Difteri

Difteri

Ada banyak jenis bakteri yang bisa menyerang tubuh dan menyebabkan infeksi. Difteri merupakan salah satu jenis penyakit infeksi akibat paparan terhadap bakteri. Kondisi ini cukup berbahaya dan sempat menjadi wabah dunia. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan tepat, difteri bisa berakibat fatal, terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia (lansia).

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria yang menyerang tenggorokan dan sistem pernapasan atas.

Penyakit ini menyebabkan selaput jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel sehingga membuat sulit bernapas dan menelan.

Namun, tidak hanya itu, bakteri tersebut juga menghasilkan racun yang dapat memengaruhi organ dan bagian tubuh lain, seperti kulit.

Ada kemungkinan sistem jantung dan saraf juga bisa ikut terganggu akibat kondisi ini.

Penyakit ini menular melalui kontak fisik secara langsung dari napas, batuk, atau bersin orang yang terinfeksi.

Dikutip dari CDC, penyakit ini merupakan penyebab utama kematian anak di seluruh dunia sebelum adanya vaksin.

Namun, di tahun 2018, difteri juga masih menjadi masalah secara global.

Seberapa umum penyakit ini?

Difteri banyak ditemui di negara-negara berkembang dengan angka vaksinasi rendah. Sejak tahun 2018, WHO telah melaporkan peningkatan kasu pada negara-negara berikut ini.

  • Indonesia.
  • India.
  • Amerika selatan.
  • Afrika.

Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapa pun termasuk anak-anak dan orang dewasa.

Secara umum, 5—10% orang yang terinfeksi penyakit difteri berakhir meninggal dunia apabila kondisi yang dimiliki cukup rentan.

Tingkat kematian sebanyak 20% juga bisa terjadi pada penderita berusia di bawah 5 tahun atau lebih dari 60 tahun.

Tanda dan gejala difteri

Pada tahap awal, penyakit difteri kerap dikira sebagai radang tenggorokan parah.

Perlu diketahui bahwa gejala difteri biasanya muncul dua hingga empat hari setelah terinfeksi dan berlangsung selama enam hari.

Meski bakteri difteri dapat menyerang jaringan apa saja, tanda yang paling menonjol adalah masalah tenggorokan dan mulut.

Berikut adalah beberapa gejala difteri pada anak yang umum terjadi.

  • Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu.
  • Radang tenggorokan dan serak.
  • Pembengkakan kelenjar pada leher.
  • Masalah pernapasan dan susah menelan.
  • Penglihatan menjadi sedikit.
  • Demam dan menggigil.
  • Syok, seperti kulit yang pucat, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.

Gejala lainnya yang muncul termasuk demam ringan dan pembengkakan kelenjar yang terletak pada leher.

Pada negara dengan tingkat kebersihan yang rendah, penyakit ini juga bisa menyebabkan infeksi pada kulit dan menimbulkan gejala berikut ini.

  • Lepuhan kulit berisi nanah pada tungkai, telapak kaki, dan tangan.
  • Luka berukuran cukup besar dengan kulit merah dan terlihat nyeri di sekitarnya.

Bakteri dari penyakit ini dapat menular hingga empat minggu ke depan jika tidak diobati dengan antibiotik. Penularan tersebut dapat terjadi meski tidak timbul gejala.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu pada anak, konsultasikanlah segera dengan dokter.

Kapan harus periksa ke dokter?

Segera ke rumah sakit apabila Anda atau anak Anda telah melakukan kontak dengan seseorang yang mengalami difteri.

Anda juga perlu segera menghubungi dokter jika berada pada kondisi berikut.

  • Berada di daerah yang terinfeksi secara luas.
  • Baru kembali dari daerah yang terinfeksi secara luas.
  • Melakukan interaksi jarak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Penyakit ini membutuhkan pertolongan segera untuk mencegah komplikasi, seperti kesulitan bernapas serta masalah jantung juga ginjal.

Penyebab difteri

Penularan difteri

Penyebab difteri adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menghasilkan racun di dalam tubuh.

Bakteri ini dapat menyebarkan penyakit melalui air liur, udara, benda pribadi, serta permukaan benda lain yang terkontaminasi.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai bakteri penyebab difteri menyebar atau menular.

1. Partikel udara

Jika anak menghirup partikel udara dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, kemungkinan ia dapat terkena difteri.

Cara ini sangat efektif untuk menyebarkan penyakit, terutama pada tempat yang ramai.

2. Barang pribadi yang terkontaminasi

Penyebab lainnya adalah kontak dengan benda-benda pribadi yang terkontaminasi.

Anda dapat terkena difteri dengan memegang tisu bekas orang yang terinfeksi, minum dari gelas yang belum dicuci, atau kontak sejenisnya dengan benda yang membawa bakteri.

Pada kasus yang langka, difteri menyebar pada peralatan rumah tangga yang digunakan bersama, seperti handuk atau mainan.

