home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Keguguran (Abortus)

Apa itu keguguran (abortus)?|Jenis-jenis keguguran|Tanda-tanda dan gejala keguguran|Penyebab keguguran|Faktor-faktor risiko keguguran|Diagnosis dan penanganan keguguran|Cara mencegah keguguran|Kapan bisa hamil lagi setelah keguguran?
Keguguran (Abortus)

Apa itu keguguran (abortus)?

Melansir dari Mayo Clinic, keguguran (abortus) adalah kematian embrio atau janin secara tiba-tiba sebelum usia kehamilan 20 minggu atau sebelum 5 bulan.

Sebagian besar kasusnya terjadi sebelum minggu ke-13 kehamilan. Lewat dari usia 20 minggu, risikonya biasanya akan semakin kecil.

Abortus menjadi pertanda ada sesuatu yang salah dalam kehamilan atau janin gagal berkembang dengan baik.

Pada saat keguguran, biasanya wanita akan mengalami perdarahan dan kram.

Hal ini disebabkan oleh kontraksi yang bekerja untuk meluruhkan isi rahim, yaitu gumpalan darah besar dan jaringan.

Jika terjadi dengan cepat, keguguran biasanya dapat diselesaikan oleh tubuh tanpa komplikasi.

Jika terjadi abortus tetapi wanita tersebut tidak tahu kalau dirinya mengalami kondisi ini, obat dapat diberikan untuk merangsang kontraksi.

Proses dilatasi dan kuretase dilakukan ketika wanita sudah mengalami banyak perdarahan tetapi tanpa diikuti meluruhnya jaringan.

Dilatasi dilakukan untuk membuka serviks (leher rahim) jika masih tertutup dan kuretase adalah proses mengeluarkan isi rahim dengan menggunakan alat penghisap dan pengikisan.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Keguguran adalah komplikasi kehamilan yang umum terjadi. Setidaknya sekitar 10-20 persen kehamilan gugur sebelum waktunya.

Ada lebih dari 80 persen kasus keguguran yang dilaporkan terjadi dalam trimester pertama kehamilan.

Masih mengutip dari Mayo Clinic, sekitar 50 persen kehamilan gugur saat wanita tersebut bahkan belum sadar dirinya hamil.

Ibu hamil bisa menghindari komplikasi abortus ini dengan menghindari faktor risikonya dan melakukan pencegahan lebih lanjut.

Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Jenis-jenis keguguran

Keguguran ada banyak jenisnya. Tiap ibu hamil mungkin bisa mengalami jenis yang berbeda, tergantung sudah sejauh mana usia kehamilannya.

Setiap jenisnya pun dapat menunjukkan gejala yang berbeda. Berikut jenis keguguran yang harus dipahami:

  1. Abortus iminens
  2. Abortus insipiens
  3. Abortus inkomplet atau tidak menyeluruh (incomplete miscarriage)
  4. Abortus komplet atau menyeluruh (complete miscarriage)
  5. Missed abortus (keguguran diam-diam)

Perbedaan jenis abortus didasari pada tingkat nyeri pada perut, gejala yang khas, dan kondisi serviksnya apakah tertutup atau tidak.

Tanda-tanda dan gejala keguguran

Keguguran dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar karena tidak muncul tanda-tanda yang mungkin jelas.

Gejala dan tanda keguguran paling umum adalah:

  • Perdarahan atau bercak darah, muncul dari ringan sampai berat
  • Perut dan punggung bawah terasa sakit atau kram yang parah
  • Vagina mengeluarkan cairan nonkeputihan atau jaringan
  • Demam
  • Lesu

Beberapa gejala atau tanda keguguran lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter.

Kapan harus periksa ke dokter?

Setiap tubuh berfungsi berbeda satu sama lain. Namun jika Anda mengalami tanda atau gejala keguguran di atas, segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Wanita yang mengalami keguguran biasanya perlu segera menjalani dilatasi dan kuretase (D & C) Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa jaringan janin di dalam rahim.

Diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Penyebab keguguran

Ada beberapa hal yang jadi penyebab keguguran antara lain:

  • Masalah pada janin
  • Rahim ibu lemah (Inkompetensi serviks)
  • Penyakit ibu yang tidak diobati
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
  • Infeksi bakteri
  • Merokok, alkohol, narkoba, dan terpapar racun lingkungan (Ibu perokok aktif atau pasif)

Paparan racun lingkungan yang lebih tinggi seperti asap industri, asap dari pembakaran barang laboratorium rumah sakit, atau asap pabrik juga dapat menyebabkan janin gugur dalam kandungan.

Faktor-faktor risiko keguguran

Ada banyak faktor risiko yang bisa menyebabkan kondisi ini terjadi:

  • Pernah keguguran sebelumnya, setidaknya dua kali atau lebih
  • Punya penyakit kronis seperti diabetes melitus yang tidak terkendali
  • Gangguan rahim atau serviks
  • Merokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang
  • Makan makanan pemicu keguguran
  • Berat badan di atas atau di bawah rata-rata meningkatnya risiko komplikasi
  • Pernah melakukan tes prenatal invasif (mengambil sampel chorionic villus dan amniocentesis)
  • Faktor hormonal dan masalah kekebalan tubuh ibu
  • Hamil di atas usia 35 tahun
  • Septate uterus (kelainan bentuk rahim)

kelainan pada rahim

Di atas adalah gambaran septate uterus atau kelainan bentuk rahim. yang merupakan kondisi bawaan lahir.

Wanita pemilik septate uterus berisiko mengalami keguguran hingga 25-47 persen. Sementara risiko keguguran pada wanita yang bentuk rahimnya normal berkisar sekitar 15 sampai 20 persen.

Diagnosis dan penanganan keguguran

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Untuk mendiagnosis keguguran, dokter mungkin meminta Anda menjalani sejumlah tes berikut:

  • Pemeriksaan panggul, untuk membantu dokter mengetahui apakah serviks mulai melebar.
  • Tes ultrasound atau USG untuk memeriksa detak jantung dan perkembangan janin.
  • Tes darah untuk pengukuran hormon kehamilan dan beta HCG.
  • Tes jaringan, untuk mendeteksi jaringan janin sudah keluar.

Sampel jaringan dapat dikirim ke laboratorium untuk memastikan bahwa janin telah gugur.

Wanita yang mengalami kondisi ini harus menjalani pemeriksaan medis seperti yang disarankan oleh dokter kandungan.

Pasalnya, gejala awal seperti kram perut dan flek bercak darah sering diabaikan dan dianggap menstruasi.

Jika mengalami perdarahan berat, demam, atau sakit perut selama beberapa jam setiap hari, hubungi dokter untuk mendapatkan pertolongan medis.

Bagaimana prosedur penanganannya?

Apabila mengalami keguguran yang tidak sampai mengancam nyawa, dokter akan menyarankan untuk beristirahat sampai perdarahan atau rasa sakitnya hilang.

Apabila jaringan janin sudah keluar dengan sendirinya, Anda akan disarankan untuk melakukan kuret untuk menghilangkan sisa jaringan janin dari rahim.

Setelah kuret, menstruasi kemungkinan akan mulai lagi dalam 4-6 minggu kemudian.

Untuk mempercepat pembersihan rahim dari sisa janin, dokter mungkin juga akan meresepkan obat tertentu.

Memasukkan obat ke dalam vagina lebih efektif dan dapat mengurangi efek samping seperti mual dan diare ketimbang memakai obat yang minum.

Silakan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter Anda tentang jenis, dosis, dan cara pakai obatnya.

Di rumah, dokter mungkin juga dapat menyarankan Anda menghindari olahraga, berhubungan intim, atau memasukkan apapun ke dalam vagina (misalnya tampon) selama dua minggu setelah keguguran.

Cara mencegah keguguran

Ada beberapa cara untuk mencegah janin gagal bertahan di dalam kandungan, antara lain:

1. Minum suplemen asam folat

Mengonsumsi vitamin prenatal yang mengandung asam folat sebelum atau selama kehamilan dapat mencegah keguguran.

Dokter menyarankan asupan 600 mg asam folat tiap hari juga untuk menghilangkan bayi kemungkinan cacat lahir.

2. Imunisasi rutin

Beberapa kondisi kronis meningkatkan risiko keguguran. Anda dapat mencegah penyakit seperti itu melalui vaksinasi.

Selama kehamilan, Anda juga perlu menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan bayi Anda di dalam rahim

3. Olahraga secara teratur

Berolahraga secara teratur disarankan untuk menjaga kehamilan tetap sehat. Selama kehamilan, ibu disarankan untuk melakukan olahraga yang aman seperti pilates dan yoga.

Hindari olahraga terlalu berat karena dapat meningkatkan suhu tubuh Anda dan mengurangi jumlah suplai darah ke janin.

4. Makan makanan bergizi

Ibu hamil wajib hukumnya untuk mengonsumsi makanan yang sehat. Ibu hamil dapat mengonsumsi ikan laut yang kaya akan asam lemak omega-3.

Asam lemak omega-3 yang terkandung dalam ikan dapat membantu meningkatkan produksi hormon untuk mengurangi peradangan rahim.

Selain itu, konsumsi juga makanan yang mengandung biji-bijian seperti gandum utuh dan sereal yang baik untuk menjaga kadar gula darah dalam tubuh tetap sehat.

Kapan bisa hamil lagi setelah keguguran?

Anda dapat menunggu sampai waktunya tepat untuk mencoba hamil kembali. Sekitar 85 persen wanita yang telah mengalami keguguran dapat hamil kembali dalam kondisi sehat sampai waktu kelahiran.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk hamil lagi setelah abortus atau keguguran yaitu:

  1. Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin
  2. Jaga asupan nutrisi
  3. Kurangi pikiran dan perasaan yang membuat Anda stres
  4. Lakukan kegiatan yang menyenangkan

Setidaknya menunggu sampai siklus mentruasi kembali normal dan sudah 1 kali haid sebelum mulai mencoba untuk hamil lagi.

Namun yang paling penting, harus memastikan diri sendiri siap secara fisik dan mental apabila ingin hamil lagi setelah keguguran.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Miscarriage – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pregnancy-loss-miscarriage/symptoms-causes/syc-20354298

Miscarriage . (2018). Retrieved 9 September 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/miscarriage/

Miscarriages (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/miscarriage.html

Miscarriage: Risks, Symptoms, Causes & Treatments. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9688-miscarriage

{{meta.og.title}}. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://www.pregnancybirthbaby.org.au/miscarriage

{{meta.og.title}}. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://www.pregnancybirthbaby.org.au/what-really-happens-during-a-miscarriage

The Miscarriage Association: Pregnancy loss information and support. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://www.miscarriageassociation.org.uk/

Miscarriage. (2020). Retrieved 9 September 2020, from https://www.marchofdimes.org/complications/miscarriage.aspx

Publishing, H. (2020). Miscarriage – Harvard Health. Retrieved 9 September 2020, from https://www.health.harvard.edu/a_to_z/miscarriage-a-to-z

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 28/12/2020
x