Mengapa Pasien Ginjal Perlu Diberikan Vaksin Tertentu? Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Penyakit ginjal terjadi ketika fungsi ginjal terganggu sehingga limbah dan cairan menumpuk di dalam tubuh. Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti pembengkakan di pergelangan kaki, muntah, tubuh lemah, kurang tidur, sampai sesak napas. Namun pengobatan penyakit ini tidak bisa sembarangan. Bahkan, pasien ginjal membutuhkan beberapa vaksin untuk menunjang kesehatannya.

Mengapa vaksin perlu diberikan untuk pasien ginjal?

Pengujian vaksin hepatitis C

Penurunan fungsi ginjal berhubungan dengan risiko infeksi serius yang bisa mengancam kesehatan dan jiwa. Dalam hal ini termasuk infeksi dari bakteri, virus, jamur dan lainnya.

Ini membuat orang dengan penyakit ginjal membutuhkan vaksin tertentu untuk menangkal semua virus, bakteri, dan jamur yang bisa memperburuk kondisi.

Berikut beberapa vaksin untuk pasien ginjal, direkomendasikan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC):

Influenza

Pemberian vaksin influenza bisa dilakukan oleh pasien ginjal. Syaratnya, yang diberikan adalah vaksin suntikan yang termasuk dalam vaksin tidak aktif.

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan suntik vaksin flu tidak aktif pada pasien ginjal. 

Hal ini terlepas dari level stadium yang diderita pasien. Namun biasanya, vaksin flu diberikan setiap satu kali dalam satu tahun.

Infeksi pneumonia

Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) merekomendasikan vaksin pneumonia untuk pasien ginjal.

Pemberiannya tergantung pada usia pasien dan biasanya akan diulang setiap 5 tahun. Vaksin pneumonia umumnya harus diberikan pada pasien ginjal stadium 4 dan 5.

Hepatitis B

Ini merupakan kondisi infeksi serius pada hati yang bisa merusak organ lain, termasuk ginjal dan pembuluh darah.

Orang dengan penyakit ginjal stadium 4 dan 5, sangat direkomendasikan diberikan vaksin hepatitis B. Adapun jeda pemberian vaksinnya yaitu 1 bulan dan 6 bulan. 

Difteri, Tetanus, pertusis (DPT)

Pada pasien ginjal, vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DPT) sangat direkomendasikan dan aman untuk penderita penyakit ginjal. Biasanya, vaksin ini dilakukan pengulangan setiap 10 tahun. 

Untuk lebih jelasnya, berikut tabel rekomendasi pemberian vaksin pada pasien ginjal (termasuk gagal ginjal, transplantasi ginjal, dan orang dewasa dengan penyakit ginjal):

vaksin yang boleh dilakukan untuk pasien ginjal
Sumber: Kidney.org

Penyakit ginjal memiliki efek yang cukup berat karena penderitanya rentan terkena infeksi hingga mengancam nyawa.

Pemberian vaksin menjadi salah satu perawatan yang direkomendasikan dan standar yang disarankan oleh CDC. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengetahui jenis vaksin yang tepat.

Vaksin yang tidak boleh diberikan untuk pasien ginjal

Vaksin hepatitis A

Vaksin merupakan salah satu cara untuk mencegah berbagai penyakit yang mungkin menyerang. Cara ini mampu melindungi jutaan orang dari penyakit serius, seperti campak, hepatitis, polio, dan pneumonia.

Namun bukan berarti vaksin tidak memiliki efek samping. Seperti obat lainnya, vaksin juga bisa menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup ringan. Sebagai contoh, ruam ringan di area yang disuntik atau demam. 

Namun ternyata, tidak semua orang boleh melakukan vaksin, termasuk sebagian pasien ginjal. Mengutip dari Kidney ada beberapa orang yang tidak boleh menerima vaksin, yaitu:

  • Ibu hamil
  • Orang yang alergi terhadap vaksin
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh terlalu aktif
  • Orang dengan transplantasi ginjal

Bila Anda seorang pasien ginjal tanpa menjalani transplantasi, vaksin masih bisa diberikan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Sementara orang yang menjalani transplantasi ginjal, perlu hati-hati karena tidak semua jenis vaksin boleh diberikan.

Secara umum, vaksin dibagi menjadi dua kategori: vaksin aktif dan tidak aktif. Vaksin tidak aktif dianggap aman untuk penerima transplantasi ginjal, tapi vaksin aktif harus dihindari. 

Berikut beberapa jenis vaksin aktif yang perlu dihindari oleh pasien transplantasi ginjal:

  • Influenza nasal (disemprot lewat hidung)
  • Cacar air
  • Herpes
  • Campak rubella (MR)
  • Demam kuning (yellow fever)

Vaksin influenza yang diberikan dengan cara disuntik, termasuk ke dalam vaksin tidak aktif sehingga diperbolehkan untuk pasien ginjal.

Sementara vaksin influenza nasal yang disemprotkan lewat hidung termasuk vaksin aktif, sehingga perlu dihindari orang dengan transplantasi ginjal.

Sebelum melakukan vaksin apa pun, pastikan hal itu merupakan rekomendasi dari dokter Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Fungsi Penting Air Putih untuk Menjaga Kesehatan Ginjal

Air dibutuhkan oleh seluruh organ dalam tubuh, termasuk ginjal. Lantas, apa fungsi air untuk ginjal? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 02/06/2020 . 3 menit baca

Apa Bedanya Vaksin mRNA dengan Vaksin Biasa?

Vaksin konvensional tak cukup efektif mencegah penularan berbagai penyakit baru. Vaksinasi modern kini mengandalkan teknologi vaksin terbaru, yakni mRNA.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Hidup Sehat, Fakta Unik 07/05/2020 . 4 menit baca

Jalan Panjang Indonesia dalam Membuat Vaksin COVID-19

Sudah banyak lembaga dan negara meneliti untuk mengembangkan vaksin COVID-19, termasuk Indonesia. Bagaimana Indonesia membuka jalan dalam mencari vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . 5 menit baca

Efektivitas Vaksin Flu dalam Melawan COVID-19, Apakah Bisa Digunakan?

Gejala yang mirip mungkin membuat sebagian orang mengira bahwa vaksin flu dapat digunakan untuk membantu mencegah COVID-19. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 14/03/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mutasi coronavirus

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
vaksin rotavirus

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . 7 menit baca
perawatan setelah transplantasi ginjal

Perawatan untuk Pasien Setelah Menjalani Transplantasi Ginjal

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 6 menit baca
arti kedutan

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . 5 menit baca