backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Hepatitis A

Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro · General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 2 hari lalu

Hepatitis A

Hepatitis A merupakan infeksi hati yang umumnya menyebar melalui kontaminasi makanan. Lingkungan dengan kualitas kebersihan yang rendah memiliki tingkat penyebaran hepatitis A yang tinggi. Ketahui gejala, penularan, hingga pengobatannya.

Apa itu hepatitis A?

Hepatitis A adalah infeksi yang menyerang hati akibat virus HAV.

Penyakit ini sangat mudah menular lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi virus yang dapat berasal dari feses penderita.

Virus HAV adalah salah satu jenis virus hepatitis yang dapat menyebabkan peradangan hati. Akibatnya, kemampuan fungsi hati pun menurun.

Faktor risiko penyakit hepatitis ini berkaitan dengan kebersihan lingkungan yang buruk dan perilaku hidup bersih.

Hepatitis A biasanya tidak menyebabkan kerusakan hati yang parah. Selain itu, penyakit hepatitis ini juga tidak berisiko mengembangkan penyakit kronis.

Walaupun tergolong ringan, gejala dari penyakit ini tetap dapat mengganggu aktivitas harian.

Perlu diketahui bahwa sebagian besar penderita yang sembuh dari hepatitis ini akan memperoleh kekebalan.

Itu sebabnya, orang yang pernah mengalami hepatitis A akan lebih kebal terhadap serangan infeksi HAV.

Pada kasus yang jarang, infeksi virus HAV juga dapat berlangsung selama berbulan-bulan dan berakibat fatal.

Oleh sebab itu, vaksinasi dan menjaga kebersihan diri penting untuk mencegah penyebaran virus HAV.

Seberapa umum kondisi ini?

Penyakit hepatitis A adalah salah satu penyakit hepatitis menular yang umum terjadi di berbagai negara.

Di Indonesia sendiri, jumlah penderita penyakit hepatitis terus bertambah selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi penderita penyakit hepatitis berdasarkan diagnosis dokter meningkat dua kali lipat.

Jumlah tersebut meningkat hingga ke angka 0,4 persen selama periode 2013 – 2018.

Anak-anak menjadi golongan usia yang paling rentan terhadap infeksi HAV dengan persentase 90%, dikutip dari laporan WHO.

Tanda dan gejala hepatitis A

penyakit hepatitis

Gejala hepatitis A tidak selalu langsung muncul pada orang yang terinfeksi. Hal ini juga berlaku pada orang yang telah terinfeksi sejak beberapa minggu.

Hal ini dikarenakan masa inkubasi virus dapat berlangsung selama 14 – 28 hari.

Pada orang yang mengalami gejala, ciri-ciri HAV akan muncul setelah 2 – 6 minggu terinfeksi virus. Gejala yang ditimbulkan dapat bersifat ringan hingga parah, meliputi:

  • urine berwarna kuning gelap,
  • merasa lelah,
  • mual dan muntah,
  • demam ringan,
  • nyeri pada sendi,
  • sakit perut,
  • kehilangan nafsu makan,
  • kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning),
  • warna feses seperti tanah liat dan pucat, serta
  • gatal-gatal.

Dibandingkan anak-anak, orang dewasa cenderung mengalami gejala. Kondisi ini juga lebih rentan terjadi pada orang yang lebih tua (lansia).

Bila Anda mengalami gejala di atas, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kapan harus periksa ke dokter?

Selain gejala, periksakan diri ke dokter atau klinik kesehatan untuk memperoleh perawatan bila mengalami kondisi seperti:

  • setelah bepergian dari tempat yang mengalami wabah hepatitis A,
  • tinggal atau berinteraksi dengan orang yang didiagnosis terkena hepatitis, serta
  • berhubungan seksual dengan penderita hepatitis.

Bila positif terinfeksi HAV, dokter tidak akan langsung menyuntikkan vaksin, melainkan menyarankan Anda menjalani perawatan sederhana.

Anda akan diminta untuk lebih banyak beristirahat dan memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.

Penyebab hepatitis A 

Penyebab hepatitis A yaitu infeksi virus HAV yang menyerang sel-sel hati. Akibatnya, hati pun meradang dan memicu sejumlah gejala yang telah disebutkan.

Virus HAV masuk ke dalam hati melalui sel epitelium intensinal.

Kemudian, virus memperbanyak dirinya dalam hepatosit, yaitu sel yang berperan dalam metabolisme nutrisi, melawan racun, hingga mencerna obat.

Pada saat berada di hati, virus tidak akan langsung berkembang, melainkan menjalani masa inkubasi selama 28 hari dengan rentang 15 – 40 hari.

Penularan hepatitis A dapat terjadi melalui darah atau alat yang digunakan oleh penderita. Infeksi hepatitis ini berlangsung ketika virus masuk ke dalam tubuh lewat beberapa kondisi berikut ini.

1. Interaksi secara langsung

Hepatitis A adalah penyakit yang dapat ditularkan bahkan sebelum orang yang terinfeksi merasakan gejala tertentu.

Virus dapat berpindah melalui kontak langsung dengan penderita, seperti:

2. Konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi

Selain kontak langsung, konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi pun dapat menjadi cara penularan virus.

Virus HAV dapat berpindah saat makanan dan minuman yang mengandung virus dikonsumsi.

Virus penyebab hepatitis ini sering dijumpai pada makanan mentah atau yang sudah dimasak.

Selain itu, makanan yang berasal dari air yang terkontaminasi limbah pembuangan juga berpotensi mengandung virus HAV.

Faktor risiko hepatitis A

Anda bisa mengurangi risiko terkena penyakit ini dengan menghindari faktor-faktor penyebabnya.

Risiko terkena hepatitis A pun dapat meningkat bila Anda mengalami kondisi berikut.

  • Bepergian atau bekerja di wilayah dengan kasus hepatitis A yang tinggi.
  • Mengunjungi tempat penitipan anak atau bekerja di pusat penitipan anak.
  • Pria yang berhubungan seks dengan pria lainnya.
  • Penderita HIV.
  • Menderita kelainan pembekuan darah, seperti hemofilia.
  • Menerima transfusi darah dari penderita hepatitis A.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, baik yang disuntikkan maupun tidak.
  • Tinggal dengan penderita hepatitis A.
  • Melakukan kontak fecal-oral dengan penderita HAV.

Diagnosis hepatitis A

Pada dasarnya, tes hepatitis A tidak jauh berbeda dengan jenis hepatitis lainnya. Dokter akan bertanya seputar gejala dan keluhan yang dialami.

Setelah itu, Anda akan menjalani pemeriksaan fisik sederhana.

Bila kondisi mengindikasikan adanya virus di dalam tubuh, dokter akan meminta Anda menjalani serangkaian pemeriksaan, seperti tes darah.

Tes darah hepatitis A dilakukan untuk mendeteksi apakah terdapat virus HAV atau tidak dalam antibodi immunoglobulin G (IgM) pada sampel darah.

Selain itu, Anda mungkin juga akan menjalani tes RT-PCR untuk mendeteksi virus hepatitis dalam RNA. Namun, pemeriksaan ini lebih jarang dilakukan karena membutuhkan laboratorium khusus.

Pengobatan hepatitis A

Obat hepatitis antivirus dan interferon

Pengobatan hepatitis A bisa diatasi dengan pengobatan rawat jalan ataupun perawatan medis intensif, tergantung dengan keparahan gejala.

Tubuh Anda akan membersihkan virus HAV dengan sendirinya meskipun memakan banyak waktu.

Kebanyakan kasus melaporkan bahwa organ hati penderita akan sembuh dalam jangka waktu 6 bulan tanpa kerusakan permanen.

Berikut ini beberapa cara mengobati hepatitis sederhana yang dianjurkan dokter.

1. Beristirahat

Pasien hepatitis A mungkin akan diminta untuk beristirahat lebih banyak. Hal ini dikarenakan kebanyakan penderita HAV merasa lelah dan tidak bertenaga.

2. Mengendalikan rasa mual

Salah satu gejala hepatitis yang perlu dikendalikan adalah mual. Rasa mual dapat menurunkan nafsu makan. Anda bisa mengendalikan rasa mual tersebut dengan cara:

  • ngemil,
  • mendapatkan asupan kalori yang cukup,
  • makan makanan berkalori tinggi, serta
  • minum jus buah atau susu.

3. Hindari penggunaan obat pereda nyeri dan alkohol

Obat pereda nyeri, seperti acetaminophen atau paracetamol, sebaiknya dihindari bila Anda mengalami gejala mual dan muntah.

Selain itu, Anda diminta untuk berhenti minum alkohol selama terinfeksi virus agar kesehatan hati terjaga dengan baik.

Selain perawatan sederhana, beberapa pasien mungkin akan membutuhkan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang mengganggu, seperti demam.

Meski begitu, dokter tetap akan memberikan obat-obatan ketika gejala hepatitis yang dialami cukup parah. Obat-obatan ini bertujuan untuk mengendalikan gejala yang dialami penderita.

Bagaimana kondisi tubuh setelah pulih dari hepatitis A?

Setelah dipastikan pulih, tubuh akan membentuk antibodi terhadap virus HAV. Antibodi ini akan membangun imunitas yang akan mencegah terjadinya infeksi jika selanjutnya Anda terpapar virus HAV di kemudian hari.

Pencegahan hepatitis A

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah hepatitis, termasuk hepatitis A, mulai dari vaksinasi hingga hal-hal kecil seperti mencuci tangan.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari infeksi virus hepatitis.

1. Vaksin hepatitis A

Vaksin hepatitis A adalah salah satu pilihan terbaik untuk mencegah penyakit ini.

Setelah disuntikkan vaksin, tubuh akan membentuk antibodi yang dapat melawan virus dalam waktu satu bulan.

Vaksin ini tetap bisa didapatkan setelah terinfeksi virus. Meski begitu, tingkat efektivitas vaksin ini hanya bekerja dalam periode 2 minggu setelah terpapar virus.

vaksinasi hepatitis aman dan hampir tidak memiliki efek samping yang berbahaya.

Proses pemberian vaksin akan dilakukan secara bertahap sebanyak dua kali dengan rentang waktu 6 bulan.

Anda disarankan untuk melakukan vaksinasi secara penuh, sehingga tubuh dapat membangun sistem imun yang sempurna.

2. Menjaga kebersihan

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar adalah kunci utama dari upaya mencegah hepatitis A.

Bahkan, menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan, dilakukan sebagai pengobatan hepatitis di rumah.

Cobalah untuk menerapkan pola hidup yang bersih di bawah ini.

  • Selalu kupas dan cuci sayuran dan buah sendiri.
  • Hindari makan daging setengah matang atau masih mentah.
  • Pakai pelindung yang sesuai saat bekerja, seperti kacamata dan sarung tangan.
  • Minum air kemasan atau rebus air bila tidak tersedia.
  • Hindari minum minuman yang tidak diketahui.

3. Hindari aktivitas seksual

Selama Anda terinfeksi hepatitis A, sebaiknya hindari berhubungan seks dengan pasangan.

Berbagai jenis aktivitas seksual berisiko dapat menularkan virus kepada pasangan. Selain itu, kondom dinilai tidak memberikan perlindungan yang efektif.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Patricia Lukas Goentoro

General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 2 hari lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan