home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sirosis Hati

Definisi|Tanda dan gejala|Penyebab dan faktor risiko|Komplikasi|Diagnosis dan pengobatan|Pengobatan di rumah
Sirosis Hati

Definisi

Apa itu sirosis hati?

Sirosis hati adalah tahap akhir dari penyakit liver. Kondisi ini ditandai dengan jaringan hati yang sehat diganti dengan jaringan parut yang rusak secara permanen. Akibatnya, fungsi hati tidak bekerja dengan baik.

Pada saat sirosis terjadi, cedera hati akan meninggalkan bekas luka dan membuat hati tidak bekerja secara normal termasuk tidak mampu membuat protein baru, melawan infeksi, hingga mencerna makanan dan menyimpan energi.

Kerusakan hati tentu dapat menyebabkan masalah di seluruh bagian tubuh. Setiap kali hati terluka, entah disebabkan oleh penyakit atau konsumsi alkohol, hati akan mencoba memperbaiki dirinya sendiri.

Pada prosesnya, jaringan parut akan terbentuk. Semakin lama sirosis dibiarkan, semakin banyak jaringan parut yang membuat hati sulit berfungsi.

Meski penyakit liver yang sudah masuk tahap sirosis tidak dapat diobati, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah komplikasi. Pengobatan sirosis juga bertujuan untuk meringankan gejala yang dialami.

Selain itu, mendeteksi kerusakan hati sejak dini juga bisa mencegah sirosis terjadi, sehingga Anda bisa menghindari risiko gagalnya fungsi hati.

Seberapa umum kondisi ini?

Sirosis hati adalah penyakit liver yang cenderung terjadi pada peminum alkohol berat dan dilakukan dalam jangka panjang.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang tidak minum alkohol juga dapat terkena kondisi ini.

Tanda dan gejala

Apa saja gejala dari sirosis hati?

Gejala sirosis hati umumnya tidak terasa hingga kerusakan hati meluas. Bila sudah parah, Anda mungkin mengalami gejala awal berupa:

  • merasa lelah akibat kehilangan massa otot,
  • lesu,
  • nafsu makan menurun,
  • mual,
  • penurunan berat badan,
  • hati membengkak (perlemakan hati), dan
  • telapak tangan tampak memerah.

Bila sudah memasuki tahap akhir, sirosis akan ditandai dengan beberapa kondisi, seperti:

  • mata dan kulit menguning,
  • perubahan warna urine menjadi coklat atau kuning gelap,
  • kerontokan rambut,
  • perubahan pembuluh darah pada kulit dan di sekitar pusar,
  • pertumbuhan payudara pada pria,
  • mudah memar dan berdarah,
  • muntah darah dan warna BAB hitam,
  • sering merasa bingung,
  • perut dan kaki membengkak,
  • kulit gatal, hingga
  • koma.

Mungkin ada beberapa tanda atau gejala yang tidak tercantum. Jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap gejalanya, silakan konsultasikan dengan dokter.

Kapan harus ke dokter karena penyakit ini?

Bila Anda merasakan tanda atau gejala yang tercantum di atas, silakan konsultasikan dengan dokter.

Perlu diingat bahwa setiap orang memiliki reaksi tubuh yang berbeda, selalu diskusikan dengan dokter apa yang terbaik untuk kondisi Anda.

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab sirosis hati?

Penyebab utama sirosis adalah kecanduan alkohol atau konsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Sirosis alkoholik adalah istilah medis dari kondisi tersebut.

Selain alkohol, beberapa jenis penyakit liver dan masalah kesehatan yang mengganggu fungsi hati juga dapat menyebabkan sirosis, seperti:

Apa faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit ini?

Ada beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan risiko terkena sirosis hati, antara lain:

  • konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka waktu yang lama,
  • infeksi virus hepatitis,
  • obesitas dan diabetes, dan
  • lemak tinggi dalam darah.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari sirosis hati?

Bila sirosis hati tidak segera ditangani, kerusakan hati akan berkembang. Berikut ini beberapa komplikasi sirosis yang perlu Anda waspadai.

