backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Vaksin HPV: Manfaat, Jadwal Pemberian, dan Efek Sampingnya

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Andisa Shabrina · Tanggal diperbarui 04/01/2024

Vaksin HPV: Manfaat, Jadwal Pemberian, dan Efek Sampingnya

Pemberian imunisasi pada anak sangat penting untuk mencegah penyakit, salah satunya kanker serviks. Penyebab penyakit ini adalah human papillomavirus (HPV) dan bisa Anda cegah salah satunya dengan menggunakan vaksin. Ini penjelasan seputar vaksin HPV mulai dari jadwal imunisasi, manfaat, dan efek sampingnya.

Apa itu vaksin HPV?

vaksin HPV

Vaksin HPV adalah jenis vaksin yang bertujuan untuk mencegah penyakit karena human papillomavirus.

Pada wanita, virus ini bisa menyebabkan kanker leher rahim, kanker vagina, kanker vulva, kutil kelamin, dan anus.

Sementara pada pria, virus HPV bisa menyebabkan penyakit kutil kelamin, kanker anus serta kanker penis.

Namun, imunisasi HPV tidak dapat mencegah jenis-jenis penyakit kelamin lain bila penyebabnya berikut ini.

  • Bakteri (klamidia, gonore, dan sifilis).
  • Parasit (trikomoniasis).
  • Virus lainnya (hepatitis B, herpes genital, HIV, zika).

Imunisasi HPV hanya berfungsi untuk mencegah infeksi HPV yang bisa berupa kanker serviks atau kutil kelamin.

Untuk mencegah risiko berbagai penyakit kelamin dari penyebab lainnya, tetap perlu cara lain.

Beberapa jenis HPV juga berhubungan dengan kanker mulut dan tenggorokan. Jadi, imunisasi untuk HPV ini kemungkinan juga dapat melindungi Anda dari kanker mulut dan tenggorokan.

Virus ini dapat menyerang bagian sel epitel pada kulit dan membran mukosa yang salah satunya terletak pada area kelamin. 

Setelah virus menyerang, sel akan rusak dan mulai tumbuh secara abnormal. Akibatnya, perkembangan virus HPV berisiko menyebabkan kanker.

Bagaimana cara kerja vaksin HPV?

anak imunisasi

Mengutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 2 jenis vaksin kanker serviks di Indonesia untuk membantu mencegah kanker serviks. Pertama bivalen dan kedua tetravalen.

Vaksin bivalen mengandung 2 tipe virus HPV, yaitu tipe 16 dan 18 yang dapat mencegah terjadinya kanker leher rahim.

Sementara jenis tetravalen berisikan 4 tipe virus HPV, yakni 6, 11, 16, dan 18.

Keempat tipe virus pada vaksin HPV tersebut berguna untuk mencegah kanker serviks atau leher rahim sekaligus kutil kelamin atau genital wart. 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa satu dosis vaksin HPV ampuh untuk mencegah kanker serviks. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk mewajibkan pemberian vaksin HPV terutama untuk perempuan.

Siapa yang membutuhkan vaksin HPV?

akibat tidak diimunisasi

Di Indonesia, pemberian vaksin kanker serviks umumnya untuk anak perempuan, setidaknya mulai dari usia 10 tahun ke atas.

Hanya saja, Kementerian Kesehatan RI berharap agar pemberian vaksin HPV bisa lebih luas untuk anak laki-laki.

Pasalnya, pemberian vaksinasi kepada laki-laki dapat membantu melindungi dan mengurangi penularan virus HPV penyebab kanker serviks ke pasangan seksualnya di kemudian hari.

Sangat ideal bagi anak perempuan dan anak laki-laki untuk menerima vaksin agar mencegah penyebaran virus dan penyakit sebelum mereka melakukan kontak seksual dan terpapar HPV.

Ini karena sekali terinfeksi, vaksin untuk pencegahan kanker serviks ini tidak akan bekerja efektif, bahkan mungkin tidak bekerja sama sekali.

Kapan jadwal pemberian vaksin HPV?

Vaksin HPV paling efektif diberikan pada remaja putri yang belum aktif melakukan hubungan seksual. 

Berdasarkan jadwal imunisasi anak tahun 2023 dari IDAI, pemberian vaksin HPV sebagai upaya pencegahan kanker serviks pada anak perempuan bisa dilakukan di usia 9—14 tahun sebanyak 2 dosis. 

Di usia ini, anak perempuan mendapatkan vaksin human papillomavirus dengan jeda 6—15 bulan dari suntikan pertama.

Sementara jika usianya sudah terlewat, anak perempuan tetap bisa mendapatkan vaksin HPV di usia 15—18 tahun sebanyak 3 dosis dengan jeda 0, 1, 6 bulan.

Sebagai contoh, anak usia 15 tahun ke atas pertama mendapat vaksin pada bulan Januari, maka lakukan suntikan kedua pada Februari, dan suntikan ketiga pada bulan Juli.

Jika jadwal pemberian vaksin terlewat, Anda tidak perlu mengulangnya dari awal. Cukup dengan melengkapi dosis vaksin untuk kanker serviks yang terlewat sebelumnya.

Kabar baiknya, di tahun 2023 imunisasi HPV sudah bisa didapatkan secara nasional di seluruh provinsi di Indonesia.

Perlu Anda ketahui

Respons kekebalan akan lebih kuat jika pemberian vaksin pada usia muda daripada usia yang lebih tua. Tingkat efektivitas kerja vaksin ini pun akan semakin tinggi.

Siapa yang tidak boleh mendapatkan imunisasi HPV?

efek samping imunisasi hpv

Melansir dari CDC, ibu hamil tidak boleh menerima vaksin HPV dan baru bisa mendapatkan vaksin ini setelah melahirkan. 

Jika mendapati Anda sedang hamil setelah menerima suntikan pertama vaksin HPV, sebaiknya menunda pemberian suntikan berikutnya hingga melahirkan.

Meski umumnya seorang ibu yang tidak mengetahui dirinya hamil saat vaksin tidak perlu khawatir, cobalah untuk tetap berkonsultasi ke dokter.

Informasikan segala jenis alergi yang Anda miliki sebelum melakukan vaksin.

Jika Anda juga memiliki reaksi alergi terhadap kandungan atau komponen vaksin atau dosis vaksin sebelumnya, Anda seharusnya tidak boleh mendapat vaksin ini.

Apa efek samping imunisasi HPV?

imunisasi HPV lindungi anak

Efek samping dari imunisasi HPV biasanya terbilang ringan. Bahkan, ada juga yang tidak merasakan efek samping apapun setelah mendapatkannya.

Efek samping imunisasi yang paling umum dari setelah penyuntikan adalah rasa sakit, pembengkakan atau kemerahan pada tempat suntikan. Pusing atau pingsan kadang juga terjadi setelah vaksinasi.

Efek samping yang sangat umum

Lebih dari satu per seratus perempuan yang mendapatkan imunisasi HPV mengalami kondisi berikut.

  • Demam.
  • Mual (tidak enak badan).
  • Nyeri pada lengan, jari tangan, kaki, dan jari kaki.
  • Kemerahan, memar, gatal, bengkak, nyeri, atau selulitis.
  • Sakit kepala.

Efek samping yang jarang

Sekitar satu per sepuluh ribu perempuan yang mendapatkan vaksin HPV mengalami ruam merah yang gatal (urtikaria atau biduran).

Efek samping yang sangat langka

Kurang dari satu per sepuluh ribu perempuan yang mendapatkan vaksin kanker serviks mengalami masalah dan kesulitan bernapas (bronkospasme).

Dalam kasus yang jarang terjadi, Anda mungkin mengalami reaksi alergi serius setelah mendapatkan vaksin.

Reaksi ini dikenal juga sebagai syok anafilaktik. Tanda-tanda syok anafilaktik termasuk berikut.

  • Kesulitan bernapas.
  • Mata, bibir, alat kelamin, tangan, kaki dan daerah lainnya membengkak (angioedema).
  • Gatal.
  • Mulut terasa seperti besi.
  • Mata sakit, merah, dan gatal.
  • Perubahan denyut jantung.
  • Hilang kesadaran.

Sekali lagi, reaksi parah seperti ini sangat langka. Perbandingannya yaitu satu per satu juta orang. Jika Anda memiliki reaksi alergi yang parah, segera hubungi dokter.

Ada baiknya tetap berikan vaksin pada si kecil karena anak yang tidak menerima imunisasi atau anak terlambat imunisasi risiko tertular penyakit lebih besar.

Apakah vaksin HPV memengaruhi kesuburan wanita?

Penelitian berjudul The Effect of Vaccination Against Human Papillomavirus on Fecundability menunjukkan bahwa vaksin HPV adalah cara memperbaiki kemungkinan kesuburan pada beberapa wanita. 
Wanita dengan riwayat penyakit kelamin yang divaksinasi akan memiliki kesempatan hamil yang sama dengan wanita yang belum divaksin dan tidak memiliki riwayat penyakit kelamin.
Dengan kata lain, vaksin HPV dapat melindungi kesuburan wanita yang memiliki penyakit kelamin.  
Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini, tidak ada lagi keraguan untuk melakukan imunisasi HPV karena takut tidak subur.

Sudah vaksin HPV, masih perlukah melakukan tes pap smear?

infeksi hpv adalah

Vaksin HPV adalah langkah pencegahan kanker serviks dan tidak bisa menggantikan tes pap smear.

Pemeriksaan rutin kanker serviks melalui tes pap smear merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan seorang wanita.

Pap smear adalah sebuah tes untuk mendeteksi dini kanker serviks keadaan sel-sel pada serviks (leher rahim) dan vagina.

Dengan pemeriksaan rutin, dokter bisa langsung mendeteksi jika ada perubahan sel yang mungkin bisa berkembang menjadi kanker.

Tes pap smear sebaiknya mulai sejak wanita berusia 21 tahun atau sudah aktif berhubungan seksual. Pemeriksaan ini dapat Anda lakukan setiap 3 tahun sekali. 

Perlukah vaksin HPV bila mengalami kutil kelamin?

Vaksin HPV pada dasarnya bertujuan untuk mencegah infeksi. Namun, dalam beberapa kasus, vaksin ini justru bisa berfungsi sebagai pengobatan.

Tujuan pengobatannya untuk membantu membersihkan virus kutil kelamin pada orang yang sudah pernah terinfeksi.

Jadi, melakukan vaksin meski telah terinfeksi menjadi pilihan bijak yang bisa Anda ambil. Pasalnya, ada sekitar 30—40 jenis virus HPV yang menular secara seksual.

Dengan begitu, melakukan vaksin HPV setelah terinfeksi juga bisa membantu melindungi Anda dari jenis HPV lainnya yang mengintai tubuh.

Dikutip dari lama Health Harvard Edu, vaksin HPV dapat memberikan perlindungan yang cukup menjanjikan. Vaksin ini membantu mengurangi luka dan peradangan kutil kelamin sebesar 35%.

Selain itu, vaksin juga tak hanya mencegah infeksi dari empat jenis HPV, tetapi juga mengurangi 38% risiko lesi prakanker oleh 10 strain lainnya.

Namun, Anda juga perlu menyadari bahwa melakukan vaksin saat telah memiliki infeksi bukan berarti secara total menghilangkan infeksi yang Anda miliki.

Vaksin juga tidak melindungi Anda dari semua jenis HPV. Hanya saja, vaksin bisa membantu melindungi Anda dalam jangka waktu sekitar lima tahun.

Oleh karena itu, meski Anda telah melakukan vaksinasi ada baiknya untuk tetap menjalani tes pap smear dan pemeriksaan panggul secara teratur.

Pasalnya, orang yang telah terinfeksi virus HPV seperti kutil kelamin tetap berisiko tertular virus HPV jenis lainnya, termasuk yang menyebabkan kanker serviks.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Andisa Shabrina · Tanggal diperbarui 04/01/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan