatan, perhatian, pemecahan masalah, gerakan tubuh, sistem indra, keseimbangan, hingga refleks tubuh.

6. Evaluasi kejiwaan

Seorang ahli kesehatan jiwa biasanya akan menilai apakah depresi atau kondisi kesehatan mental lainnya, turut terkait dengan kondisi penurunan fungsi otak ini.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk demensia?

Demensia dapat ditangani dengan menggunakan dua cara, yakni obat-obatan dan terapi:

1. Obat-obatan

  • Cholinesterase inhibitors. Misalnya donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon) dan galantamine (Razadyne).
  • Memantine. Obat ini digunakan untuk mencegah perkembangan gejala yang semakin parah, khususnya pada paisen penyakit Alzheimer. Pada beberapa kasus, memantine diberikan bersamaan dengan cholinesterase inhibitor.

2. Perawatan tanpa obat

Perawatan ini bertujuan untuk membantu mengendalikan gejala demensia, sekaligus meringankan beberapa komplikasi penyakit yang bisa ditangani. Perawatan tanpa obat bisa dilakukan dengan terapi okupasional.

Mengatur kondisi lingkungan atau tugas dapat membantu menangani perilaku dan meningkatkan fokus pasien. Selain itu, terapi relaksasi, seperti musik, hewan peliharaan, seni atau terapi pijat, juga dapat membantu merangsang mood dan perilaku.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi demensia?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi demensia:

  • Tingkatkan komunikasi: cobalah melakukan kontak mata dan berbicara secara perlahan. Anda juga dapat menggunakan gerakan untuk menjelaskan ide Anda.
  • Hindari kebisingan, dan usahakan untuk mengoptimalkan waktu istirahat Anda.
  • Gunakan kalender, untuk mengingatkan Anda acara-acara mendatang, rutinitas serta jadwal pengobatan.
  • Coba untuk menggunakan benda atau peralatan harian yang sama setiap harinya, untuk melatih ingatan.
  • Usahakan untuk selalu minum obat dan melakukan kegiatan harian di waktu yang sama setiap hari.
  • Selalu letakkan benda atau peralatan di tempat yang sama, untuk memperkuat ingatan.

Pencegahan

Apa saja cara yang bisa dilakukan untuk mencegah demensia?

  • Olahraga dan aktif setiap hari. Cara ini dapat membantu meningkatkan kesehatan dan melindungi otak, terutama dengan pola makan yang sehat.
  • Jaga gaya hidup yang seimbang, cobalah untuk melakukan aktivitas dengan orang lain, seperti menari, melukis, memasak, bernyanyi atau apapun yang Anda sukai.
  • Tidur yang cukup, dan coba kurangi atau tidak mengonsumsi kafein sama sekali.
  • Jaga tekanan darah tetap stabil. Sebab tekanan darah tinggi bisa menjadi salah satu faktor risiko demensia.
  • Terapkan pola makan sehat. Cara ini bisa membantu menjaga fungsi berbagai organ tubuh, guna mencegah demensia.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca