6 Hoax Tentang Vaksin yang Sudah Terbukti Salah

    6 Hoax Tentang Vaksin yang Sudah Terbukti Salah

    Hoax tentang vaksin masih banyak beredar di masyarakat. Kabar yang menyesatkan tersebut akhirnya membuat sejumlah masyarakat memilih untuk tidak mendapatkan vaksin sama sekali.

    Untuk memangkas hoax tersebut, penting bagi Anda untuk mengetahui apa saja fakta tentang vaksin agar tubuh tetap mendapatkan perlindungan.

    Apa saja hoax tentang vaksin yang sering beredar?

    vaksin dosis keempat, vaksin covid-19

    Hoax tentang vaksin semakin berkembang sejalan dengan merebaknya pemberian vaksin COVID-19 secara massal.

    Kebanyakan hoax tersebut disebarkan melalui media online oleh akun-akun yang tidak mempunyai kapasitas pengetahuan yang cukup mengenai vaksin.

    Berikut ini berbagai hoax tentang vaksin yang tidak perlu Anda percayai.

    1. “Vaksin tidak aman dan punya efek samping yang merugikan”

    Fakta: Vaksin aman digunakan untuk manusia.

    Semua vaksin yang memiliki izin telah diuji berkali-kali sebelum digunakan pada manusia. Peneliti juga selalu memantau setiap informasi mengenai efek samping vaksin yang mungkin muncul.

    Sebagian besar efek samping yang timbul setelah pemberian vaksin bersifat ringan. Dampak penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan vaksin jauh lebih berat daripada pemberian vaksin itu sendiri.

    Salah satu hoax terbesar tentang vaksin, terutama pada masa vaksinasi COVID-19 sekarang, adalah bahwa vaksin dapat merusak struktur genetik tubuh.

    Akan tetapi, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 telah mengatakan bahwa modifikasi genetik hanyalah dapat terjadi apabila DNA asing dimasukkan ke dalam inti sel manusia. Vaksin COVID-19 tidak bekerja seperti ini.

    Hoax lainnya yaitu adanya 20 ribu laporan kebutaan usai vaksinasi di Eropa. Namun, faktanya, tak ditemukan informasi yang valid dan resmi mengenai hal ini.

    2. “Vaksin tidak alami”

    Fakta: Vaksin menggunakan respons alami manusia terhadap penyakit untuk memicu sistem pertahanan tubuh manusia.

    Sebagian orang percaya bahwa pemberian vaksin tidaklah alami. Seseorang bisa memiliki kekebalan tubuh yang lebih kuat jika terinfeksi penyakit secara langsung, bukan karena vaksin.

    Namun, jika Anda lebih memilih untuk terkena penyakit tertentu agar mendapatkan kekebalan, justru Anda akan berhadapan dengan konsekuensi yang lebih serius.

    Penyakit seperti tetanus dan meningitis dapat menyebabkan kematian, sedangkan vaksin dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh dengan efek samping yang lebih ringan.

    Dengan perlindungan vaksin, Anda juga tidak perlu merasakan penderitaan karena penyakit untuk mendapatkan kekebalan sekaligus menghindari komplikasi yang terjadi akibat penyakit tersebut.

    3. “Vaksin menyebabkan autisme”

    vaksin mr

    Fakta: Pada 1998, terdapat sebuah penelitian yang mengatakan bahwa terdapat kemungkinan hubungan antara pemberian vaksin MMR dengan autisme, tapi ternyata penelitian tersebut salah dan hanyalah sebuah penipuan.

    Penelitian tersebut juga telah ditarik dari jurnal yang mempublikasikannya pada 2010.

    Sayangnya, hoax tentang vaksin tersebut sempat membuat kepanikan pada masyarakat sehingga pemberian vaksin berkurang dan muncul wabah. Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

    4. “Vaksin menyebabkan asma atau alergi”

    Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa pemberian vaksin dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit asma atau alergi.

    Justru mereka yang mengidap asma atau alergi dianjurkan untuk mendapat vaksin yang lengkap karena penyakit seperti pertusis (batuk rejan) dan flu dapat memperburuk kondisi asma.

    Reaksi alergi setelah vaksinasi memang bisa saja terjadi, tetapi risikonya sangat rendah. Angka kejadian alergi berat hanyalah satu dari sejuta pemberian vaksin. Jadi, anggapan ini termasuk hoax tentang vaksin.

    5. “Penyakit infeksi adalah hal yang normal, bagian dari pertumbuhan anak”

    Fakta: Sebagian besar penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin adalah penyakit yang serius dan mematikan. Namun, berkat pemberian vaksin, penyakit-penyakit tersebut sudah jarang ditemukan.

    Sebelum pemberian vaksin, banyak penderita polio yang harus bernapas dengan alat bantu pernapasan, anak-anak yang saluran napasnya tersumbat akibat difteri, ataupun anak-anak yang mengalami kerusakan otak akibat infeksi campak.

    6. “Vaksin mengandung pengawet yang beracun”

    vaksin zivifax

    Fakta: Setiap vaksin mengandung pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.

    Pengawet yang paling sering digunakan adalah thiomersal yang mengandung ethyl mercury. Ethyl mercury sendiri tidak memiliki efek buruk terhadap kesehatan.

    Jenis merkuri yang tidak diperbolehkan yakni methyl mercury. Zat ini memiliki efek beracun terhadap sistem saraf manusia sehingga tidak digunakan sebagai pengawet.

    Ethyl mercury sendiri telah digunakan sebagai pengawet vaksin selama lebih dari 80 tahun. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa thiomersal mengandung ethyl mercury bersifat racun.

    Hoax tentang vaksin dapat berdampak buruk bagi masyarakat, apalagi pada orang-orang yang tidak bisa mengakses informasi yang akurat mengenai vaksin.

    Jika Anda memiliki keraguan atau pertanyaan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada dokter guna mendapatkan solusinya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    IDAI | Apa saja fakta dan mitos tentang vaksinasi?. (2016). Retrieved 11 April 2022, from http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/apa-saja-fakta-dan-mitos-tentang-vaksinasi

    Immunisation. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://www.health.gov.au/health-topics/immunisation

    KOMINFO. Laporan Isu Hoaks. (2021). Retrieved 11 April 2022, from https://ppid.diskominfo.jatengprov.go.id/wp-content/uploads/2021/07/19-Juli-2021-Isu-Hoaks-Harian.pdf

    KOMINFO. Hoaks Vaksin COVID-19. (2021). Retrieved 11 April 2022, from https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/Total%20Isu%20Hoaks%20Vaksin%20Covid-19%20sd%2024%20Oktober%202021.pdf

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui Apr 22
    Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.