Hipertensi portal

Hipertensi portal adalah komplikasi yang paling sering terjadi akibat penyakit sirosis. Kondisi yang meningkatkan tekanan pada vena ini dapat menyebabkan aliran darah melalui hati tersumbat.

Bila pembuluh darah tersumbat, pembuluh darah pada kerongkongan, perut, atau usus akan membesar atau disebut sebagai varises. Akibatnya, pembuluh darah bisa pecah dan mengalami perdarahan internal.

Pembengkakan pada kaki (edema)

Selain hipertensi portal, peningkatan pada vena portal juga menyebabkan penumpukan cairan di kaki (edema) dan di perut (asites).

Pembesaran limpa (splenomegali)

Hipertensi portal akibat sirosis hati juga dapat mengalihkan aliran darah ke vena yang lebih kecil. Tekanan yang berlebih juga menyebabkan pembuluh darah kecil ini pecah dan mengalami perdarahan.

Kondisi tersebut juga dapat membuat sel darah putih dan trombosit terperangkap.

Ensefalopati hepatik

Ensefalopati hepatik atau penumpukan racun di otak terjadi akibat fungsi hati tidak bekerja dengan normal.

Alhasil, hati tidak mampu membersihkan racun dari darah yang menyebabkan penumpukan di otak, sehingga membuat Anda bingung dan sulit berkonsentrasi.

Komplikasi lainnya

Selain beberapa komplikasi di atas, sirosis yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kondisi lainnya, seperti:

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Pasien yang mengalami sirosis hati tahap awal biasanya tidak memiliki gejala. Bahkan, penyakit sirosis juga lebih sering terdeteksi melalui tes darah atau pemeriksaan rutin.

Setelah itu, dokter mungkin akan meminta Anda menjalani pemeriksaan untuk membantu memastikan diagnosis, meliputi:

  • tes darah untuk memeriksa fungsi hati, seperti kadar bilirubin dan enzim tertentu.
  • tes pencitraan, seperti MRI, X-Ray, dan CT-Scan, serta
  • biopsi hati.

Apa saja pilihan pengobatan sirosis hati?

Pada dasarnya, pengobatan sirosis hati itu berdasarkan penyebab dan tingkat keparahan yang diderita.

Tujuan dari perawatan ini adalah memperlambat perkembangan jaringan parut pada liver dan mengobati gejala serta mencegah komplikasi. Berikut ini beberapa cara mengobati sirosis yang kerap direkomendasikan oleh dokter.

Berhenti minum minuman beralkohol

Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan sirosis hati. Namun, Anda bisa mencegah komplikasi dengan berhenti minum alkohol.

Bila Anda sulit menghentikan kebiasaan minum alkohol, minta dokter untuk referensi program pengobatan untuk kecanduan alkohol. Pasalnya, pasien dengan sirosis sangat tidak dianjurkan minum alkohol karena berdampak buruk bagi hati.

Diet rendah garam

Diet rendah garam (natrium) adalah pengobatan sirosis yang bertujuan untuk mencegah penumpukan cairan dalam tubuh. Hal ini juga membantu mengontrol asites dan pembengkakan yang terjadi pada tubuh.

Bila kondisinya sudah semakin parah, dokter mungkin akan melakukan prosedur untuk mengeluarkan cairan atau pembedahan agar tekanannya berkurang.

Minum obat sesuai aturan dokter

Walaupun sirosis tidak dapat disembuhkan, dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat untuk mengatasinya. Obat-obatan ini setidaknya dapat membantu mengendalikan penyebab dan mencegah komplikasi.

Obat yang diresepkan untuk meringankan gejala sirosis berupa:

  • kortikosteroid, seperti prednisone dan azathioprine,
  • obat-obatan antiviral,
  • antibiotik, seperti ciprofloxacin dan amoxicillin,
  • diuretik, seperti amiloride dan furosemide,
  • obat pembekuan darah, serta
  • vitamin K.

Selain itu, obat-obatan untuk mengendalikan hepatitis untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut pada sel hati akibat virus hepatitis B dan hepatitis C.

Pengobatan untuk komplikasi

Pengobatan komplikasi sirosis hati yang disebabkan oleh peningkatan tekanan di pembuluh darah pada perut tergantung pada berat badan.

Obat-obatan dan endoskopi bisa digunakan untuk pengobatan pembuluh darah yang membesar di kerongkongan (varises esofagus) untuk mencegah perdarahan.

Operasi dan transplantasi hati

Jika sejumlah pengobatan di atas tidak kunjung membuahkan hasil, operasi dan transplantasi hati mungkin dapat direkomendasi oleh dokter untuk mengatasi sirosis hati.

Bolehkah pakai obat herbal untuk mengobati sirosis hati?

Hingga saat ini sejumlah pengobatan alternatif telah digunakan untuk mengatasi penyakit liver, seperti:

  • milk thistle (silymarin),
  • merica panjang (long pepper), dan
  • minum kopi.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada penelitian yang dapat merekomendasikan obat herbal untuk mengobati sirosis hati. Selain itu, ada sejumlah pengobatan alternatif yang dapat merusak hati.

Intinya, pilihan penanganan dan pengobatan sirosis hati bergantung pada penyebab dan tingkat kerusakan hati. Selalu diskusikan dengan dokter terkait pilihan perawatan yang tepat dengan kondisi Anda.

Pengobatan di rumah

Selain mendapatkan perawatan dari dokter, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjalani hidup sebagai penderita sirosis hati. Berikut ini perubahan gaya hidup dan pengobatan di rumah yang membantu mengatasi penyakit sirosis.

Pola makan sehat

Kerusakan hati akibat sirosis hati sangat membutuhkan nutrisi yang tepat agar kerusakan hati tidak berkembang.

Itu sebabnya, mengatur pola makan pasien sirosis penting untuk memastikan asupan nutrisi yang cukup dan menghindari makanan yang merusak hati. Berikut yang perlu diperhatikan.

  • Batasi atau berhenti minum alkohol.
  • Diet rendah lemak, seperti diet Mediterania.
  • Hindari makanan laut mentah, seperti tiram, karena mengandung bakteri.
  • Kurangi jumlah garam.
  • Ganti garam dengan rempah lainnya untuk membumbui makanan.

Gaya hidup sehat

Selain pola makan sehat, pengobatan sirosis hati di rumah tentu harus didukung dengan gaya hidup yang sehat pula. Berikut hal-hal yang dapat Anda lakukan.

  • Menjaga berat badan ideal.
  • Rutin berolahraga.
  • Berhenti merokok.
  • Melakukan pemeriksaan rutin secara berkala.
  • Menghindari berhubungan seks tanpa kondom.
  • Mendapatkan vaksin hepatitis B.
  • Menghindari penggunaan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen dan aspirin.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, F. F. (2012). Ferri’s Netter patient advisor E-book. Elsevier Health Sciences.

Porter, R. S., Kaplan, J. L., & Homeier, B. P. (2009). The Merck manual home health handbook. Merck & Company.

Liver Cirrhosis – American College of Gastroenterology. (2012). Retrieved 2 April 2020, from https://gi.org/topics/liver-cirrhosis/ 

Cirrhosis – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 2 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cirrhosis/symptoms-causes/syc-20351487 

Xiong, F., & Guan, Y. (2017). Cautiously using natural medicine to treat liver problems. World Journal Of Gastroenterology, 23(19), 3388. doi: 10.3748/wjg.v23.i19.3388. Retrieved 17 December 2020. 

Sharma B, John S. (2020). Hepatic Cirrhosis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Retrieved 17 December 2020, from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482419/ 

Siddiq, T., & Khan, N. (2015). Nutrition as a Part of Therapy in the Treatment of Liver Cirrhosis. Journal Of Nutrition & Food Sciences, 5(11). doi: 10.4172/2155-9600.1000S11004. Retrieved 17 December 2020. 

Cirrhosis of the Liver Prevention | Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 17 December 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15572-cirrhosis-of-the-liver/prevention

Cirrhosis – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2018). Retrieved 17 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cirrhosis/diagnosis-treatment/drc-20351492 

Medication for Cirrhosis. (n.d). Winchester Hospital. Retrieved 17 December 2020, from https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=19277 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fajarina Nurin Diperbarui 08/01/2021
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x