3. Luka yang terinfeksi

Menyentuh luka yang terinfeksi juga dapat membuat Anda terpapar bakteri yang menjadi penyebab difteri.

Faktor risiko difteri

Ada banyak faktor yang menambah risiko Anda atau anak mengalami difteri, seperti berikut ini.

  • Tidak melakukan atau mendapatkan vaksin terbaru.
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS.
  • Tinggal di kondisi yang tidak bersih atau ramai.

Kondisi ini banyak terjadi di negara-negara berkembang yang kesadaran untuk melakukan imunisasi masih rendah.

Penyakit ini merupakan ancaman bagi anak yang tidak divaksin atau melakukan perjalanan ke negara yang sering terjadi difteri.

Komplikasi difteri

Jika tidak ditangani, penyakit difteri dapat menyebabkan kompilkasi pada anak, yang meliputi berikut ini.

1. Masalah pernapasan

Bakteri penyebab penyakit ini mungkin menciptakan toksin atau racun.

Toksin ini menghancurkan jaringan pada daerah terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan.

Dalam kondisi ini, infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya. Membran ini bisa menghambat pernapasan.

2. Kerusakan jantung

Toksin difteri mungkin menyebar melalui aliran darah dan menghancurkan jaringan lain dalam tubuh seperti otot jantung.

Jika sudah begini, anak juga bisa mengalami komplikasi peradangan pada otot jantung (miokarditis).

3. Kerusakan saraf

Racun bakteri penyebab difteri juga bisa mengakibatkan kerusakan saraf. Biasanya, kerusakan saraf terjadi pada tenggorokan sehingga anak jadi sulit menelan.

Saraf di lengan dan kaki juga bisa meradang dan menyebabkan lemah otot.

Jika bakteri Corynebacterium diphtheriae merusak saraf yang mengatur otot pernapasan, otot tersebut akan lumpuh.

Dengan perawatan tepat, sebagian besar orang dengan penyakit difteri mampu bertahan menghadapi komplikasi di atas.

Akan tetapi, pemulihannya berlangsung lambat. Difteri berakibat fatal pada 3 persen dari mereka yang menderita penyakit ini.

4. Penyakit lainnya akibat infeksi di lokasi lain

Jika infeksi bakteri menyerang jaringan seperti kulit, rasa sakit biasanya lebih ringan. Hal ini karena kulit menyerap jumlah toksin yang lebih sedikit.

Namun, penyebab difteri di kulit dapat menghasilkan bisul seperti bintik kuning, tampak jernih dan terkadang keabu-abuan.

Diagnosis difteri

Difteri pada anak

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dari melihat tanda dan gejala sebelum melakukan diagnosis pada Anda atau anak.

Apabila dokter melihat lapisan abu-abu pada tenggorokan dan amandel, dokter dapat menduga penyakit difteri.

Dokter juga dapat menanyakan sejarah medis serta gejala yang dialami oleh anak.

Namun, metode paling aman untuk mendiagnosis difteri adalah dengan melakukan tes swab.

Sampel jaringan yang terpengaruh akan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa, dan diuji toksisitasnya.

Berikut jenis-jenis sampelnya.

  • Spesimen klinis yang diambil dari hidung dan tenggorokan.
  • Semua kasus yang dicurigai dan melakukan kontak dengan mereka diuji.

Pengobatan difteri

Dokter akan segera menangani penyakit difteri pada anak karena merupakan kondisi yang sangat serius.

Berikut langkah-langkah yang mungkin akan dilakukan tenaga medis.

1. Antitoksin

Pertama, dokter akan memberikan suntikan berupa diphteria antitoxin (DAT) untuk melawan racun yang dihasilkan oleh bakteri.

Obat difteri ini berfungsi untuk menetralisir racun yang bersirkulasi di dalam tubuh dan mencegah perkembangan penyakit difteri.

Akan tetapi, DAT tidak dapat menetralisir racun yang terlanjur merusak sel-sel di dalm tubuh.

Pengobatan difteri melalui DAT bisa diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis klinis, tanpa menunggu konfirmasi dari hasil diagnosis laboratorium.

Jika anak mempunyai alergi terhadap antitoksin, Anda perlu memberi tahu dokter agar dapat menyesuaikan pengobatan.

Pengobatan difteri melalui DAT tidak dianjurkan pada kasus difteri kulit atau cutaneous diphtheria yang tidak memperlihatkan gejala.

Efek samping dari antitoksin yang perlu diwaspadai orangtua meliputi berikut ini.

  • Demam.
  • Alergi seperti gatal, kemerahan, atau biduran.
  • Syok seperti sesak napas dan penurunan tekanan darah (jaranng terjadi).
  • Nyeri sendi dan tubuh terasa pegal.

2. Antibiotik

Setelah itu, dokter akan memberikan antibiotik, seperti erythromycin dan penicillin, untuk membantu mengatasi infeksi.

Pemberian antibiotik dalam pengobatan difteri pada anak atau orang dewasa bukanlah pengganti untuk DAT.

Meskipun antibiotik belum terbukti memengaruhi penyembuhan infeksi difteri, obat tetap akan diberikan.

Ini dilakukan untuk membasmi bakteri dari nasofaring, sehingga mencegah penularan difteri lebih lanjut ke orang lain.

3. Perawatan lanjutan

Jangan khawatir jika dokter meminta Anak untuk tinggal di rumah sakit. Ini untuk mengawasi reaksi terhadap pengobatan dan mencegah penyebaran penyakit.

Isolasi akan dilakukan di Intensive Care Unit (ICU) karena penyakit ini menyebar dengan mudah dan cepat. Biasanya, pasien akan menjalani rawat inap selama 14 hari pemberian obat difteri antibiotik

Langkah pengobatan dan peraawatan tersebut akan dilakukan terus-menerus hingga hasil pemeriksaan berubah menjadi negatif.

Perawatan rumahan untuk difteri

Berikut adalah pengobatan rumahan yang dapat dilakukan orangtua untuk mengatasi difteri pada anak.

  • Pastikan anak banyak istirahat di tempat tidur dan batasi aktivitas fisik yang melelahkan.
  • Isolasi ketat. Anda sebaiknya menghindari penyebaran penyakit pada orang lain apabila anak terinfeksi.

Apabila anak dirawat di rumah, gunakan masker untuk mencegah penularan. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan benda-benda juga mencuci tangan setiap saat.

Saat pulih dari penyakit ini, anak serta orangtua mungkin membutuhkan vaksin difteri yang lengkap untuk mencegah terulangnya kembali.

Pernah mengalami kondisi tersebut tidak menjamin Anda akan kebal seumur hidup. Anak atau orang dewasa bisa mengalami penyakit ini lebih dari sekali jika tidak melakukan imunisasi lengkap.

Pencegahan difteri

jarak imunisasi

Berikut upaya pencegahan yang bisa dilakukan orangtua untuk penyakit tersebut.

1. Melakukan vaksin

Sebelum antibiotik tercipta, difteri merupakan penyakit yang umum pada anak-anak. Namun kini, penyakit tersebut tak hanya bisa diobati, tapi juga dicegah dengan vaksin.

Menurut WHO, vaksinasi telah mengurangi angka kematian dan morbiditas akibat difteri secara dramatis.

Namun, penyakit itu masih menjadi masalah besar kesehatan anak di negara-negara dengan angka Environmental Performance Index (EPI) yang rendah.

Vaksin ini merupakan toksoid bakteri, yaitu toksin yang toksisitasnya telah dinonaktifkan. Biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lainnya, seperti untuk tetanus dan pertusis.

Maka dari itu, sebagai pencegahan difteri anak membutuhkan vaksin DPT (diphtheria, tetanus, dan pertussis).

Sementara itu, untuk orang dewasa, vaksin yang diberikan biasanya dicampur dengan toksoid tetanus dengan konsentrasi yang lebih rendah.

Jadwal imunisasi untuk pencegahan difteri ini biasanya dilakukan secara bertahap, yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15 sampai 18 bulan, dan 4 sampai 6 tahun.

Ada beberapa efek samping dari vaksinasi ini. Anak-anak mungkin akan merasakan demam ringan, rewel, kantuk, hingga kebas di lokasi suntikan. Tanyakan dokter Anda tentang cara menurunkan atau menghilangkan efek tersebut.

Pada kasus yang jarang terjadi, vaksin DPT menyebabkan komplikasi serius pada anak.

Sebagai contoh, reaksi alergi (gatal atau ruam yang timbul beberapa menit setelah injeksi), kejang, atau syok. Namun, kondisi ini bisa diobati.

Beberapa anak, khususnya yang mengalami epilepsi atau kondisi sistem saraf lainnya, mungkin tidak direkomendasikan mendapatkan vaksinasi DPT.

2. Imunisasi tambahan

Setelah rangkaian imunisasi saat masa anak-anak, pada kondisi tertentu diperlukan suntikan booster vaksin difteri untuk mempertahankan imunitas.

Hal itu karena kekebalan tubuh pada penyakit tersebut menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Anak-anak yang telah melewati rekomendasi vaksin sebelum usia 7 tahun harus mendapatkan suntikan booster pada usia 18 tahun.

Suntikan pendorong berupa vaksin Tdap selanjutnya direkomendasikan dilakukan pada 10 tahun berikutnya, dan diulang setiap 10 tahun sekali.

Tdap adalah gabungan antara vaksin tetanus, difteri, dan pertussis (batuk rejan).

Ini adalah vaksin alternatif satu kali untuk remaja usia 11—18 tahun dan orang dewasa yang sebelumnya tidak mendapatkan suntikan booster.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fajarina Nurin · Tanggal diperbarui 26/10/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan