Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir, Ketika Persediaan Oksigen untuk Bayi Tidak Tercukupi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Bayi membutuhkan persediaan oksigen yang cukup selama proses melahirkan. Sebab jika tidak, otak serta semua organ di dalam tubuh bayi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan tidak mungkin, salah satu komplikasi persalinan bisa terjadi pada bayi baru lahir, yang dikenal dengan nama asfiksia. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat berakibat fatal. Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan lengkap mengenai asfiksia pada bayi baru lahir.

Apa itu asfiksia pada bayi baru lahir?

risiko melahirkan bayi prematur

Secara harfiahnya, asfiksia adalah kondisi saat pasokan oksigen menurun atau terhenti. Sementara perinatal adalah kondisi yang mencakup sebelum, selama, dan setelah melahirkan.

Mengutip dari Seattle Children’s, asfiksia diartikan sebagai kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen serta aliran darah ke otak. Asfiksia pada bayi baru lahir adalah sebuah kondisi ketika bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan berlangsung.

Itulah mengapa asfiksia pada bayi baru lahir juga bisa disebut sebagai asfiksia perinatal. Kondisi asfiksia pada bayi baru lahir ini membuat otak serta organ tubuh bayi lainnya tidak mendapatkan asupan oksigen serta nutrisi yang cukup.

Jadi sebenarnya bukan selama melahirkan saja, asfiksia pada bayi baru lahir juga bisa dialami bayi sebelum maupun setelah kelahiran. Asfiksia pada bayi baru lahir juga bisa disebabkan oleh meningkatnya kadar karbon dioksida.

Tidak bisa dipandang sebelah mata, karena asfiksia yang terjadi pada bayi baru lahir berisiko fatal. Ini karena tanpa adanya pasokan oksigen yang memadai untuk bayi, otomatis sel-sel di dalam tubuhnya tidak dapat bekerja dengan baik.

Alhasil, tidak ada pasokan oksigen untuk bayi menyebabkan banyak produk sisa seperti limbah asam yang menumpuk di dalam sel. Kondisi inilah yang nantinya mengakibatkan gangguan pada tubuh.

Apa saja gejala asfiksia pada bayi baru lahir?

Gejala asfiksia pada bayi baru lahir bisa berbeda-beda antara satu dan lainnya. Bahkan kadang, gejala dari kondisi ini bisa langsung muncul, tapi bisa juga tidak terdeteksi sesaat setelah bayi dilahirkan.

Salah satu tanda yang biasanya muncul yakni denyut jantung bayi yang terlalu tinggi atau rendah. Secara umumnya, berikut berbagai gejala asfiksia perinatal sebelum bayi dilahirkan berdasarkan UCSF Benioff Children’s Hospital:

  • Denyut atau irama jantung yang tidak normal.
  • Peningkatan kadar asam di dalam aliran darah bayi.

Setelah dilahirkan, gejala asfiksia pada bayi mencakup:

  • Kulit tampak pucat atau berwarna agak kebiruan.
  • Susah bernapas, hingga menyebabkan bayi bernapas dengan cepat atau terengah-engah, dan menggunakan perut.
  • Detak jantung agak melambat.
  • Otot melemah.
  • Bayi terlihat lemas.

Lama waktu bayi tidak mendapatkan persediaan oksigen yang cukup dapat memengaruhi ringan serta parahnya gejala asfiksia.

Artinya, semakin lama bayi tidak memperoleh jumlah oksigen yang cukup, akan semakin besar pula kemungkinan gejala asfiksia muncul.

Dalam beberapa kasus, gejala asfiksia yang parah pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ. Kerusakan tersebut meliputi organ jantung, otak, ginjal, dan paru-paru bayi.

Apa penyebab asfiksia pada bayi baru lahir?

penyebab down syndrome bayi anak

Ada berbagai hal yang bisa menjadi penyebab asfiksia pada bayi baru lahir. Itulah mengapa dokter dan tim medis harus selalu memantau kondisi Anda dan bayi sebelum, selama, bahkan setelah proses persalinan.

Berikut ini beragam hal penyebab asfiksia pada bayi baru lahir:

  • Tekanan darah ibu terlalu tinggi atau rendah selama persalinan.
  • Persediaan oksigen dalam darah ibu tidak tercukupi sebelum maupun selama persalinan.
  • Ada masalah pada saluran pernapasan bayi.
  • Bayi mengalami anemia sehingga sel-sel darah tubuhnya tidak mendapatkan cukup oksigen.
  • Ada penyakit infeksi yang menyerang ibu atau bayi.
  • Proses persalinan yang sulit atau memakan waktu lama.
  • Ada masalah pada plasenta yang membungkus tubuh bayi.
  • Plasenta lepas terlalu cepat saat melahirkan sehingga membuat bayi susah bernapas.
  • Prolaps tali pusat atau tali pusat yang terjepit.
  • Terjadi sindrom aspirasi mekonium, yaitu mekonium bayi terhirup sebelum, selama ataupun setelah persalinan
  • Saat kelahiran bayi sebelum 37 minggu (bayi prematur), paru-paru bayi belum berkembang sehingga tidak dapat bernapas

Persediaan oksigen yang kurang pada bayi sebelum, selama, atau setelah melahirkan bisa terjadi dalam dua cara. Pertama menyebabkan gangguan secara langsung yang terjadi selama beberapa menit setelah persalinan.

Kedua, gangguan yang muncul ketika sel-sel tubuh sebenarnya sudah tidak lagi kekurangan oksigen. Namun, sel-sel tersebut justru melepaskan racun ke dalam tubuh bayi.

Bagaimana cara mendiagnosis asfiksia pada bayi baru lahir?

skrining bayi baru lahir

Dokter dan tim medis akan melakukan penilaian menggunakan skor Apgar (Apgar score) untuk mendiagnosis asfiksia pada bayi baru lahir.

Pemeriksaan kondisi asfiksia pada bayi baru lahir ini dilakukan sekitar 1-5 menit, dengan menilai pernapasan, nadi, otot, respons atau refleks terhadap rangsangan, maupun kondisi fisik bayi.

Skor Apgar untuk menilai asfiksia pada bayi baru lahir bisa berkisar dari 0 sampai dengan 10. Jika setelah 5 menit diperiksa ternyata skor Apgar bayi di bawah angka 7, kemungkinan besar ia mengalami asfiksia perinatal.

Apalagi jika hasil pemeriksaan ini berada di angka 3 atau di bawah 3, artinya memang terjadi asfiksia pada bayi baru lahir.

Apa pengobatan untuk asfiksia pada bayi baru lahir?

melahirkan bayi besar

Pemberian perawatan pada ibu dan bayi baru lahir yang mengalami asfiksia biasanya ditentukan oleh dua hal. Meliputi tingkat keparahan gejala asfiksia pada bayi baru lahir serta waktu ketika bayi didiagnosis mengalami asfiksia.

Jika asfiksia sudah terdeteksi sebelum kelahiran, ibu mungkin akan diberikan oksigen tambahan guna meningkatkan pasokan oksigen pada bayi.

Dalam hal ini, dokter biasanya akan menyarankan persalinan melalui operasi caesar untuk mencegah risiko terjadinya komplikasi selama persalinan.

Setelah baru lahir, pemberian ventilasi pada bayi juga dibutuhkan saat mengalami asfiksia. Dalam hal ini, pemberian ventilasi untuk mengatasi asfiksia pada bayi baru lahir merupakan tindakan memasukkan oksigen ke dalam paru-paru bayi guna memudahkan pernapasannya.

Selain itu, dokter dan tim medis juga akan selalu memantau tekanan darah dan asupan cairan bayi untuk memastikannya mendapatkan oksigen yang memadai.

Bisakah asfiksia pada bayi baru lahir disembuhkan?

rhinitis pada bayi

Asfiksia yang terjadi pada bayi baru lahir dalam taraf ringan atau sedang dapat pulih sepenuhnya. Hanya saja, apabila sel-sel tubuh bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup dalam waktu lama, mungkin akan membuatnya mengalami cedera.

Lebih parahnya, asfiksia pada bayi baru lahir yang tidak secepatnya ditangani dapat berisiko memengaruhi kondisi otak, jantung, paru-paru, ginjal, usus, serta organ tubuh lainnya.

Pendinginan tubuh (hipotermia terapeutik) dapat memperbaiki kondisi asfiksia pada bayi baru lahir di usia cukup bulan. Sayangnya, dalam kasus yang cukup parah, asfiksia pada bayi baru lahir bisa mengakibatkan kegagalan organ tubuh hingga kematian.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 6, 2019 | Terakhir Diedit: Januari 23, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca