Stillbirth (Bayi Lahir Mati): Penyebab, Tanda, dan Cara Mencegahnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Selama masa kehamilan, ada berbagai masalah kesehatan yang bisa menimpa si kecil, salah satunya stillbirth atau bayi lahir dalam keadaan meninggal. Stillbirth atau Intrauterine fetal death (IUFD) termasuk masalah serius yang perlu dipahami oleh para calon orangtua. Berikut penjelasan lengkapnya mulai dari pengertian, tanda, penyebab, sampai cara mencegahnya.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Apa itu stillbirth?

Stillbirth atau Intrauterine fetal death (IUFD) adalah kondisi bayi meninggal di dalam kandungan atau setelah dilahirkan.

Kondisi ini umumnya terjadi saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Sementara itu, kematian bayi sebelum minggu ke-20 kehamilan disebut keguguran.

Berdasarkan aturan WHO, bayi meninggal dalam kandungan adalah bayi yang lahir tanpa tanda-tanda kehidupan pada usia kandungan 28 minggu atau lebih. 

Bila dibagi sesuai masa kehamilan, klasifikasi kondisi Intrauterine fetal death (IUFD) aadalah:

  • Usia kehamilan 20 hingga 27 minggu: stillbirth awal (early stillbirth)
  • Usia kehamilan 28 hingga 36 minggu: stillbirth akhir (late stillbirth)
  • Setelah 37 minggu: stillbirth

Memiliki bayi sehat di kehamilan berikutnya adalah hal yang mungkin terjadi pada kebanyakan wanita yang pernah mengalami stillbirth.

Jika penyebab bayi meninggal setelah dilahirkan adalah masalah kromosom tertentu atau masalah tali pusar, kemungkinan lahir mati akan terjadi lagi kecil. 

Sementara itu, bila penyebab stillbirth adalah penyakit kronis ibu atau gangguan genetik pada orangtua, risikonya lebih tinggi. 

Seberapa umumkah kondisi bayi lahir mati?

Masih mengutip dari WHO, pada 2015, jumlah bayi meninggal dalam kandungan secara global adalah ada 2,6 juta.

Sementara itu jumlah kematian adalah  7.178 per hari. Mayoritas kondisi ini terjadi di negara-negara berkembang. 

Kasus Intrauterine fetal death (IUFD) yang terjadi di negara dengan penghasilan rendah dan menengah adalah sebanyak 98 persen.

Lalu, sekitar setengah dari semua kasus bayi meninggal dalam kandungan terjadi pada periode intrapartum (selama proses persalinan hingga kelahiran).

Periode tersebut merupakan waktu risiko terbesar selama kehamilan.

Diperkirakan proporsi bayi meninggal dalam kandungan yang intrapartum adalah bervariasi dari 10 persen di daerah maju hingga 59 persen di Asia Selatan. 

Bayi meninggal setelah dilahirkan merupakan kondisi yang dapat terjadi pada siapapun.

Ini dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala stillbirth

Biasanya tidak ada tanda darurat sebelum terjadi kematian janin di dalam kandungan. 

Namun, gejala yang mungkin terjadi sebelum bayi meninggal dalam kandungan yaitu:

  • Pendarahan vagina, terutama selama trimester kedua kehamilan
  • Bayi kurang bergerak atau mengalami perubahan tingkat aktivitas normal selama di dalam kandungan. 

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala bayi meninggal dalam kandungan yang tidak disebutkan di atas. 

Jika memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikan pada dokter.

Penyebab Intrauterine fetal death (IUFD)

Sekitar 1 dari 200 kehamilan dapat mengalami kematian sebelum bayi lahir pada usia kandungan lebih dari 20 minggu.

Tidak jauh berbeda dengan penyebab dari keguguran, Intrauterine fetal death (IUFD) juga bisa disebabkan oleh kondisi ibu maupun janin.

Beberapa hal menjadi penyebab bayi meninggal dalam kandungan atau setelah dilahirkan adalah:

1. Cacat lahir dengan atau tanpa kelainan kromosom

Mengutip dari March of Dimes, sekitar 14 dari 100 kasus bayi lahir mati (14 persen), memiliki kondisi cacat lahir termasuk kondisi kelainan genetik, seperti down syndrome.

Selain itu, kelainan kromosom bertanggung jawab sebesar 15-20 persen dari semua kejadian bayi lahir mati.

Terkadang, bayi lahir mati juga mempunyai kelainan struktural yang tidak disebabkan oleh kelainan kromosom.

Akan tetapi disebabkan oleh genetik, lingkungan, dan penyebab yang tidak diketahui.

2. Masalah dengan tali pusar

Saat persalinan, bisa saja terjadi tali pusar bayi yang keluar lebih dulu sebelum bayi keluar (prolaps tali pusar).

Hal tersebut menghalangi pasokan oksigen bayi sebelum bayi mampu bernapas sendiri. Bayi yang terlilit tali pusar sebelum persalinan, sehingga mengganggu pernapasan bayi.

Dua kejadian yang melibatkan tali pusar ini menjadi penyebab bayi meninggal di dalam kandungan. Namun, kejadian ini jarang menjadi penyebab utama dari bayi lahir mati.

3. Masalah pada plasenta

Sekitar 24 persen masalah pada plasenta menyebabkan stillbirth. Masalah pada plasenta ini mencakup:

  • Pembekuan darah
  • Peradangan
  • Masalah dengan pembuluh darah di plasenta
  • Solusio plasenta (plasenta lepas dari dinding rahim sebelum waktunya)

Wanita yang merokok selama kehamilan lebih mungkin untuk mengalami abrupsio plasenta dibandingkan wanita yang tidak merokok.

4. Kondisi kesehatan ibu

Ibu hamil dengan kondisi ini bisa menjadi penyebab bayi lahir mati:

Tekanan darah tinggi atau preeklampsia saat hamil meningkatkan risiko abruptio plasenta atau bayi lahir mati dua kali lebih besar.

5. Intrauterine growth restriction (IUGR)

IUGR membuat janin memiliki risiko tinggi kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi ini kemudian membuat pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu.

Pertumbuhan dan perkembangan janin yang berjalan sangat lambat dapat menempatkan janin pada risiko lahir mati.

Bayi yang kecil atau tidak tumbuh sesuai dengan usianya berisiko mengalami kematian karena asfiksia atau kekurangan oksigen sebelum atau selama kelahiran.

6. Infeksi selama kehamilan yang memengaruhi ibu, bayi, atau plasenta

Sekitar 1 dari 10 kejadian bayi lahir mati disebabkan oleh infeksi. Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan bayi lahir mati adalah:

Beberapa infeksi ini mungkin tidak menunjukkan gejala dan tidak terdiagnosis sebelum ibu mengalami kondisi yang lebih serius.

Beberapa kondisi yang lebih serius yaitu kelahiran prematur atau bayi lahir mati.

Apa yang meningkatkan risiko stillbirth?

Sama seperti keguguran, bayi lahir mati tentu bukan kejadian yang diinginkan oleh semua ibu hamil. Berikut hal yang meningkatkan risiko ibu hamil mengalami Intrauterine fetal death (IUFD):

Konsultasikan ke dokter bila memiliki salah satu faktor risiko di atas.

Bagaimana stillbirth didiagnosis?

Dokter akan memeriksa detak jantung janin untuk memastikan keadaan si kecil, pemeriksaan ini menggunakan doppler atau scan ultrasound.

Bila bayi meninggal dalam kandungan dan tidak ada risiko pada kesehatan, biasanya ibu hamil akan diberi waktu untuk berpikir mengenai apa yang ingin dilakukan selanjutnya.

Setelah itu, Anda akan diminta menunggu waktu kelahiran dimulai secara alami, atau kelahiran dimulai dengan obat (induksi).

Jika kesehatan ibu hamil berada dalam risiko, bayi tersebut harus dilahirkan sesegera mungkin.

Biasanya cara mengeluarkan bayi yang sudah mati di dalam kandungan tetap menggunakan persalinan normal. 

Namun, bisa juga dengan tindakan operasi caesar pada kondisi tertentu.

Apa saja pengobatan untuk stillbirth?

Ketika seorang ibu mengalami kondisi bayi meninggal di dalam kandungan atau setelah dilahirkan, hal yang penting dilakukan adalah segera melahirkan bayinya.

Beberapa ibu mungkin sudah siap diinduksi saat itu juga untuk merangsang kontraksi rahim, sehingga bisa melahirkan dengan normal (pervaginam).

Ini adalah cara yang sering dilakukan untuk mengeluarkan bayi yang sudah mati di dalam kandungan.

Jika leher rahim ibu belum melebar, dokter akan memberikan obat pada vagina ibu untuk merangsang pelebaran leher rahim. 

Ibu juga akan diberi infus hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim.

Beberapa ibu dengan kondisi tertentu akan disarankan untuk menjalani operasi caesar, seperti:

Operasi caesar dilakukan untuk menghindari komplikasi saat persalinan, seperti perdarahan.

Selain dengan cara melahirkan normal atau operasi caesar, proses pengeluaran bayi lahir mati juga dapat dilakukan dengan cara dilatasi dan kuretase (D&C) atau kuret. 

Prosedur ini dilakukan jika usia kandungan ibu masih dalam trimester kedua. 

Dilatasi dan kuretase memiliki komplikasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan prosedur induksi sebagai upaya untuk dapat melahirkan normal.

Bagaimana respon tubuh setelah melahirkan bayi kondisi meninggal?

Setelah melahirkan, tentu tubuh juga membutuhkan waktu untuk proses pemulihan. Ibu mungkin perlu dirawat beberapa hari di rumah sakit. 

Beberapa hari setelah proses melahirkan, ibu akan merasakan penuh pada payudara karena sudah memproduksi ASI. Ini merupakan suatu hal yang normal terjadi. 

Seiring waktu berjalan, produksi ASI akan berhenti dan ASI akan hilang, tetapi payudara mungkin akan terasa sakit dan nyeri untuk sementara.

Selain pemulihan kondisi fisik, Anda juga pastinya membutuhkan pemulihan emosional. Ini mungkin menjadi suatu proses yang panjang. 

Memang tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa Anda telah kehilangan buah hati.

Pada saat ini, Anda membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama pasangan dan keluarga.

Setelah mengalami kehilangan, beberapa ibu biasanya mempunyai dorongan yang kuat untuk hamil lagi.

Beberapa wanita mungkin ingin mencoba hamil lagi dengan segera, tetapi sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mempersiapkan kehamilan lebih baik. 

Sebaiknya ketahui penyebab kondisi stillbirth, sehingga bisa dicegah pada kehamilan berikutnya. 

Pada beberapa kasus bayi lahir mati mungkin tidak dapat dijelaskan apa yang menyebabkannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pengapuran Plasenta, Seberapa Berbahaya Kondisi Ini Selama Kehamilan?

Jika dibiarkan, pengapuran plasenta bisa menyebabkan masalah pada kehamilan, bahkan memicu bayi lahir dalam kondisi tak bernyawa. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 1 November 2017 . Waktu baca 6 menit

Detak Jantung Janin Lemah, Apakah Ini Pertanda Buruk?

Detak jantung janin lemah disebut juga fetal bradikardia, yaitu ketika detak jantung si kecil di bawah 100 detak per menit. Mengapa bisa terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 10 Juli 2017 . Waktu baca 3 menit

4 Tips Mudah Memilih Kasur Bayi yang Aman dan Nyaman

Untuk menyambut kelahiran si kecil, baiknya Anda memilih tempat tidur dan kasur bayi yang nyaman dan aman. Apa saja yang harus diperhatikan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 27 Juni 2017 . Waktu baca 6 menit

Bolehkah Wanita Tidur Telentang Saat Hamil? Ini Jawabannya!

Saat hamil, mencari posisi rebahan untuk beristirahat bisa menjadi dilema tersendiri. Tapi tidur telentang saat hamil meningkatkan risiko bayi lahir mati.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 22 Januari 2017 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

polusi udara

Polusi Udara di Asia Selatan Meningkatkan Risiko Keguguran dan Stillbirth

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
bayi lahir mati

Berbagai Penyebab Bayi Lahir Dalam Keadaan Meninggal (Stillbirth)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 31 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit
penyakit tiroid stillbirth

Penyakit Hipertiroid Bisa Meningkatkan Risiko Stillbirth Alias Kematian Janin

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 8 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit