Asfiksia pada Bayi Baru Lahir, Saat Persediaan Oksigen Bayi Tidak Mencukupi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 September 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Bayi membutuhkan persediaan oksigen yang cukup selama proses melahirkan. Jika persedian oksigen kurang, otak serta semua organ di dalam tubuh bayi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan tidak mungkin, salah satu komplikasi persalinan bisa terjadi pada bayi baru lahir yang dikenal dengan nama asfiksia neonatorum.

Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena dapat berakibat fatal. Nah, sebenaranya apa itu asfiksia neonatorum atau pada bayi baru lahir?

Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan lengkap mengenai asfiksia pada bayi baru lahir.

Apa itu penyakit asfiksia pada bayi baru lahir?

risiko melahirkan bayi prematur

Asfiksia pada bayi baru lahir adalah penyakit yang juga dikenal dengan nama asfiksia perinatal atau asfiksia neonatorum.

Secara harfiahnya, pengertian asfiksia adalah kondisi saat pasokan oksigen menurun atau terhenti.

Perinatal adalah kondisi yang mencakup sebelum, selama, dan setelah melahirkan, baik melahirkan normal dengan posisi persalinan apa pun maupun operasi caesar.

Sementara neonatorum merujuk pada penyakit yang dialami oleh bayi baru lahir.

Mengutip dari Seattle Children’s, asfiksia diartikan sebagai kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen serta aliran darah ke otak.

Jadi, pengertian asfiksia neonatorum atau pada bayi baru lahir adalah kondisi ketika bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup selama proses persalinan berlangsung.

Hal ini otomatis membuat bayi menjadi susah bernapas baik sebelum, selama, maupun setelah kelahiran.

Kondisi asfiksia pada bayi baru lahir atau neonatorum ini membuat otak serta organ tubuh bayi lainnya tidak mendapatkan asupan oksigen serta nutrisi yang cukup.

Jadi sebenarnya bukan selama melahirkan saja, komplikasi melahirkan ini juga bisa dialami bayi sebelum maupun setelah kelahiran.

Kondisi yang terjadi pada bayi baru lahir ini juga bisa disebabkan oleh meningkatnya kadar karbon dioksida.

Komplikasi selama melahirkan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena dapat berisiko fatal bagi bayi.

Ini karena tanpa adanya pasokan oksigen yang memadai untuk bayi, otomatis sel-sel di dalam tubuhnya tidak dapat bekerja dengan baik.

Alhasil, tidak ada pasokan oksigen untuk bayi menyebabkan banyak produk sisa seperti limbah asam yang menumpuk di dalam sel.

Kondisi inilah yang nantinya mengakibatkan gangguan pada tubuh bayi baru lahir sehingga bisa mengakibatkan kerusakan pada otak.

Komplikasi melahirkan yang satu ini dapat berakibat fatal bagi bayi karena tanpa adanya oksigen, sel-sel di dalam otak bayi bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Bahkan, kondisi ini dapat menyebabkan masalah jangka panjang pada bayi, seperti gangguan intelektual, kejang, perkembangan terhambat, hingga cerebral palsy.

Apa saja gejala penyakit ini pada bayi baru lahir?

asfiksia

Gejala asfiksia pada bayi baru lahir bisa berbeda-beda antara satu dan lainnya.

Bahkan kadang, gejala dari kondisi ini bisa langsung muncul, tapi bisa juga tidak terdeteksi sesaat setelah bayi dilahirkan.

Salah satu tanda yang biasanya muncul yakni denyut jantung bayi yang terlalu tinggi atau rendah.

Secara umumnya, berikut berbagai gejala asfiksia perinatal sebelum bayi dilahirkan berdasarkan UCSF Benioff Children’s Hospital:

  • Denyut atau irama jantung yang tidak normal.
  • Peningkatan kadar asam di dalam aliran darah bayi.

Setelah dilahirkan, gejala penyakit asfiksia neonatorum atau pada bayi baru lahir adalah berikut:

  • Kulit tampak pucat atau berwarna agak kebiruan.
  • Susah bernapas, hingga menyebabkan bayi bernapas dengan cepat atau terengah-engah, dan menggunakan perut.
  • Detak jantung agak melambat.
  • Otot melemah.
  • Bayi terlihat lemas.
  • Pertumbuhan terhambat.
  • Ada mekonium (feses pertama bayi) di cairan ketuban, kulit, kuku, atau tali pusar

Selain itu, klasifikasi gejala asfiksia neonatorum dapat dibedakan juga menjadi ringan atau sedang dan berat.

Klasifikasi gejala asfiksia ringan atau sedang

Berbagai gejala asifiksia neonatorum kategori ringan atau sedang pada bayi baru lahir adalah berikut:

  • Kekuatan otot lemah atau tonus otot buruk.
  • Mudah marah dan rewel.
  • Rasa kantuk ekstrem.
  • Susah makan dan menyusu karena tidak mampu mengisap puting susu ibu.

Klasifikasi gejala asfiksia berat

Sementara berbagai gejala asifiksia neonatorum kategori ringan atau sedang pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:

  • Tubuh bayi kejang.
  • Kulit dan bibir bayi berwarna biru.
  • Susah bernapas.

Lama waktu bayi tidak mendapatkan persediaan oksigen yang cukup dapat memengaruhi ringan dan berat gejala asfiksia neonatorum yang dialalami.

Artinya, semakin lama bayi tidak memperoleh jumlah oksigen yang cukup, akan semakin besar pula kemungkinan gejala asfiksia muncul.

Dalam beberapa kasus, klasifikasi gejala asfiksia yang berat pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ.

Kerusakan tersebut meliputi organ jantung, otak, ginjal, dan paru-paru bayi.

Apa penyebab asfiksia pada bayi baru lahir?

penyebab down syndrome bayi anak

Ada berbagai hal yang bisa menjadi penyebab asfiksia neonatorum atau pada bayi baru lahir.

Itulah mengapa dokter dan tim medis harus selalu memantau kondisi ibu dan bayi sebelum, selama, bahkan setelah proses persalinan.

Beragam penyebab asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:

  • Tekanan darah ibu terlalu tinggi atau rendah selama persalinan.
  • Persediaan oksigen dalam darah ibu tidak tercukupi sebelum maupun selama persalinan.
  • Ada masalah pada saluran pernapasan bayi.
  • Bayi mengalami anemia sehingga sel-sel darah tubuhnya tidak mendapatkan cukup oksigen.
  • Ada penyakit infeksi yang menyerang ibu atau bayi.
  • Proses persalinan yang sulit atau memakan waktu lama.
  • Ada masalah pada plasenta yang membungkus tubuh bayi.
  • Plasenta lepas terlalu cepat saat melahirkan sehingga membuat bayi susah bernapas.
  • Prolaps tali pusat atau tali pusat yang keluar lebih dulu daripada bayi.
  • Terjadi sindrom aspirasi mekonium, yaitu mekonium bayi terhirup sebelum, selama, ataupun setelah persalinan.
  • Saat kelahiran bayi sebelum 37 minggu (bayi prematur), paru-paru bayi prematur mengalami komplikasi karena belum berkembang sehingga sulit bernapas.

Secara lebih rincinya, penyebab asfiksia neonatorum dapat dibagi menjadi dua yakni pada bayi prematur dan bayi yang lahir cukup bulan.

Penyebab asfiksia pada bayi prematur

Penyebab asfiksia pada bayi prematur baru lahir dengan gejala yang muncul di usia kurang dari 6 jam adalah:

  • Pneumonia
  • Penyakit membran hialin (HMD)
  • Syok

Penyebab asfiksia pada bayi prematur baru lahir dengan gejala yang muncul di usia lebih dari 6 jam adalah:

  • Pneumonia
  • Penyakit jantung bawaan
  • Masalah pada paru-paru
  • Hemoragik atau perdarahan

Penyebab asfiksia pada bayi cukup bulan

Penyebab asfiksia pada bayi yang lahir cukup bulan dengan gejala yang muncul di usia kurang dari 6 jam adalah:

  • Transient tachypnea of the newborn (TTN atau TTNB), yakni gangguan respirasi yang muncul pada neonatus sesaat setelah lahir
  • Sindrom aspirasi mekonium, yakni masuknya cairan ketuban yang mengandung feses pertama bayi ke dalam saluran pernapasan
  • Hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir

Penyebab asfiksia pada bayi yang lahir cukup bulan dengan gejala yang muncul di usia lebih dari 6 jam adalah:

  • Pneumonia
  • Penyakit jantung bawaan
  • Polisitemia

Persediaan oksigen yang kurang pada bayi sebelum, selama, atau setelah melahirkan bisa terjadi dalam dua cara.

Pertama menyebabkan gangguan secara langsung yang terjadi selama beberapa menit setelah persalinan.

Kedua, gangguan yang muncul ketika sel-sel tubuh sebenarnya sudah tidak lagi kekurangan oksigen.

Namun, sel-sel tersebut justru melepaskan racun ke dalam tubuh bayi.

Sebelum benar-benar melahirkan, biasanya ibu merasakan tanda-tanda melahirkan seperti kontraksi persalinan asli yang perlu dibedakan dengan kontraksi palsu.

Bukan hanya itu, tanda persalinan yakni air ketuban pecah dan pembukaan lahiran juga dapat terjadi.

Karena datangnya proses melahirkan sulit diprediksi, pastikan ibu sudah mempersiapkan aneka persiapan persalinan dan perlengkapan melahirkan yang penting.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

skrining bayi baru lahir

Dokter dan tim medis akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari adanya kondisi seperti berikut:

  • Bayi tidak bernapas atau menangis
  • Tonus otot menurun
  • Berat bayi lahir rendah (BBLR)
  • Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit
  • Ada campuran mekonium di dalam cairan ketuban ibu atau sisa mekonium di tubuh bayi

Selain pemeriksaan fisik, ada juga pemeriksaan penunjang yang hasil dicek lebih lanjut di laboratorium.

Tujuan pemeriksaan laboratorium ini untuk mencari kemungkinan hasil asidosis (kadar asam tinggi) pada darah tali pusat.

Berbagai pemeriksaan penunjang lain untuk mendiagnosis kurangnya pasokan oksigen bayi sebelum, selama, atau setelah kelahiran, yakni:

  • Pemeriksaan darah perifer lengkap
  • Analisis gas darah setelah lahir
  • Gula darah sewaktu
  • Laktat
  • Ureum kreatinin
  • Elektrolit darah (kalsium, natrium, kalium)
  • Pemeriksaan radiologi atau foto rontgen dada
  • Pemeriksaan radiologi atau foto rontgen perut tiga posisi
  • Pemeriksaan USG kepala
  • Pemeriksaan electroencephalography (EEG)
  • CT-scan kepala

Komplikasi melahirkan yang satu ini pada bayi lebih mudah dan cepat ditangani bila ibu melahirkan di rumah sakit dan bukan melahirkan di rumah.

Jika ibu sudah ditemani oleh seorang doula sejak masa kehamilan, tugas pendamping persalinan ini masih terus berlanjut hingga setelah melahirkan.

Apa penanganan untuk asfiksia neonatorum?

melahirkan bayi besar asfiksia

Secara umum, pemberian penanganan pada bayi baru lahir yang mengalami asfiksia biasanya dilakukan berdasarkan penyebab.

Penanganan diberikan tergantung dari tingkat keparahan gejala asfiksia pada bayi baru lahir serta waktu ketika bayi didiagnosis mengalami asfiksia.

Dokter biasanya melakukan resusitasi sebagai penanganan asfiksia pada bayi, baik untuk bayi prematur (kurang bulan) maupun bayi cukup bulan.

Resusitasi untuk bayi diberikan dengan tetap memerhatikan beberapa hal seperti:

  • Bayi diberikan kehangatan dengan cara diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam
    keadaan telanjang.
  • Bayi diletakkan dengan sedikit menengadahkan kepala guna mempermudah pemasangan alat dan masuknya udara setelah proses resusitasi.
  • Jalan napas, seperti batang tenggorokan (trakea) dibersihkan guna mencegah sindrom aspirasi mekonium bila ditemukan adanya mekonium dalam cairan ketuban bayi.

Di sisi lain, bayi juga bisa diberikan terapi sesuai kondisi yang dialaminya, misalnya terapi surfaktan artifisial.

Bayi juga mungkin diberikan oksigen tambahan maupun alat bantu napas (ventilator).

Bisakah kondisi ini disembuhkan?

rhinitis pada bayi

Asfiksia yang terjadi pada bayi baru lahir dalam taraf ringan atau sedang dapat pulih sepenuhnya.

Hanya saja, apabila sel-sel tubuh bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup dalam waktu lama, mungkin akan membuatnya mengalami cedera.

Lebih parahnya, asfiksia pada bayi baru lahir yang tidak secepatnya ditangani dapat berisiko memengaruhi kondisi otak, jantung, paru-paru, ginjal, usus, serta organ tubuh lainnya.

Pendinginan tubuh (hipotermia terapeutik) dapat memperbaiki kondisi asfiksia pada bayi baru lahir di usia cukup bulan.

Sayangnya, dalam kasus yang cukup parah, asfiksia pada bayi baru lahir bisa mengakibatkan kegagalan organ tubuh hingga kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada Bayi, Apa Saja Penyebab dan Penanganannya?

Berat badan rendah pada bayi yang baru lahir bisa menandakan kurang terpenuhinya kebutuhan zat gizi selama di dalam kandungan. Bagaimana penanganannya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Anak, Parenting 12 Agustus 2019 . Waktu baca 13 menit

Semua Hal Seputar Ruptur Uteri, Komplikasi Saat Melahirkan Karena Rahim Robek

Kelancaran persalinan dan bayi yang sehat merupakan dambaan semua ibu. Sayangnya, kadang ada komplikasi akibat ruptur uteri atau rahim robek. Kok, bisa?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 12 Agustus 2019 . Waktu baca 13 menit

Memahami Denyut Jantung Bayi Baru Lahir, Mana yang Normal dan Tidak

Denyut jantung bayi yang baru lahir bisa berdetak lebih lambat atau lebih cepat daripada normalnya (aritmia). Untuk lebih jelasnya, mari simak informasinya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 6 Agustus 2019 . Waktu baca 7 menit

Emboli Air Ketuban (Emboli Cairan Amnion)

Emboli air ketuban adalah kondisi di mana air ketuban, sel-sel janin, rambut, atau yang lainnya memasuki aliran darah ibu melalui dasar plasenta rahim

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 12 Desember 2018 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bayi tidur

Informasi Seputar Jam Bayi Tidur, Cara Menidurkan, dan Posisi yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 September 2020 . Waktu baca 11 menit
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25 Juni 2020 . Waktu baca 9 menit
depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
umur bayi keluar rumah

Usia Berapa Bayi yang Baru Lahir Diperbolehkan Keluar Rumah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 November 2019 . Waktu baca 3 menit