Mengenal Hipertensi dalam Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Tekanan darah tinggi atau hipertensi bisa terjadi pada siapa saja, termasuk ibu hamil. Bila dibiarkan, kondisi ini bisa membahayakan bagi ibu dan calon bayi yang ada di kandungannya. Salah satu jenis hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi gestasional. Lantas, apa itu hipertensi gestasional dan apa saja jenis hipertensi pada kehamilan lainnya? Lalu, Apa bahayanya bagi kesehatan ibu dan bayi?

Berbagai jenis hipertensi dalam kehamilan yang perlu diwaspadai

Hipertensi merupakan kondisi di mana aliran darah dari jantung yang mendorong dinding pembuluh darah (arteri) terjadi sangat kuat. Seseorang didiagnosa memiliki hipertensi bila tekanan darahnya terukur tinggi, yang mencapai 140/90 mmHg atau lebih. Sementara tekanan darah normal berada di bawah 120/80 mmHg.

Hipertensi adalah masalah medis yang paling umum ditemui pada saat kehamilan. Sekitar 10% dari ibu hamil disebut telah mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilannya. Lalu, apa saja jenis hipertensi pada kehamilan? Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang terjadi saat hamil. Hipertensi gestasional biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan hipertensi ini bisa hilang setelah melahirkan. Pada kondisi ini, tidak ada kelebihan protein di dalam urin atau tanda-tanda lain dari kerusakan organ penderitanya. 

University of Rochester Medical Center menyebut, kondisi ini tidak diketahui penyebab pastinya. Pasalnya, hipertensi gestasional bisa dialami oleh ibu yang tidak pernah menderita tekanan darah tinggi sebelum masa kehamilannya. 

Meski demikian, beberapa kondisi berikut bisa meningkatkan risiko terjadinya hipertensi gestasional pada masa kehamilan. 

  • Bila Anda pernah mengalami tekanan darah tinggi sebelum hamil atau saat kehamilan sebelumnya.
  • Anda memiliki penyakit ginjal atau diabetes
  • Usia Anda kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun saat hamil
  • Kehamilan kembar
  • Hamil anak pertama

2. Hipertensi kronis

Hipertensi kronis adalah kondisi tekanan darah tinggi yang terjadi sejak sebelum kehamilan dan berlanjut dalam masa kehamilan. Terkadang, seorang wanita tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami hipertensi kronis karena tekanan darah tinggi memang tidak menunjukkan gejala. 

Oleh karena itu, dokter menganggap ibu hamil yang mengalami tekanan darah tinggi sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu disebut dengan hipertensi kronis. Berbeda dengan hipertensi gestasional, biasanya hipertensi kronis tidak akan hilang walaupun ibu sudah melahirkan bayinya.

3. Hipertensi kronis dengan superimposed preeklampsia

Kondisi ini terjadi pada wanita dengan hipertensi kronis yang mengalami tekanan darah tinggi saat hamil dan disertai dengan tingginya kadar protein di dalam urin atau komplikasi terkait tekanan darah lainnya. Bila Anda menunjukkan tanda-tanda tersebut pada usia kehamilan di bawah 20 minggu, Anda mungkin memiliki hipertensi kronis dengan superimposed preeklampsia.

4. Preeklampsia

Hipertensi gestasional dan hipertensi kronis yang tidak segera mendapat penanganan dapat berkembang menjadi preeklampsia. Preeklampsia atau keracunan kehamilan adalah gangguan tekanan darah serius yang dapat mengganggu kerja organ. Biasanya hal ini terjadi pada usia kehamilan ke-20 minggu dan akan menghilang setelah Anda melahirkan bayi Anda.

Preeklampsia ditandai dengan tekanan darah tinggi dan proteinuria (adanya protein dalam urin). Selain itu, preeklampsia juga dapat ditandai dengan:

  • Pembengkakan pada wajah atau tangan
  • Sakit kepala yang sulit hilang
  • Nyeri pada perut bagian atas atau bahu
  • Mual dan muntah
  • Kesulitan bernapas
  • Kenaikan berat badan tiba-tiba
  • Terganggunya penglihatan

Anda berisiko tinggi mengalami preeklampsia jika ibu dan mertua (ibu dari suami) Anda mengalami hal yang sama pada masa kehamilannya. Anda pun berisiko tinggi mengalami hipertensi jenis ini bila pernah mengalami preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. 

Penyebab preeklampsia belum diketahui secara pasti. Namun, preeklampsia tampaknya disebabkan oleh gangguan pada pertumbuhan plasenta sehingga aliran darah pada plasenta tidak berjalan dengan baik.

Preeklampsia dapat membahayakan kondisi Anda dan janin dalam kandungan. Aliran darah dari ibu dan janin dapat terganggu, sehingga bayi kesulitan untuk mendapatkan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangannya. Selain itu, preeklampsia juga dapat memengaruhi kesehatan organ, seperti hati, ginjal, paru-paru, mata dan otak ibu. Preeklampsia kemudian dapat berkembang menjadi eklampsia.

5. Eklampsia

Preeklampsia yang tidak cepat terdeteksi dapat berkembang menjadi eklampsia. Kondisi ini memang jarang terjadi, diperkirakan hanya 1 dari 200 kasus preeklampsia yang berkembang menjadi eklampsia.

Meski demikian, eklampsia merupakan kondisi kesehatan yang serius. Pada kondisi ini, hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terjadi dapat memengaruhi otak dan menyebabkan kejang atau koma dalam kehamilan. Ini merupakan tanda bahwa preeklampsia yang dialami sudah berkembang menjadi eklampsia.

Eklampsia dapat berdampak serius dan berakibat fatal bagi ibu dan janin dalam kandungan. Preeklampsia dan eklampsia dapat menyebabkan terganggunya fungsi plasenta, yang kemudian dapat mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, masalah kesehatan pada bayi, bahkan bayi lahir mati (dalam kasus yang jarang).

Mengapa hipertensi pada saat hamil itu berbahaya?

risiko melahirkan bayi prematur

The American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) menyebut, tekanan darah tinggi atau hipertensi dalam kehamilan dapat memberikan tekanan ekstra pada kerja jantung dan ginjal Anda. Dengan demikian, risiko Anda terkena penyakit jantung, penyakit ginjal, dan stroke, pun menjadi lebih tinggi pada kemudian hari. Kondisi ini juga bisa menyebabkan cedera pada organ-organ lain, seperti paru-paru, otak, hati, dan organ utama lainnya, yang bisa mengancam jiwa Anda.

Selain itu, beberapa komplikasi dalam kehamilan pun mungkin muncul dengan kondisi ini, yaitu:

1. Pertumbuhan janin yang terhambat

Tekanan darah tinggi dapat menurunkan aliran nutrisi dari tubuh Anda ke janin melalui plasenta. Bila hal ini terjadi, bayi di dalam kandungan Anda mungkin akan kekurangan oksigen dan nutrisi. Ini bisa berakibat pada pertumbuhan janin yang terhambat atau yang biasa disebut dengan Intra Uterine Growth Restriction atau IUGR dan berujung pada berat lahir bayi yang rendah.

2. Abrupsi plasental

Preeklampsia meningkatkan risiko abrupsi plasenta, yaitu kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum persalinan. Abrupsi yang parah dapat menyebabkan perdarahan berat dan kerusakan pada plasenta yang dapat berakibat fatal bagi Anda dan bayi Anda.

3. Kelahiran prematur

Saat hipertensi terjadi pada kehamilan, dokter mungkin akan memutuskan untuk melakukan persalinan sebelum waktunya (prematur). Hal ini diperlukan untuk mencegah potensi komplikasi yang fatal. Adapun kelahiran prematur dapat menyebabkan masalah pernapasan serta peningkatan risiko infeksi dan komplikasi lain pada bayi Anda.

Bolehkah menggunakan obat tekanan darah saat hamil?

Obat apa pun yang Anda gunakan saat hamil dapat memengaruhi Anda dan bayi Anda. Meskipun beberapa obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah umumnya aman digunakan pada masa kehamilan, obat lainnya seperti angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor, angiotensin receptor blockers (ARB), dan renin inhibitor umumnya dihindari pada masa kehamilan.

Namun, pengobatan itu penting. Risiko serangan jantung, stroke, dan masalah lain yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi tidak hilang saat Anda hamil. Tekanan darah tinggi juga dapat membahayakan bayi Anda.

Apabila Anda memerlukan obat untuk mengontrol tekanan darah saat hamil, dokter akan meresepkan obat-obatan yang paling aman dan dalam dosis yang tepat. Gunakan obat-obatan seperti yang diresepkan. Jangan menghentikan penggunaan atau menyesuaikan dosisnya sendiri.

Apa yang harus saya lakukan untuk mencegah hipertensi dalam kehamilan?

hipertensi pada ibu hamil

Untuk melakukan pencegahan, Anda perlu mengetahui apakah Anda mempunyai faktor risiko untuk mengembangkan hipertensi gestasional dan preeklampsia atau tidak. Jika Anda sudah mengetahuinya, maka Anda bisa mengambil langkah untuk mengatasi faktor risiko tersebut.

Jika Anda memiliki hipertensi dan sedang merencanakan kehamilan, sebaiknya periksakan selalu kondisi Anda ke dokter. Ketahui, apakah hipertensi Anda terkontrol atau sudah memengaruhi kesehatan Anda? Begitu juga, jika Anda memiliki diabetes sebelum hamil, pastikan kondisi diabetes Anda sudah terkontrol sebelum Anda hamil. Kuncinya adalah selalu periksakan kondisi Anda sebelum dan selama kehamilan.

Jika Anda mempunyai kelebihan berat badan sebelum hamil, ada baiknya Anda melakukan penurunan berat badan sebelum hamil agar kondisi kehamilan Anda lebih sehat.

Jika Anda mulai mengalami gejala preeklampsia di tengah usia kehamilan, Anda harus menjaga tekanan darah Anda agar tetap stabil. Mungkin dokter akan memberikan Anda obat untuk membantu menurunkan tekanan darah dan untuk mencegah kejang, agar preeklampsia Anda tidak berkembang menjadi eklampsia.

Jika preeklampsia terjadi selama kehamilan, mungkin dokter akan mempertimbangkan untuk melahirkan bayi Anda segera ketika perkembangan bayi sudah cukup siap untuk lahir. Terkadang, bayi harus dilahirkan secara prematur untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hati-hati, Pelumas Seks Bisa Bikin Susah Hamil

Sedang mencoba hamil tapi belum berhasil juga? Hal ini kemungkinan disebabkan pelumas seks alias lubrikan yang membuat susah hamil.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Bayi Bernapas Saat Masih dalam Kandungan?

Pernapasan pertama yang bayi lakukan adalah saat bayi menangis ketika dilahirkan. Lalu bagaimana caranya bayi bernafas dalam kandungan?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Perkembangan Janin, Kehamilan, Hidup Sehat, Fakta Unik 1 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Bolehkah Ibu Menjalani Diet Saat Hamil?

Sebagai perempuan, Anda memiliki rasa kekhawatiran akan penampilan Anda meski saat hamil. Namun, bolehkah ibu menjalani diet saat hamil?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Kebanyakan kasus kepala bayi terbentur tidak bersifat fatal. Untuk membantu pemulihan dan menangani luka yang muncul di rumah, perhatikan panduan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 18 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
korset perut setelah melahirkan

Perlukah Memakai Korset Perut Setelah Melahirkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
perkembangan janin 14 minggu

Kapan Boleh Mencoba Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit
kecemasan ibu hamil menjelang persalinan

Menghadapi 7 Kecemasan Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit