Induksi Persalinan: Kapan dan Bagaimana Dilakukannya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/01/2020 . 11 menit baca
Bagikan sekarang

Induksi persalinan menjadi sangat penting apabila proses persalinan membahayakan ibu dan janin. Prosedur yang juga dikenal dengan nama induksi melahirkan ini dilakukan dengan tujuan untuk merangsang otot rahim guna mempermudah kelahiran.

Sebelum dapat menjalani induksi persalinan, tentunya ada berbagai hal yang perlu Anda tahu sebagai persiapan awal.

Apa itu induksi persalinan?

Persalinan merupakan momen yang ditunggu-tunggu saat usia kehamilan sudah mendekati tanggal kelahiran bayi. Sebelum persalinan saja ibu hamil mungkin merasakan perut mulas yang tidak tertahankan.

Namun, terkadang beberapa ibu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan walaupun waktunya sudah tiba. Pada saat ini, dokter mungkin akan melakukan induksi persalinan atau melahirkan pada Anda.

Induksi persalinan adalah proses merangsang kontraksi otot-otot rahim agar ibu bisa melahirkan secara normal melalui jalur vagina. Jika tanda-tanda persalinan tidak mulai dengan sendirinya, induksi persalinan mungkin akan dilakukan untuk merangsang bayi agar cepat lahir.

Kondisi kehamilan dapat menjadi alasan mengapa induksi persalinan dilakukan, terutama yang menyangkut kondisi kesehatan ibu atau bayi.

Kapan ibu harus menjalani induksi persalinan?

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), induksi persalinan hanya dilakukan saat kondisi bayi lebih berisiko untuk tetap berada di dalam rahim.

Ya, induksi persalinan tidak selalu dibutuhkan. Terdapat berbagai kondisi yang mengharuskan Anda melakukan induksi melahirkan. Biasanya, dokter memilih prosedur induksi persalinan atau melahirkan sebagai alternatif pertama sebelum merekomendasikan operasi caesar.

Dokter akan mendeteksi dahulu masalah kesehatan yang menjadi pertimbangan untuk melakukan induksi persalinan. Kondisi ini dapat diketahui sejak kehamilan, jadi ibu hamil memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan sebelum menjalani induksi persalinan atau melahirkan.

Beberapa faktor yang menentukan apakah Anda membutuhkan induksi persalinan yaitu:

  • Kesehatan ibu.
  • Kesehatan bayi.
  • Usia kehamilan dan ukuran bayi Anda.
  • Posisi bayi di dalam rahim.
  • Kondisi leher rahim.

Alasan induksi persalinan sebaiknya dilakukan

Beberapa kondisi yang membuat induksi persalinan harus dilakukan adalah:

  • Usia kehamilan Anda sudah melebihi tanggal yang seharusnya sudah hampir 2 minggu dan Anda tidak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Usia kehamilan yang lebih dari 42 minggu akan menempatkan Anda pada risiko yang lebih besar terhadap berbagai masalah, misalnya bayi lahir mati.
  • Ketuban pecah tanpa disertai kontraksi selama 24 jam. Induksi diperlukan untuk mengurangi risiko infeksi pada rahim atau bayi Anda.
  • Janin tidak bergerak atau mendorong keluar walaupun sudah cukup usia untuk lahir.
  • Terdapat komplikasi kehamilan. Misalnya preeklampsia (tekanan darah tinggi selama kehamilan), diabetes, gangguan pada plasenta, atau infeksi pada air ketuban.
  • Pertumbuhan janin terhambat.
  • Anda mengalami infeksi pada rahim atau chorioamnionitis.
  • Bayi dalam kandungan sudah berhenti tumbuh.
  • Cairan ketuban sedikit atau tidak cukup mengelilingi bayi (oligohidramnion).
  • Kondisi plasenta mulai memburuk.
  • Ibu mengalami abrupsio plasenta.
  • Ibu memiliki riwayat bayi lahir mati pada kehamilan sebelumnya.
  • Anda mempunyai kondisi medis yang berisiko bagi Anda dan bayi, seperti hipertensi, preeklampsia, atau diabetes gestasional.

Selain itu, dokter juga melihat usia kehamilan dan bayi Anda apakah sudah siap dilahirkan atau belum. Jika bayi sangat prematur, dokter mungkin tidak akan melakukan induksi persalinan.

Namun belakangan ini, induksi melahirkan juga dilakukan karena alasan lain yang tidak terlalu mendesak. Seperti karena Anda tinggal di tempat yang jauh dari layanan kesehatan sehingga Anda perlu melakukan induksi agar persalinan dapat diawasi tenaga kesehatan.

Alasan lain, yaitu untuk memberikan kenyamanan pada ibu hamil agar ia tidak terlalu merasakan sakit saat menunggu persalinan. Akan tetapi, umumnya hal ini tidak dianjurkan.

Siapa yang tidak dianjurkan melakukan induksi persalinan?

Melansir dari laman Mayo Clinic, induksi persalinan bukan metode yang dapat dilakukan oleh semua ibu hamil. Jika Anda memiliki kondisi berikut ini, Anda tidak dianjurkan untuk melakukan induksi melahirkan:

  • Pernah menjalani operasi caesar sebelumnya dengan sayatan klasik.
  • Posisi plasenta menghalangi serviks atau leher rahim (plasenta previa).
  • Posisi bayi akan lahir dengan bagian bawah tubuh terlebih dahulu, maupun berada di posisi menyamping.
  • Ibu hamil memiliki herpes genital aktif.
  • Tali pusat bayi masuk ke dalam vagina sebelum melahirkan (prolaps tali pusat).

Bila Anda pernah menjalani bedah caesar sebelumnya dan diinduksi persalinan, dokter mungkin akan menghindari pemberian obat-obatan tertentu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko pecahnya uterus atau rahim.

Bagaimana induksi persalinan dilakukan?

Induksi melahirkan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pemberian obat atau metode lainnya. Dengan cara apa induksi persalinan dilakukan tergantung dari kesiapan tubuh ibu untuk melahirkan.

Jika kondisi leher rahim ibu belum mulai melunak, menipis, atau membuka, artinya tubuh ibu belum siap untuk melahirkan.

Pada kondisi tersebut, ibu hamil mungkin akan diberikan obat atau dilakukan metode mekanik untuk membuat leher rahim siap untuk kelahiran sebelum memulai induksi persalinan.

Namun sebelum induksi persalinan dimulai, dokter biasanya akan meminta Anda untuk melakukan uji profil biofisik atau pengujian non stres tes (NST). Tes medis tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi dan respon sang bayi.

Beberapa metode yang digunakan dalam induksi persalinan adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan prostaglandin

Untuk membuat leher rahim menipis atau terbuka, dokter mungkin akan memasukkan obat prostaglandin ke dalam vagina Anda.

Obat ini bertindak seperti hormon prostaglandin sehingga dapat membantu mematangkan leher rahim untuk persalinan. Kadang, obat ini juga dapat merangsang kontraksi persalinan.

2. Menggunakan kateter Foley

Selain obat, merangsang persalinan juga dapat dilakukan dengan alat. Dokter mungkin akan memasukkan kateter dengan balon khusus ke ujung leher rahim Anda.

Balon ini akan diisi air sehingga menekan leher rahim Anda, yang kemudian akan merangsang pelepasan hormon prostaglandin dalam tubuh. Hal ini menyebabkan leher rahim melunak dan terbuka.

3. Mengusap selaput leher rahim Anda

Jika leher rahim Anda sudah agak membuka, Anda mungkin tidak perlu lagi menggunakan obat atau kateter untuk merangsang pematangan leher rahim. Anda hanya membutuhkan sedikit rangsangan.

Dokter mungkin akan memasukkan jarinya ke dalam leher rahim Anda dan secara manual memisahkan kantung ketuban dari rahim Anda. Hal ini membuat hormon prostaglandin dilepaskan oleh tubuh, sehingga terjadi pematangan leher rahim dan mungkin juga kontraksi.

4. Pemecahan kantung ketuban (amniotomi)

Saat leher rahim Anda sudah terbuka beberapa sentimeter dan kepala bayi Anda sudah pindah ke panggul Anda. Namun, Anda harus menunggu lama lagi sampai persalinan siap dilakukan.

Dokter mungkin akan memecahkan kantong ketuban Anda dengan alat kecil. Kantong ketuban pecah dapat membuat Anda merasakan kontraksi untuk melahirkan.

5. Menggunakan oksitosin

Oksitosin digunakan untuk merangsang atau meningkatkan kontraksi Anda. Dokter akan memberikan oksitosin melalui cairan infus dalam dosis rendah. Berapa banyak jumlah oksitosin yang diperlukan akan disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Adakah risiko dari induksi persalinan?

Sebagian besar induksi persalinan berjalan lancar tanpa efek samping bagi ibu maupun bayi. Namun, tetap ada kemungkinan efek samping yang menyusul setelah Anda menjalani induksi.

Ketika induksi melahirkan tidak bekerja, Anda mungkin membutuhkan metode induksi lainnya atau harus melakukan operasi caesar. Selain itu, induksi persalinan juga dapat berlangsung lama, terutama jika leher rahim Anda belum siap.

Hal ini mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman dan gelisah. Beberapa risiko yang bisa terjadi saat Anda melakukan induksi persalinan yakni:

1. Denyut jantung bayi rendah

Denyut jantung rendah pada bayi bisa terjadi karena obat yang digunakan saat induksi persalinan untuk merangsang kontraksi justru menyebabkan kontraksi muncul terlalu kuat.

Bahkan, timbulnya kontraksi juga bisa terlalu sering dalam waktu yang cukup lama. Hal ini membuat pasokan oksigen ke bayi Anda berkurang, sehingga denyut jantung bayi rendah.

2. Ruptur uteri atau rahim robek

Dalam kasus yang jarang, ruptur uteri dapat terjadi karena obat prostaglandin dan oksitosin yang digunakan selama induksi persalinan. Operasi caesar mungkin diperlukan pada saat ini untuk mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

3. Masalah pada tali pusar bayi

Induksi persalinan meningkatkan risiko prolaps tali pusat, di mana tali pusar mendahului janin saat kelahiran sehingga pasokan oksigen ke janin terganggu.

4. Perdarahan setelah melahirkan

Induksi persalinan juga dapat meningkatkan risiko otot rahim Anda mengalami kontraksi yang buruk setelah persalinan (atonia uteri). Hal ini menyebabkan perdarahan serius setelah melahirkan.

5. Infeksi

Risiko infeksi pada ibu dan bayi meningkat saat Ada mendapatkan induksi persalinan.

6. Kegagalan induksi

Kegagalan induksi persalinan bisa terjadi karena rahim tidak cukup membuka. Persalinan normal tidak dapat dilakukan sehingga ibu hamil perlu menjalani operasi caesar.

Di samping memiliki keuntungan, induksi melahirkan memang memiliki sejumlah risiko. Akan tetapi, jika dokter merekomendasikan hal ini, manfaat yang Anda dapat bisa lebih besar dibandingkan risikonya.

Induksi persalinan yang dilakukan dengan tepat sebenarnya bisa menyelamatkan ibu dan janin saat persalinan dinilai membahayakan.

Di balik semua risiko di atas, induksi melahirkan cenderung memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan risikonya. Itulah mengapa induksi persalinan tetap perlu dilakukan untuk kondisi tertentu.

Sebaiknya bicarakan dengan dokter dalam mempersiapkan kelahiran buah hati Anda, sehingga segala sesuatu yang buruk saat melahirkan dapat Anda antisipasi.

Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum induksi persalinan?

trimester 2

Keberhasilan induksi persalinan ditentukan oleh faktor medis dan kesiapan Anda sebelum menjalaninya. Faktor medis mencakup kondisi kesehatan dan bukaan rahim.

Guna menunjang keberhasilan induksi, Anda dapat melakukan persiapan berikut:

1. Memahami seluruh pilihan yang tersedia

Induksi persalinan bisa dilakukan dengan berbagai teknik. Contohnya, teknik amniotomi dengan memecahkan ketuban guna mempercepat persalinan. 

Persiapan pertama yang perlu Anda lakukan sebelum induksi melahirkan adalah berkonsultasi dengan dokter mengenai hal ini. Tanyakan mengapa dokter menyarankan induksi, teknik yang akan digunakan, serta informasi lain yang Anda perlukan.

2. Mengetahui kondisi rahim Anda

Sebelum memutuskan untuk menjalani induksi, Anda harus mengetahui terlebih dulu seperti apa kondisi rahim Anda. Pasalnya, induksi lebih mudah dilakukan bila rahim Anda telah siap untuk menjalani persalinan.

Biasanya dokter akan menginformasikan mengenai hal ini saat Anda berkonsultasi. Unsur-unsur yang perlu Anda perhatikan antara lain lebar bukaan, panjang ukuran, serta lembut atau tidaknya otot rahim Anda.

Selain itu, pahami pula seberapa rendah posisi janin di dalam rahim Anda dan apakah terdapat kemungkinan sungsang.

3. Mengetahui hari perkiraan lahir

Induksi persalinan akan berjalan dengan lebih mudah bila Anda sudah mendekati hari perkiraan lahir. Jadi, cobalah berkonsultasi dengan dokter mengenai tanggal kelahiran saat Anda melakukan persiapan menjelang induksi melahirkan.

Rahim akan semakin siap menjalani persalinan jika tanggal kelahiran sudah dekat. Apabila Anda tidak mengetahui hari perkiraan lahir atau usia kehamilan belum mencapai 39 minggu, risiko persalinan biasanya menjadi lebih tinggi.

Apa yang akan dilakukan jika induksi persalinan tidak berhasil?

berapa kali operasi caesar bisa dilakukan

Induksi melahirkan tidak selalu sukses. Kalau sudah begini, dokter kandungan atau bidan Anda akan mengobservasi keadaan ibu dan bayi yang dikandungnya terlebih dahulu.

Kemungkinan dokter akan menawarkan metode induksi melahirkan yang lain. Atau, jika tidak juga berhasil operasi caesar akan dilakukan. Persalinan caesar diperlukan saat induksi melahirkan tidak bekerja pada Anda terutama jika Anda belum pernah melahirkan sebelumnya dan leher rahim Anda belum siap untuk kelahiran.

Anda akan diberi kesempatan terlebih dahulu untuk mendiskusikan keadaan ini dengan dokter kandungan yang menangani persalinan Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . 6 menit baca

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Banyak ibu yang khawatir karena setelah sang buah hati lahir ke dunia, ASI tidak kunjung keluar dari payudara. Sebenarnya, apa penyebab kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Menyusui 05/06/2020 . 10 menit baca

Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020 . 5 menit baca

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mengantar istri melahirkan ke rumah sakit

Ayah, Ini Tips Mengantar Ibu Hamil ke Rumah Sakit untuk Kelahiran

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . 4 menit baca
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 9 menit baca
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . 5 menit baca