Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Difteri

Definisi|Gejala|Penyebab|Komplikasi|Diagnosis|Pengobatan|Pencegahan
Difteri

Definisi

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria, menyerang tenggorokan dan sistem pernapasan atas.

Tidak hanya itu saja, bakteri tersebut juga menghasilkan racun yang dapat memengaruhi organ-organ lain.

Akibatnya, penyakit ini menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel sehingga membuat sulit bernapas dan menelan.

Lalu, ada kemungkinan sistem jantung dan saraf juga bisa ikut terganggu akibat kondisi ini.

Penyakit ini menular melalui kontak fisik secara langsung dari napas, batuk, atau bersin orang yang terinfeksi.

Dikutip dari CDC, penyakit ini merupakan penyebab utama kematian anak di seluruh dunia sebelum adanya vaksin. Namun, di tahun 2018 difteri juga masih menjadi masalah secara global.

Seberapa umum penyakit ini?

Difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang dengan angka vaksinasi rendah.

Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapa pun termasuk anak-anak dan orang dewasa.

Secara umum, 5 hingga 10 persen orang yang terinfeksi penyakit difteri berakhir meninggal dunia apabila kondisinya rentan.

Tingkat kematian sebanyak 20 persen bisa terjadi pada orang yang terinfeksi dengan usia di bawah 5 tahun atau lebih dari 60 tahun.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala difteri?

Pada tahap awal, penyakit difteri kerap dikira sebagai radang tenggorokan parah.

Gejala lainnya yang muncul termasuk demam ringan dan pembengkakan kelenjar yang terletak pada leher.

Penyakit ini juga bisa membuat luka pada kulit sehingga terasa sakit, merah, dan bengkak.

Perlu diketahui bahwa gejala difteri biasanya muncul dua hingga empat hari setelah terinfeksi dan berlangsung selama enam hari.

Walau bakteri difteri dapat menyerang jaringan apa saja, tanda yang paling menonjol adalah masalah tenggorokan dan mulut.

Berikut adalah beberapa gejala umum difteri yang bis aterjadi pada anak:

  • Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu
  • Radang tenggorokan dan serak
  • Pembengkakan kelenjar pada leher
  • Masalah pernapasan dan susah menelan
  • Penglihatan menjadi sedikit
  • Demam dan menggigil
  • Syok, seperti kulit yang pucat, berkeringat, dan jantung berdebar cepat

Bakteri dari penyakit ini dapat menularkan hingga empat minggu ke depan jika tidak diobati dengan antibiotik. Hal tersebut dapat terjadi meski mereka tidak merasakan gejala.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas.

Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu pada anak, konsultasikanlah segera dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Segera ke rumah sakit apabila Anda atau anak telah melakukan kontak dengan seseorang yang mengalami difteri.

Anda juga perlu segera menghubungi dokter jika:

  • Berada di daerah yang terinfeksi secara luas
  • Baru kembali dari daerah yang terinfeksi secara luas
  • Melakukan interaksi jarak dekat dengan orang yang terinfeksi

Penyakit ini membutuhkan pertolongan segera untuk mencegah komplikasi, seperti kesulitan bernapas serta masalah jantung juga ginjal.

Penyebab

Apa penyebab difteri?

Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menghasilkan racun di dalam tubuh.

Bakteri ini dapat menyebarkan penyakit melalui air liur, udara, benda pribadi, serta peralatan rumah tangga yang terkontaminasi.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai bakteri penyebab difteri menyebar atau menular.

Partikel udara

Jika anak menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, kemungkinan ia dapat terkena difteri.

Cara ini sangat efektif untuk menyebarkan penyakit, terutama pada tempat yang ramai.

Barang pribadi yang terkontaminasi

Penyebab lainnya adalah kontak dengan benda-benda pribadi yang terkontaminasi.

Anda dapat terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda yang membawa bakteri.

Pada kasus yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan bersama, seperti handuk atau mainan.

Luka terinfeksi

Menyentuh luka yang terinfeksi juga dapat membuat Anda terpapar bakteri yang menjadi penyebab difteri.

Apa yang membuat saya berisiko kena penyakit ini?

Ada banyak faktor risiko yang menambah peluang Anda atau anak mengalami difteri, seperti:

  • Tidak melakukan atau mendapatkan vaksin terbaru
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS
  • Tinggal di kondisi yang tidak bersih atau ramai.

Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang yang kesadaran untuk melakukan imunisasi masih rendah.

Penyakit ini merupakan ancaman bagi anak yang tidak divaksin atau melakukan perjalanan ke negara yang sering terjadi difteri.

Komplikasi

Komplikasi apa yang mungkin terjadi akibat difteri?

Jika tidak ditangani, penyakit difteri dapat menyebabkan kompilkasi pada anak:

Masalah pernapasan

Bakteri penyebab penyakit ini mungkin menciptakan toksin atau racun.

Toksin ini menghancurkan jaringan pada daerah terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan.

Dalam kondisi ini, infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya. Membran ini bisa menghambat pernapasan.

Kerusakan jantung

Toksin difteri mungkin menyebar melalui aliran darah dan menghancurkan jaringan lain dalam tubuh seperti otot jantung.

Kalau sudah begini, anak juga bisa mengalami komplikasi peradangan pada otot jantung (miokarditis).

Kerusakan jantung biasanya muncul 10-14 hari setelah terkena infeksi. Kerusakan jantung yang berhubungan dengan difteri adalah:

  • Perubahan yang terlihat pada monitor elektrokardiograf (EKG).
  • Disosiasi atrioventrikular, di mana bilik jantung berhenti berdetak bersamaan.
  • Blok jantung lengkap, di mana tidak ada denyut listrik yang melintasi jantung.
  • Aritmia ventrikel, yang merupakan detak abnormal pada bilik bawah jantung.

Kerusakan saraf

Racun bakteri penyebab difteri juga bisa mengakibatkan kerusakan saraf. Biasanya, kerusakan saraf terjadi pada tenggorokan sehingga anak jadi sulit menelan.

Saraf di lengan dan kaki juga bisa meradang dan menyebabkan lemah otot.

Jika bakteri Corynebacterium diphtheriae merusak saraf yang mengatur otot pernapasan, otot tersebut akan lumpuh.

Biasanya, penyakit akan berkembang sebagai berikut:

  • Pada minggu ketiga, akan ada kelumpuhan pada tekak (faring).
  • Setelah minggu kelima, terjadi kelumpuhan pada otot mata, anggota badan, dan diafragma.
  • Pneumonia dan kegagalan pernapasan dapat terjadi karena kelumpuhan diafragma.

Dengan perawatan tepat, sebagian besar orang dengan penyakit difteri mampu bertahan menghadapi komplikasi di atas.

Akan tetapi, pemulihannya berlangsung lambat. Difteri berakibat fatal pada 3 persen dari mereka yang menderita penyakit ini.

Penyakit lainnya akibat infeksi di lokasi lain

Jika infeksi bakteri menyerang jaringan seperti kulit, rasa sakit biasanya lebih ringan. Hal ini karena kulit menyerap jumlah toksin yang lebih sedikit.

Namun, penyebab difteri di kulit dapat menghasilkan bisul seperti bintik kuning, tampak jernih dan terkadang keabu-abuan.

Selaput lendir lainnya dapat terinfeksi oleh difteri, seperti konjungtiva mata, jaringan genital wanita, dan saluran telinga bagian luar.

Diagnosis

Bagaimana difteri didiagnosis?

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dari melihat tanda dan gejala sebelum melakukan diagnosis pada Anda atau anak.

Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel, dokter dapat menduga penyakit difteri.

Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang dialami oleh anak.

Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan melakukan tes swab.

Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, dan diuji toksisitasnya:

  • Spesimen klinis yang diambil dari hidung dan tenggorokan.
  • Semua kasus yang dicurigai dan melakukan kontak dengan mereka diuji.

Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana mengobati difteri?

Dokter akan segera menangani penyakit difteri pada anak karena merupakan kondisi yang sangat serius.

Berikut langkah-langkah yang mungkin akan dilakukan tenaga medis:

Antitoksin

Pertama, dokter akan memberikan suntikan berupa diphteria antitoxin (DAT) untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri.

Obat difteri ini berfungsi untuk menetralisir racun yang bersirkulasi di dalam tubuh dan mencegah perkembangan penyakit difteri.

Akan tetapi, DAT tidak dapat menetralisir racun yang terlanjur merusak sel-sel di dalm tubuh.

Pengobatan difteri melalui DAT bisa diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis klinis, tanpa menunggu konfirmasi dari hasil diagnosis laboratorium.

Jika anak mempunyai alergi terhadap antitoksin, Anda perlu memberi tahu dokter agar dapat menyesuaikan pengobatan.

Pengobatan difteri melalui DAT tidak dianjurkan pada kasus difteri kulit atau cutaneous diphtheria yang tidak memperlihatkan gejala.

Efek samping dari antitoksin yang perlu diwaspadai orangtua:

  • Demam
  • Alergi seperti gatal, kemerahan, atau biduran
  • Syok seperti sesak napas dan penurunan tekanan darah (jaranng terjadi)
  • Nyeri sendi dan tubuh terasa pegal

Antibiotik

Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik, seperti erythromycin dan penicillin, untuk membantu mengatasi infeksi.

Pemberian antibiotik dalam pengobatan difteri pada anak atau orang dewasa bukanlah pengganti untuk DAT.

Meskipun antibiotik belum terbukti mempengaruhi penyembuhan infeksi difteri, obat tetap diberikan.

Ini dilakukan untuk membasmi bakteri dari nasofaring sehingga mencegah penularan difteri lebih lanjut ke orang lain.

Perawatan lanjutan

Jangan khawatir jika dokter meminta Anak untuk tinggal di rumah sakit. Ini untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit.

Isolasi akan dilakukan di Intensive Care Unit (ICU) karena penyakit ini menyebar dengan mudah dan cepat.

Biasanya, pasien akan menjalani rawat inap selama 14 hari pemberian obat difteri antibiotik

Langkah pengobatan dan peraawatan tersebut akan dilakukan terus-menerus hingga hasil pemeriksaan berubah menjadi negatif.

Bagaimana pengobatan rumahan untuk penyakit ini?

Berikut adalah pengobatan rumahan yang dapat dilakukan orangtua untuk mengatasi difteri pada anak:

  • Pastikan anak banyak istirahat di tempat tidur dan batasi aktivitas fisik yang melelahkan.
  • Isolasi ketat. Anda sebaiknya menghindari penyebaran penyakit pada orang lain apabila anak terinfeksi.

Apabila anak dirawat di rumah, gunakan masker untuk mencegah penularan. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan benda-benda juga mencuci tangan setiap saat.

Saat pulih dari penyakit ini, anak serta orangtua mungkin membutuhkan vaksin difteri yang lengkap untuk mencegah terulangnya kembali.

Pernah mengalami kondisi tersebut tidak menjamin Anda akan kebal seumur hidup.

Anak atau orang dewasa bisa mengalami penyakit ini lebih dari sekali jika tidak melakukan imunisasi lengkap.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit difteri?

Berikut upaya pencegahan yang bisa dilakukan orangtua untuk penyakit tersebut:

Melakukan vaksin

Sebelum antibiotik tercipta, difteri merupakan penyakit yang umum pada anak-anak. Namun kini, penyakit tersebut tak hanya bisa diobati, tapi juga dicegah dengan vaksin.

Menurut WHO, vaksinasi telah mengurangi angka kematian dan morbiditas akibat difteri secara dramatis.

Namun, penyakit itu masih menjadi masalah besar kesehatan anak di negara-negara dengan angka Environmental Performance Index (EPI) yang rendah.

Vaksin ini merupakan toksoid bakteri, yaitu toksin yang toksisitasnya telah dinonaktifkan.

Biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lainnya, seperti untuk tetanus dan pertusis.

Maka dari itu, sebagai pencegahan difteri anak membutuhkan vaksin DPT (diphtheria, tetanus, dan pertussis).

Sementara itu, untuk orang dewasa, vaksin yang diberikan biasanya dicampur dengan toksoid tetanus dengan konsentrasi yang lebih rendah.

Imunisasi untuk pencegahan difteri ini biasanya dilakukan secara bertahap, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 4 sampai 6 tahun.

Ada beberapa efek samping dari vaksinasi ini. Anak-anak mungkin akan merasakan demam ringan, rewel, kantuk, hingga kebas di lokasi suntikan.

Tanyakan dokter Anda tentang cara menurunkan atau menghilangkan efek tersebut.

Pada kasus yang jarang terjadi, vaksin DPT menyebabkan komplikasi serius pada anak.

Sebagai contoh, reaksi alergi (gatal atau ruam yang timbul beberapa menit setelah injeksi), kejang, atau syok. Namun, kondisi ini bisa diobati.

Beberapa anak, khususnya yang mengalami epilepsi atau kondisi sistem saraf lainnya, mungkin tidak direkomendasikan mendapatkan vaksinasi DPT.

Suntikan tambahan

Setelah rangkaian imunisasi saat masa anak-anak, pada kondisi tertentu diperlukan suntikan pendorong vaksin difteri untuk mempertahankan imunitas.

Hal itu karena kekebalan tubuh pada penyakit tersebut menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Anak-anak yang telah melewati rekomendasi vaksin sebelum usia 7 tahun harus mendapatkan suntikan pendorong pada usia 18 tahun.

Suntikan pendorong berupa vaksin Tdap selanjutnya direkomendasikan dilakukan pada 10 tahun berikutnya, dan diulang setiap 10 tahun sekali.

Tdap adalah gabungan antara vaksin tetanus, difteri, dan acellular pertussis (batuk rejan).

Ini adalah vaksin alternatif satu kali untuk remaja usia 11 hingga 18 dan orang dewasa yang sebelumnya tidak mendapatkan suntikan pendorong.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Diphtheria. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.who.int/immunization/diseases/diphtheria/en/

Vaccine Information Statement | Tdap | Tetanus-Diphtheria-Pertussis | VIS | CDC. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/tdap.html

Tanya Jawab DTP. (2013). Retrieved 12 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-dtp

Drugs, H. (2020). Tetanus, Diphtheria, Pertussis (Tdap) Vaccine: MedlinePlus Drug Information. Retrieved 12 November 2020, from https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a607027.html

Diphtheria – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/diagnosis-treatment/drc-20351903

Diphtheria | About | CDC. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.cdc.gov/diphtheria/about/index.html

default – Stanford Children’s Health. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=diphtheria-in-children-90-P02511

Diphtheria (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/diphtheria.html

Diphtheria – Clinical guidelines. (2020). Retrieved 12 November 2020, from https://medicalguidelines.msf.org/viewport/CG/english/diphtheria-16689456.html

Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri. (2017). Retrieved 12 November 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita