home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tak Hanya Anak, Imunisasi Juga Penting untuk Orang Dewasa

Tak Hanya Anak, Imunisasi Juga Penting untuk Orang Dewasa

Banyak orang yang beranggapan bahwa vaksin hanya dibutuhkan oleh bayi dan balita. Padahal, orang dewasa dengan tuntutan pekerjaan yang tinggi, gaya hidup aktif, atau kondisi kesehatan yang membutuhkan perlindungan lebih juga perlu imunisasi. Selain untuk membangun antibodi di dalam tubuh, vaksin untuk dewasa dapat mencegah meluasnya penyebaran penyakit.

Sayangnya, kesadaran orang dewasa akan pentingnya vaksinasi masih rendah, terutama karena minimnya ketersediaan informasi. Ketahui jenis vaksin apa saja yang paling Anda butuhkan berikut ini.

Apa saja jenis-jenis vaksin untuk dewasa?

Vaksinasi merupakan proses pemberian vaksin untuk membangun kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit infeksi yang menular. Pada umumnya, dosis vaksin untuk dewasa diberikan melalui suntikan.

Vaksin bisa terdiri dari komponen mikroorganisme yang telah dilemahkan atau protein yang dibuat melalui rekayasa bioteknologi sehingga dapat memicu terbentuknya antibodi. Jadi, ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh dan siap menginfeksi, tubuh telah memiliki kekebalan untuk menangkal infeksi tersebut.

Kementerian Kesehatan RI mewajibkan Anda untuk memperoleh 5 jenis vaksin yang terdapat dalam program imunisasi dasar untuk anak-anak, yakni vaksin BCG (tuberkulosis), polio, MMR (campak, gondongan, rubella), hepatitis B dan DPT (difteri, pertusis, tetanus).

Anda yang belum menerima vaksin ini saat kecil tetap perlu melakukan imunisasi sesegera mungkin. Selain kelima vaksin di atas, terdapat juga beberapa jenis vaksin lain yang sebaiknya didapatkan oleh orang dewasa.

1. Vaksin influenza

Influenza atau flu adalah penyakit yang sangat umum dialami banyak orang. Penyakit ini biasanya ditandai dengan batuk, demam, dan nyeri otot.

Walaupun gejalanya bersifat ringan dan dapat pulih dengan sendirinya, influenza sangat mudah ditularkan dan infeksinya bisa berakibat fatal pada beberapa orang. Terutama pada lansia, perokok aktif, penderita gangguan jantung, pernapasan, dan ginjal.

Maka dari itu, orang dewasa sebaiknya mendapatkan 1 dosis vaksin influenza yang diberikan satu tahun sekali. Untuk mencegah penyebaran penyakit flu lebih jauh, Anda bisa melakukan vaksinasi saat musim hujan atau pancaroba.

2. Vaksin pneumokokus

Pneumonia adalah penyakit radang paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptococcus yang menyerang kantung udara (alveolus) di paru-paru.

Di samping itu, infeksi bakteri ini juga dapat menyebabkan meningitis atau radang selaput otak. Bakteri penyebab pneumonia ini menular lewat batuk, bersin, dan ketika bicara.

Imunisasi yang diperlukan untuk menghalau infeksi bakteri streptococcus adalah melalui vaksin PCV. Menurut CDC, terdapat 2 vaksin PCV untuk dewasa yaitu 1-2 dosis vaksin PCV13 atau 1 dosis PPSV23.

Orang dewasa yang paling dianjurkan untuk melakukan imunisasi PCV adalah yang berumur kurang dari 65 tahun dan mengalami:

  • Penyakit pernapasan kronis seperti asma dan PPOK
  • Penderita penyakit autoimun atau kondisi defisiensi imun lainnya
  • Gangguan ginjal
  • Perokok aktif

Lansia di atas 65 tahun juga dianjurkan menerima 1 dosis vaksin PCV.

3. Vaksin DPT

Vaksin DPT merupakan salah satu vaksinasi yang wajib diberikan pada anak-anak. Namun, orang dewasa perlu melakukan imunisasi ulang setidaknya 10 tahun sekali. Terlebih untuk para petugas kesehatan, ibu hamil, dan pengasuh bayi.

Vaksin DPT berfungsi memberikan perlindungan terhadap tiga penyakit infeksi, yaitu:

  • Difteri yang menyebabkan masalah pernapasan, kelumpuhan, gagal jantung dan kematian
  • Pertusis atau batuk rejan
  • Tetanus yang menyebabkan kejang otot dan pengetatan otot rahang yang ekstrem

4. Vaksin hepatitis A

Vaksin hepatitis D

Hepatitis A adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus hepatitis A yang disebarkan lewat feses atau kotoran penderita.

Penularan penyakit ini biasanya terjadi melalui makanan. Oleh karena itu, orang dewasa yang profesinya berkaitan dengan aktivitas memasak dan menyajikan makanan perlu memperoleh imunisasi hepatitis A.

Penyakit hepatitis A bisa menyerang anak-anak sehingga pemberian vaksin umumnya diberikan saat anak berusia 2 tahun. Namun, vaksinasi ini juga perlu dilakukan ulang setiap 10 tahun sekali melalui dua dosis vaksin. Dosis kedua diberikan selang 6 bulan dari dosis pertama.

5. Vaksin HPV

Kanker serviks pada wanita adalah penyakit kanker yang disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Penyakit infeksi virus ini menular lewat kontak seksual.

Untuk efek pencegahan yang lebih optimal, Anda sangat dianjurkan untuk menerima vaksin HPV sebelum Anda aktif berhubungan seksual. Pemberian vaksin lebih dini dapat meningkatkan keampuhan vaksin dalam mencegah kanker serviks.

Itu sebabnya, vaksin sebaiknya memang diberikan pada remaja perempuan berusia 11 atau 12 tahun. Namun, orang dewasa yang belum memiliki imunisasi terhadap infeksi HPV bisa segera memperolehnya.

Ada dua jenis vaksin HPV di Indonesia, yakni HPV (16 dan 18) dan HPV (6,11,16,18). Umumnya, Anda membutuhkan tiga dosis vaksin untuk mendapatkan perlindungan maksimal.

Vaksin HPV dosis kedua dapat diberikan 1 sampai 2 bulan setelah imunisasi pertama. Sementara dosis ketiga dapat diberikan 6 bulan setelah vaksin dosis pertama.

6. Vaksin hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat memicu terjadinya sirosis hati atau kanker hati.

Vaksin ini harusnya diberikan saat Anda lahir dengan dosis tambahan setiap 6 bulan sekali saat balita. Namun, orang dewasa yang berisiko tinggi tertular penyakit hepatitis B juga perlu mendapatkan imunisasi hepatitis B ketika dewasa, seperti:

  • Petugas kesehatan di rumah sakit
  • Orang yang kerap berganti pasangan seksual
  • Pengguna narkoba
  • Penderita penyakit menular seksual

7. Vaksin measles, mumps, dan rubella (MMR)

Vaksin MMR diberikan untuk mencegah tiga penyakit, yaitu measles atau campak, mumps atau gondongan, dan rubella atau campak jerman.

Vaksin ini diberikan jika Anda bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan dan sering bepergian. Anda memerlukan dua dosis vaksin dengan jarak pemberian minimal 4 minggu. Pemberian vaksin dapat diulang setiap 10 tahun.

8. Vaksin varicella

Vaksin varicella diberikan pada orang dewasa yang belum pernah terkena cacar air, orang yang dekat dengan penderita cacar air atau orang dewasa sehat yang tidak hamil.

Selain mencegah penyakit cacar air, imunisasi varicella juga dapat mencegah munculnya penyakit cacar api (herpes zoster) pada orang dewasa yang pernah terinfeksi cacar air.

Anda perlu mendapatkan 2 dosis vaksin varicella yang pemberiannya berjarak 4-8 minggu. Pemberian vaksin dapat diulang setiap 20 tahun sekali.

Vaksin varisela dibuat dari virus hidup. Itu sebabnya, Anda umumnya tidak direkomendasikan melakukan imunisasi ini apabila memiliki kondisi kesehatan yang melemahkan sistem imun tubuh (seperti kanker atau HIV) atau sedang menjalani perawatan medis (seperti steroid atau kemoterapi).

9. Vaksin lainnya

Vaksin tertentu dianjurkan pada orang dewasa, khususnya jika hendak bepergian ke negara tertentu. Salah satunya adalah vaksin meningitis yang diberikan peserta haji dan umrah atau Anda yang hendak bepergian ke negara di benua Afrika.

Selain itu, imunisasi yellow fever dan japanese encephalitis juga mungkin dapat diberikan jika Anda bepergian ke negara Afrika Selatan.

Vaksin rabies juga bisa menjadi salah satu rangakaian imunisasi saat dewasa, terutama untuk mereka yang sering melakukan kontak dengan hewan, seperti:

  • Dokter hewan
  • Pemilik hewan peliharaan
  • Pekerja laboratorium
  • Pelancong yang pergi ke daerah endemik rabies

Imunisasi untuk dewasa umumnya cukup aman dan tidak memiliki efek samping serius, kecuali jika Anda memiliki alergi atau kondisi tertentu.

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah Anda dapat melakukan vaksinasi dan risiko efek samping apa yang mungkin saja terjadi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Retrieved 14 December 2020, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._12_ttg_Penyelenggaraan_Imunisasi_.pdf

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI (2016). Pengelolaan Vaksin di Indonesia. Retrieved 14 December 2020, from https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/17010600001/pengelolaan-vaksin-di-indonesia.html

WHO. (2020). Vaccines and immunization: What is vaccination? Retrieved 14 December 2020, from https://www.who.int/news-room/q-a-detail/vaccines-and-immunization-what-is-vaccination?adgroupsurvey={adgroupsurvey}&gclid=CjwKCAiAlNf-BRB_EiwA2osbxZQj8ZtuPMhLwe77AN21i_Zog1rXLFYGvpi0AyReMurKI90QeZOo7xoCdz0QAvD_BwE

Vaccines. (2020). Vaccines for Adults. Retrieved 14 December 2020, from https://www.vaccines.gov/who_and_when/adults

Vaccines. (2020). Who and When. Retrieved 14 December 2020, from https://www.vaccines.gov/who_and_when

CDC. (2020). Adult Immunization Schedule by Vaccine and Age Group. Retrieved 14 December 2020, from https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/adult.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 08/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x